
*********
Delano masih mendekap tubuh Lusi yang gemetaran dan basah oleh keringat. Matanya terpejam dan berulangkali ia mengecup puncak kepala Lusi. Hatinya bagai tersayat melihat Lusi ketakutan seperti itu. Di saat yang bersamaan pintu diketuk dari luar. Delano membelai punggung Lusi.
"Aku buka pintu sebentar, ya, sayang?" bisik Delano, tapi Lusi menggeleng seraya mengeratkan pelukannya pada tubuh Delano.
"Jangan, aku takut." lirih Lusi dengan suara bergetar, tubuhnya juga terasa sangat panas.
"Itu perawat yang akan membantuku merawatmu." Delano membingkai pipi Lusi. Di tatapannya mata Lusi dengan tatapan lembut. Lusi tetap menggeleng. Dia benar-benar ketakutan saat ini.
"Bagaimana jika itu tuan Aditya? jangan buka pintunya, mas, aku tidak akan sanggup jika harus kehilangan kamu." Saat mendengar ucapan Lusi tanpa terasa mata Delano terasa memanas. Sebegitu takutnya Lusi kehilangan dirinya. Ah, rasa tak bisa tergambar lagi betapa bahagianya Delano.
"Sayang, tenanglah. Aditya sudah di kantor polisi. Dia tidak akan macam-macam lagi," Delano mencoba memberi pengertian pada Lusi. Saat Lusi menatap Delano, dan ada keyakinan di matanya Lusi pun akhirnya melepas pelukannya. Delano bergegas berjalan kearah pintu karena tak ingin membuat Lusi lama menunggu.
"Maaf, tuan, saya Ambar, perawat yang di minta dokter Zhafira untuk memantau nyonya Lusi."
"Silahkan masuk. Istriku ada di dalam. Dan dia sedang demam tinggi," ujar Delano. Tak lama perawat yang bernama Ambar itu masuk. Dia melihat Lusi meringkuk di sudut ranjang dengan tubuh tertutup selimut seluruhnya. Delano langsung berlari menghampiri Lusi.
"Sayang, hei, kenapa?" tanya Delano, sembari membuka selimut yang membungkus tubuh istrinya itu.
"Aku takut mas."
Perawat itu segera mendekati ranjang Lusi, senyumnya lembut menenangkan, "Saya Ambar, nyonya Lusi. Saya yang akan merawat dan menemani anda di sini," Ambar mendekat dan memeriksa suhu tubuh Lusi memakai thermo gun, perawat itu melihat angka digital yang ada di alat itu
"39,7°... "
"Apa kita perlu ke rumah sakit, suster? apa dengan kondisinya ini, tidak berpengaruh dengan kandungan istriku?" Delano mencecar Suster Ambar dengan rentetan pertanyaan.
Suster Ambar tersenyum, sebagai suster senior dia paham betul kekhawatiran suami Lusi itu.
Suster Ambar membuka tasnya dan mengambil botol kecil berisi obat penurun panas. Dia segera menyuntikkan obat itu melalui selang infus Lusi.
"Bisa saya meminta sebaskom air hangat dan handuk bersih, tuan?"
"Oh, baiklah."
"Sayang, kamu tunggu sebentar dengan suster Ambar, ya?" Lusi mengangguk lemah.
__ADS_1
Delano segera keluar kamar untuk meminta seorang pelayan membantunya. Delano juga meminta pelayan lain untuk menyiapkan makanan dan susu hamil Lusi.
Di dalam kamar Lusi dibantu oleh suster Ambar untuk bersandar.
"Apa yang nyonya rasakan? apa ada bagian tubuh yang sakit?" tanya suster Ambar dengan lembut. Tatapan matanya bahkan begitu menenangkan
"Hanya merasa kurang nyaman karena terus berkeringat suster,"
Delano masuk bersama dua pelayannya. Salah seorang diantaranya meletakkan baskom berisi air hangat dan dua handuk bersih dan pelayan yang satunya meletakkan nampannya yang berisi makanan dan susu di atas nakas. Tak lama pintu di ketuk dari luar. Lisa langsung masuk saat Delano mempersilahkannya.
"Kenapa bisa seperti ini Lusi?" tanya Lisa cemas. Dia langsung naik ke ranjang Delano dan duduk di sebelah Lusi. Delano merasa tenang karena Lusi sudah tampak kembali dialiri darah. Mungkin efek obat penurun panas yang mulai bekerja.
Delano akhirnya memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara itu Lisa sibuk membantu suster Ambar mengelap tubuh sahabatnya itu.
"Jangan sering sakit, sebentar lagi aku akan ikut Regan ke Manchester. Kalo kamu sakit siapa yang bantu jagain kamu?" ujar Lisa dengan tatapan sendu, setelah ia membantu mengganti baju Lusi yang basah dengan baju tidur.
