Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 37. Kau Pikir Aku Bodoh? (Bonus Visual)


__ADS_3

******* Bukan zona Bocil ******


Lusi bersandar di sofa. Ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri.


Sekelebat lintasan masa lalu kembali menari-nari di benaknya. Lusi menutup matanya menggunakan sebelah lengannya.


Flashback


Lusi mengikuti langkah kaki Jaka. Pria yang baru saja di ketahui ternyata bukan ayah kandungnya. Dengan rasa penasaran yang tinggi Lusi mengendap-endap saat mendengar suara desa*han dari balik pintu. Lusi mengintip dari celah yang sedikit terbuka. Matanya melebar saat melihat Jaka dengan rakus melu*mat bibir Karmila, janda yang baru pindah beberapa minggu di sebelah rumah mereka.


Bukannya pergi Lusi kecil justru semakin penasaran. Gadis itu mendekat dan melihat Jaka mulai menggerayangi tubuh wanita itu, bahkan daster yang di kenakan Karmila sudah tak berbentuk lagi.


Tanpa Lusi tahu Jaka melihat Lusi yang sedang mengintip nya. Bukannya menghentikan kegilaannya Jaka justru semakin liar memainkan tubuh Karmila. Seakan-akan Jaka sedang memperlihatkan suatu pelajaran untuk Lusi.


Karmila terus mende*sah di bawah tubuh Jaka. Bahkan ia sempat senyum kecentilan saat Jaka memacunya dengan penuh semangat.


Lusi kecil berlari meninggalkan tempat itu dan mengurung diri di kamar. Tapi Jaka menyusul gadis malang itu. Jaka meraih tubuh Lusi dan memangku nya. Lusi meronta saat Jaka menciumnya. Lusi mulai merasa jijik di sentuh Jaka. Tapi pria itu seakan tak kehabisan ide. Lusi terus meronta namun ancaman Jaka membuat Lusi terdiam.


"Diam, atau aku tidak akan segan membunuh nenek dan ibumu!!" Hardik Jaka. Lusi kecil gemetaran karena takut apalagi Jaka mulai menggerayangi tubuh Lusi seraya mencium Lusi. Karena sangking takutnya Lusi akhirnya jatuh pingsan.


Tak sampai di situ saja kelakuan menyimpang yang Jaka lakukan untuk membuat mental Lusi akhirnya terganggu. Lusi benar-benar trauma dan ketakutan. Dia histeris setiap kali melihat Jaka.


Tak hanya sampai disana, Lusi menjadi anti dengan setiap pria yang dia jumpai. Tubuhnya akan gemetaran setiap berpapasan dengan pria. Namun dia bukan gadis yang mudah menyerah. Dia kembali bangkit dari keterpurukannya setelah ibunya berpisah dengan Jaka. Meski sudah bisa menguasai dirinya tapi ketakutan terbesar Lusi ada pada sentuhan fisik.


Flashback end


Bulir bening mengalir dari sudut matanya. Namun siapa sangka jika ada tangan yang begitu hangat mengusap air mata Lusi. Lusi membuka lengannya yang ia pakai untuk menutupi matanya. Delano menatap Lusi teduh, dengan senyum hangat yang menghiasi wajah tampannya.


"Mengapa menangis? apa kamu takut dengannya?" Lusi mengangguk lalu tersedu-sedu. Dia benci dirinya yang terlihat lemah di depan orang lain. Namun dia tidak bisa begitu saja menghilangkan ketakutan terbesarnya.


Delano meraih lengan Lusi dan menarik gadis itu kedalam dekapannya.


"Percayalah, kau akan baik-baik saja. Aku berjanji akan melindungimu Lusi." Lusi memejamkan matanya. Dirinya pun tak mengerti kenapa dengan Delano dia tidak merasa ketakutan yang berlebihan.


.


.

__ADS_1


.


Tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat besok adalah hari dimana Delano akan mengucap ijab qabul dan menjadi suami untuk Lusi.


Karisa datang lagi ke kantor Delano, saat itu Delano sedang duduk di sofa dan tertidur seraya menutup matanya dengan lengannya.


Pintu yang sedikit terbuka memberi cela untuk Karisa masuk. Wanita itu tersenyum saat mendapat kesempatan untuk menemui Delano. Dia menyelinap masuk kedalam dan mendapati Delano tertidur menutup matanya menggunakan lengan. Karisa membungkuk mencondongkan badannya. Ini kesempatan baginya untuk menikmati bibir seksi pria yang ada di hadapannya. Namun saat bibir Karisa hampir bertaut dengan bibir Delano empat tangan mungil memukuli pantatnya seraya berteriak. Karisa terkejut bukan main begitu pub Delano. Mata Karisa membelalak lebar melihat Devan dan Davin.


