Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 52. Kesialan Karisa


__ADS_3

********


Karisa masuk ke dalam ruangan kantor Aditya, pria yang masih terlihat tampan di usianya yang terbilang matang.


Senyum Aditya tampak berbeda saat dia berhadapan dengan Karisa. Pria itu bangun dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju mini pantri di ruangannya. Dia menyiapkan 2 unstem glass (gelas tanpa tangkai) high ball. Memasukkan bongkahan es di dalam gelas. Aditya menyajikan Whiskey untuk Karisa. Pria itu sangat pintar dalam memperlakukan perempuan terlebih perempuan seperti Karisa yang memiliki keahlian khusus di atas ranjang. Tentulah Aditya memperlakukannya bak dewi agung.


Aditya duduk bersandar di sofa. Matanya bergerak liar seakan menelanjangi Karisa. Perempuan itu datang memakai pakaian dengan model crop top berwarna merah di balut blazer berwarna abu-abu dan bawahan rok yang sangat minim berwarna merah sama dengan atasannya. Saat Karisa duduk tentu saja rok yang tidak seberapa panjangnya itu naik ke atas hingga memperlihatkan paha putih mulusnya. Berulang kali Aditya menelan salivanya. Rasanya dia sudah tak tahan lagi, di tariknya tangan Karisa hingga tubuhnya itu jatuh menimpa Aditya.


"Tuan, ku mohon bersabarlah." Lirih Karisa. Namun dalam hati dia sedang tertawa melihat Aditya yang bersikap sangat agresif terhadapnya. Karisa merasa pesonanya memang tidak bisa terelakkan.


"Aku memang tidak bisa bersabar. Kau yang mendatangi ku dengan pakaianmu itu. Aku tahu kau memang berniat menggodaku." Desis Aditya. Karisa mengangkat wajahnya dan membelai wajah Aditya, tak menunggu waktu lama Aditya langsung menyambar bibir Karisa dan melu*matnya dengan rakus. Tangan pria itu bahkan bergerak bebas mere*mas gundukan sintal di dada Karisa. Keduanya kini sama-sama memanas. Bahkan baju Karisa pun sudah berantakan. Di saat keduanya masih asik mereguk kenikmatan pintu ruangan Aditya di buka lebar oleh dua orang wanita beda generasi. Keduanya tampak sangat anggun dan berkelas namun tatapan mata mereka terlihat bengis. Salah satu wanita itu berjalan dengan cepat dan menarik rambut Karisa.


"Dasar jala*ng si*alan ...!! beraninya kau menggoda suamiku." Teriak wanita itu. Karisa membelalak saat tubuhnya terhempas di karpet.


"Adinda ... apa yang kau lakukan?" bentak Aditya, hasrat yang sudah di ujung rambut menjadi down seketika melihat kedatangan ibu dan juga istri keduanya. Wanita yang dulu menjadi selingkuhannya saat Aditya menjadi suami Widya adik Suryo.


"Apa yang aku lakukan? kau masih bertanya Aditya? dimana otakmu? aku akan buat jalan* ini menyesali perbuatannya telah mengganggumu." Pekik Adinda, nyonya Sarah ibu Aditya hanya diam menatap putranya dengan wajah kecewa.


Adinda kembali menarik rambut Karisa dengan bengis tanpa rasa kasihan dia menyeret Karisa.


"Lepaskan aku, dasar si*alan." teriak Karisa seraya menahan tangan Adinda. Kepalanya berdenyut nyeri karena cengkeraman tangan Adinda begitu kuat.


"Kamu benar-benar membuat ibu kecewa Aditya."


Lirih Sarah, namun Aditya justru terkekeh dengan wajah tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Sarah menyusul menantunya yang terlebih dahulu turun. Sarah membawa tas milik Karisa. Dengan wajah angkuh dia melewati meja sekertaris Aditya.


Sementara itu Adinda yang masih menarik rambut Karisa hingga ke lobi perusahaan itu pun menjadi pusat perhatian para karyawan.


"Keamanan .... " teriak Adinda.


"Ada apa nyonya?"


"Seret orang ini dari kantor ini." Adinda menatap tajam kearah Karisa. Satpam yang mendekat ke arah Karisa langsung mencekal tangan Karisa.

__ADS_1


"Jangan harap kotoran seperti dirimu bisa menginjakkan kakimu lagi di sini." Desis Adinda.


BRUGH!!


