
********
"Mas, inikah yang disebut pacaran setelah menikah?" tanya Lusi, saat ini keduanya berjalan beriringan menuju parkiran dengan jemari saling bertaut. Lusi tampak puas setelah menghabiskan 2 porsi pecel lele dengan sambal yang sangat pedas sesuai permintaannya.
"Mungkin, aku sendiri pun belum pernah berpacaran." Delano membetulkan rambut Lusi yang tertiup angin.
"Aah ... masa sih?" wajah Lusi terlihat meragukan ucapan Delano.
"Mau duduk di sana?" tunjuk Delano pada bangku di dekat parkiran. Lusi menatap ke bangku yang di tunjuk Delano namun tiba-tiba tubuhnya meremang.
"Iih ga mau mas, horor." Lusi merapatkan tubuhnya pada Delano.
"Bilang saja jika kamu tidak bisa jauh dariku," goda Delano. Tapi Lusi tak menyahut. Dia memilih diam hingga keduanya masuk ke dalam mobil.
"Ayo buruan jalan,"
"Di sini masih ramai sayang, apa yang kamu takutkan? hmm .... "
"Entahlah mas, tiba-tiba aku merinding saat mas menunjuk bangku tadi. Udah ah, ayo aku mau pulang."
"Dasar penakut. Eh kapan-kapan aku ingin mengajakmu dan anak-anak berziarah ke makam Karina. Apa kamu keberatan?"
"Tentu saja tidak mas. Ada baiknya juga mereka mengenal ibu kandungnya," jawab Lusi, namun Delano melihat jelas ada raut kesedihan di wajah cantik gadis itu.
"Kamu tetap bunda mereka, tidak akan ada yang berubah aku janji." Delano mengusap rambut Lusi dengan lembut. Lusi pun mengangguk patuh.
Mobil pun mulai meninggalkan pusat kuliner. Karena kekenyangan Lusi tak dapat menahan kantuknya dan akhirnya terlelap. Delano sesekali melirik wajah terlelap Lusi. Timbul ide konyol Delano. Ia membelokkan mobilnya ke arah lain, Delano turun dan memesan kamar presidential suit.
Dengan memakai lift khusus Delano membawa tubuh lelap Lusi. Senyumnya mengembang saat membayangkan wajah terkejut Lusi nantinya.
Delano menidurkan Lusi dan menutup tubuh gadis itu dengan selimut. Beruntung Lusi tadi tidak memakai pakaian berbahan Jeans.
Delano masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, keringatnya membasahi pakaiannya. Bukan hal mudah mengangkat tubuh layaknya yang sering diceritakan di novel-novel. Nyatanya Delano butuh tenaga lebih untuk membawa tubuh terlelap Lusi hingga keringatnya langsung membasahi tubuhnya yang atletis.
Setelah membersihkan dirinya, Delano membaringkan tubuhnya di samping Lusi. Delano tidur dengan telanjang dada. Dia meraih tubuh Lusi dan membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.
"Rasanya benar-benar berbeda. Saat aku mencintaimu dan mencintai Karina. Saat bersama Karina aku tidak pernah merasa berdebar-debar seperti saat bersamamu. Hanya dengan menghirup aroma tubuhmu saja jantungku bekerja dengan sangat keras. Maaf aku belum bisa menyampaikan perasaanku padamu. Tapi percayalah perasaan ini semakin lama akan semakin besar untukmu Lusi." Lirih Delano, bahkan suaranya terdengar serak.
Lusi merapatkan tubuhnya dengan memeluk Delano hingga membuat jantung Delano semakin berdebar kencang.
__ADS_1
"Apa dia mendengar ucapanku?" batin Delano menebak, ia bahkan menahan nafasnya saat tangan Lusi memeluk erat tubuhnya. Seluruh tubuhnya meremang saat hangatnya nafas Lusi membentur kulitnya yang tak terbungkus apapun.
"**** ... ini namanya senjata makan tuan." Gerutu Delano saat merasakan jamurnya menggeliat.
Delano menghembuskan nafas dengan perlahan. Lega rasanya saat Lusi tidak lagi bergerak dan nafasnya terdengar teratur.
Delano segera memejamkan matanya karena hari sudah hampir pagi. Dia juga tidak ingin tersiksa karena mendamba sesuatu yang tidak bisa dia lakukan sekarang.
.
.
.
