
**********
Lusi dan Delano sudah berada di depan sekolah Devan dan Davin. Baik Lusi maupun Delano belum turun dari mobil karena suasana masih sangat ramai dengan para penjemput.
"Biar aku saja yang menghampiri mereka ke kelas." ucap Lusi.
"Mana bisa, kita akan jemput sama-sama. Aku tidak mau Devan kecewa karena janjiku pagi tadi." Delano turun terlebih dulu, dia berlari memutar dan membukakan pintu untuk Lusi.
"Terimakasih .... "
Lusi tertegun saat tatapan matanya beralih ke depan. Ternyata banyak pasang mata terutama ibu-ibu muda menatap Delano dengan tatapan begitu memuja dan mengagumi suaminya.
Tanpa sadar Lusi menarik tangan Delano dan membawanya pergi dari halaman sekolahan itu. Delano menatap jemari tangannya yang berada dalam genggaman Lusi. Bibir Delano menyunggingkan senyum lebar melihat bagaimana Lusi menarik dirinya seakan tak ingin dirinya di lihat oleh wanita-wanita tadi.
Sesampainya di depan kelas si kembar Lusi masih belum ada niatan untuk melepaskan pegangan tangannya. Bahkan dia pun seperti masih belum sadar sama sekali dengan apa yang sedang ia lakukan.
Devan dan Davin yang menunggu kedua orang tuanya datang langsung berteriak kegirangan. Namun saat Lusi akan menyambut pelukan kedua buah hatinya dirinya baru sadar jika sejak tadi tangannya tertaut dengan tangan Delano.
Lusi menoleh pada suaminya lalu tersenyum kaku. "Ma... maaf aku tidak sengaja."
"Tapi aku menyukainya istriku." goda Delano, wajah Lusi langsung memerah. Devan dan Davin memeluk kedua orang tuanya.
"Bunda ... ayah!!" seru keduanya. Guru yang tadi menunggu penjemput pun tersenyum melihat keluarga kecil itu. Keluarga mereka terlihat sangat harmonis tanpa ada yang tahu jika mereka baru saja menikah. Delano sengaja merahasiakan informasi tentang kedua putranya sampai dia selesai mengurus akta baru untuk kedua putranya. Bahkan dia akan menyematkan nama keluarganya.
"Apa kalian siap untuk pulang?" tanya Delano, Devan dan Davin mengangguk dengan semangat.
"Iya ayah ... ayo pulang!" seru keduanya.
"Hmm ... Lusi kita akan ke rumah ayah Suryo dulu untuk berpamitan setelah itu kita pulang ke rumahku. Apa kau keberatan?" tanya Delano pada Lusi. Wanita itu tersenyum dan menggeleng.
"Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Bukankah aku sudah menjadi tanggungan mu. Jadi kemanapun kamu pergi aku. ujar Lusi, meskipun sebenarnya dalam batin Lusi keberatan dan masih menginginkan berlama-lama dengan keluarga ayahnya. Hanya saja Lusi juga tidak bisa mengutarakan keberatannya.
Delano membawa mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Devan dan Davin asyik memandang lalu lalang kota Jakarta yang selalu padat. Sedangkan Lusi tampak melamun, dia masih memikirkan Lisa sahabatnya. Meski wajahnya tersungging senyuman namun hatinya sedang cemas. Cemas akan nasib sahabatnya. Sejak dulu Lisa lah satu-satunya orang yang sangat berperan besar dalam hidup Lusi yang hanya seorang diri di Jakarta. Bahkan semua yang Lusi lakukan juga berkat saran dari Lisa, itulah mengapa Lusi merasa sangat menyesal tidak bisa membantu kesulitan Lisa kali ini.
"Bunda, kenapa melamun?" Goyangan di bahu Lusi menyadarkan gadis itu.
"Eh ada apa sayang?" tanya Lusi.
"Bunda, kita sudah sampai. Bunda ga mau turun? ayah dari tadi menunggu bunda keluar." ucap Devan, Lusi melirik ke samping di mana pintu mobil di sebelahnya ternyata telah terbuka, dan Delano menunggu dirinya.
__ADS_1
"Iya sayang, maaf bunda sedang memikirkan pekerjaan bunda." Jawab Lusi, kaki jenjangnya mulai melangkah keluar.
Delano tersenyum lembut ke arah Lusi. Gadis itu tersenyum malu saat pandangan mata keduanya bertemu.
Begitu tiba di dalam mansion, Lusi dan Delano di sambut oleh Suryo. Namun wajah Suryo tampak serius menatap Delano.
"Ada apa ayah?" tanya Delano penasaran.
"Ikut ayah ke ruang kerja. Ada yang ingin ayah bicarakan denganmu." Suryo berjalan mendahului Delano. Lusi menatap ayahnya dengan penuh tanya. Ada apa sebenarnya?
"Kau bersiap-siaplah dahulu. bawa baju seperlunya saja nanti aku akan membelikanmu baju di double D." Ucap Delano seraya mengeringkan mata. Lusi tersenyum tipis. Dia segera nnaik ke lantai atas karena detak jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang.
Delano dan Suryo sudah berada di ruang kerja Suryo. Pria paruh baya itu mendesah berat seakan dadanya sedang dihimpit batu.
"Apa ada masalah ayah?" tanya Delano.
"Jaka melarikan diri." ujar Suryo dan berhasil membuat Delano ternganga kaget.
