
*******
Hari ini Jadwal Lisa memeriksa kandungan, Dia menggunakan jasa dokter Zhafira. Selain karena dulu Lisa pernah menjadi koas di rumah sakit dokter Zhafira. Lusi juga melahirkan dibantu oleh dokter tersebut sehingga Lisa memilih untuk memeriksa kandungannya di sana.
Tapi karena hari ini dokter Zhafira praktek di rumah sakit pusat, jadilah Lisa dan Regan ada di sana. Lisa mengapit lengan Regan dengan manja. Sejak pagi tadi, Lisa seakan tidak mau lepas dari Regan.
"Boleh beli snack dulu di sana?" tunjuk Lisa ke kafetaria.
Regan mengangguk lalu memutar langkahnya menuju stand kafetaria.
Lisa tampak sangat tidak sabar. Dia menatap deretan makanan yang ditata di dalam etalase.
"Bu Ida, aku mau ini dan ini, lalu ini, ini juga, lalu... "
"Sayang... pesan seperlunya dulu saja. Nanti setelah selesai periksa kita beli lagi." Tegur Regan lembut.
"Tidak mau, aku mau pesan sekarang. Kita bisa nitip dulu di Bu Ida, Aku takut kehabisan," Wajah Lisa langsung cemberut. Senyum yang sejak tadi tersungging di bibirnya seketika sirna. Regan menghela nafas dan akhirnya mengangguk. Baiklah, cepat pesan. Sebentar lagi praktek dokter Zhafira dimulai.
"Ini mbak Lisa yang dulu magang sama dokter Zhafira?"
"Iya bu, tapi sayang bu, saya putus kuliah," wajah Lisa berubah mendung.
"Waduh, sayang banget padahal dari dulu dokter Zhafira selalu memuji mbak Lisa. Katanya nanti kalau jadi dokter kandungan bakalan jadi dokter hebat," Tutur wanita paruh baya itu sambil memasukkan kue basah pesanan Lisa.
"Bu Ida, tolong itu kroket ayam, sama prastelnya di sendirikan, mau saya makan nanti pas nunggu."
"Oh iya, mbak. Sekarang hamil berapa bulan?"
"mau jalan 8, bu. Perut sampai rasanya begah."
"Ga apa-apa non, sabar dulu, semua orang hamil pasti merasakan itu."
Setelah Regan membayar pesanan Lisa. Keduanya lalu menunggu Lift turun. Karena ruangan dokter Zhafira ada di lantai 3.
__ADS_1
Lisa masih tetap bergelayut manja di lengan Regan dan tidak memperhatikan ke depan. Saat pintu lift terbuka, mata Regan terbelalak begitu juga orang yang ada di dalama Lift.
Lisa menoleh ke arah suaminya, saat melihat respon Regan, Lisa lantas menoleh ke pintu lift. Matanya lebih terbelalak lagi.
"Lisa.... " Sean tersenyum. Akhirnya dia bisa melihat Lisa secara nyata. Namun senyum itu tak bertahan lama. Matanya menyorot ke perut Lisa yang membesar.
Lisa menatap datar pada Sean dan Chandra ibunya. Lisa hanya mematung saat Sean mulai mendorong kursi roda ibunya. Tapi ketika akan melewati Lisa, Chandra tiba-tiba menangis, tangannya yang sedikit tertekuk ke dalam berusaha menggapai tangan Lisa.
Seketika itu tubuh Lisa semakin kaku, dan lidahnya kelu terasa. Dia tidak pernah mengharap pada Allah untuk membalas perbuatan Chandra kepadanya dulu. Tapi Allah benar-benar menunjukkan kuasa-Nya kini. Regan hampir menarik tubuh Lisa. Dia tidak ingin Sean terlalu lama menatap istrinya. Akan tetapi Lisa justru mencekal lengan Regan, lalu menoleh.
"Ada apa nyonya?" tanya Lisa lembut. Bagaimana pun Chandra adalah orangtua yang patut dihormati.
"I-ca.. maap," tutur Chandra tergagap. Lisa mengusap bahu Chandra lembut dan berkata.
"Saya sudah memaafkan anda. Maaf saya harus segera pergi." Lisa langsung menarik tangan Regan masuk ke dalam lift. Sean hanya mampu menatap punggung Lisa dengan hati hancur.
