
**********
Sepanjang kegiatan makan pagi hari ini Lusi terus cemberut. Wajah cerianya saat memesan chicken gorden blue kini tak nampak. Bahkan Lusi tampak enggan menghabiskan sarapannya.
Diana terus menatap menantunya dengan aneh. Tidak biasanya wajah Lusi murung.
"Sayang, kenapa? apakah makanannya tidak sesuai permintaanmu?" Diana akhirnya menyerah dengan rasa penasaran nya dan bertanya pada Lusi.
"Tidak mah, ini enak. Hanya saja Lusi sudah kehilangan selera makan Lusi." Lusi melirik ke arah Delano sekilas. Pria itu tahu jika Lusi kesal padanya karena kegiatan panas mereka tadi tapi dia memilih pura-pura tidak tahu menahu agar tidak jadi sasaran kemarahan mamanya.
"Ya sudah kalo begitu. Apa kamu mau makan makanan yang lain?" Lusi pun menggeleng mendengar pertanyaan ibu mertuanya itu.
"Bunda nanti disuruh ke sekolah sama ibu guru." Davin tiba-tiba bersuara. Alis Lusi berkerut bingung.
"Lho kok Davin baru bilang sekarang nak?"
Bocah itu hanya meringis lebar karena memang dia lupa menyampaikan amanat dari wali kelasnya itu.
"Ish ... Davin." Devan merenggut kesal. Pasalnya kemarin adiknya itu ngeyel ingin menjadi pembawa berita untuk bundanya tapi yang ada malah menyampaikannya di pagi hari.
"He... he... he Davin lupa kak."
"Ya sudah nanti bunda ke sekolah kalian ya."
"Ayah juga akan temani bunda ke sekolah." Delano pun turut menyela. Tapi tatapan mata Lusi terlihat tak lagi ramah. Diana dan Claire tersenyum melihat kedekatan Delano, Lusi dan anak-anak.
Setelah berpamitan dengan Diana dan Claire, Delano tiba-tiba merangkul Lusi dan mengecup kening gadis itu.
"Maaf ya my dear. Lain kali aku ga akan gitu lagi."
Lusi melirik kesal ke arah suaminya itu, namun rona merah di wajahnya tak bisa disembunyikan dari mata Delano. Bagaimana tidak kesal? jika dia jadi harus mandi dua kali gara-gara tingkah suaminya tersebut.
"Jawab dong istriku yang cantik. Maukah kamu memaafkan aku?" Delano mengatupkan kedua seraya memasang tampang melas.
Lusi yang baru kali ini melihat tingkah konyol Delano hanya bisa mengulum bibir menahan tawa.
"Ga usah lebay deh." Lusi membuang muka sembari menghembuskan nafasnya kasar, wajahnya terasa panas mendengar rayuan Delano.
__ADS_1
Saat di dalam mobil, Devan dan Davin bisa melihat kecanggungan Lusi. Mereka pun akhirnya bersuara.
"Ayah dan bunda bertengkar ya?" Lusi tampak gelagapan mendengar pertanyaan si kembar.
"Tidak sayang." Jawab Lusi sebisa mungkin menampilkan ekspresi biasa saja di hadapan kedua putranya.
Delano hanya melirik interaksi Lusi dan kedua putranya sekilas, karena dia harus fokus menyetir. Sejak berkeluarga Delano jarang memakai supirnya.
"Benarkah ayah? kalian tidak sedang bertengkar?" Devan dan Davin masih berusaha mencari kebenarannya.
"Iya sayang." tegas Delano namun dengan suara yang lembut.
Devan dan Davin tersenyum puas. Jika sampai kedua orang tuanya bertengkar maka mereka berdua akan membuat keduanya tidak lagi saling bermusuhan.
Tak terasa mobil yang di kendarai Delano tiba di sekolah si kembar. Keempat orang itu jalan bergandengan hingga membuat orang-orang yang ada di sana iri dengan kedekatan keluarga itu.
Tok... Tok... Tok
Lusi mengetuk pintu ruangan wali kelas Devan dan Davin. Kedatangan Lusi dan Delano di sambut dengan antusias oleh wali kelas Devan dan Davin yang terbilang masih muda.