"Bagaimana bisa ayah?"
"Dia mengecoh Harlan dan Yusak."
"Lalu sekarang bagaimana ayah? apa yang harus kita lakukan?"
Wajah Delano tampak gusar. Dia pun merasa ini sebuah ancaman untuk dirinya terlebih lagi untuk Lusi.
"Perketat pengawalan Lusi, dan sementara waktu aku akan mencari cara untuk mencari Jaka." Kata Suryo, Delano mengangguk tapi dalam hatinya dia juga akan mencari keberadaan Jaka. Jangan sampai usahanya selama ini sia-sia karena Jaka.
Sementara itu Lusi sedang menata beberapa baju ke dalam koper. Mitha mengetuk pintu kamar Lusi Setelah di persilahkan masuk oleh Lusi, Mitha duduk di samping Lusi, ia mengusap perlahan rambut putrinya yang sudah lebih dari 5 tahun tidak ia jumpai. Wajah tuanya tersungging senyum yang mampu menentramkan hati Lusi.
"Ada apa bu?"
"Lusi apa kau masih trauma pada laki-laki sayang?"
"Sekarang sudah sedikit berkurang ibu, ada apa memang?"
"Ibu hanya ingin berpesan. Kau sekarang sudah menjalani biduk rumah tangga. Bagaimanapun Delano adalah suamimu dia berhak atasmu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jadi lupakan semua kenangan burukmu dan ciptakan kenangan baru yang indah bersama suamimu." Tutur Mitha seraya terus membelai rambut Lusi.
"Lusi tahu bu, dan Lusi sedang berusaha."
__ADS_1
"Baguslah, karena ibu berharap pernikahan yang kau jalani cukup sekali. Dan jangan membuat suamimu kecewa padamu hingga akhirnya mencari kesenangan dari wanita lain."
Lusi memeluk ibunya erat. Setitik air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Maafkan Lusi ibu, Lusi terlalu banyak menyakiti hati ibu."
"Ibu yang salah Lusi, ibu tidak bisa menjagamu. Bahkan karena kesalahpahaman dengan ayah, Lusi harus menderita selama ini." Ujar Mitha. Lusi menggelengkan kepalanya.
"Kita tidak bisa menyalahkan keadaan ibu. Ini takdir yang harus kita jalani untuk menjadi pribadi seperti sekarang."
"Kau benar sayang. takdir lah yang membuat kita harus melewati semuanya."
Tak lama Delano masuk. Dia menatap dua wanita beda generasi itu dengan senyum mengembang.
"Ibu aku akan bawa Lusi dari rumah ini. Apa ibu merestui kami."
"Tentu saja Lano. Ibu juga berharap kamu jaga Lusi baik-baik. Sayangi dia, jangan pernah sia-sia kan dirinya. Jika kalian berselisih paham selesaikan saat itu juga. Jangan berlarut² memendam masalah. Karena itu akan menjadi api dalam sekam dalam hubungan kalian."
"Iya ibu, aku akan mengingat petuahmu. Aku juga akan menjaga putrimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku tidak akan menyakitimu meski seujung kuku." Ucap Delano.
Setelah berpamitan, Delano menarik koper milik Lusi, dan satu tangannya menggandeng tangan Lusi. Sementara Devan dan Davin sudah terlebih dahulu di jemput oleh Diana ibu Delano.
Di tempat lain, setelah Lisa mendapatkan dompet dan ponselnya yang di kirim oleh supir di kediaman Suryo. Dia segera merapikan bawaannya.
Air mata Lisa tak dapat lagi dapat ditahan mengingat sebentar lagi dia akan kehilangan banyak momen kebersamaannya bersama keluarganya, begitupun dengan Lusi dan kedua anaknya.
Lisa menatap fotonya berempat dimana saat itu Lisa dan Lusi untuk pertama kalinya membawa si kecil Devan dan Davin ke kebun binatang. Wajah mereka tampak bahagia tanpa beban. Dan foto itu di ambil sebelum Lisa berpacaran dengan Sean.
Lusi memasukkan Foto itu ke dalam tasnya. Ia tak tau sampai kapan akan berada di sana. Bahkan Lisa bertekad akan mencari pengganti Sean di sana.
"Lusi, maaf jika aku tidak berpamitan langsung denganmu. Aku bahagia kau sudah menemukan kebahagiaanmu." desis Lisa.
Lisa keluar dari kamarnya, Bu Yuyun sudah menyambutnya dengan air mata yang berlinang. Sebenarnya dia tidak setuju apa lagi Lisa tidak menyebutkan dimana dia akan tinggal. Lisa beralasan agar dia bisa fokus membantu di sana dan Lisa juga tidak ingin mendapatkan kunjungan dari keluarga dan Lusi.
"Ibu jaga diri baik-baik. Nanti jika tugas Lisa selesai Lisa akan segera kembali."
"Kamu juga jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatan jangan terlalu lelah." Ucap bu Yuyun, Lisa pun hanya mengangguk seraya menahan air matanya agar tidak tumpah.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
kemaleman banget ya maaf. Susah sekarang anak bungsu othor lagi masa menguji kesabaran. Ga bisa di tinggal meleng bentar udah ngilang, kadang mainan air kran, kadang matiin kompor, kadang minyak wangi buat mainan, belum lagi kadang teko minum di isi mainan ma dia. pokoknya ya begitulah. Repot banget.