Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 107. Menyukai Sentuhanmu


__ADS_3

*********


Lusi masuk ke kamarnya, setelah selesai membersihkan dirinya, Lusi segera berganti baju.


Delano tak langsung masuk menyusul sang istri. Tetapi dia terlebih dahulu menemui ayah mertuanya untuk membicarakan tentang Jaka.


"Apa ayah sudah mencaritahu keberadaan Jaka?" tanya Delano gusar. Jujur saja ia khawatir jika Lusi akan kembali pada kondisinya dulu, sama saat seperti waktu trauma waktu itu.


"Kamu tenang saja. Ada Harlan yang mengurusnya."


"Bagaimana aku bisa tenang yah? sejak tadi Lusi terus melamun dan bengong setelah bertemu Jaka."


"Apa perlu ayah yang bicara dengan Lusi?"


"Tidak perlu yah. Mungkin Lusi perlu waktu.


Delano akhirnya menyusul Lusi masuk ke dalam kamar. Namun ternyata istrinya sudah terlelap. Delano duduk di sebelahnya dan membelai wajah Lusi dengan perlahan.


"Aku akan melindungimu dan calon bayi kita," desis Delano


Di lain sisi, Jaka sedang berlari dengan kaki pincang. Orang yang beberapa waktu lalu menyiksanya kini kembali mengejarnya bahkan pria itu tak ragu melepas tembakannya.


"Sial, benar-benar sial. Lain kali sebaiknya langsung ku habisi saja anak si*alan itu." gerutu Jaka. Dia bersembunyi di balik tembok rumah kosong. Sesekali dia menengok keluar, mencoba melihat situasi.


Jaka terduduk di lantai yang berlumut dan kotor. Napasnya masih terengah-engah setelah berlari dan ditambah dengan rasa sakit yang sejak tadi bersarang di betisnya karena terkena tembakan Harlan.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Jika aku terus diam, mereka pasti akan membunuhku suatu saat nanti. Aku harus bertindak sekarang. Setidaknya kalau sampai nanti aku terbunuh. Salah satu dari mereka juga harus mati."


Jaka bangun dari duduknya. Ya, dia akan menyusun rencana untuk membalas perbuatan Suryo dan Mitha.


Sementara itu Harlan dan beberapa anak buahnya tidak langsung kembali. Mereka masih terus mengintai tempat terakhir mereka melihat Jaka tadi. Mata Harlan yang begitu tajam bagai elang yang sedang mengintai mangsa terus menatap pada satu lokasi yang memang sengaja dia lewati. Karena Dia ingin melihat sejauh mana Jaka akan bertindak.


Dan benar saja, tak lama Jaka keluar dengan mengendap-endap dan kaki sedikit di seret. Senyum smirk menghiasi wajah datar Harlan.

__ADS_1


"I got you." desis Harlan. Dia mengikuti kemana Jaka melangkah dan mereka berhenti di sebuah rumah kumuh. Dapat Harlan lihat jika Jaka begitu berhati-hati saat masuk ke rumahnya.


Harlan segera menghubungi tuannya. Dia melaporkan semua yang terjadi dan yang dia lihat saat ini. Suryo meminta Harlan untuk terus mengintai nya. Jika sampai pria itu kembali berniat buruk pada keluarganya maka saat itu juga Suryo akan bertindak.


Setelah sambungan terputus, Harlan mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Dia menghisap rokoknya dan menghembuskannya perlahan, tatapan matanya begitu tajam menatap bangunan kumuh yang ada di hadapannya. Dia tak habis pikir dengan targetnya ini. Seharusnya jika sudah tahu dia dalam posisi tidak menguntungkan sebaiknya pergi sejauh mungkin, bukan malah bertahan. Harlan yakin sebentar lagi pasti orang bodoh ini akan membuat perhitungan pada istri bosnya atau mungkin pada putrinya.


.


.


.


Keesokan harinya Lusi terbangun dari tidurnya. Saat ia membuka matanya ia melihat wajah tampan suaminya. Lusi mengulurkan tangannya untuk membelai wajah Delano. Alisnya yang tebal, hidung mancung nya tak lepas dari sentuhannya, hingga sentuhan tangannya berakhir di bibir Delano yang seksi. Lusi mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Delano.


