Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 118. Ulang tahun Devan dan Davin


__ADS_3

********


Setelah infus Lusi dilepas, Lusi terlihat lebih segar. Devan dan Davin sudah kembali ke kamar mereka setelah begitu lama dibujuk oleh Delano, pria itu berusaha meyakinkan kedua anaknya jika bundanya butuh banyak istirahat. Suster Ambar sudah pulang beberapa menit yang lalu. Delano sempat memberikan uang yang dimasukkan ke dalam amplop coklat.


"Bagaimana? apa sudah merasa lebih baik?" tanya Delano, kini kedua pasutri itu bersandar di headboard ranjang seraya menonton film kesukaan Lusi.


"Hmm ya, jauh lebih baik," jawab Lusi. Ia bersandar di dada bidang Delano.


"Tadi saat aku pingsan, aku mimpi kembali ke masa lalu saat aku berusia 8 tahun. Tapi anehnya aku memiliki semua ingatan hingga aku sebesar ini. Aku seperti baru bangun tidur, saat aku membuka mata, aku berjalan menuju pintu tapi di balik pintu pria itu sedang melakukan hubungan badan dengan tante Karmila. saat aku akan berbalik, Jaka menatapku sambil tersenyum. Aku benar-benar takut mas," tutur Lusi.


"Sshh... jangan diingat-ingat lagi. Aku tidak mau kamu sakit." Delano mengusap bahu Lusi dan mencium puncak kepala Lusi.


"Di dalam mimpiku Aditya juga tiba-tiba muncul lalu menusuk Jaka berkali-kali. Setelah itu kamu datang, tapi Aditya langsung menembakmu."


"Itu hanya bunga tidur, sayang. Yang terpenting sekarang semuanya sudah tidak akan mengganggumu lagi. Jaka sudah meninggal dan Aditya akan di penjara dalam kurun waktu yang cukup lama."


"Lalu, bagaimana dengan kerja samaku dengan dia mas?"


"Kamu tenang saja, kakakku Glen yang akan mengambil alih perusahaan itu."


"Oh iya, ngomong-ngomong siapa dia, mas?"


"Dia adalah kakak angkat ku, dia sudah lama bekerja pada Aditya."


"Kenapa waktu itu dia memanggil mas dengan panggilan tuan?"


"Karena memang dia seperti itu, sayang. Dia selalu profesional saat bekerja." jawab Delano terkekeh dia memang menyadari jika Glen kakaknya adalah orang yang sangat kaku.


.


.


.


Hari pun berganti dengan cepat. Tak terasa hari ini adalah hari ulang tahun kedua putra Delano, sekaligus hari kematian istri pertamanya.


Lusi sedang bersiap. Dia memakai atasan berwarna navi dengan motif Pholcadot dan memakai celana kulot berwarna hitam, dengan flat shoes berwarna senada dengan atasan yang ia kenakan. Wajah Lusi sengaja memakai riasan dan rambutnya diikat ke atas. Perut lusi sudah terlihat sedikit menyembul. Berulang kali dia mematut dirinya di cermin.

__ADS_1


"Kamu sudah cantik, sayang." Bisik Delano. Dia juga memakai stelan kemeja berwarna senada dengan baju Lusi. Wajahnya semakin terlihat bersinar dengan tatanan rambut yang disisir ke belakang.



"Sepertinya kamu akan jadi pusat perhatian di acara Devan dan Davin, penampilanmu yang seperti ini, kamu terlihat seperti gadis yang akan pergi kuliah" celetuk Delano.


"Kamu kali, mas yang bakalan jadi pusat perhatian guru² mereka. Pokoknya awas aja, kalo sampai mas berani lirik-lirik wanita lain. Lihatlah penampilan kita, sudah bagai bumi dan langit." ujar Lusi sengit. Delano tersenyum senang karena Lusi mulai terlihat posesif kepadanya.


Delano langsung memeluk perut Lusi dari belakang. "Kamu, gemesin banget sih kalau lagi cemburu gini, tapi kamu benar, kita bagai langit dan bumi. Kamu langit nya aku bumi. Lusi hanya menanggapi gombalan dengan memanyunkan bibirnya.


"Mas, apa nanti kita akan mengunjungi makam, mbak Karina?"


"Entahlah, sayang, aku juga belum kepikiran waktu yang tepat untuk memberi tahu mereka. Aku hanya tidak ingin merusak hari bahagia mereka," tutur Delano seraya terus menyusuri leher jenjang Lusi.


"Mas, ihh... geli," Lusi memukul dada Delano pelan.


"Apa acaranya tidak bisa ditunda?" desis Delano dengan suara parau. Namun Lusi malah berbalik dan meninggalkan Delano seraya mengerlingkan matanya.


"Tidak, ayo, mas berangkat!" ujar Lusi di depan pintu kamar mereka seraya terbahak. Delano tersenyum seraya geleng-geleng kepala dengan sikap istrinya itu. Delano lantas berjalan menyusul sang istri.


