
********
Delano dan Lusi memasuki ruang makan, kedua putra mereka sedang sarapan sambil sesekali bercerita pada mama Diana.
"Bunda... " Devan dan Davin langsung turun dari kursinya dan menghambur memeluk Lusi.
"Pelan-pelan sayang," kata Lusi mengingatkan. Kedua putranya justru malah terkekeh mendengar nasihat bunda nya.
"Bunda, kami mau ulang tahun kami dirayakan," kata Devan dan Davin pun mengangguk setuju.
"Iya, bunda, ulang tahun kali ini kita mau ulang tahun di sekolah, bunda," timpal Davin, dan kini giliran Devan yang mengangguk membenarkan ucapan adiknya.
"Iya, nanti bunda akan atur semuanya," jawab Lusi. Diana terus memperhatikan wajah Lusi yang terlihat sedikit pucat.
"Kamu sakit, Lusi?" tanya Diana.
"Dia demam, mah," jawab Delano.
Devan dan Davin langsung terlihat khawatir.
"Bunda, bunda sakit?"
"Tidak apa-apa, sayang, bunda baik-baik saja, sayang." Lusi tersenyum lembut pada kedua putranya.
Lusi dan Delano mulai sarapan pagi, namun sesekali Delano tampak sibuk dengan ponselnya tapi Lusi membiarkannya saja.
Akhirnya keluarga kecil itu meninggalkan mansion. Hari ini Delano memakai supir karena dirinya ingin quality time dengan Lusi. Mobil yang mereka tumpangi tiba di depan sekolah kedua putranya. Devan dan Davin tampak sangat bersemangat sekali.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya Devan dan Davin masuk ke kelas. Hanya Lusi yang ikut mengantar keduanya hingga di depan pintu kelas.
Sekembalinya Lusi, mobil kembali melaju membelah jalanan. Kini mereka berada di depan sebuah rumah sakit khusus untuk ibu hamil dan anak.
"Delano kembali mengetik sesuatu di ponselnya. Lusi memilih duduk sambil menunggu suaminya.
"Mas... "
"Iya sayang, kenapa?"
"Kenapa periksa di sini? kenapa ga di dokter Zhafira saja?"
"Sayang, dokter Zhafira juga praktek disini. Jadi kamu tetap akan di periksa olehnya."
Saat menunggu antrian ponsel Lusi bergetar. Dia melihat nama si pengirim pesan, Lusi geleng-geleng kepala saat membaca isi pesannya.
"**Nona, berhubung saya masih kurang sehat, bisakah pertemuannya di hotel tempat saya menginap. Ini alamatnya ..... "
"Ya, baiklah**."
__ADS_1
Lusi membalasnya dengan singkat, lalu dia menyerahkan ponselnya pada Delano. Delano membaca pesan dari Aditya dengan smirk.
"I get you," Batin Delano. Delano kembali mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kamu tidak perlu datang, sayang."
"Aku memang tidak ingin mendatangi tempat seperti itu."
Tak lama nama Lusi dipanggil. Dia menyapa perawat yang akan memeriksa tensi dan berat badannya dengan sopan. Delano masih setia mengekor di belakang Lusi. Kini keduanya masuk seraya bergandengan tangan.
"Tuan Delano, nyonya Lusi." sapa dokter Zhafira seraya mengulurkan tangannya. Lusi dan Delano pun langsung menjabat tangan dokter Zhafira.
"Ada keluhan apa nyonya Lusi?"
"Begini dokter, istri saya semalam demam tapi saya tidak berani memberikan sembarangan obat." Delano langsung menyahut begitu saja saat dokter Zhafira bertanya. Lusi langsung menepuk paha Delano dengan keras.
"Aw, sakit, sayang."
"Siapa suruh mas langsung menyahut. Kan aku yang ditanya." Kedua pasutri itu malah berdebat di depan sang dokter. Hingga membuat dokter Zhafira tertawa.
"Tidak apa-apa nyonya Lusi. Saya sudah sering mendapati suami yang karakternya seperti tuan Delano. Tidak apa-apa, justru itu sangat bagus. Artinya tuan Delano ini tipe suami siaga. Peran serta suami memang sangat diperlukan apalagi saat trimester pertama seperti anda, yang moodnya kadang gampang berubah hanya karena hal-hal yang sepele. Tapi makin bagus lagi kalo selama kehamilan hingga persalinan suami tetap memperhatikan istri. Jangan mau enaknya saja, tapi pas susah menghilang," tutur dokter Zhafira seraya mengerlingkan matanya pada Delano.
"Saya tidak akan seperti itu, dokter," tukas Delano.
