
********
Ledakan berita yang di buat oleh Harlan sore ini. Sebuah rekaman video berdurasi 5 menit dengan judul seorang dokter anak ternama di sebuah rumah sakit swasta melakukan tindakan tidak amoral pada seorang wanita. Video itu memperlihatkan Sean yang melakukan kekerasan fisik pada seorang wanita dan hampir memperkosanya. Di video itu wajah Lisa sudah diblur oleh Harlan demi menjaga nama baik calon istri Regan itu.
Baru beberapa menit video itu diunggah, sudah ada ribuan orang yang menontonnya. Banyak hujatan dan caci maki yang ditujukan pada Sean. Bahkan ada beberapa yang mengenal dokter Sean langsung menyebutkan nama pria itu. Dalam hitungan Jam nama Sean sudah menjadi tranding topik pencarian.
Lisa dan Lusi yang saat itu sedang melihat tutorial makeup di aplikasi metube terkejut saat sekilas melihat take line dari berita itu. Lusi yang penasaran pun akhirnya membukanya. Matanya membelalak begitu pun Lisa. Bahkan gadis itu gemetaran mengingat kejadian kelam itu. Lusi menoleh dan menatap Lisa, Lusi langsung mendekap tubuh Lisa dan perlahan mengusap punggung Lisa agar Lisa merasa tenang.
"A-apa yang di video itu benar Lisa?" tanya Lusi, dirinya masih belum dapat percaya dengan apa yang terjadi pada sahabatnya. Namun anggukan kepala Lisa membuat hati Lusi berdenyut nyeri.
"Kenapa Sean tega berbuat seperti itu Lisa?"
"Aku juga tidak tahu Lusi. Dia berubah, dia sudah keterlaluan." isak Lisa. Lusi memejamkan matanya. Sahabat baiknya pasti saat ini masih trauma atas kejadian yang dialaminya.
Regan keluar dari ruang tamu terkejut mendapati Lisa yang menangis di pelukan sepupunya. Dia lantas mendekati Lusi dan Lisa.
"Ada apa ini Lusi?" tanya Regan cemas mendapati Lisa terus terisak dan menyembunyikan wajahnya di bahu Lusi. Lusi menyerahkan ponselnya pada Regan dan memberi isyarat agar Regan melihatnya sendiri. Akhirnya karena begitu penasaran, Regan melihat apa yang tadi Lusi dan Lisa lihat. Regan benar-benar terkejut dengan gebrakan yang dibuat oleh orang kepercayaan pamannya.
"Lisa .... " Suara Regan terdengar lirih. Dia tahu pasti video itu juga akan mengorek luka hati Lisa sekarang.
Lusi mencoba mengurai pelukan Lisa. Gadis itu mengusap air matanya lalu menatap Regan. Ada raut ketakutan dari wajah Lisa.
"Regan, bagaimana nanti jika orang-orang tahu bahwa wanita di dalam video itu adalah aku?" gemetar di tubuh Lisa tak bisa mereda, dia benar-benar takut dan belum siap menghadapi pandangan masyarakat terhadapnya. Regan duduk di samping Lisa dan menarik gadis itu kedalam dekapannya.
"Sshh ... jangan khawatir semua akan baik-baik saja. Nanti supir mama akan menjemput ibu. Sementara sampai hari pernikahan kita, kamu dan ibu akan tinggal di sini."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan keluargaku yang lain?"
"Kamu cukup tenangkan pikiranmu. Jangan terlalu banyak berpikir. Aku yang akan selesaikan masalah ini. Aku hanya ingin saat kita nanti pindah ke Manchester kamu harus bisa lepas dari bayang-bayang masa lalumu." Regan membelai rambut Lisa dengan lembut. Isak tangisnya mulai mereda seiring matanya yang perlahan terpejam lalu tubuh Lisa terkulai lemah di dekapan Regan.
"Regan, kenapa dengan Lisa?" tanya Lusi panik.