Keluarga Delano dan keluarga besar Lusi telah berkumpul, beberapa tamu undangan juga sudah datang. Lisa dan Regan terpaksa harus memundurkan jadwal keberangkatan mereka demi keponakannya.


Devan dan Davin sangat bahagia di tengah kemeriahan ulang tahun mereka senyum mereka terus mengembang, Hingga membuat siapapun yang menatap mereka turut mengembangkan senyuman.


Lusi tak kalah bahagianya melihat senyum kedua putranya. Rasanya 5 tahun perjuangannya kemarin membesarkan mereka kini terbayar lunas. Bagi Lusi seluruh hidupnya hanya untuk membahagiakan Devan dan Davin, bayi yang tanpa sengaja dia temukan dan dia rawat dengan penuh perjuangan juga cemoohan orang. Namun bagi Lusi saat bersama kedua putranya Lusi bisa mendapatkan ketenangan bahkan rejeki Lusi pun mengalir dengan deras.


"Kenapa kamu terus senyum-senyum sendiri, sayang."


"Karena aku bahagia mas, Lihatlah senyum mereka sejak tadi tidak pernah surut," ucap Lusi seraya menatap kedua putranya.


"Mm.. kamu benar, rasanya aku tidak tega jika harus mengatakan kebenarannya."


"Kita tetap harus mengatakannya. Bagaimanapun mereka 9 bulan tumbuh di perut mbak Karina dan di lahirkan olehnya. Meskipun sejak dari lahir akulah yang merawat dan membesarkan mereka." Ujar Lusi.


MC acara memanggil Delano dan Lusi untuk maju ke depan karena acara potong kue akan segera dimulai. Keduanya berjalan beriringan seraya sesekali menyapa tamu yang hadir.


Devan tampak antusias membelah kue mereka. Keempat orang itu memegang pisau roti yang panjang lalu saat lagu potong kue nya menggema mereka mulai membelah kue.

__ADS_1


"Terima kasih, ayah, terima kasih, bunda." Devan dan Davin memeluk dan mencium kedua orang tuanya.


Acara telah usai dan menyisakan keluarga besar mereka. Raffi sepupu Delano berjalan seraya menggandeng tangan seorang gadis. Wajah gadis itu memerah, dia terus menunduk karena malu.


"Ada apa, sayang, angkat kepalamu. Jangan malu." ujar Raffi. Namun gadis itu semakin menyembunyikan wajahnya di lengan Raffi.


"Shanti... ya ampun, itu beneran kamu?" Lusi mendekati Shanti, manager di butiknya dengan senyum yang semakin lebar.


Shanti sendiri merupakan adik kelas Lusi di sekolah kejuruan. Dia ikut menjadi karyawan Lusi karena saat itu dia tak ada biaya untuk lanjut ke Perguruan tinggi. Namun atas kebaikan Lusi, Shanti dibantu Lusi membiayai kuliahnya hingga selesai sembari bekerja. Hal itu lah yang membuat Shanti mengabdikan dirinya di butik milik Lusi.


Lusi menatap Raffi, pria itu menggaruk tengkuknya sambil tersenyum. "Hehehe... maaf ya aku membawa karyawanmu."


"Tidak masalah, aku justru senang. Tapi jangan pernah mempermainkan nya atau aku akan buat perhitungan sama kamu," ucap Lusi seraya melirik Shanti yang terus menunduk.


"Tentu saja tidak akan," jawab Raffi seraya mengusap bahu Shanti.


Raffi lalu kemudian menghampiri Devan dan Davin meninggalkan Shanti bersama Lisa dan Lusi.


"Sejak kapan, Shan? kamu tega banget ga kasih tahu aku sama sekali."


"Baru, mbak. Sebulan yang lalu pas dia ambil pesanan. Trus aku bantu dia karena dia dikejar-kejar wanita. Aku disuruh pura-pura jadi pacarnya. Eh ga taunya kecantol beneran." Shanti mengatakannya dengan wajah semerah tomat.


"Ya ga apa-apa sih. Raffi kan orangnya perhatian dan juga kelihatan banget dia bucin sama kamu," ucap Lusi menggoda Shanti.


"iih, apa sih mbak."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


2 bab menuju ending ya guys. othor soalnya mau prepare ikut lomba menulis novel. Nanti kalian mampir ya. meskipun berbau mafia tapi kalian pasti tahu lah othor ga suka konflik berat.



entah dia mikirin siapa? atau jangan-jangan mikirin othor lagi ya.


akhirnya othor nemuin nama dia bagi yang penasaran simak dengan baik namanya **Kem Hussawee.


Kasih bunga yang banyak lho ya. nyari namanya sampai ga tidur semalaman othor**

__ADS_1


__ADS_2