Tas milik Karisa di lempar oleh Sarah ibunda dari Aditya. "Pergi kamu ... jangan pernah ganggu anak saya lagi." hardik Sarah seraya menunjuk tepat di depan wajah Karisa.


Malu bukan kepalang yang Karisa rasa saat ini. Apalagi dirinya belum sempat membenahi dandanannya. Dan kini dirinya harus di permalukan di depan umum.


Suara hentakan sepatu pantofel terdengar menggema. Itu karena suasana lobi yang mendadak hening karena semua mata sibuk menatap ketiga wanita itu.


Langkah kaki itu berhenti tepat di depan Karisa, Adinda dan Sarah.


"Bibi Sarah, apa yang terjadi?" Suara seorang pria memecah keheningan di lobi kantor Aditya itu.


"Jeff .... " Seru Sarah berjalan melewati Karisa dan memeluk keponakannya itu.


"Ada apa ini bibi? kakak ipar?" tanya Jeff menatap Adinda dan Sarah bergantian. Tanpa berniat melirik wanita yang sebenarnya Jeff sangat mengenalinya.


"Ada Jala*ng yang berusaha merayu kakak sepupumu." Ucap Sarah memasang wajah sendu.


"Jeff tolong aku .... "


Sarah menatap Karisa nyalang, bagaimana jala*ng ini tahu tentang Jeff.


"Kau mengenalnya Jeff?"


Jeff melirik kearah Karisa yang berpenampilan layaknya wanita panggilan.


"Tidak .... " tegas Jeff. Wajah Karisa seketika memerah, tangannya terkepal hingga nampak buku-buku jarinya memutih.


"Si*alan kau Jeff." pekik Karisa tidak terima.


Akhirnya dengan sedikit di seret petugas keamanan membawa Karisa menyingkir dari lobi kantor Aditya.


.

__ADS_1


.


.


Sore ini Delano membawa Lusi jalan-jalan ke mall bersama kedua putranya. Devan dan Davin tampak bersemangat sekali. Mereka terus melompat lompat sepanjang lorong.


"Devan, Davin jangan lompat-lompat nanti jatuh!" Seru Lusi. Namun Delano mengeratkan pegangan tangannya memberi isyarat pada Lusi agar tidak terlalu mengkhawatirkan kedua putranya. Toh mereka diikuti oleh baby sitter nya.


"Tenanglah, mereka diikuti oleh baby sitter nya. Aku harap kamu menikmati me time kita saja. Karena sebenarnya aku ingin mengajakmu berkencan tapi aku juga tidak ingin Devan dan Davin merasa diabaikan." Ucap Delano sesekali mengecup puncak kepala Lusi. Mereka berdua mengikuti langkah kaki kedua anaknya menuju area permainan.


"Mbak, tolong mereka di jaga. Nanti jika mereka mencari kami, kami ada di kafe itu." tunjuk Delano, kedua pengasuh itupun mengangguk tanda mengerti. Delano terus menggenggam jemari Lusi seakan tak ingin melepaskan tangan istrinya itu.


"Lano, long time no see?" Ujar seorang wanita berperawakan tinggi langsing menghampiri tempat duduk mereka.


"Florencia?" Delano tersenyum ke arah wanita itu yang ternyata adalah sahabatnya dulu saat di Universitas.


Flo yang hendak memeluk Delano seketika membeku menatap tangan pria itu seakan memberi tanda dia tak ingin ada sentuhan dengan Flo.


"Ha... ha... ha kamu takut istrimu cemburu ya?"


"Tentu saja. Perkenalkan dia istriku namanya Lusi." Delano menarik tangan Lusi agar mendekat. Lusi akhirnya mengulurkan tangan dan di sambut oleh Flo.


"Lusi .... "


"Aku Florencia tapi semua teman-temanku biasa memanggilku Flo." Flo membalas menjabat tangan Lusi.


"Apa kau mau bergabung?" tawar Delano namun Flo menggeleng.


"Aku hari ini ada pertemuan dengan pihak promotor penyelenggara fashion show besok di hotel Grand Luxury. Mungkin lain kali. Senang bertemu denganmu lagi Lano." Ucap Flo seraya mengerlingkan matanya pada Delano.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Waduh Flo cari gara-gara sama Lusi kayanya.


Maaf ya update malam nunggu putri dan pangeranku tidur dulu baru bisa ngetik. ini aja mata bentar-bentar udah merem melek ga nahan.

__ADS_1


__ADS_2