Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 108. Karma


__ADS_3

*******


Pagi-pagi buta Jaka bergerak dalam senyap. Meskipun harus menahan sakitnya luka tembak di kakinya dia tetap ingin membalas semua yang telah dialaminya pada Lusi.


Namun karena hatinya tertutup oleh emosi, Jaka sama sekali tak memperhatikan langkahnya tengah diikuti oleh dua orang pria. Salah satunya adalah Harlan, sedang pria yang satu lagi tak diketahui siapa. Saat Jaka berdiri di samping halte yang masih sepi pria asing itu menghampiri Jaka dan menusuk perut Jaka 2 kali menggunakan pisau yang dia bawa tanpa ampun. Jaka jatuh tersungkur, Harlan langsung membekuk pria yang menusuk jaka itu. Tanpa pikir panjang Harlan langsung menghubungi anak buahnya, tak butuh waktu lama sebuah mobil mini van berwarna hitam berhenti di halte itu. Harlan segera memasukkan Jaka dan pria tak di kenal itu kedalam mobil.


"Apa kita akan ke rumah sakit tuan?" tanya anak buah Harlan.


"Ya, kita bawa baji*ngan ini ke rumah sakit dulu." jawab Harlan singkat. Mobil segera melaju menuju rumah sakit. Harlan bisa melihat nafas Jaka mulai putus-putus. Dia berharap jika laki-laki itu mati saja, sehingga beban pekerjaannya berkurang.


Setibanya di rumah sakit, Harlan berbuat seolah-olah Jaka adalah sahabatnya. Dia berteriak memanggil dokter dan meletakkan Jaka di brankar. Jaka segera ditangani oleh Dokter. Sementara itu Harlan melaporkan segala yang terjadi pada Suryo. Suryo tersenyum tipis, ternyata karma masih berlaku. Belum juga dirinya bertindak, ternyata ada orang lain yang memiliki dendam juga pada pria itu.


"Ada apa mas? kenapa pagi-pagi mas tersenyum begitu?" tanya Mitha penasaran.


"Tidak ada apa-apa sayang, Bagaimana jika kita bulan madu?"


"Ish, kita ini sudah terlalu tua untuk itu mas."


"Memangnya kenapa? meskipun usiaku tua tapi jiwaku masih muda. Ini puber kedua ku sayang," ujar Suryo seraya mencium leher jenjang Mitha.


"Tapi aku malu pada Lusi dan Delano. Mereka saja tidak pergi bulan madu."


"Siapa yang bilang?" tanya Suryo dengan sebelah alis dinaikkan.


"Aku yang bilang barusan,"


"Mereka akan pergi baby moon setelah kandungan putri kita menginjak usia 5 bulan. Delano dan aku sudah menyiapkan semuanya."


Wajah Mitha seketika tersenyum malu. Ternyata suaminya memang sudah memperhitungkan segalanya.


.


.

__ADS_1


.


Sementara itu di kediaman Delano, kedua putra Delano sedang merengek untuk pulang ke mansion Syailendra.


"Devan mau bunda, oma."


"Davin juga mau ayah, oma. "


"Lho, bukankah kemarin kalian sudah janji sama oma ga akan rewel?" Diana mencoba membujuk kedua bocah itu.


"Tapi kami mau bunda dan ayah."


Lusi dan Delano yang baru tiba di mansion itu, langsung bergegas mencari keberadaan kedua putranya begitu mendengar suara jeritan Devan.


"Eh... eh anak bunda kok bicaranya seperti itu sama oma?" Lusi seketika menegur Devan. Melihat bundanya datang Devan langsung berlari menghambur memeluk Lusi.


"Bunda.... "


"Bunda, Davin kangen."


"Oh, ya ampun. Anak-anak bunda kenapa jadi manja begini sih?" Lusi membelai kepala Davin dan Devan.


Delano yang ada di belakang Lusi hanya menjadi penonton melihat betapa manisnya kedua bocah itu.


"Ma, ada yang mau Delano bicarakan." Delano menatap mamanya dalam, Diana yang tahu ada sesuatu dengan putranya langsung mengajak Delano masuk ke kamarnya.


"Ada apa Lano?"


