Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 50. Jangan Bikin Baper


__ADS_3

********


Disaat Lusi hendak keluar dari kamar mandi ponselnya berdering dan nama sang ayah tertera di sana.


"Halo ayah, ada apa?"


"Tidak apa-apa sayang, ayah hanya ingin mendengar suaramu. Apakah kamu sibuk sayang?" (Suryo sudah mendengar kedatangan Aditya dari anak buahnya yang bertugas menjadi pengawal bayangan untuk Lusi. Bahkan Suryo juga menghubungi Delano agar lekas ke butik Lusi.)


"Aku sedang ada tamu ayah, apa ayah bisa menelepon nanti lagi?" Suara Lusi terdengar begitu lembut.


"Baiklah, semoga harimu menyenangkan sayang. Jangan lupa untuk sering-sering datang ke mansion nenekmu selalu mengatakan ingin bertemu."


"Sampaikan salamku untuk nenek aku juga merindukan nenek." Ucap Lusi lalu ia segera mengakhiri teleponnya. Lusi melihat penampilannya lagi di kaca wastafel. Dia bergegas keluar menemui mantan suami dari tante Widya.


"Selamat siang tuan Aditya. Apa ada masalah dengan produk kami?" Lusi duduk di hadapan Aditya tanpa berniat menjabat tangan pria itu. Lusi mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Aditya tersenyum samar, sikap jual mahal Lusi semakin membuat jiwa Casanova Aditya menjadi semakin penasaran.


"bisakah kita membicarakan bisnis sembari makan siang nona Lusi?"


Lusi merasa enggan berlama-lama dengan Aditya, tapi bagaimana cara menolak pria yang ada di hadapannya ini? Lusi bahkan sedang tak bisa berfikir jernih saat ini.


Namun di tengah kerisauan Lusi tiba-tiba terdengar suara Delano sedang meneriaki salah satu karyawannya. Lusi segera bangkit berdiri dan membuka pintu.


"Ada apa ini Shanti? kenapa ribut-ribut? kalian tahu di dalam ada klien saya." Tanya Lusi.


"Ini mbak Lusi, tuan Delano memaksa masuk. Padahal saya bilang mbak Lusi sedang ada tamu." Ujar Shanti menunduk tak berani menatap suami dari bosnya itu.


Lusi lega melihat kedatangan Delano. Dia jadi memiliki alasan untuk tidak menerima tawaran Aditya.


Lusi tersenyum melihat wajah kesal Delano. Dia segera menarik tangan Delano dan membawanya masuk ke dalam ruangannya.


Aditya menatap kesal kearah Delano seakan-akan sedang memantik api permusuhan. Delano tak acuh melihat Aditya sepertinya kesal melihat keberadaannya.

__ADS_1


"Oh maaf istriku. Aku tidak tahu jika kau sedang ada tamu penting." Ujar Delano memasang wajah bersalahnya padahal dalam hati ia tertawa melihat wajah pria di hadapannya itu.


"Tidak apa-apa. Tunggulah sebentar, aku selesaikan dulu pekerjaanku." Sebisa mungkin Lusi menahan ekspresi bahagianya melihat Delano ada di sana sehingga ia bisa menolak ajakan Aditya untuk makan siang.


"Nah kebetulan ada suami saya, bagaimana jika kita makan siang bersama saja tuan Aditya?" ajak Lusi.


"Saya rasa kapan-kapan saja nona Lusi. Saya masih ada keperluan lain. Jika begitu saya permisi dulu." Aditya segera berdiri. Dia benar-benar kesal karena rencananya jadi berantakan dengan kehadiran Delano.


"Sayang sekali, Tuan Aditya tidak bisa ikut makan siang dengan kita istriku."


Lusi hanya tersenyum, ia berjalan berdampingan bersama Delano untuk mengantar Aditya hingga pintu keluar.


"Terimakasih atas waktunya nona Lusi. Saya permisi dulu." Aditya berlalu tanpa berniat berpamitan pada Delano. Delano hanya tersenyum tipis.


"Huh, kekanak-kanakan." Desis Delano, yang langsung mendapat cubitan di perut.


"Terimakasih kamu kembali, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada kamu." Ujar Lusi.


"Apa kau takut tadi?" Lusi mengangguk. Delano mengusap wajah Lusi dengan lembut.


