Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 97. Akhir Karisa


__ADS_3

*******


Saat Delano balik badan dan keluar dari ruangan itu terdengar letupan senjata api sebanyak 2 kali dan teriakan histeris suara Florencia. Setelah itu hening.


Dia tetap berjalan dan tak akan menoleh lagi. Entah apa yang saat ini dia rasa, dia sendiri tidak tahu. Bukan mengenai cinta yang membuat Delano berjalan seakan bagai raga tak bernyawa. Tapi ini mengenai ketidakbecusannya dalam menangani setiap masalah yang menerpa hidupnya. Sindiran om Hans kembali terngiang, seolah semakin membuatnya menyesali kepergian Karina memang karena dirinya yang tidak bisa menjaga istri dan anak-anaknya. Dia terlalu mudah memaafkan orang-orang yang berbuat salah padanya. Dia pikir dengan memaafkan hidupnya akan tenang dan damai. Namun kembali lagi pada pribadi orang yang membuat kesalahan. Apakah hatinya mudah terketuk atau sudah mati.


Seperti contohnya Florencia. Seharusnya kata maaf saja sudah cukup untuk menutup masalah ini. Tapi nyatanya dia malah memilih membantu Karisa kabur dari penjara. Bahkan Delano juga tidak yakin semua perbuatan Flo diketahui oleh Jeffrey.


Sekarang bagaimana dia harus menghadapi Lusi. Rasanya dia benar-benar malu. Karena dia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tapi justru ayah mertuanya lah yang bertindak.


Delano mengambil jalan lain, dia tidak jadi ke mansion Syailendra melainkan dia pergi ke apartemennya. Dirinya butuh menenangkan diri. Delano masuk ke apartemen yang sudah lama dia tinggalkan. Dulu apartemen ini lah yang menjadi tempat Delano beristirahat dari penatnya kehidupan yang ia jalani.


Delano membuka sebuah botol Wine dan mengambil gelas. Meskipun lama tak ditinggali tapi apartemennya selalu bersih karena ada petugas yang membersihkannya.


Setelah menghabiskan segelas Wine, Delano memutuskan untuk pulang karena waktu sudah hampir pagi. Meskipun suasana hatinya buruk tapi dia tak ingin membuat Lusi cemas.


Lusi membuka matanya, namun ia tak mendapati siapapun di sebelahnya. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Ia lalu bangun dan mencuci wajahnya. Lusi menuruni anak tangga, suasana masih sangat Sepi saat itu. Lusi bertanya-tanya kenapa Delano tak membangunkan dirinya ataupun berpamitan jika akan pergi. Tak lama Delano membuka pintu utama. Mata keduanya saling berbenturan. Delano langsung menghampiri Lusi yang sudah tiba di anak tangga paling bawah.


"Kamu dari mana?" tanya Lusi menyelidik. Suaminya terlihat sangat berantakan. Entah mengapa Lusi langsung berpikiran buruk.


Delano masih diam, namun dia tersenyum tipis pada istri tercintanya. Saat Delano mendekat dan ingin memeluk tubuh Lusi, gadis itu justru mundur dan menghindar.


"Jawab aku! dari mana mas?"


"Mas ada urusan tadi," jawab Delano lirih. Tangan Delano membelai wajah Lusi. Namun baru sebentar tangan Delano langsung di tangkap oleh Lusi. Lusi melihat ada darah di buku tangan suaminya.


"Ngomongnya yang jelas mas, urusan apa? kenapa tangan mas bisa terluka?"


"Aku ngantuk Lusi. Semalaman aku belum tidur. Biarkan aku tidur dulu nanti akan aku jelaskan padamu."

__ADS_1


Lusi menghembuskan nafas panjang dan mengangguk. Dia mengusap luka di tangan Delano dan mengecupnya.


"Jangan seperti ini lagi mas, aku benar-benar khawatir. Kalo terjadi apa-apa pada mas, aku harus bilang apa pada Devan dan Davin?" suara Lusi terdengar parau karena menahan isak tangis. Delano langsung menarik tangan Lusi dan memeluknya erat.


