
********
Saat sedang menunggu Marco mengurus administrasi, Lusi masih belum menyadari jika Harlan sedang mendatanginya.
"Nona, saya diperintahkan tuan muda untuk menjemput anda." ujar Harlan seraya menunduk hormat kearah Lusi.
"Lho, bukannya om jemput ayah sama ibu ya?"
"Tidak nona. Tuan meminta saya untuk mengawal anda. Tadi saya sudah mengkonfirmasi tuan Delano juga dan saya diminta menjemput anda."
"Tapi Marco masih mengantri resepku."
"Dia akan segera menyusul." Saat berbicara dengan Lusi, mata Harlan terus mengedar mengawasi gerak gerik seseorang dari balik kacamata hitamnya. Lusi pun bahkan tak menyadarinya. Dia langsung berdiri dan mengikuti ajudan kepercayaan ayahnya itu.
Harlan sesekali berbicara dengan alat yang terhubung dengan Marco menggunakan sandi. Lusi mengikuti Harlan masuk ke dalam lift. Marco melihat orang yang tadi terus mengikutinya kini sedikit berlari mengejar Lusi dan Harlan. Senyum tipis tersungging di bibir bodyguard tampan itu.
Di dalam lift Harlan menekan semua nomor. Begitu nomor lantai pertama berdenting Harlan membawa Lusi keluar. melewati beberapa ruangan dan masuk ke lift lain.
"Apa ada yang sedang mengikuti kita, om?" Alis Lusi mengernyit saat ia merasa aneh dengan tingkah pengawal itu. Harlan tersenyum miring mendengar pertanyaan Lusi. Rupanya putri dari tuannya ini cukup pintar membaca situasi.
"Iya nona, sejak anda berangkat dari mansion, ada yang mengikuti anda. Sepertinya itu orang suruhan Aditya."
Mereka tiba di basemen, Harlan langsung membawa masuk Lusi ke dalam mobilnya dan melesak meninggalkan area rumah sakit. Lusi duduk bersandar sambil mengurut pangkal hidungnya. Kepalanya mendadak terasa pusing.
"Sebenarnya apa maunya pria itu?" gumam Lusi, namun Harlan masih bisa mendengarnya.
"Dia penasaran dengan anda karena penampilan anda sama persis dengan nona Widya."
"Mungkin dia seorang psikopat." Ujar Lusi dengan wajah kesalnya.
"Tenanglah nona, selagi nona dalam pengawasan tuan Suryo semuanya akan baik-baik saja." Namun bukannya senang Lusi justru tersenyum getir mendengar ucapan Harlan.
"Jika ayah begitu hebat, Kenapa butuh waktu lama untuk menemukanku, om? om Harlan selama ini sudah lama ikut ayah 'kan?pasti om tahu apa alasannya sampai ayah butuh waktu lama untuk bertemu kami?"
__ADS_1
Harlan tersenyum tipis. Dia tahu pasti, suatu saat akan ditanya mengenai hal ini.
"Nona sebaiknya bertanya langsung pada tuan. Saya tidak mau nantinya dibilang mengada-ada."
"Maksud om?"
"Intinya dalam proses mencari nona dan nyonya Mitha tuan besar melewati begitu banyak rintangan dan ujian. Tuan besar bahkan perlu waktu bertahun-tahun agar bisa pulih seperti sekarang. Sampai akhirnya semua kemelut dalam rumah mulai bisa diredam barulah tuan bisa sungguh-sungguh menemukan anda dan nyonya Mitha."
Mendengar cerita dari Harlan membuat Lusi terdiam selama di perjalanan. Bahkan ketika mobil sudah memasuki pelataran Zenon pun Lusi masih larut dalam lamunannya.
"Kita sudah sampai nona."
"Ya, terima kasih om." Lusi keluar dari mobil dan langsung melenggang menuju lantai paling atas untuk menemui Delano.
Saat tiba di depan ruangan Delano, meja Gisel kosong menandakan orangnya sedang tidak ada di tempat. Lusi langsung mengetuk pintu ruangan suaminya lalu membukanya.
Lusi membelalakkan matanya saat melihat ayah dan ibunya ada di sana. Delano tersenyum hangat menatap Lusi. "Surprise .... "
Delano langsung menghampiri Lusi dan membawanya duduk di dekat kedua orang tuanya. Lusi langsung menghambur memeluk sang ayah, bahkan air mata Lusi tak terbendung lagi. Hormon kehamilannya benar-benar mengubah dirinya menjadi wanita yang cengeng.