"Ma, Delano pikir Delano ingin mengungkapkan jika Karina adalah ibu kandung si kembar. Bagaimana menurut mama?"


"Memang ada baiknya seperti itu. Tapi kamu harus lihat kondisi suasana hati mereka. Jangan sampai karena hal ini, justru akan mengganggu psikologis putra-putramu."


"Ya mah, Delano dan Lusi sudah memutuskan hal itu. Delano pikir mereka perlu tahu agar kelak ke depan tidak terjadi kesalahpahaman diantara Lusi dan mereka."

__ADS_1


"Ya sudah, mama akan selalu mendukung apapun keputusan kamu, sayang."


Delano dan Diana keluar dari kamar. Mereka mencari keberadaan Lusi dan kedua anak-anaknya yang ternyata sedang berada di taman di samping mansion. Kedua bocah itu tampak sangat bahagia bermain di sekitaran Lusi.


"Ku harap setelah mereka mengetahui kebenarannya mereka akan lebih menyayangi Lusi."


"Itu sudah pasti Lano, Mereka pasti akan semakin menyayangi Lusi."


"Aah.. bunda." Devan bersembunyi di balik tubuh Lusi saat Davin terus menyemprotnya dengan tembakan air.


"Kakak curang, jangan sembunyi terus di belakang bunda." Gerutu Davin. Lusi hanya tertawa melihat kedua tingkah bocah-bocah itu.


Devan dan Davin saling lirik saat melihat bunda nya tertawa. Mereka akhirnya memilih menyemprot Lusi dengan pistol air mereka. Lusi berteriak seraya tertawa. Tubuhnya kini basah karena ulah kedua putranya.


Lusi mengambil selang air lalu menyemprotkannya pada Devan dan Davin. Kedua bocah itu berlari dan menghindar. Mereka bersembunyi di balik tubuh Delano. Akhirnya mau tak mau Delano yang menjadi sasaran Lusi. Padahal dia sudah bersiap akan berangkat ke kantor. Jadilah mereka bermain saling serang memakai selang air. Sementara Devan dan Davin membantu Delano menyerang Lusi.


Diana menatap mereka dengan senyum yang merekah. Akhirnya putranya kini menemukan kebahagiaannya setelah melewati begitu banyak cobaan.


Lusi, Delano dan kedua putranya langsung membersihkan diri setelah tubuh mereka basah kuyup. Devan dan Davin pergi ke kamar mereka bersama kedua pengasuhnya. Sedangkan Delano dan Lusi mandi berdua.


"Sayang, jika seperti ini terus aku benar-benar tersiksa."


"Dokter kan hanya meminta mas berhati-hati bukannya tidak boleh melakukannya." kata Lusi. Tubuh mereka merapat tanpa jarak. Lusi perlahan membelai dada bidang Delano hingga Delano terpejam merasakan gelenyar aneh yang mulai berpusat di pangkal paha nya.


"Sshh... aah." Suara desa*han Delano lepas begitu saja saat jemari Lusi bergerak liar membelai perut Delano dan terus turun ke bawah hingga membuat tubuh Delano menegang. Lusi menggenggam little bro yang sudah on lalu perlahan Lusi menggerakkan tangannya.


"Lets do it baby." Desis Lusi. Delano langsung mengangkat tubuh Lusi dan mendudukkan nya di wastafel Delano mulai mengarahkan little bro ke sarangnya yang hangat dan basah. Mata Delano seketika terpejam merasakan hangatnya sarang milik Lusi. Suara desa*han Lusi membangkitkan semangat Delano untuk terus menggali hingga ke dasar. Keduanya larut dalam gelora nap*su yang semakin membumbung. Delano bergerak dengan lembut hingga bibir Lusi tak henti-hentinya merintih.


"Ahh, nikmat mana lagi yang kau dustakan?" Dan Delano menyudahi aksinya setelah Lusi berulang kali mencapai puncaknya.


Wajah Delano tampak puas begitu juga dengan Lusi. Wajah Lusi tampak semakin segar setelah bergelut manja dengan Delano tadi. Delano segera berangkat ke kantor karena waktu sudah sangat siang. Sementara Lusi kembali ke kamar karena tiba-tiba saja dia begitu mengantuk.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2