Lusi menunduk malu, dan berjalan masuk ke ruangannya mendahului Delano. Delano terkekeh melihat wajah malu-malu Lusi yang sangat menggemaskan itu.


Delano menyusul Lusi masuk ke dalam ruangannya. Ia melihat Lusi sedang membereskan bekas minuman untuk Aditya.


"Mau apa pria itu kemari?"


"Dia tadinya mengajakku pergi makan siang di luar. Tapi begitu kamu datang dia langsung bertingkah seperti tadi." Ucap Lusi, Delano mengepalkan tangannya mendengar penuturan Lusi. Lusi menoleh memperhatikan Delano yang tiba-tiba diam. Dia pun meletakkan lagi nampan yang ia bawa dan mendekati suaminya.


"Jangan marah ya, toh dia tidak jadi mengajakku kan." Ucap Lusi menggenggam jemari Delano yang terkepal lalu mengecupnya.


Wusshh


Seketika rasa kesal dan marah Delano bagaikan tertiup angin mendapat perlakuan seperti itu dari Lusi. Ia menarik pinggang Lusi dan menguncinya. Matanya menatap lembut wajah istrinya yang memerah.

__ADS_1


"Sekarang kamu sudah berani menggodaku nyonya Delano."


"A... aku hanya tidak ingin kamu marah dan salah paham padaku." Lirih Lusi. Delano menahan dagu Lusi, kepalanya sudah miring hendak membenamkan ciuman di bibir Lusi namun gadis itu justru menghindarinya.


"Oh ternyata nyonya Delano sudah berani bermain main ya."


"Bu... bukan begitu. A... aku lapar." Delano melepas belitan tangannya di pinggang Lusi.


"Jika begitu ayo kita makan nyonya. Setelah itu kita jemput anak-anak."


"Apa tidak sebaiknya jemput mereka dulu baru kita makan. Apakah kamu hari ini sibuk?"


"Demi nyonya Delano aku bisa mengubah kesibukanku." Bisik Delano.


"Anda begitu pandai merayu tuan Delano. Jangan-jangan di luaran sana korban anda banyak?" ucap Lusi namun dengan nada kesal. Delano hanya tertawa mendengar seolah-olah seperti sebuah kalimat kecemburuan dari istrinya."


"Apa kau cemburu nyonya? percayalah hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa membuatku mengucapkan rayuan seperti ini." Delano mengecup pelipis Lusi dengan lembut.


"Jangan penuhi pikiranmu dengan prasangka buruk. " Ucap Delano. Lusi mengangguk kepalanya bersandar di dada bidang Delano. --- "Mm ... rasanya aku ingin pulang ke rumah saja dan membawamu ke kamar dari pada ke sekolah Devan dan Davin."


Lusi memukul dada Delano pelan. "Jangan sembarang. Ayo nanti kita terlambat menjemput mereka.


Lusi mengamit lengan Delano, tanpa sadar naluri Lusi sebagai seorang istri terbangun dengan sendirinya. Delano hanya tersenyum tipis karena istrinya sudah tidak lagi gemetar, ataupun canggung menyentuh tubuhnya.


Delano hanya membiarkan Lusi terus mengapit lengannya bahkan ketika keduanya masuk ke dalam mobil Lusi masih terus menempel di lengan Delano.


"Sepertinya kamu mulai nyaman denganku." Ujar Delano yang sudah tidak tahan untuk tidak menggoda Lusi. Lusi segera melepas kaitan tangannya namun Delano buru-buru menahannya.


"Tetaplah seperti ini aku menyukainya."


"Jalan pak, ke sekolah anak-anak ya." Ucap Delano pada supir kantornya. Tadi karena dirinya di hubungi oleh Suryo Delano terpaksa memakai jasa supir kantor karena dia masih harus menyelesaikan pekerjaannya.


"Baik tuan .... " Jawab pria paruh baya itu, senyum tipis tersungging di bibirnya melihat tuannya lebih terlihat natural dan manusiawi saat ini ketimbang dahulu saat Delano kehilangan anak-anaknya.

__ADS_1


Delano menarik kepala Lusi agar bersandar di bahunya. Lusi hanya menuruti semua yang Delano lakukan selama itu tidak membuatnya merasa tak nyaman. Karena menurut Lusi dengan adanya Delano disisinya membuat Lusi merasa aman dan nyaman.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2