
*********
Siang itu Lusi dikejutkan dengan kabar meninggalnya Jaka. Orang yang paling dia benci di dunia ini. Belum juga dia membalas perbuatan buruk Jaka tapi pria itu sudah lebih dulu meninggal.
Menurut berita yang dia dengar, Jaka ditusuk oleh orang tak bertanggung jawab. Lusi hanya bersorak kegirangan dalam hati.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Jaka ditusuk oleh mantan suami Karmila yang merupakan selingkuhan Jaka dulu yang pada akhirnya menjadi istri Jaka namun justu malah di telantarkan. Mantan suami Karmila dendam pada Jaka karena gara-gara Jaka, Karmila meninggalkan putri mereka yang berusia 3 tahun disaat gadis kecil itu sakit keras hingga akhirnya meninggal dunia. Karmila dan Jaka dulunya memang berpacaran tapi karena Jaka mendapat tugas dari Ratih ibu Suryo akhirnya Jaka meninggalkan Karmila saat itu. Hubungan mereka terputus setelah Jaka memutuskan menikah dengan Mitha, dan karena kecewa akhirnya beberapa tahun kemudian Karmila menikah dengan suaminya. Namun setelah sekian lama Jaka kembali menghubungi Karmila dan menjanjikan hidup enak hingga akhirnya Karmila memilih meninggalkan suami dan anaknya. Tapi karma tetap berlaku, Karmila dan Jaka tidak pernah merasakan kehidupan yang benar-benar enak.
Dan saat melihat Jaka di pemukiman kumuh beberapa hari yang lalu membuat mantan suami Karmila teringat dendam atas kematian putrinya. Dia langsung merencanakan pembunuhan terhadap Jaka. Tidak ada yang tahu apa yang dirasakan oleh pria itu. Kesedihannya kini usai saat dia berhasil menusuk Jaka. Dia merasa cukup puas karena kematian putrinya terbalaskan. Bahkan saat dirinya sadar sedang dalam kondisi terikat pun tak ada sedikitpun kesedihan di wajah pria itu.
"Apa kau tahu apa yang kamu lakukan adalah tindakan kriminal?" tanya Harlan. Setelah meminta bantuan pihak rumah sakit menguburkan Jaka. Harlan segera menemui pria tadi.
"Ya aku tahu, dan pria itu pantas menerimanya."
"Kenapa kamu lakukan itu?"
"Dia merebut istriku, dia membuat putriku kehilangan ibunya hingga akhirnya putriku yang malang harus meregang nyawa. Laki-laki itu pantas mati." Ujar pria itu, tidak ada sedikitpun raut wajah bersalah. Pria itu seakan tak pernah berbuat sesuatu yang salah.
"Bagaimana jika aku membawamu ke kantor polisi."
"Tidak apa-apa. Melihatnya mati itu sudah cukup bagiku." Harlan mendesah berat dia tahu betul bagaimana sakitnya kehilangan istri apalagi anak.
Pada akhirnya Harlan membawa pria itu ke tempat penyiksaan. Dia ingin meminta saran pada bosnya terlebih dulu sebelum bertindak. Toh orang-orang nya tadi sudah merusak beberapa rekaman CCTV di area Halte.
Suryo langsung bergegas mendatangi tempat biasa dia melenyapkan musuhnya karena mendapat laporan dari Harlan. Setelah tiba di sana Suryo segera menemui pria yang menusuk Jaka tadi.
Setelah Suryo berbicara panjang lebar, laki-laki itu tetap memilih mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia minta diserahkan ke kantor polisi. Dia tidak mau nanti saat dirinya mati dan bertemu putrinya dia dihatui rasa bersalah.
Suryo menghargai keputusan pria itu. Bahkan dia berjanji akan membantu meringankan masa tahanannya. Namun laki-laki pria itu menolaknya. Dia tak ingin melibatkan orang-orang sebaik Suryo dan Harlan.
__ADS_1
Pada akhirnya Harlan mengantar pria itu ke kantor polisi, dan polisi segera menindaklanjuti kasusnya.
Masalah Jaka telah selesai, baik Mitha dan Lusi akhirnya hanya bisa menerima semua ini meskipun tidak mudah untuk menutup luka di hati mereka. Mereka tetap akan menyimpan kebencian untuk Jaka sampai kebencian itu sendiri yang akan pergi dari hati mereka.
