Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 104. Foto Mesra


__ADS_3

*******


Suryo masuk ke ruang keluarga. Kepalanya menggeleng pelan saat melihat tangan Delano dan Regan seakan saling mengenggam dengan laptop yang masih menyala. Suryo lantas menfotonya dan mengirimkannya ke nomor Lusi dan Lisa. Setelah itu Suryo keluar dari ruangan itu menuju ke kamarnya.


Meskipun usianya sudah terbilang lanjut tapi Suryo memiliki tubuh yang bugar karena dia rutin berolahraga. Suryo masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Karena sebentar lagi ia, Mitha dan ibunya harus segera menyusul ke hotel tempat diadakannya resepsi Regan dan Lisa.


Lisa yang mendengar ponselnya bergetar segera mengambilnya dan melihat siapa yang mengirim pesan.


"Ayah... ?" Lisa penasaran dan membuka pesannya. Dia terkekeh melihat foto hasil jepretan ayah Suryo.


Lisa menelisik ke samping ranjangnya, dan ternyata memang kosong. Bayangan tentang semalam kembali berkelebatan di ingatan Lisa. Rasanya dia sungguh malu mengingat malam pertamanya. Lisa perlahan bangun dari tidurnya dan mulai melangkah. Lusi merasa sedikit perih di bagian intinya. Ia langsung menuju kamar mandi dan berendam air hangat untuk menghilangkan lelah di tubuhnya.


Delano membuka matanya terlebih dahulu. Ia langsung menghempaskan tangan Regan yang berada di atas tangannya hingga membuat Regan terbangun. Delano menggerakkan lehernya yang terasa kaku begitu juga dengan Regan. Tidur dalam posisi duduk sangatlah tidak nyaman. Delano segera membereskan laptopnya, dia tidak tahu jika di atas sana Lusi dan kedua putranya sedang menertawakan foto dirinya yang dikirim oleh ayah Lusi.


"Ayah dan om Regan kenapa tidur pegangan tangan bunda?"


"Mungkin ayah takut jatuh," dan sekali lagi Lusi tertawa mendengar jawabannya sendiri. Lucu memang apalagi ayahnya mengambil angle gambar Delano dan Regan seakan seperti insan yang sedang kasmaran dan takut kehilangan satu sama lain


Tawa Lusi menular pada Devan dan Davin. Delano membuka kamar dengan bergegas begitu mendengar suara tawa istri dan anak-anaknya.


"Kalian sudah pulang?" tanya Delano seraya mendekat ke arah ranjang dan memeluk kedua putranya.


"Tadi kami sampai di sini jam setengah 6 ayah. Trus kami melihat foto ayah di ponsel bunda," ucap Davin. Alis Delano bertaut bingung.


"Foto?" beo Delano.


"Iya, foto ayah sama om Regan," timpal Devan.


"Foto apa sih?" Delano mengernyit semakin bingung.


"Bukan apa-apa mas, hanya foto jadul." Lusi mencoba menyembunyikan ponselnya. Dia tak ingin Delano tahu.


"Foto ayah lagi pegangan tangan sama om Regan." Ujar Davin seraya tertawa. Mata Lusi membulat begitu pula dengan Delano. Delano mendekati Lusi dan mencoba mengambil ponsel Lusi. Tapi Lusi tetap menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Akhirnya Delano menggelitiki pinggang Lusi hingga tawanya menggema.

__ADS_1


"Mas, geli."


"Jika begitu, mana ponselnya? baru nanti mas lepaskan."


"Oh, ya ampun mas, itu hanya foto,"


"Tidak, mas mau lihat? siapa yang mengirim foto itu padamu?"


"Ha... ha... ha stop mas! geli .... " Lusi masih mencoba mengelak. Tapi Devan dan Davin justru membantu Delano merebut ponsel Lusi. Setelah Devan mendapatkannya ia langsung memberikan fotonya pada sang ayah.


"Ini yah, coba ayah lihat," ujar Devan. Delano melepaskan pinggang Lusi dan meraih ponsel yang menyala itu. Matanya seketika melebar melihat fotonya dan Regan.


Delano melihat nama pengirimnya dan matanya semakin melebar.


"Ayah...?" Seketika wajahnya melongo.


"Kenapa? mas mau marahi orang yang kirim gambar ke aku? Ya udah sana gih... " ucap Lusi.


Delano menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya, "Mas mau mandi." Lusi terkekeh geli melihat ekspresi terakhir suaminya.


"Sudah bunda, tadi kakek Suryo membelikan kita makanan."