"Maafkan aku, istriku. Maaf karena membuatmu khawatir." Setitik air mata jatuh dari sudut mata Delano. Hatinya langsung menghangat saat Lusi membalas pelukannya.


"Baiklah, sekarang mas tidur sana. Aku mau menyiapkan sarapan untuk anak-anak."


"Temani aku sayang."


"Oh ya ampun mas, kenapa mas jadi manja begini sih?" Tapi meski begitu Lusi tetap menuruti keinginan Delano.


.


.


.


"Bagaimana dengan ketiga orang tadi?"


"Mereka akan menjadi budak di villa di pulau tersembunyi milikku. Setidaknya mereka tidak perlu sampai mati." jawab Suryo enteng sambil berjalan meninggalkan lokasi tempat mengeksekusi Karisa. Florencia akan dibawa oleh Harlan ke tempat penggemblengan mental. Di sana Florencia akan diberi siksaan sampai dia benar-benar akan mengingat untuk tidak berurusan lagi dengan keluarga Syailendra.


Suryo menguap saat berada di luar ruangan. Ternyata matahari mulai menyingsing. Hans tersenyum melihat kakak iparnya, Suryo lebih terlihat manusiawi saat berada di luar dari pada di dalam tadi.


"Mau cari sarapan sekalian atau pulang ke rumah?" tanya Suryo.


"Lebih baik pulang ke rumah. Aku tidak mau nanti malam Lidya menyuruhku tidur di ruang tamu jika aku ketahuan makan di luar."


"Sekali-sekali cicipi kuliner di luar."

__ADS_1


"Kau sangat tahu aku. Aku lebih memilih memakan masakan Lidya yang asin dari pada tidak dapat jatah malam. Aku sudah terlalu lama berpuasa di sana. Aku takut kalo tidak tersalurkan benihku yang berharga akan mengkristal." Kelakar Hans.


"Jika itu terjadi kau bisa menjualnya dan mendapat banyak uang." jawab Suryo asal.


"Ck ... Gurauanmu tidak lucu."


"Kau yang memulainya." Suryo tertawa melihat Hans yang kesal. Dia membuka pintu mobil dan duduk di samping kemudi. "Sudah ayo kita pulang." Suryo melempar kunci mobilnya pada Hans.


Kedua pria paruh baya itu pergi meninggalkan rumah yang menjadi saksi bisu kekejaman para anak buah Suryo. Karena Suryo sendiri hanya menjadi otak sementara Harlan dan para bawahannya yang bekerja mengeksekusi musuh-musuhnya.


.


.


.


Hari ini kesibukan di kediaman Syailendra mulai terlihat. Banyak pekerja dari WO sedang menata dan mengukur tempat yang akan di jadikan lokasi acara sakral besok. Lisa sudah bangun tadi dan kini sedang membantu Mitha menyiapkan baju sekolah kedua ponakannya.


"Onty Lisa, mau jadi istrinya om Regan ya?" Tanya Devan.


"Iya, Devan suka tidak?" Lisa balik bertanya.


"Devan tidak suka. Onty Lisa kan pernah bilang mau jadi pengantin Devan." Ujar bocah itu cemberut seraya melipat kedua tangannya di dada.


"Kalo onty menunggu devan dewasa. Nanti yang ada, onty udah keriput sedangkan Devan masih tampan. Devan pasti akan diolok-olok oleh semua tamu." Kata Lisa pura-pura memasang wajah sedihnya.


"Baiklah, onty jangan sedih lagi. Devan ijinkan onty menikah meskipun bukan dengan Devan. Nanti Devan akan cari pengantin yang cantik." Bocah itu pun mengalah karena tak tega melihat wajah sendu Lisa.


"Onty do'akan, Kelak pengantin Devan dan Davin akan sangat cantik sekali."

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Duh jadwalnya mulai molor. Moga ga kendor ya.


__ADS_2