
*********
Lisa berulang kali menengok ke belakang takut jika Regan mengejarnya. Dia sendiri pun bingung karena sama sekali tidak membawa apapun hanya baju yang menempel di badannya.
Lisa masuk ke dalam taksi yang sedang ngetem di dekat hotel.
"Pak ke butik Double D ya .... " Supir taksi pun langsung menjalankan taksi nya. Sementara Regan menatap sekeliling mencari keberadaan Lisa.
"Sial, nyesel banget berurusan sama ini cewek." Gerutu Regan.
Flashback
Saat Lisa hendak kembali ke halaman, tangannya di cekal oleh Sean, Regan hanya menatapnya dari jauh namun masih tampak jelas apa yang sedang terjadi di depan matanya.
Lisa tampak meronta dan tak lama Raffi datang, Lisa bersembunyi di belakang tubuh Raffi yang atletis.
Sean yang terbakar api cemburu seketika melesakkan tinjunya kearah Raffi, namun pria itu dengan sigap menghindar. Tanpa di duga Raffi membalas pukulan Sean, di saat pria itu belum siap menerima pukulan hingga mengenai wajah Sean.
Keduanya langsung terlibat baku hantam, Lisa ketakutan, Regan berniat mendekat ingin melerai kedua orang itu, namun saat tiba di sana bersamaan dengan wajah Lisa yang tak sengaja terkena pukulan Sean hingga Lisa terpelanting. Beruntung Regan dapat menangkapnya. Regan langsung mengangkat tubuh Lusi dan membawanya pergi lewat pintu samping.
Regan memasukkan Lisa ke dalam mobil, dan Regan pun segera melajukan mobilnya menjauh dari kediaman Syailendra.
Lisa menutup wajahnya dan terisak. Regan yang semula kesal merasa tak tega akhirnya membawanya ke hotel milik keluarganya. Lisa yang terus menerus menangis tak sadar jika di bawa oleh Regan ke dalam Hotel.
Lisa terus menangis tanpa mempedulikan Regan. Namun ucapan pria itu justru memantik kemarahan yang sejak tadi Lisa tahan.
"Menggoda pria seenaknya lalu menangis seakan-akan kamu ini korban. Dasar perempuan liar." Ucapan Regan benar-benar membuat Lisa di kuasai api kemarahan Dia mendekat ke arah Regan seraya membuka kebaya yang ia gunakan tadi.
"Mau apa kamu?" tanya Regan mulai panik melihat Lisa.
"Mau menunjukkan padamu, arti kata menggoda. Dari pada kau menfitnah diriku sebaiknya aku tunjukan padamu. Agar kau bisa membedakan mana yang menggoda dan mana yang biasa saja.
Lisa terus mendekat seraya terus membuka kancing kebayanya hingga terlepas semua. Regan menelan salivanya dengan susah payah.
__ADS_1
"Stop jangan mendekat!!" ujar Regan mulai panik.
"Kenapa apa kau takut tergoda olehku?" Lisa mendekat dan duduk di pangkuan Regan. Regan hendak berusaha berdiri namun Lisa berhasil menekan dan mengunci tubuh Regan agar tak membuatnya jatuh.
"Pergilah kau sangat membuatku jijik." Regan menatap tajam Lisa. Namun gadis itu seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Lisa langsung bangkit berdiri dan memungut kebaya'nya.
"Aku tak menyangka tante Mitha dan om Suryo punya keponakan yang tidak normal sayang sekali."
"Hei apa maksud ucapanmu tadi?" seru Regan.
"Tidak ada, aku hanya bilang iba pada keluargamu ternyata kau pria tidak normal.
"Aku pria normal .... " Ujar Regan dengan suara naik satu oktaf. Dia segera mendekati Lisa dan membuang kebaya Lisa ke lantai. Regan mengangkat tubuh Lisa layaknya karung beras dan membanting gadis itu di kasur. Lisa terkejut dengan perubahan sikap Regan. Jantung Lisa berdetak kencang kala tangan Regan membelai wajah Lisa dengan lembut. Entah mendapat dorongan dari mana Regan melu*mat bibir Lisa. Lisa terus meronta dan memukul dada bidang Regan namun pria itu tidak bergeming. Dia justru semakin memperdalam ciumannya.
Saat Regan mengurai ciumannya karena Lisa tampak terengah-engah Lisa langsung menendang Junior Regan hingga pria itu terjungkal.
"Oh ... ****. Are you crazy?" Pekik Regan seraya memegangi juniornya yang tengah merintih karena tendangan dari Lisa.