"E-an maapin mama." Sean hanya diam dan kembali memasang wajah datar tanpa berniat menjawab ucapan ibunya. Baginya semua kehancuran di hidupnya adalah karena ulah mamanya. Namun Sean juga tidak bisa menutup mata melihat kondisi Chandra yang seperti itu. Sebagai anak Sean tetap menunjukkan baktinya. Walaupun hatinya enggan.
Di dalam lift Lisa memeluk Regan. Pria itu hanya diam seraya mengelus punggung sang istri. Namun tak lama lift berdenting. Lisa dan Regan tiba di lantai 3. Karena masih pagi antrian belum terlalu panjang. Regan membawa Lisa duduk di kursi tunggu lalu dirinya mengkonfirmasi di bagian pendaftaran.
"Kenapa melamun, sayang?"
"Hmm, aku hanya sedang berpikir. Apa karma itu benar-benar ada?"
"Memangnya kenapa bertanya begitu, sayang?"
"Entahlah, aku merasa iba melihat nyonya Chandra."
"Biarkan saja. Selagi kamu sudah memaafkannya, kamu tidak ada lagi hubungan dengan mereka."
"Ya, kamu benar. Biarlah itu menjadi urusan mereka. Kita urus Regan junior saja." Mendadak wajah Lisa kembali antusias. Regan tersenyum melihatnya. Ini yang sejak tadi dia harapkan. Dia tidak suka melihat Lisa seperti tadi. Selama menunggu Lisa mulai memakan kue basah yang tadi dia pesan. Sambir menyandarkan kepalanya di bahu Regan. Sesekali Regan mengecek ponsel nya karena dia meninggalkan pekerjaannya demi sang istri dan buah hati. Hans sebagai orang tua Regan, juga akhrinya mau menggantikan kembali posisi awal di perusahaan demi kelahiran sang cucu.
Saat Lisa asik memakan kroket ayamnya, seorang perawat memanggil nama mereka. Lisa meletakkan sisa kroket nya kedalam wadah dan berjalan masuk di temani sang suami.
__ADS_1
Dokter Zhafira tersenyum senang bertemu dengan Lisa. keduanya berpelukan. Dokter Zhafira sendiri sudah bagai ibu kedua bagi Lisa. Ia tidak pelit ilmu dan mau mengarahkan Lisa dengan sabar.
"Bagaimana kabarmu, sayang?"
"Baik sekali, ibu. Hanya saja, aku menunda menyelesaikan kuliahku."
"Tidak apa-apa, Lisa sayang. Tidak ada batas usia untuk menuntut ilmu. Bahkan para Profesor Doktor pun kadang sampai usia 50an baru meraih gelarnya. Kamu masih muda. Masih banyak waktu."
"Ibu benar, aku benar-benar rindu bau rumah sakit, bu."
"Bau rumah sakit, atau bau masakan bu Ida?" Sindir dokter Zhafira. Dia tahu betul Lisa sangat menyukai masakan kepala kafetaria itu.
Lisa tersenyum malu mendapat sindiran telak.
"Ya sudah, ayo ibu periksa kamu."
Dokter Zhafira mulai serius memeriksa Lisa. Sesekali senyumnya terbit saat melihat wajah bayi di dalam perut Lisa.
"Lihatlah, Lisa. Wajah bayimu belum lahir saja sudah tampan apalagi kalo nanti lahir."
"Itu pasti karena aku cantik, ibu."
"Tapi kamu harus mulai menjaga pola makanmu, sayang. Dari catatan disini berat bayimu naik sangat signifikan. dua minggu lalu 2700 gram. Dan sekarang 3400 gram, usia kandungan menurut Hari pertama haid terakhir sekitar 35 minggu dan itu artinya masih ada 5 minggu kurang lebih sampai bayimu lahir."
"Memang, akhir-akhir ini aku sering makan, ibu. Rasanya benar-benar lapar terus."
"Camilan boleh, asalkan camilan yang sehat. Jangan banyak gorengan perbanyak buah dan sayur."
Regan hanya diam menjadi pendengar. Namun pendengar yang menyerap setiap informasi yang didengar dari dokter zhafira.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Gimana Guys. Masih mau lanjut kah??
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan Vote ya