"Baiklah kalo begitu, kita coba lihat dulu perkembangan janinnya. Silahkan nyonya Lusi."
"Anda lihat itu tuan, itu adalah janin nyonya Lusi. Usia kandungannya kini 8 minggu. Janin mulai berkembang dengan baik dan sesuai, saran saya perbanyak mengkonsumsi asam folat, Agar perkembangan tabung syarafnya juga bisa maksimal. Dan yang paling penting untuk menghindari resiko cacat lahir."
Delano manggut-manggut saat mendengarkan penjelasan dokter Zhafira. Lalu tak lama terdengar bunyi detak jantung janin, Delano menatap layar monitor itu dengan mata berkaca-kaca.
"I-ini... "
"Ya, ini bunyi detak jantung janin kalian." Lusi dan Delano tak mampu menahan perasaan haru yang tiba-tiba memenuhi rongga dada mereka.
Setelah pemeriksaan selesai, Delano dan Lusi kini sedang menuju tempat yang dijanjikan oleh Aditya. Delano tampak tenang, berbeda dengan Lusi yang sedikit gelisah.
"Ada apa, sayang?"
"Tidak, apa mas yakin? kita hanya berdua saja?"
"Memangnya kamu mau membawa siapa?"
"Setidaknya kemarin aku sudah menghubungi Marco dan om Lukman supir yang dulu mengawalku."
"Mulai sekarang, hanya aku yang boleh kamu harapkan untuk melindungimu," bisik Delano seraya melu*mat bibir Lusi.
"Mas... " desah Lusi saat ciuman Delano turun menyusuri leher jenjangnya.
__ADS_1
"Apa sebaiknya kita batalkan saja pertemuan ini?" bisik Delano dengan suara yang terdengar serak.
"Kita sudah hampir sampai, mas," Lusi bergidik kegelian karena Delano masih terus mencumbu bahkan menghisap leher Lusi hingga meninggalkan jejak kemerahan di leher Lusi.
Setibanya di pelataran hotel yang Aditya maksud, Delano membantu Lusi turun.
"Pokoknya nanti jangan pernah jauh-jauh dariku," ujar Delano seraya menggenggam tangan Lusi. Lusi tersenyum dan mengangguk. Entah mengapa perasaannya mendadak tak nyaman. Semoga saja Aditya
tidak melakukan sesuatu di luar batas.
Ternyata saat masuk di depan resepsionis, Regan sudah menunggunya bersama seorang pria yang tampaknya seumuran, dan wajahnya terlihat datar.
"Tuan... " pria itu membungkuk memberi hormat pada Delano.
"Bagaimana?" tanya Delano memastikan.
"Semuanya sudah siap, tuan."
"Bagus, sekarang pergilah terlebih dulu. Nanti kami akan menyusul." Pria itu mengangguk dan pergi dari hadapan Delano.
Lusi masih penasaran dengan pria tadi. Sepertinya pria itu cukup dekat dengan Delano.
"Dia siapa, mas?" tanya Lusi, ia akhirnya tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Dia? Delano menunjuk ke arah pria tadi, Lusi pun mengangguk.
"Ra-ha-sia," bisik Delano di telinga Lusi. Lusi menghentakkan kakinya kesal. Dia seakan melupakan perasaan tak nyamannya. Kini dia berjalan mendahului Delano. Delano hanya tersenyum.
Ternyata Delano menyadari kegelisahan Lusi sejak tadi, dia hanya ingin membuat Lusi lebih Rileks karena semua sudah diatur sebaik mungkin olehnya.
Sesampainya di depan pintu kamar yang Aditya pesan, jantung Lusi kembali berdebar tak beraturan.
"Ketuklah .... " perintah Delano. Lusi mengangguk. Regan bahkan juga sudah bersiaga di belakang kedua pasutri itu.
Lusi akhirnya mengetuk pintu kamar Aditya. Tak butuh waktu lama, Aditya langsung membuka pintu kamarnya dengan senyum yang merekah. Namun sepersekian detik senyumannya tanggal dari bibirnya melihat Lusi tidak datang sendiri. Aditya pun terkekeh sendiri. Sepertinya ekspektasi nya terlalu tinggi."
"Wah, saya kira tuan Delano adalah pria yang sibuk. Ternyata anda punya cukup banyak waktu untuk mengawal istri anda kemanapun, ya?"
Delano hanya tersenyum miring menanggapi ocehan Aditya.
"Silahkan masuk jika begitu."
Lusi, Delano dan Regan langsung masuk tanpa ragu.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
jangan lupa like komen dan Vote kalian ya tsay 🥰🥰🥰
__ADS_1