Di lain tempat Lisa masih sesenggukan. Entah mengapa sepertinya kembali ke Jakarta begitu berat untuknya. Ada banyak luka yang tak tampak yang dia rasakan.
Di saat isak tangisnya masih sesekali terdengar. Lisa dikejutkan dengan bunyi ponselnya. Dia segera menggeser ikon berwarna merah. Lalu mematikan dayanya.
"Apa salahku? kenapa kalian datang hanya untuk mempermainkan ku? Apa aku tak pantas bahagia?"
Ibu Yuyun yang terbiasa bangun pagi berniat melihat putrinya. Namun ia terkejut saat melihat Lisa meringkuk dengan isak tangisnya yang bagaikan belati menusuk hatinya.
"Nak, kamu kenapa?"
"Ibu ada di sini sayang, ibu akan lakukan apapun untuk melindungimu."
Tak lama Lisa terlelap dengan kepala berada di pangkuan ibunya.
"Kenapa kamu jadi kurus sekali, nak?" lirih bu Yuyun meratapi putrinya. Jika hati putrinya sakit maka seorang ibu juga akan merasakan rasa sakitnya berkali-kali lipat. "Maafkan ibu nak, sampai sekarang ibu belum bisa membahagiakan Lisa."
Pagi-pagi buta Regan membawa ibunya mendatangi rumah Lisa. Dia tak akan menunggu lagi, dan ia akan mengikat Lusi saat ini juga.
"Mama benar-benar merestui Regan 'kan?"
Lidya tersenyum lembut, seraya membetulkan dasi putranya itu. "Tentu saja sayang, kebahagiaan kamu di atas segalanya untuk mama. Kamu satu-satunya kebanggaan mama. Jadi mama ingin kamu bahagia dengan pilihanmu."
Regan dan Lidya turun dari mobil mereka berjalan masuk ke pekarangan rumah Lisa. Regan mengetuk pintu itu. Lidya mengedarkan pandangannya. menatap pekarangan yang tampak asri di tumbuh banyak tanaman bunga.
Tak lama pintu terbuka dan tampaklah wanita paruh baya dengan baju yang sederhana. Rambutnya terikat rapi senyumnya begitu ramah.
__ADS_1
"Cari siapa ya?" Lidya menoleh dan ia menutup mulutnya tak percaya.
"Mbak Yuyun, ini beneran mbak Yuyun?" Lidya menggenggam jemari ibu Lisa dengan senyum yang mengembang.
"Eh, siapa ya?"
"Aku Lidya, mbak. Dulu mbak yang bantuin aku melahirkan Regan, bahkan mbak Yuyun yang kasih nama Regan saat itu."
"I... ini benar kamu, Lidya?"
"Iya mbak, ini aku. Mbak kemana saja. Dulu aku nyari mbak kemana-mana kata tetangga mbak Yuyun, mbak sama suami pindah."
"Eh, sini ayo masuk, Lidya. Terus dari mana kamu tahu alamatku? Ga mungkin kan selama ini kamu masih nyari aku."
"Kali ini anakku yang punya keperluan mbak." Lidya dan Regan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Maaf ya kalo rumahnya kecil. Oh... ini Regan anak kamu waktu itu?"
"Iya mbak, sebenarnya tujuan saya pagi-pagi mengunjungi rumah mbak, karena aku mau melamar Lisa putri mbak."
Bu Yuyun tertegun mendengar ucapan Lidya. Rasanya antara nyata dan tidak. Bahkan bu Yuyun mengerjap beberapa kali karena masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Me... melamar Lisa?"
"Iya mbak. Putraku jatuh cinta sama Lisa."
"Ka... kalo gitu a-aku panggil Lisa dulu." Bu Yuyun langsung masuk ke dalam kamar Lisa dan membangunkan gadis itu.
"Nak, sayang, Lisa bangun."
"Ada apa bu?"
"Di luar ada pria yang mau lamar kamu." lirih bu Yuyun, namun berbeda halnya dengan bu Yuyun, reaksi Lisa sangat syok. Dia langsung duduk dan menatap ibunya dalam.
"Ibu jangan bercanda."
"Ibu serius, sekarang kamu mandi buruan. Kalo udah segera keluar."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
**Aku sedih guys entah kalian sadar atau tidak episode 40 ku hilang dan malah terisi dengan episode 55. Mungkin hari ini aku Up satu dulu mau remake episode 40.
Minggu depan mau ikutan banner crazy up jadi aku perlu bebenah cerita dulu**.