Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 72. Berkabung


__ADS_3

*******


Lusi begitu lahap menghabiskan dua mangkuk sop buntut bahkan setetes kuah pun tak bersisa. Delano terlihat kaget melihat selera makan Lusi.


"Kenapa melihatku seperti itu?" Lusi mendelik kesal saat menatap Delano yang sama sekali tak berkedip melihatnya makan.


"Aku senang melihatmu lahap." jawab Delano, tangannya terulur membelai wajah Lusi. Wajah Lusi seketika memerah malu. Dia tersenyum seraya menunduk.


"Makan dengan banyak, agar janinnya segera terlihat." Lusi menghentikan gerakan tangannya yang akan menyelipkan sulur rambut di telinganya saat mendengar ucapan Delano.


"Aku takut kamu kecewa," lirih Lusi.


Delano tersenyum lembut dan membelai pipi Lusi. "Apapun hasilnya nanti kita akan menghadapinya bersama. Aku tidak akan kecewa jikapun kamu ternyata belum hamil. Tapi setiap kata adalah doa. Maka aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan untuk kedua putra kita. "


"Terima kasih," sudut mata Lusi basah, air matanya mengalir melihat ketulusan Delano.


"Jangan menangis. Apa yang kulakukan ini tidak ada apa-apanya di bandingkan semua yang telah kamu lakukan untuk Devan dan Davin."


"Ternyata aku terlalu berharap lebih, dia mungkin hanya ingin membalas budi karena aku sudah membesarkan anak-anaknya. Semua ketulusan dan cintanya mungkin tak lebih dari rasa terima kasih saja."


Lusi tersenyum getir. Ada sakit yang dia rasakan namun tak berdarah.


"Ayo kita pulang." Lusi berdiri dan menyambut tangan Delano. Rasanya genggaman tangan Delano begitu hangat. Tapi Lusi merasa kosong.


.


.


.


Suryo menerima laporan demi laporan mengenai perkembangan kasus Karisa. Suryo juga sudah berpesan pada Kevin pengacara Delano bahwa dia sudah mempersiapkan bukti bukti lain yang akan memberatkan Karisa pada kasusnya.


"Mas, aku ke kamar ibu dulu ya. Sejak pagi ibu sepertinya tidak enak badan." Mitha menghampiri Suryo yang sedang sibuk dengan laptopnya.


Suryo meraih pinggang Mitha dan memeluknya sejenak. "Apa tidak sebaiknya kita bawa ibu ke rumah sakit saja?"


"Mas tahu bagaimana ibu? ibu pasti akan menolak dengan berbagai alasan" jawab Mitha sendu.


"Coba kamu bujuk lagi. Rasanya aku ga tega kalau ibu sampai sakit."

__ADS_1


"Ya sudah. Aku ke kamar ibu dulu." Mitha pun beranjak dan keluar menuju kamar ibunya. Ia melihat wanita yang telah melahirkannya itu sedang berbaring dengan damai.


Namun semakin mendekat langkah kaki Mitha semakin lemas. Dia sedikit berlari untuk mencapai ranjang sang ibu. Semoga saja apa yang dia lihat tidak benar.


"Ibu ... bu, ibu bangun bu. Buk .... !!" Mitha menggoyangkan tubuh ibunya, dia memeriksa nadi dan juga nafas di hidung Laila, tapi nihil. Dia tidak merasakan apapun selain suhu tubuh ibunya yang dingin.


"Maass .... Mas Suryo." Pekik Mitha. Suryo seketika bangun dari posisinya dan berlari. Lidya yang kamarnya tak jauh dari ibu Mitha pun keluar dari kamar saat mendengar suara kakak iparnya.


"Ada apa mbak?" Lidya mendekati Mitha yang meraung di dekat Laila.


DEG!!


Lidya pun berjalan dengan kaki gemetaran. Dia menduga sesuatu yang buruk telah terjadi pada ibunda Mitha.


"Ada apa Mitha?" Suryo bergegas mendekat.


"Mas, ibu mas! ibu kenapa ga gerak?" suara Mitha parau. Dia benar-benar tidak siap jika harus kehilangan ibunya.


Suryo mendekap Mitha sesaat. Lalu dia mendekati ranjang Laila dan memeriksa seperti apa yang tadi Mitha lakukan. Degup jantung Suryo semakin tak karuan saat tak mendapati denyut nadi dan hembusan nafas dari ibu mertuanya.


