
*******
Delano menggenggam jemari tangan Lusi. Keduanya berjalan beriringan di belakang ayah dan ibu Lusi. Namun tanpa di duga suara seseorang menginterupsi mereka.
"Lusi .... "
Suryo menghentikan langkahnya begitupun Delano saat nama Lusi di sebut. Keduanya menoleh ke sumber suara yang terdengar asing bagi mereka. Lusi mematung melihat sosok yang memanggil namanya.
"Kamu benar Lusi 'kan? wah sekarang kamu terlihat berbeda sekali. Naik derajat rupanya." Ujar seorang gadis dengan perawakan tinggi itu dengan arogan. Suryo dan Mitha yang mendengar cemooh gadis itu menatap tak suka. Begitupun Delano. Namun Lusi masih menanggapinya dengan santai.
"Wah, senang sekali bertemu denganmu Sheila. Aku tidak menyangka gadis miskin sepertiku ternyata begitu membekas di ingatanmu."
Gadis bernama Sheila itu tampak cemberut kesal mendapat balasan telak dari Lusi.
"Sheila, apa kamu sudah dapat tempat duduk untuk kita?" Lusi menyeringai saat melihat siapa yang sedang berbicara dengan Sheila saat ini.
"Tuan Delano, saya tidak menyangka kita akan bertemu lagi. Sepertinya kita cukup berjodoh ya." Raihana berbicara tanpa menganggap keberadaan Lusi dan kedua orangtuanya.
Sheila tampak tersenyum saat melihat wajah kesal Lusi. Namun sedetik kemudian Lusi bersuara.
"Benar-benar memuakkan. Setidaknya sebagai manusia, tolong hargai perasaan orang lain. Jangan suka bertingkah semaunya sendiri. Anda juga sebenarnya bukan orang buta atau tuli 'kan nona Raihana. Sepertinya kemarin suami saya sudah bilang jika dia sudah punya istri dan anda melihat sendiri hubungan saya dengan suami saya baik-baik sajam. Kecuali memang anda sedang mencari perkara dengan saya." Ujar Lusi dengan suara cukup keras sehingga menarik perhatian beberapa pengunjung restoran. Mereka mulai kasak kusuk membicarakan Raihana. Wajah gadis itu terlihat biasa saja. Namun berbeda dengan sang kakak, Sheila terlihat menutup wajahnya karena malu di tatap oleh begitu banyak pasang mata.
"Kakak sudah. Kenapa malah bikin mmasalah sih" gerutu Sheila.
"Apa salahnya? Cinta tidak bisa dipaksa akan pada siapa harus berlabuh. Cinta itu buta. Jangan salahkan saya jika mencintai tuan Delano. Saya punya hak atas perasaan saya." Jawab Raihana. Lusi terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Mitha memegang bahu Lusi agar tidak lagi meneruskan perdebatan. Apalagi kini mereka menjadi obyek tontonan semua pengunjung restoran itu karena mereka berdebat di dekat pintu masuk. Petugas keamanan juga mulai mendekati mereka.
Suryo hanya menatap datar wajah Raihana dan Sheila. Ia akan membuat perhitungan pada dua wanita itu nanti. Ia akan menyingkirkan semua pengganggu kebahagiaan putrinya dengan caranya sendiri.
"Aku sudah tidak berselera makan di sini." Ujar Lusi berjalan mendahului Delano dan kedua orang tuanya berbalik ke parkiran. Delano segera menyusul Lusi begitu juga Suryo dan Mitha.
__ADS_1
"Kakak, kenapa kakak malah bikin malu sih?" Sheila terlihat kesal seraya menggerutu. Dia juga berbalik arah tidak jadi masuk ke restoran itu. Raihana hanya tersenyum tipis. Niatnya untuk mendapatkan Delano sudah bulat meskipun dia harus bersaing dengan istri Delano. Obsesinya terhadap Delano begitu besar. Dan Dia tidak akan pernah mundur untuk mendapatkan pria idamannya itu. Raihana lantas menyusul Sheila.
Lusi masih memasang wajah kesal. Dia bahkan tak ingin Delano menyentuhnya. Suryo dan Mitha pun tak bisa membujuk putrinya. Mereka tahu pasti saat ini suasana hati Lusi benar-benar buruk apalagi ditambah kondisinya yang sedang hamil. Sudah pasti akan butuh tenaga ekstra untuk membujuknya.
Setibanya di mansion Syailendra
Lusi mengurung dirinya di kamar dia mengunci pintunya dari dalam. Rasa kesalnya benar-benar membuat Delano kalang kabut cemas bukan kepalang.