Lisa dan Lusi saling berpelukan, Lisa ikut senang mendengar kabar kematian Jaka. Jahat memang, gembira di atas berita duka tapi mengingat kejahatan Jaka pada sahabatnya Lisa tak urung bersyukur. Setidaknya sosok yang kini bagai mimpi buruk untuk Lusi telah pergi untuk selamanya.
"Tante Mitha bagaimana kondisinya?" tanya Lisa pada sahabatnya.
"Tadi kata ayah sempat drop, mungkin syok juga. Ini ibu masih di kamar belum keluar dari tadi," jawab Lusi. Tadinya dia ingin berlama-lama di mansion Delano tapi mendengar kabar dari ibunya membuat Lusi akhirnya memutuskan kembali ke mansion Syailendra bersama kedua buah hatinya.
"Bagaimana malam pertama kalian?" kini Lusi terdengar usil dengan keingintahuannya. Lisa hanya mengulum senyum sambil geleng kepala.
"Daripada malam pertamaku, aku lebih tertarik untuk membicarakan perkembangan mas Tio. Pagi tadi ibu memberi kabar jika operasi mas Tio berjalan lancar dan kemungkinan mas Tio akan segera bisa berjalan lagi 80%."
"Serius kamu, Lis?"
"Iya, tapi kata ibu, ibu akan menetap di sana karena mas Tio akan membantu menjalankan bisnis papa mertua di sana."
.
.
.
Di kantor Zenon, Jeff kembali mendatangi Delano.
"Ada apa Jeff?"
"Apa kau bisa membantuku melacak keberadaan Florencia? Aku tahu banyak kesalahan ku yang tak termaafkan. Tapi selain denganmu Flo tidak mengenal siapapun di negara ini."
__ADS_1
"Kapan terakhir kamu bertemu dengannya?"
"Seminggu yang lalu, dia bilang dia ada urusan penting. Dia juga berjanji akan segera kembali tapi sampai sekarang dia tidak pulang juga."
"Apa kau sudah melapor ke kantor polisi? Beberapa hari yang lalu dia memang ke perusahaan ku tapi setelah itu aku tidak tahu lagi kemana dia."
"Untuk apa dia ke kantormu?" tanya Jeff dengan alis mengernyit.
"Dia hanya ingin aku membantumu, jika kasus Karisa sampai naik ke pengadilan. Tapi sayangnya kasus belum jadi naik Karisa sudah kabur dari lapas dibantu oleh seseorang," tutur Delano dengan tenang. Namun Jeff justru tampak sangat terkejut dengan penuturan Delano.
"A-apa maksudmu?"
"Kau tahu pasti, jika kasus Karisa naik ke pengadilan tidak hanya dirinya yang terseret melainkan kamu juga. Hal ini seharusnya tidak dapat dihindari karena memang apa yang kalian perbuat harus dipertanggungjawabkan. Tapi sepertinya nasib sedang berpihak baik padamu." Delano menjeda ucapannya menatap sahabatnya yang terlihat begitu syok. "Kamu masih diberi kesempatan untuk merubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi gunakan waktumu sebaik mungkin."
"Kapan Karisa kabur?"
"Mungkin bertepatan dengan menghilangnya Florencia," jawaban Delano terdengar biasa saja namun mampu membuat jiwa Jeff seketika koyak. Dia yakin kini menghilangnya Florencia karena ada kaitannya dengan Karisa.
"Lano, aku... "
"Sejujurnya aku sudah memaafkan semua kesalahanmu Jeff. Tapi memang seharusnya ada hal yang harus kamu pertanggungjawabkan, bukan hanya padaku. Setidaknya nuranimu seharusnya juga terketuk. Kau tahu pasti tentang kematian Karina, kau jugalah yang mengambil anak-anak ku dan membuangnya." Delano diam sesaat dia pun juga sebenarnya tidak tega melihat sahabatnya harus kembali kehilangan cintanya.
"Flo hilang begitu juga Karisa. Kau tau pasti jika semua itu pasti berkaitan. Jujur aku begitu kecewa saat ini. Tapi aku harap jangan menemuiku lagi untuk menanyakan keberadaan Flo. Meski kita bersahabat tidak seharusnya dia membantu Karisa melarikan diri," lanjut Delano.
"Maafkan aku Lano. Mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi. Dan aku akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada masa lalu," ujar Jeff. Jeff lantas pergi meninggalkan ruangan Delano. Delano menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya.
"Maafkan aku Jeff." lirih Delano.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa Vote like dan komen ya tsay 🥰🥰