Suryo menatap Mitha dan Lidya lalu dia menggeleng lemah.


"Ga mas, ibu ga boleh pergi." Mitha kembali memeluk jenasah ibunya dan menangis. Ratapannya begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


"Mas, tolong bantu aku. Aku masih butuh ibu di sini." Suryo hanya mendekap Mitha yang sedang histeris.


"Jangan seperti ini, kasihan ibu."


"Tapi mas, aku masih butuh ibu."


"Yang sabar ya mbak. Ibu mbak Mitha sudah tenang di sana," Lidya pun tak sanggup membendung air matanya. Mitha masih terisak namun ia diam dan tak lagi histeris.


"Lusi ... tolong kabari Lusi mas." lirih Mitha. Mitha masih terisak seraya memeluk tubuh ibunya.


"Maafin Mitha bu, Mitha akan mengikhlaskan ibu. Ibu pasti sekarang bisa ketemu bapak." Mitha terus berbicara sendiri seakan-akan ibunya masih bisa mendengar apa yang dia katakan. Lidya terus mengusap punggung Mitha. Sementara Suryo menghubungi Delano.


.


.

__ADS_1


.


Saat akan masuk ke dalam mobil, ponsel Delano berdering. Karena nama sang mertua yang muncul, Delano memilih menekan loudspeaker.


"Halo yah, ada apa yah?"


"Lano, tolong kamu bawa Lusi pulang kemari segera!" Delano langsung memerintahkan Harlan menuju ke mansion Syailendra.


Wajah Lusi mendadak memucat. "Apa ada sesuatu yang sedang terjadi ayah? apa ibu baik-baik saja?" Lusi langsung menyahut.


Suryo terkejut mendengar suara putrinya. "Lusi... "


"Ayah, katakan ada apa? apa terjadi sesuatu?"


"Lusi, sayang. Sebaiknya kamu tenang dulu." Ujar Delano.


"Bagaimana aku bisa tenang. Ayah katakan ada apa?" Suara Lusi terdengar parau.


"Lusi, nenek Laila berpulang." Suara Suryo bagai dentuman suara petir yang menggelegar di telinga Lusi. Setelah mendengar berita itu Lusi tidak serta merta langsung menangis. Namun dia justru terdiam dan menunduk.


Suryo mematikan sambungannya saat mendengar teriakan Lidya. Sedangkan di dalam mobil Delano pun juga panik saat tiba-tiba tubuh Lusi ambruk tak sadarkan diri.


Suasana berkabung kental terasa di kediaman Syailendra. Bendera kuning terpasang di depan gerbang. Lusi sudah di bawa ke kamarnya. Dia masih belum sadarkan diri. Selang infus menancap di pembuluh vena-nya.


Banyak kerabat yang sudah hadir. Diana terutama, dia saat ini sedang menemani Mitha yang masih sangat terpukul dengan kepergian ibunya. Lidya tidak bisa menemani kakak iparnya karena harus menjaga Ratih yang juga tampak sangat kehilangan. Meskipun mereka baru bertemu, Ratih sangat menyukai sikap Laila yang lembut dan santun. Andai saja dulu dirinya tak tinggi hati tentulah saat ini dia memiliki banyak kenangan dengan besannya itu.


Devan dan Davin duduk di pangkuan Delano. Suryo, Regan dan beberapa kerabat duduk mengelilingi jenasah Laila.


"Ikhlas Mitha, semua hanya titipan. Ada saatnya mereka akan kembali pada pemilikNya."


"Akan aku coba Di, semuanya ga mudah. Ibu juga tadi masih bercanda sama aku setelah makan siang." Lirih Mitha, tatapan matanya tampak kosong. Diana pun ikut merasakan haru, terlebih dia masih ingat betul saat kehilangan suaminya dulu. Dia sedih dan terpukul namun doa harus kuat demi anak-anaknya. Jika dirinya larut dalam kesedihan bagaimana dengan putra dan putrinya.


Lisa dan Bu Yuyun baru saja tiba. Setelah mengucapkan belasungkawa pada ibu Lusi, Lisa langsung dibawa naik oleh Regan ke kamar Lusi.


"Tolong temani Lusi, saat ini dia sangat membutuhkan dukunganmu."


"Serahkan padaku." Lisa tersenyum lemah, dia pun ikut merasakan kesedihan yang Lusi rasakan. Regan sesaat mengecup kening Lisa.


"Terima kasih."

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Semangat Like vote dan komen ya.


__ADS_2