"K...kalian." Karisa tak percaya dengan apa yang ia lihat. Anak-anak ini kenapa wajahnya mirip sekali dengan Delano?


"Tante mau apain ayah?" Alis Devan bertaut wajah pria kecil itu tampak sangat marah.


Delano menatap Karisa dengan tajam. Karisa menjadi salah tingkah.


"Eh ... itu tadi tante melihat ada kotoran di dekat pipinya." Ucap Karisa seraya menunjuk wajah Delano. Delano mengusap pipinya seketika namun dia tak mendapati apapun di tangannya.


"Sayang .... " Lusi masuk ke ruangan Delano. Ia berpikir Karisa adalah kolega Delano.


"Maaf aku tidak tahu kamu sedang menerima tamu." ucap Lusi tak enak hati. Ditambah lagi dia melihat wajah Karisa yang mulai di selimuti kabut kebencian, dan sebagai sesama wanita dia sangat tahu jika wanita itu tidah menyukainya.


"Tidak apa-apa Lusi. Lagipula tamuku sudah mau pergi." Ucap Delano menghampiri Lusi. Ia menarik tangan Lusi agar duduk di dekatnya.


"Beginikah caramu memperlakukanku Delano? aku saudari dari istrimu. Meski saudariku sudah meninggal setidaknya perlakukan aku dengan baik." Ujar Karisa dengan wajah memerah. Marah sudah pasti apalagi semua ini Delano lakukan di depan wanita itu. Lagi-lagi wanita itu datang di kantor Delano. Sebenarnya Karisa penasaran dengan hubungan antara keduanya.


"Bunda, tante itu tadi mau sentuh wajah ayah." Lapor Davin pada Lusi. Karisa semakin terbelalak kaget. Ada apa ini sebenarnya? siapa wanita ini? kenapa anak-anak itu memanggil Delano dengan sebutan ayah?


Delano menatap datar ke arah Karisa. "Kau ingin aku memperlakukanmu seperti apa?" Delano menoleh ke arah Lusi. ---- "Bawa anak-anak masuk ke sana dan kunci pintunya. Aku perlu berbicara dengannya." Ujar Delano lembut menatap Lusi. Tanpa menunda waktu Lusi mengangguk dan mengajak Devan dan Davin masuk ke ruang pribadi Delano. Lusi juga merasa tak nyaman jika terus berada di sana. Wanita itu terus memperlihatkan tatapan permusuhan pada Lusi.


Devan dan Davin menatap tajam ke arah Karisa. Namun wanita itu sama sekali tak peduli pada kedua bocah itu.


"Aku ini satu-satunya keluarga Karina. Kami yatim piatu. Apa kau tega membiarkan aku sendirian?" Karisa mencoba bersikap memelas pada Delano.


Delano terkekeh seraya menggelengkan kepalanya.


"Kau ini, bertindak seolah-olah kau tersiksa setelah kehilangan adikmu. Apa kau pikir aku bodoh? kau pikir aku akan diam saja setelah kecelakaan itu? Kau salah Karisa. Aku diam justru karena kau adalah saudari dari almarhumah istriku. Karena aku masih punya hati untuk mengampunimu. Entah dosa apa yang Karina punya padamu sehingga kau memperlakukan saudari satu rahimmu dengan buruk." tutur Delano datar. Tatapan matanya tajam mengintimidasi Karisa.


"Apa Delano tahu apa yang sudah aku lakukan pada Karina? tidak, ini pasti tidak mungkin. Dia pasti hanya menebaknya." Batin Karisa.

__ADS_1


Sejujurnya dia pun khawatir selama ini. Dia takut Delano mengetahui semuanya.


"A...apa yang kau katakan aku tidak mengerti?"


Delano tersenyum miring melihat Karisa yang seakan tak pernah melakukan kejahatan.


"Aku tahu, kau yang membuat aku dan Karina terjebak di hotel. Aku juga tahu kau yang mencampuri minumanku dengan obat perangsang di hari dimana Karina pingsan."


"A...aku benar-benar tidak tahu apa yang kau katakan." Dengan gugup Karisa masih terus mengelak.


"Terserah padamu mau menyangkal semuanya pun tak masalah bagiku. Aku punya semua rekaman tindak kejahatanmu Karisa. Jadi menjauhlah dari hidupku sejauh-jauhnya atau akan ku buat kau menyesali telah berurusan denganku." Desis Delano. Karisa langsung pergi keluar dari ruangan Delano.


Delano mengusap waiahnya kasar.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Lusiana



Delano



Karina & Karisa



Regan



Jeffrey



Jangan lupa like komen dan gift kalian. Biar othor semangat. Sapa tau kalo gift hari ini tembus 5000 othor bakalan crazy up. 😂😂😂 (malak)

__ADS_1


Aku bawa karya baru juga neh dari temen aku. Judulnya Bodyguard ku suamiku.



__ADS_2