Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 101. Kecelakaan?


__ADS_3

*******


Setelah Lisa berganti dengan dress, Lisa dan Regan mendekati semua keluarga besar Syailendra karena di momen-momen inilah semua terlihat berkumpul. Ada saudara dari adik dan kakak nenek Ratih. Lusi dan Lisa berkenalan dengan saudara yang baru mereka temui dan sebagian dari mereka ternyata ada yang merupakan pelanggan tetap di butik Lusi. Beberapa dari mereka memang tidak hadir saat pernikahan Lusi waktu itu karena kesibukan mereka tentunya.


"Aku suka koleksimu musim ini. Semua tampak elegan namun tetap tidak meninggalkan kesan girly. Itu anakku sampai promosi ke teman-temannya di kampus.


"Oh ya mbak? wah senengnya... aku bisa ketemu pelanggan setiaku. Nanti kapan-kapan anak mbak diajak aja kemari lagi nanti aku buatin design exclusive deh." kata Lusi. Regan dan Lisa duduk di dekat orang tua Regan. Mereka sebagian sedang membicarakan bisnis. Lisa benar-benar merasa tidak nyaman ada di lingkungan baru. Apalagi ibunya tadi memutuskan ikut kakaknya pulang ke hotel karena besok penerbangan mereka ke Singapura pagi hari. Lisa sebenarnya ingin ikut mengantar tapi bu Yuyun melarangnya. Beliau takut nantinya akan tidak tega meninggalkan Lisa.


"Kenapa? apa kamu tidak nyaman di sini?" tanya Regan, ia tahu sejak tadi dari gerak gerik Lisa tampak jika istrinya merasa tak nyaman.


"Hmm, bisakah kita masuk saja. Aku sudah berkenalan dengan mereka semua. Lalu apa yang sebaiknya aku lakukan lagi. Jujur aku merasa asing di tengah-tengah kalian." Lirih Lisa, Regan dapat mengerti mengenai hal itu.


"Baiklah kalo begitu kita ke kamar saja." Regan berpamitan pada semua kerabatnya dan mengucapkan terima kasih karena mereka bersedia hadir memeriahkan acara pernikahannya.


Lisa justru semakin tegang saat mendengar kata kamar. Jantungnya seakan dipaksa berlari. Bahkan Lisa mengira mungkin saja Regan dapat mendengar suara jantung Lisa.


Lisa berhenti mendadak hingga akhirnya Regan menoleh. Regan tersenyum lembut seraya menepuk punggung tangan Lusi yang ada dalam genggamannya.


"Jangan berpikir terlalu jauh. Aku akan sabar menantimu sampai kamu mau dan memintanya sendiri padaku." Kata Regan, hal itu ternyata sukses membuat seorang Lisa salah tingkah.


"Ish... siapa juga yang berpikiran kesana." Lisa menepuk lengan Regan.


"Kesana apanya? di perjelas dong." goda Regan


Merasa dipermainkan oleh Regan, Lisa melepas pegangan tangannya dan berjalan mendahului Regan masuk ke dalam kamar.


"Istriku semakin menggemaskan saja kalau sedang marah." desis Regan. Ia pun lantas menyusul istrinya. Lisa mematung saat memasuki kamar Regan. kamar itu sudah di sulap dengan begitu banyak kelopak bungan mawar bertebaran di mana-mana.


"Mau mencobanya?? tanya Regan, dia duduk di tepi ranjang menepuk sisi kosong di sampingnya.


Lisa mendekat dan ikut duduk di samping Regan namun berjarak. Dirinya masih takut jika harus berdekatan dengan suaminya.


"Kamu tau lisa? dulu aku berniat untuk tidak menikah. Aku merasa hidupku sudah lebih dari cukup tanpa kehadiran seorang wanita. Tapi sejak mengenalmu semuanya berubah, aku ingin memilikimu, menjagamu." kata Regan, hal itu tentunya mampu membuat Lisa tersipu malu.

__ADS_1


.


.


.


Lusi masih sibuk mengobrol dengan beberapa anggota keluarga yang lain. Ternyata mereka semua sangat baik dan ramah. Suryo sangat senang mengetahui semua anggota tampak menerima Lusi dengan senang hati.