"Tenanglah Lusi, kondisinya memang masih lemah. Dia butuh istirahat. Mungkin ini juga efek obat yang dikonsumsinya tadi." Regan perlahan mengubah posisi Lisa, memangkunya lalu ia mengangkat tubuh Lisa dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu Lusi masih tercenung melihat kembali video yang memuat berita tentang penganiayaan Sean terhadap Lisa. Lusi membayangkan betapa takutnya Lisa saat itu.
Air mata yang semula surut kembali berderai bertepatan dengan Delano yang baru saja turun bersama kedua putranya. Seketika Devan dan Davin menghampiri Lusi untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Bunda, kenapa bunda menangis?" mendengar suara kedua putranya Lusi buru-buru mematikan ponselnya dan menyembunyikannya.
"Tidak ada apa-apa sayang, bunda tadi habis nonton tayangan sinetron sedih," kata Lusi seraya tersenyum pada kedua putranya.
"Iya sayang, memang seperti itu." ucap Lusi meyakinkan kedua putranya.
Keduanya mengangguk mengerti namun tidak dengan Delano. Matanya menatap tajam kearah Lusi. Lusi yang ditatap tajam seperti itu pun merasa tak bisa berkutik. Dia berbalik menatap Delano dengan tatapan mata sendu. Delano menarik nafas panjang dan ikut duduk di sebelah istrinya.
"Sayang, kalian berdua main di luar dulu ya!" kata Delano. Devan dan Davin mengangguk lalu meninggalkan Delano dan Lusi berdua.
Delano merangkul bahu Lusi dan menariknya agar Lusi bersandar di pundaknya.
"Katakan! apa yang sudah membuatmu bersedih hingga menangis?" Lusi mengeluarkan ponsel dari balik tubuhnya dan menyerahkannya pada Delano. Delano menyalakan ponsel Lusi dan melihat video Sean dan Lisa. Tangan Delano semakin erat mendekap sang istri.
__ADS_1
"Percayalah semuanya akan baik-baik saja sayang."
"Tapi mas, aku tahu apa yang Lisa rasakan saat ini. Takut, khawatir dan selalu terbayang-bayang. Dia pasti mengalami trauma berat."
"Dengarkan aku, sayang! Lisa sekarang sudah memiliki Regan. Aku percaya sepupumu itu lebih dari berkompeten untuk menjadi pendamping Lisa dan menghilangkan segala traumanya. Apalagi sebentar lagi mereka akan menetap di luar negeri, pasti Lisa akan lebih mudah melupakan kejadian ini."
Lusi mengangguk, benar apa yang dikatakan oleh suaminya. Lisa pasti akan cepat melupakan kejadian ini karena Lisa dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
"Sekarang kita ke kamar ya, sudah waktunya kamu dan anak kita ini beristirahat."
"Aku ingin menemani Devan dan Davin sayang." ujar Lusi dengan wajah cemberut. Delano tersenyum lalu mengecup bibir Lusi yang maju.
Cup!!
Lusi melirik kesal lalu bangkit dan berjalan meninggalkan Delano. Delano hanya terkekeh saat melihat wajah kesal istrinya yang membuat wanita itu terlihat semakin menggemaskan.
Delano pergi ke dapur untuk membuatkan susu hamil untuk Lusi, ia juga meminta pelayan menyiapkan kue untuk camilan istrinya. Setelah semuanya siap, Delano mengangkut semuanya di atas nampan lalu menyusul Lusi dan kedua putranya.
Devan dan Davin sedang bermain bola sepak. Bahkan keduanya mengajak beberapa pengawal untuk ikut bermain bersama mereka. Lusi duduk di kursi malas sambil menatap kedua putranya dan sesekali tertawa saat Devan atau Davin tidak dapat mengambil bola dari pengawal-pengawal ayahnya.
"Sayang, su*sumu." Delano meletakkan nampan nya di meja lalu ikut bergabung duduk bersama Lusi.
Lusi mengambil gelas yang berisi susu coklat dan masih beruap itu. Lalu perlahan meneguknya.
"Hmm ... ini enak sekali." Ucap Lusi dengan mata terpejam.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Tetap dukung karya ini ya. InsyaAllah mulai besok othor bakalan upayain up 3x sehari. Biar kaya minum obat.