Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 74. Jangan Ragukan


__ADS_3

********


Hidup harus tetap berjalan


Ada perjumpaan dan ada perpisahan


Kesedihan tak kan mampu menahan waktu untuk terus bergulir


Dan kebahagiaan tak bisa mempercepat jalannya waktu.


Lusi sudah merasa jauh lebih segar. Setelah beristirahat di kamar sang nenek. Kini Lusi sudah kembali menjadi Lusi yang biasanya. Setelah menghubungi ibunya pagi tadi Lusi kini tampak sedang mempersiapkan keperluan Devan dan Davin untuk ke sekolah. Delano masuk ke kamar kedua putranya. Dia mengecup puncak kepala Lusi.


"Selamat pagi istriku." Delano memeluk Lusi dari belakang.


"Pagi, mas" jawab Lusi singkat. Delano mengernyit saat merasa Lusi menjawabnya begitu dingin.


"Bunda, ayah." Devan dan Davin berlari berhamburan memeluk Lusi dan Delano.


"Pakai baju kalian dulu, sayang." Lirih Lusi seraya mengusap kepala kedua putranya. Lusi terlihat tak acuh pada kehadiran Delano di sisinya. Ia masih berpikiran jika selama ini kebaikan yang Delano tunjukkan padanya hanya sebatas rasa terima kasih semata.


Devan dan Davin yang sudah rapi langsung turun ke bawah bersama pengasuh mereka. Pengasuh yang Diana siapkan khusus untuk kedua cucunya. Sementara Delano sedang mengunci pergerakan Lusi dengan mengungkung tubuh Lusi di dinding.


"Katakan padaku, ada apa denganmu? kenapa kamu berubah dingin seperti ini." Delano menatap lembut wajah cantik Lusi. Namun Lusi memilih membuang pandangannya. Dia tak bisa berlama-lama menatap mata Delano.


"Tidak ada apa-apa. Itu hanya perasaanmu saja," Lirih Lusi, Delano meraih dagu Lusi dan menahannya.


"Tatap mataku Lusi. Jika memang ada sesuatu atau aku melakukan salah katakan saja. Jangan diam seperti ini. Aku bukan dukun yang bisa meramal isi hatimu."


Mau tak mau Lusi akhirnya menatap mata Delano. Keduanya saling menatap begitu dalam. Mata Lusi langsung berkaca-kaca.


"Jangan terlalu memberi perhatian lebih padaku. Aku takut salah sangka dan besar kepala."


"Salah sangka? kenapa?"


"Aku akan mengira jika kamu benar-benar tulus mencintaiku." bulir air mata yang semula mengembang di pelupuk mata Lusi. Akhirnya jatuh berderai. Lusi tak menyangka akan sesakit ini, saat dia mulai jatuh cinta namun cintanya tak berbalas.


"Apa kamu meragukan ketulusanku?" Delano mengusap air mata Lusi.

__ADS_1


"Lalu, 'apa aku bisa mempercayaimu? apa kamu bisa meyakinkanku? jika apa yang sedang kamu lakukan dan kamu berikan untukku saat ini bukan hanya sekedar sebagai rasa terima kasihmu karena aku merawat kedua putramu.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu? aku benar-benar tulus mencintaimu Lusi. Aku sudah katakan itu berulangkali. Kenapa kamu masih meragukanku?" tatapan mata Delano masih tetap sama meskipun dalam hatinya ia merasa kecewa.


"Aku merasa semua sikap yang kamu tunjukan padaku semua hanya karena rasa terima kasihmu karena aku sudah merawat Devan dan Davin." Lusi hampir menunduk namun Delano masih tetap menahan dagu Lusi.


"Lihat aku, tatap mataku Lusi! apa kamu melihat kebohongan di sana. Aku tidak pernah sedikitpun mempunyai pikiran seperti itu. Apapun yang sudah kamu lakukan untuk Devan dan Davin, sungguh aku berterima kasih. Tapi perasaan cintaku padamu benar-benar tulus dari dalam hatiku, percayalah!"


Lusi tidak sanggup menahan air matanya. Cinta benar-benar bisa membuat seseorang terlihat rapuh, seperti saat ini yang sedang lusi rasakan. Dirinya justru memeluk pinggang Delano dan menangis dada Delano.


"Jangan pernah meragukanku lagi sayang. Sampai kapanpun cintaku padamu tak akan pernah pudar meskipun tergerus waktu. Tapi cintaku justru akan semakin besar sampai kamu kesulitan menampung cinta yang ku berikan padamu," desis Delano seraya menyematkan ciuman dalam di bibir Lusi.