"Ya sudah, kalo begitu kalian temani bunda sarapan ya? bunda sama dedek bayi kalian lapar," kata Lusi sembari tersenyum. Devan dan Davin langsung menatap Lusi berbarengan.


"Kita mau punya adik bun? beneran?" tanya Devan dan Davin tak percaya.


"Bener lah, masa bunda bohong sama kalian." Lusi mengusap perutnya Devan dan Davin tersenyum riang dan ikut mengusap perut Lusi.


"Tapi perut bunda kecil? perut mamanya Gabriel besar." Devan mengerut bingung.


"Itu karena adik kalian baru mulai tumbuh. Nanti kalau adik kalian sudah siap dikeluarkan pasti perut bunda akan besar."


"Memang sekarang adik bayinya kecil sekali ya bunda?"

__ADS_1


"Ehm... sekarang adik kalian masih sebesar biji jagung. Nanti makin lama makin besar."


"Hah... kecil sekali bunda. Kalau begitu aku dan kakak akan melindungi bunda dan adik bayi." kata Davin bersemangat.


Akhirnya Lusi keluar kaman di gandeng oleh kedua jagoannya menuju ruang makan.


Sementara itu Lisa baru saja selesai mandi. Dia melilitkan handuk di tubuhnya. Aroma wangi sabun yang lisa pakai menguar hingga membuat Regan yang baru masuk ke kamar berdiri terpaku ditambah dengan penampilan Lisa yang terlihat sangat menggoda itu.


Lisa menunduk malu, dia sama sekali tak berani menatap Regan setelah apa yang terjadi dengan mereka semalam. Regan mengunci pintu kamar lalu berjalan mendekat, mengikis jarak antara dirinya dan Lisa. Regan merengkuh tubuh Lisa dan mendekapnya. Jantung keduanya berpacu dengan cepat. Regan bahkan bisa merasakan debaran jantung Lisa.


"Lisa, bisakah aku memintanya lagi?"


Lisa seketika mendongak kaget saat tangan kanan Regan membelai bahunya yang terbuka tak tertutup kain.


Lisa memejamkan mata saat wajah Regan mulai mendekat. Lisa dapat merasakan panasnya hembusan nafas pria yang berstatus suaminya itu. Namun bukannya mencium bibir Lisa, Regan hanya menyematkan ciuman di kening sang istri. Regan mengangkat tubuh Lisa dan membawanya masuk ke kamar mandi. Lisa meronta, namun Regan erat mendekapnya. Perlahan Regan menurunkan Lisa di bawah shower dan menarik handuk Lisa. Lisa terkejut dan langsung menutupi dua bagian intinya. Regan menatap lapar tubuh istrinya. Dia dapat melihat banyaknya jejak percintaan yang ia tinggalkan. Regan menarik kedua tangan Lisa dan menahannya di atas kepala Lisa, Regan lalu menyalakan showernya. Satu tangan Regan bergerak melepaskan kaos dan celananya hingga tubuh keduanya sama-sama polos. Suhu tubuh keduanya langsung meningkat. Regan mulai mencumbui Lisa dan memulai penyatuan dengan lembut. Regan mengaitkan satu kaki Lisa di pinggangnya agar bisa masuk dengan seutuhnya. Lisa yang awalnya malu-malu akhirnya mulai terbawa permainan Regan yang penuh kelembutan.


Setelah satu jam lamanya bergelut di bawah kucuran shower kedua pengantin baru itu segera keluar. Waktu semakin beranjak siang dan mereka seharusnya sudah ada di hotel untuk persiapan resepsi.


Wajah Regan tampak lebih segar. Namun Lisa justru cemberut karena harus mandi lagi tadi. Regan mendekat duduk di samping Lisa. Lalu dia membantu Lisa mengeringkan rambutnya sambil sesekali mengecup bahu Lisa.


"Stop Re... kita sudah ditunggu." Kesal Lisa.


"Memangnya aku kenapa? aku kan hanya membantumu mengeringkan rambut." Kata Regan dengan seringai tipis di wajahnya.


"Berhenti terus menciumiku."


"Ok... ok baiklah."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


**Maaf ya guys kemarin libur dadakan. Seharian badan lemes pala puyeng, efek dua hari sebelumnya ga tidur jagain bontot yang demam. Tapi nanti aku usahakan buat up seperti kemarin-kemarin.


karena cerita mereka mau selesai.

__ADS_1


jangan lupa like komen dan vote karya aku ini ya**.


__ADS_2