Lusi yang melihat ketertarikan wali kelas si kembar pada suaminya pun dibuat geleng kepala.
"Ehm ... maaf Bu guru. Apa ada masalah serius sehingga anda meminta saya menemui anda saat ini?"
Mendapat lontaran pertanyaan dari Lusi seketika guru yang masih muda itu pun tersenyum canggung.
"Begini nyonya, kami akan mengadakan acara Wisata safari dan beberapa hari yang lalu saya sudah memberikan surat permohonan ijin. Namun hingga sekarang keduanya tak memberikan surat itu."
Lusi menatap kedua putranya. Mereka hanya tersenyum kikuk seraya menggaruk kepalanya.
"Jika seperti itu, ijinkan saya bertanya pada mereka. Saya perlu meminta pendapat kedua putra saya. Bagaimana pun mereka yang akan mengikutinya. Jadi apapun nanti keputusan mereka saya harap anda mau memaklumi." Tutur Lusi. Delano semakin terperosok dalam pesona Lusi yang terlihat sekali tulus dalam mendidik dan membesarkan kedua putranya.
Lusi menatap kedua putranya, lalu tangannya bergerak mengisyaratkan panggilan untuk kedua bocah itu.
"Bunda, maaf." Lirih Devan.
"Bisa kasih tau bunda kenapa Devan dan Davin bersikap seperti ini?" Tanya Lusi lembut.
__ADS_1
Devan dan Davin menunduk dan mere*mas jari-jari mereka.
"Kami tidak mau ikut bunda."
"Kenapa? bukannya kalian suka ke kebun binatang?"
"Tapi di sana harus mengajak ayah atau bunda."
"Lalu kenapa tidak mengatakan pada bunda atau ayah? kalian kan bisa mengatakan pada ayah atau bunda untuk mewakili ikut acara itu."
Kedua bocah itu semakin menunduk dalam. "Kami mau pergi jika bunda sama ayah ikut. Kami tidak bisa memilih satu dari kalian." Mendengar penuturan polos putranya membuat Lusi sedikit tersentuh.
"Kita akan pergi bersama, baik ayah maupun bunda kita akan jadi wali kalian. Bukannya kalian berdua? jadi memang butuh dua wali." Tutur Lusi seraya tersenyum.
Lusi tersenyum seraya mengusap kepala putranya. Namun seketika senyum Lusi menghilang saat ia menoleh ke arah guru si kembar. Dengan beraninya wanita itu terus mencari perhatian pada suaminya. Meskipun suaminya tampak tak acuh namun entah mengapa Lusi tak menyukai tingkah wali kelas Devan dan Davin itu.
"Baiklah jika begitu. Devan dan Davin ke kelas dulu ya nak. Bunda masih ada yang perlu dibicarakan dengan ibu guru."
"Anda sudah mendengar sendiri bukan ibu guru?" Namun sampai beberapa saat guru Devan dan Davin itu masih tampak melamun menatap suaminya. Lusi mendesah berat. Dia segera bangkit dari duduknya dengan sedikit kasar sehingga membuat kursi yang dia duduki bergeser dan menimbulkan suara dan membuat guru muda itu gelagapan.
"Sepertinya saya perlu membuat laporan pada kepala sekolah mengenai perbuatan anda ini ibu Daria." Tegas Lusi. Suasana hatinya terlanjur berantakan karena tingkah guru kedua putranya.
"Maaf nyonya, saya benar-benar minta maaf." Ucap Daria memelas. Namun Lusi tak menggubrisnya dan memilih keluar dari ruangan guru itu. Delano hanya memicingkan mata melihat ketidaksabaran Lusi kali ini.
"Ah istriku benar-benar manis sekali. Apa dia cemburu?"
Delano mempercepat langkahnya mengikuti Lusi tanpa mempedulikan guru kedua putranya itu.
Setelah jaraknya dekat dengan Lusi, Delano menarik tangan Lusi hingga tubuhnya berbalik dan membentur dada bidang pria itu.
Sejenak Delano diam begitupun Lusi. Dia justru malah menyusupkan kepalanya di belahan dada bidang sang suami dengan nyaman.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Happy reading.
maaf atas ketidaknyamanan kalian karena up othor jarang banget.
__ADS_1