Regan melepas kain yang menempel di tubuhnya dan hanya menyisakan bokser karena sepertinya junior butuh udara segar. Lisa masih dalam kondisi setengah bugil dan menutup tubuhnya dengan selimut, dia tidur memunggungi Regan. Dia takut pria itu akan berbuat nekat. Sementara Regan karena tak memperhatikan Lisa ia tak tahu jika gadis itu sudah menuju ke alam mimpi. Regan merebahkan badannya agak jauh dari Lisa dan mengusap usap junior nya dan tak lama Regan pun ikut menyusul ke alam mimpi.
Saat malam hari Lisa melepas roknya yang terasa menyesakan perut bagian bawahnya. Ia tak ingat jika saat ini ia bersama seorang pria dalam kamar hotel itu. Lisa kembali terlelap namun karena hawa dingin keduanya seakan memiliki naluri untuk saling berbagi kehangatan.
Akhirnya kedua insan itu menghabiskan malam dengan berbagi kehangatan.
Flashback end.
Lusi tiba di butik bersamaan mobil taksi yang berhenti di belakangnya.
"Lusi ....!!" Seru Lisa, Lusi mengernyit melihat Lisa masih memakai kebaya kemarin dan make up yang terlihat sangat berantakan.
"Aku pinjem duit buat bayar taksi." Lisa menengadahkan tangannya. Lusi segera membuka dompet dan mengambil beberapa lembar uang bergambar tokoh proklamator itu.
__ADS_1
Lisa menarik dua lembar lalu segera membayar ongkos taksinya. Dia bahkan tak memperdulikan Delano yang tampak bengong menatap Lisa dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Lusi tersenyum, baru kali ini Lusi melihat wajah bengong Delano yang tampak lucu.
"Mau ikut masuk tidak?" tawar Lusi. Delano pun mengangguk mengikuti kedua sahabat itu.
"Kamu dari mana?"
"Ceritanya panjang, pokoknya aku pinjam atau minta baju disini. Aku mau pulang. Nanti tolong tas dan ponselku kamu sekalian bawa besok kalo berangkat ke butik.
"Bukannya kamu sama Regan ya??"
"Stop ... berhenti menyebut nama sepupu kamu itu. Aku benar-benar membencinya." Lisa mengambil satu setel baju yang telah Lusi siapkan. Lisa segera masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Delano masih mengamati apa yang terjadi dengan sahabat dari istrinya tersebut.
Lusi hanya geleng kepala melihat tingkah absurd Lisa.
"Apa kamu tidak bekerja hari ini?" tanya Lusi seraya mendekat ke arah Delano dengan jarak yang dirasa aman oleh Lusi.
"Aku hari ini hanya menemanimu saja." Ucap Delano, Lusi hanya mengangguk saja. Dia tak ingin hubungan yang baru saja di mulai rusak karena sikapnya yang terlalu waspada.
"Apa kau mau kopi?" tawar Lusi. Delano pun mengangguk. Lusi keluar menuju pantri dan mengambil ketel air dan mengisinya menggunakan air galon lalu dia memanaskan nya di kompor elektrik. Sembari menunggu Lusi menuangkan serbuk kopi dan sedikit gula. Lusi tampak memikirkan hubungannya ke depan bersama Delano. Ia tak bisa terus menerus berada dalam bayangan masa lalunya. Tak lama suara ketel air yang berdenging membuyarkan lamunan Lusi. Dia segera membuatkan kopi untuk Delano dan menyeduh teh hijau untuk dirinya dan Lisa.
Saat Lusi masuk, Lisa baru saja selesai mandi. Wajahnya terlihat datar saja. Lusi semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Lisa memilih duduk di kursi kerja Lusi. Lusi meletakkan cangkir kopi di depan Delano dan cangkir teh hijau nya lalu ia menyerahkan secangkir teh hijau untuk Lisa.
"Terimakasih Lusi."
"Sekarang ceritakan apa yang terjadi padamu kemarin." Lusi menatap Lisa penuh selidik. Sedang Lisa terlihat membuang wajahnya dan mendesah berat.
"Aku .... "
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Guys budayakan setelah baca minimal beri Like setidaknya itu bentuk apresiasi kalian buat othor receh kaya aku. Di ibu susu baby Zafa likenya makin ke bawah makin payah padahal sehari viewersnya bisa puluhan ribu orang. Pada nabung bab, trus keasikan baca tapi lupa ga kasih like.
__ADS_1
Yuk mampir juga ya di novel kawan othor mak Enis Sudrajat.