Lisa memeluk Lusi keduanya menangis haru, karena beberapa hari lagi Lisa sudah harus berangkat ke luar negri. Mereka akan sangat jarang bertemu.
"Jaga diri baik-baik ya Lus, sekarang pengganggu dalam hidupmu sudah tidak ada. Berbahagialah bersama keluarga yang selama ini kamu impikan." ucap Lisa di tengah isak tangisnya.
"Kamu juga, jaga kesehatan, jangan baperan. Sekarang cita-cita kamu sudah tercapai. Punya suami tampan dan bisa ke luar negri." ujar Lusi terkekeh di sela tangisnya. Dua sahabat yang tidak pernah terpisah sejak bertemu, kini mereka harus berpisah karena peran masing-masing menjadi istri yang sepatutnya mengikuti kemanapun suaminya berada.
"Sayang, kenapa menangis?" Delano mendekat ke arah Lusi. Lusi menatap Delano sendu. Ia benar-benar bersyukur semua hanya mimpi. Ia tak tahu bagaimana jadinya jika Delano benar-benar tertembak dan mati seperti dalam mimpinya.
Lusi merentangkan tangannya ke arah Delano, Lisa sedikit bergeser saat Delano masuk ke pelukan Lusi.
"Terima kasih, mas. Ini tangis kebahagiaanku. Semua sudah selesai, badai sudah berlalu, aku sekarang punya keluarga yang lengkap dan sahabatku juga menemukan kebahagiaannya. Sungguh ini benar-benar kesempurnaan hidup untukku."
Delano tersenyum, dia pun juga bahagia karena sekarang tidak akan ada yang mengganggu istrinya lagi. Dan yang lebih penting adalah kedua putranya dan janin yang sedang tumbuh dalam tubuh Lusi, hasil buah cintanya dengan sang istri.
Lisa pun tersenyum haru. Meskipun harus berpisah jauh dengan sahabatnya, setidaknya sahabatnya sudah bersama dengan orang-orang yang mencintainya.
Delano menyentuh kening dan leher Lusi untuk memastikan kondisinya.
"Panas nyonya Lusi sudah turun, tuan, 37,2°." Suster Ambar langsung menjelaskan pada Delano.
"Syukurlah." ujar Delano, dia mengangkat nampan berisi makanan dan meletaknya di pangkuannya.
__ADS_1
"Makan ya, sejak tadi siang kamu belum mengisi perutmu." ujar Delano pada Lusi.
Lusi menggangguk lalu membuka mulutnya menerima suapan demi suapan dari tangan sang suami. Lisa hanya tersenyum simpul melihat kebahagiaan sahabatnya.
"Aku turun dulu, sebentar lagi Regan pulang." Kata Lisa undur diri seraya mencium pipi Lusi.
"Jangan lupa berdandan, Lisa. Suami suka jika pulang kerumah, kita menyambutnya dengan tubuh harum dan wajah yang cantik."
"Ck... dia tidak akan meminta macam-macam. Aku membalas perasaannya saja dia pasti bahagia." Jawab Lisa seraya berlalu dengan wajah memerah.
Lusi hanya terkekeh, dia tahu jika Lisa pasti sedang malu karena ucapannya.
Suster Ambar membereskan sisa pekerjaannya, terlalu lama di kamar itu bisa-bisa dia diabetes karena melihat keromantisan pasangan itu.
Setelah makan dan minum susu, kondisi Lusi berangsur membaik. Tubuhnya juga tidak selemas tadi, mungkin karena tadi masih efek terbawa mimpi sehingga tubuhnya terasa tak bertenaga. Tapi kini dirinya sudah yakin jika dia benar-benar sudah sembuh.
"Suster, apa bisa infusnya dilepaskan saja?" tanya Lusi.
"Maaf nona, kata dokter Zhafira anda harus menghabiskan infusnya dulu."
"Ah, begitu ya." Lusi menatap ke atas dimana infusnya berada cairan dalam kantong itu masih setengah, rasanya benar-benar tak sabar untuk melepasnya.
"Apa itu tidak bisa di percepat, suster?" tanya Lusi, suster Ambar tersenyum, ternyata nyonya muda yang satu ini benar-benar lucu.
"Itu sudah kecepatan maksimal nyonya. Mungkin 2 jam dari sekarang baru bisa dilepas."
Pintu kamar terbuka lebar karena dorongan dari luar. Devan dan Davin menghambur masuk seraya menangis.
"Lho, lho, lho... ini ada apa sayang? kenapa menangis?" tanya Lusi keheranan.
"Kata onty Lisa, bunda sakit." Jawab Davin.
"Bunda hanya kelelahan, sayang," ujar Lusi sembari memeluk kedua buah hatinya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Othor tu ga bisa kasih konflik berat-berat ga kuat mikir. Jadi kalo novel, novel othor ga kaya punya othor pemes lain ya maaf ya.
__ADS_1
Mas Delano lagi mikirin othor 😂