"Ada apa sayang?" tanya Mitha, wajahnya tampak khawatir melihat Lusi menangis. Lusi lantas mengurai pelukannya dan beralih memeluk ibunya.
"Tidak apa-apa bu, Lusi hanya bahagia saja hari ini." Lusi tersenyum dan mengusap air matanya. Dia merogoh tasnya dan menunjukkan hasil USG nya pada ketiga orang yang begitu berharga baginya.
"Kamu beneran hamil, sayang?" Wajah Mitha berubah sumringah. Mitha kembali memeluk putrinya. "Selamat sayang."
Sementara itu Delano memandang Lusi tanpa berkedip. Ia masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Benarkah saat ini Lusi hamil?
Mitha menatap Lusi dan membingkai wajah putrinya. Tatapan matanya begitu teduh penuh dengan cinta.
"Ibu yakin kamu pasti bisa menjalani semuanya dengan baik-baik saja."
Delano mendekat dan menarik tangan Lusi di hadapan kedua orang tua Lusi. Ia langsung memeluk dan menghujani Lusi dengan ciuman mesra di seluruh wajah Lusi.
__ADS_1
"Kapan kamu periksa? bukannya dokter bilang 2 minggu? kenapa kamu periksa sendirian?" Delano memberondong Lusi dengan pertanyaan. Lusi membelai wajah Delano dengan lembut.
"Tadi aku ke rumah sakit 'kan? jadi sekalian saja aku kepingin cek sudah ada janinnya atau belum. Dan alhamdulillah ternyata beneran hamil."
"Padahal aku pengen lihat."
"Sudah, ga usah sedih gitu. Kan masih ada 9 bulan lagi." Kata Lusi mengusap rahang kokoh Delano. Andai saja kedua orang tuanya tidak ada di sini sudah pasti suaminya akan menerkam dirinya seperti yang sudah-sudah.
"Oh iya, ayah dan ibu kenapa bisa ada di sini?" Lusi tampak sangat penasaran. Karena suaminya pagi tadi masih mengatakan jika dirinya sibuk. Mana mungkin tiba-tiba menjemput kedua orang tuanya demi memberinya surprise.
"Awalnya ayah mau ke perusahaan tapi Harlan mendadak mendapat laporan dari Marco jika ada yang mengikuti mobil kalian. Bahkan orang itu nekat ikut mengawasi di dalam rumah sakit. Jadi ayah minta Harlan menurunkan kami di sini dan langsung menjemputmu."
"Aku sebenarnya juga sudah curiga sejak tadi. Tapi aku pikir karena Marco terlihat santai makanya aku juga tidak ambil pusing ayah."
"Mungkin Marco tidak mau membuatmu takut." Ujar Mitha.
"Ibu tahu kan aku hanya takut jika berada di ruang tertutup dengan laki-laki. Jika di luar itu, aku hanya ingin menghindar agar tidak terlibat terlalu jauh dengan laki-laki."
"Ibu harap seterusnya kamu bisa lebih berani menghadapi mereka. Semakin kamu ketakutan maka akan semakin mudah mereka mengintimidasi kamu sayang."
"Lusi akan berusaha ibu, jadi ibu dan ayah tidak perlu khawatir lagi."
Suryo senang putrinya sudah mulai bisa mengontrol ketakutannya. Dia berharap seterusnya tidak akan ada lagi masalah yang mengganggu kebahagiaan keluarga putrinya. Namun siapa yang akan tahu? akan seperti apa kehidupan mereka kedepannya?
Delano memutuskan membawa Lusi dan kedua orang tua Lusi untuk makan siang di resto langganan ayahnya dan Suryo dulu. Mobil di kendarai oleh Delano tanpa supir namun di belakang mereka sudah ada dua mobil Sedan yang mengikuti. Siapa lagi jika bukan pengawal Suryo dan Lusi.
"Ayah, apa ayah tahu? ayah memperlakukan aku seperti anak pejabat tinggi saja. Banyak orang yang menatap aneh kearahku sekarang karena mereka."
"Ayah hanya ingin memastikan keamananmu sayang."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Like
__ADS_1
komen
giftnya aku tunggu ya 🥰🥰