Namun tak lama kemudian Devan berteriak kencang. Sementara davin menangis seraya memegangi dagunya. Lusi yang melihat ada darah mengalir dari dagu putranya segera berdiri mendekati putranya dengan panik. Delano sudah terlebih dahulu merengkuh Davin dan melihat luka di dagu putranya.


"Kenapa tidak hati-hati hmm? lihat bunda pasti sangat cemas padamu." ujar Delano seraya kembali melihat luka itu.


Lusi ikut-ikutan meihat dagu putranya. Bahkan sapu tangan yang tadi dia pegang sudah tak berbentuk karena darah Davin.


Mitha menepuk bahu Lusi dan memberi isyarat untuk membawa putranya ke dalam. Setibanya di dalam Devan yang sejak tadi menangisi Davin langsung memeluk Lusi karena takut.


"Maafin Devan bunda. Devan tidak menjaga adik dengan benar."


Dokter datang dan memeriksa luka Davin. Bahkan karena hal itu Davin terpaksa mendapat dua jahitan di dagunya.


"Sekarang kalian harus istirahat. Kalian pasti kelelahan bermain." Kata Lusi. Devan dan Davin pun menurut. Setelah berganti dengan baju santai keduanya lantas terlelap.


Delano mendekati Lusi dan mengecup puncak kepala Lusi.


"Sayang, kamu juga sebaiknya istirahat." Kata Delano. Lusi menggeleng lemah. Dia merasa tidak becus menjaga putranya hingga putranya terluka. Lusi menangis tanpa suara. Delano lantas memeluk nya.


"Sayang kenapa?"


"Aku gagal menjaga mereka mas."


"Siapa bilang? kamu sudah menjaga mereka dengan baik."


"Tapi nyatanya Davin terluka." lirih Lusi.

__ADS_1


"Hei, semua tahu itu bukan kesalahanmu sayang, ini semua murni kecelakaan." Lusi memeluk Delano erat tangisnya semakin pecah. Hormon kehamilan membuatnya terlihat sangat cengeng.


Dengan sabar Delano mengusap punggung Lusi. Delano tahu istrinya terlalu menyayangi kedua putranya sehingga ia bersikap seperti ini saat tahu salah satunya terluka.


Delano lantas mengangkat tubuh Lusi dan membawanya ke kamar mereka. Delano dengan hati-hati membaringkan tubuh Lusi. Delano memberikan kecupan lembut di bibir Lusi lalu menyelimutinya. Lusi akhirnya tertidur setelah cukup lama menangis. Delano duduk di tepi ranjang dan mengusap sisa air mata Lusi. Delano bahkan dengan lembut menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Lusi.


"Terima kasih telah memberikan cinta yang begitu besar pada kedua anak-anakku." kata Delano mengecup lembut bibir Lusi.


Setelah memastikan istrinya tertidur Delano kembali menemui ayah mertuanya.


"Bagaimana?"


"Seperti yang ayah duga, dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Davin."


"Dia memang seperti itu Lano. Bahkan dulu Lusi sempat tidak makan karena tanpa sengaja membuat temannya jatuh dan pingsan. Lusi sering merasa begitu." tutur Mitha.


"Oh ya bu?"


"Ya itu benar, tingkat kepeduliannya tinggi sekali. Kadang ibu sampai tidak bisa mengimbangi pola pikirnya."


"Delano sangat bersyukur bisa memiliki istri seperti Lusi."


"Ayah juga beruntung memiliki anak sebaik Lusi." kata Suryo tak mau kalah.


Setelah Delano pergi Lusi membuka matanya, dia tak ingin membuat suaminya cemas karenanya. Namun ia juga ingin menemani putranya yang sedang sakit, jadilah dia sedikit berakting pura-pura tidur agar suaminya tidak curiga kepadanya.


Lusi duduk di samping ranjang Davin di saat yang bersamaan tanpa sadar Davin merintih kesakitan. Mungkin karena efek biusnya yang mulai menghilang.


Lusi dengan telaten mengelap kening Davin yang berkeringat. Tak lama bocah itu membuka matanya.


"Bunda, sakit." Lirih Davin.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2