"Ayah .... " Devan menerobos masuk kembali ke kamar karena kedua orang tuanya tak kunjung turun.


Lusi seketika mendorong dada Delano. Wajah Lusi memerah, dia juga mengusap sisa air matanya lalu tersenyum ke arah putranya. Devan yang melihat wajah Lusi memerah dengan sisa air mata langsung menghunus kan tatapan matanya pada Delano.


"Ayah, marahin bunda ya? kenapa bunda menangis?" Devan menatap tajam kearah Delano, namun bukannya takut Delano justru tertawa melihat polah tingkah putra pertamanya itu.


"Bunda menangis karena tidak bisa jauh dari ayah. Bunda pengen selalu dekat sama ayah." Kata Delano, Lusi mencubit pinggang Delano dengan keras seraya matanya melotot.


"Jangan ngomong sembarangan." Kesal Lusi. Dia segera menggandeng tangan Devan meninggalkan Delano.


.


.


.


Diana, Regan dan Lusi tiba kembali ke ibukota, sementara Mitha dan Suryo tinggal di Solo sampai acara 7 harian nenek Laila selesai.


"Regan, Lisa, tante sudah dijemput. Apa kalian mau bareng tante?"


"Tidak perlu tante, sebentar lagi jemputan kami tiba." Jawab Regan, Lisa hanya tersenyum karena jujur dia merasa sedikit tidak nyaman dan belum terbiasa apa-apa selalu berdua dengan Regan.


"Kalau begitu tante duluan ya." Diana memeluk Lisa sebentar lalu ia segera menuju mobil jemputannya. Sementara itu Regan yang kemana-mana selalu menggenggam tangan Lisa, membawa Lisa duduk di ruang tunggu penjemputan.


"Apa kamu mau kopi?"

__ADS_1


Lisa menggeleng, "Tidak, aku tidak boleh minum kopi dalam keadaan perut kosong."


"Apa mau sarapan dulu?" tawar Regan kembali. Kali ini Lusi tersenyum. Ternyata Regan tak se-kaku yang dia lihat.


"Aku mau cepat-cepat sampai rumah. Aku lelah." ujar Lisa. Lisa menatap jemari Regan yang selalu bertaut dengan jemarinya.


"Kenapa kamu bisa menyukaiku?" lirih Lisa, matanya tidak berani menatap Regan. Pria itu tersenyum melihat tingkah malu-malu kekasihnya itu.


"Karena kamu Lisa." Regan mengangkat dagu Lisa dan memaksa Lisa menatap matanya.


"Kamu bisa mencari Lisa, Lisa yang lain. Kenapa aku?"


"Karena kamu satu²nya Lisa yang aku inginkan." Mata Lisa terasa panas mendengar ucapan Regan itu.


"Tunggu di sini sebentar, aku akan segera kembali." Regan meninggalkan Lisa sendirian. Namun di sisi lain seseorang yang mengenal Lisa mendekat dan langsung memeluk Lisa.


"Lisa, aku merindukanmu."


Tubuh Lisa seketika membeku dan di saat bersamaan Regan tiba dengan membawa botol air mineral dan Roti. Matanya melebar melihat Lisa di peluk seseorang. Regan berjalan dengan cepat lalu menarik tubuh Lisa hingga terlepas dari pelukan pria itu.


"Kamu lagi .... " Sean menatap kesal pada Regan.


"Memangnya kenapa?"


"Sean .... " Seorang gadis cantik memeluk Sean dan mencium pipi Sean. Lisa menunduk, dia sama sekali tidak mau menatap Sean dan gadis itu.


"Cherryl lepas."


"Hei, aku ini tunangan kamu. Aku akan bilang sama mama kalo kamu berani bentak aku." Ancam gadis yang bernama Cherryl itu.


Lisa tampak kaget, dia menggenggam jemari Regan dengan erat. "Aku mau pulang." Desis Lusi.


Tanpa banyak bicara Regan membawa Lusi pergi. Namun baru dua langkah tangan Lisa ditahan oleh Sean.


"Lisa tunggu. Aku bisa jelaskan semuanya."


"Maaf tuan Sean. Aku tidak butuh penjelasan apapun dan lagi pula kita tidak dalam hubungan apapun. Jadi terserah." Lisa menghempas tangan Sean dan memeluk lengan Regan. Keduanya berjalan menjauh sedangkan Sean menatap Lisa dengan Sendu.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Maaf ya guys, kemarin aku repot super repot. Seharian bolak-balik ke kantor kelurahan ngurus bikin akte buat suami, ke dokter gigi cabutin gigi anakku. banyak ini itu sampai ga ada waktu buat pegang ponsel.


__ADS_2