"Bagaimana ini ayah?" Delano menatap pintu kamar Lusi dengan resah.
"Biarkan ibunya yang berbicara. Kita sebagai lelaki tunggu saja."
Akhirnya Delano mengikuti Suryo menuju ruang kerjanya. Harlan mengetuk pintu, lalu setelah itu dia masuk membawa tablet nya.
"Tuan, menurut penyelidikan memang benar tuan Frederick melakukan kecurangan dan manipulasi data. Bahkan putrinya, yaitu nona Raihana sering menjadi tumbal untuk jalinan kerjasama dengan menjadi pemuas nafsu para klien tuan Frederick."
"Apa kau punya bukti-buktinya?"
"Jika begitu nanti malam kita beri mereka kejutan. Beraninya mereka membuat putriku kesal." Dengus Suryo dengan tampang dingin dan datar. Dia akan menjadi sosok yang begitu menakutkan jika ada yang mengusik kebahagiaan putrinya.
Delano yang sudah lama kenal dengan Suryo hanya tersenyum miring. Membayangkan Raihana akan mendapat kejutan dari mertuanya. Membuat ia sejenak lupa bagaimana kondisi Lusi saat ini.
Mitha sudah berada di dalam kamar Lusi. Setelah mengetuk berkali-kali akhirnya Lusi mau membukakan pintu kamarnya. Wajah nya ditekuk, dia langsung kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ayo kita makan sayang."
"Lusi tidak lapar bu," jawab Lusi seraya menutup matanya memakai lengannya.
"Ingat sayang, kamu sedang hamil. Ada makhluk yang tumbuh di perutmu yang kini membutuhkan perhatianmu." Lusi terhenyak mendengar ucapan ibunya. Dia membuka matanya menatap sang ibu yang kini tengah duduk di samping ranjangnya.
__ADS_1
"Ibu, aku benar-benar tidak suka pada wanita tadi." Lusi meletakkan kepalanya di pangkuan Mitha dengan manja. Mitha mengelus rambut panjang Lusi.
"Sabar sayang, itu salah satu ujian dalam berumah tangga. Kamu harus yakin jika Delano tidak akan mungkin menduakan kamu."
"Aku yakin bu, tapi bagaimana mungkin seseorang bisa tahan dengan godaan yang terus menerus mendatanginya."
"Itu namanya kamu masih meragukan Delano."
"Lusi takut bu," lirih Lusi.
"Sampai kapanpun aku tidak akan berpaling darimu sayang." Delano menerobos masuk dan menyahut omongan Lusi. Ia langsung masuk ke kamar begitu mendengar pembicaraan ibu mertuanya dan Lusi.
Lusi mengangkat kepalanya dan menatap kehadiran suaminya dengan sorot mata sendu. Delano mendekat. Mitha lantas berdiri sementara Delano menggantikan posisi Mitha.
"Sebaiknya selesaikan urusan kalian. Kalian perlu berbicara berdua. Setelah itu pergi ke ruang makan karena Lusi butuh nutrisi untuk janinnya."
Delano mengangguk. Lusi memejamkan matanya saat tangan suaminya membelai wajahnya dengan lembut.
"Jangan kotori hati dan pikiranmu dengan hal-hal yang sekiranya akan membuatmu bersedih. Percayalah hatiku hanyalah untukmu. Aku sungguh mencintaimu Lusi."
Air mata Lusi mengalir dari sudut matanya. Delano mengusapnya dengan lembut dan perlahan mengecup kedua mata Lusi. Ada perasaan nyaman dan hangat yang mengalir di hati Lusi. Dia membuka matanya dan menyentuh rahang Delano. Lusi menarik tengkuk Delano dan mengecup bibir Delano. Mata Delano terpejam merasakan kehangatan bibir istrinya. Tiba-tiba aliran darah keduanya terasa memanas. Delano langsung melu*mat bibir Lusi dengan rakus. Namun di saat suasana memanas pintu kamar Lusi di ketuk dari luar. Wajah Lusi dan Delano memerah merasakan hasratnya memuncak.
Lusi bangkit dari posisinya. Delano segera melangkah dan membuka pintu, tampak seorang pelayan membawa nampan berisi banyak makanan.
"Tuan, ini makanan dari nyonya. Nyonya bilang nona tidak perlu naik turun agar tidak terlalu lelah."
"Baiklah, terima kasih." Delano menutup pintu kamar menggunakan kakinya setelah menerima nampan berisi makanan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa Like, komen dan Vote ya guys 🥰
Selamat bermalam minggu