"My handsome man." desis Lusi. Semenjak hamil, dia suka sekali mengagumi wajah tampan suaminya.


Grep!!


Delano membuka matanya dan menangkap tangan Lusi. Wajah Lusi langsung memerah karena kedapatan begitu memuja wajah suaminya.


"Tidak mau," kata Lusi.


"Why? aku menyukai sentuhanmu baby," lirih Delano.


"Aku mau mandi."


"Aku ikut." Delano segera bangkit dari tidurnya dan mengangkat tubuh Lusi. Lusi memeluk leher Delano erat.


Suami istri itu mengawali pagi mereka dengan kebahagiaan yang meluap. Delano dengan lembut dan penuh ketenangan membantu Lusi membersihkan dirinya. Pria itu bahkan tak ragu menggosok seluruh bagian tubuh Lusi memakai shower puff.


Wajah Lusi benar-benar memerah. Dia belum terbiasa dengan ritual mandi bersama seperti ini. Namun dia juga tidak ingin menjadi istri pembangkang yang menolak keinginan suaminya. Lusi harus benar-benar membiasakan dirinya. Seperti saat ini Delano kembali mengangkat tubuhnya dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Pria itu juga mengambilkan baju ganti istrinya. Rasanya semua seperti mimpi memiliki suami sesempurna Delano. Dan lusi benar-benar bersyukur untuk itu.


"Mas, aku bisa sendiri," kata Lusi keberatan dengan apa yang Delano lakukan. Namun Delano sama sekali tak mempedulikan ucapan Lusi. dia terus asyik memakaikan dress di tubuh istrinya.

__ADS_1


"Selagi aku maunya begini, ku harap kamu jangan melarangku."


Delano mengambil sisir dan hairdryer. Setelah mencolokkan kabel hairdryer, Delano langsung menyisir seraya mengeringkan rambut Lusi yang basah. Kegiatan baru yang sebenarnya Delano sama sekali belum pernah melakukannya bahkan ketika dirinya bersama Karina.


"Mas, kapan mas ingin membawa Devan dan Davin ke makam ibunya?"


"Secepatnya, sayang. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Delano.


"Mereka berhak tahu mas." Lusi menatap lembut ke arah suaminya. Jemari tangan Lusi kembali membelai lembut wajah Delano.


"Terima kasih sayang."


"Oh ya mas, bagaimana kelanjutan perkembangan kasus Karisa?"


Delano tersenyum lembut pada Lusi, dia mengusap rambut Lusi yang telah kering.


"Kamu tidak perlu memikirkan wanita itu lagi. Yang perlu kamu pikirkan hanya aku, Devan, Davin dan calon anak kita. Jangan bebani pikiranmu dengan manusia itu."


"Hmm, ada-ada aja sih mas. Tanpa mas minta pun, kalian adalah prioritasku di atas segalanya," ujar Lusi.


Delano dan Lusi akhirnya keluar dari peraduan. Keduanya berjalan bergandengan menuju ruang makan. Lusi mengecup pipi Ratih dan Mitha. Lalu sesaat bergelayut manja memeluk sang ayah, Suryo.


"Putri ayah sepertinya sedang bahagia?"


"Tentu saja ayah, setiap orang harus mengawali harinya dengan perasaan bahagia agar hari yang dilalui juga terasa menyenangkan."


"Kamu benar sayang." Suryo pun tersenyum melihat wajah Lusi yang terlihat senang pagi ini. Seakan pertemuannya dengan Jaka tidak memberi efek apa-apa padanya.


Suryo dan Delano saling melempar tatapan. Delano sedikit mengangkat bahunya seakan-akan mengatakan jika dia juga tidak tahu apa yang terjadi pada Lusi pagi ini hingga istrinya itu terlihat begitu gembira.


Kelima orang itu sarapan dengan tenang. Lidya, Hans, Regan dan Lisa belum kembali dari hotel sehingga suasana terasa sepi. Ditambah kedua bocah Lusi di bawa oleh mertuanya pulang ke mansion Delano jadilah suasana pagi itu benar-benar sunyi hanya terdengan denting sendok yang bersahutan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan Vote ya.


__ADS_2