
*******
Sementara Delano mandi, Lusi menyiapkan baju ganti untuk Delano. Lalu ia bergegas turun menemui sang ayah yang masih bersantai di ruang tamu.
"Sebenarnya siapa tadi yang ayah dan suamiku bicarakan?" tanya Lusi pada sang ayah dengan wajah penasaran.
"Bukan siapa-siapa sayang. Kamu menguping pembicaraan kami ya?" Suryo mencolek dagu putrinya seraya tersenyum hangat.
"Bu-bukan begitu ayah. Tadi kan Lusi tidak sengaja dengar," ucap Lusi tergagap karena ketahuan mencuri dengar pembicaraan sang ayah dan suaminya.
"Karisa kabur dari penjara," kata Suryo seraya menatap Lusi. Dia ingin tahu bagaimana ekspresi putrinya saat tahu akan masalah ini. Namun Lusi tak menunjukkan ekspresi apapun. Dia hanya diam tertegun dengan tatapan kosong.
"Tapi kamu tenang saja. Semua akan baik-baik saja."
"Bukan begitu ayah. Jika dia bebas itu artinya nyawa suamiku dalam bahaya." Raut wajah Lusi berubah dengan cepat. Sejenak tak ada lagi ketenangan di hati Lusi mengingat wanita berbahaya itu bisa saja membunuh suaminya.
Suryo tersenyum miring melihat wajah cemas Lusi. Terlihat sekali sepertinya Lusi takut kehilangan Delano.
"Ayah, tolong bantu tangkap wanita itu." Lusi menggenggam kedua tangan ayahnya. Suryo masih dengan senyum lembutnya menepuk punggung tangan Lusi.
"Tanpa kamu minta pun, ayah akan lakukan apapun demi kebahagiaan kamu termasuk menjaga suamimu."
Lusi langsung menghambur memeluk ayahnya. setitik air mata mengalir di pipinya. "Terima kasih ayah."
"Sudah menjadi kewajiban ayah, memastikan kamu bahagia." Suryo membalas pelukan Lusi. Tangannya membelai punggung putrinya dengan lembut. Di saat ayah dan anak itu sedang berpelukan Mitha datang membawa dua cangkir kopi.
"Sayang, suamimu tadi mencarimu. Ibu kira kamu tidak di sini." Mitha meletakkan dua gelas cangkir kopi itu di meja.
Lusi segera bangun dan beranjak. Kalau begitu Lusi ke kamar dulu ya ibu, ya ayah." Lusi mencium pipi Mitha lalu meninggalkan ruang tamu.
"Duduklah Lan, temani aku ngopi." Suryo menatap kaki tangannya dan memberi kode agar segera duduk. Mitha langsung meninggalkan ruang tamu begitu selesai menyajikan kopi untuk suami dan pengawalnya.
"Apa kamu sudah menemukan antek-antek Karisa?"
__ADS_1
"Sudah tuan. Kita tinggal memberitahu tuan muda Delano untuk melakukan pembersihan."
"Baiklah, aku percayakan semuanya padamu."
.
.
.
Regan dan Lisa saat ini ada di sebuah butik namun dari tadi memilih sepertinya tidak ada yang diminati olehnya.
"Apa kamu mau pindah tempat untuk mencari bajunya?"
"Kenapa kita tidak ke butik milik Lusi saja?" Lusi menatap Regan dengan tatapan penuh harap. Regan mengacak rambut Lisa dengan gemas.
"Temanmu pasti ga akan mau di bayar. Mama yang ga tega sebenernya. Bagi mama bisnis is bisnis tapi sepertinya Lusi pasti akan marah kalo kita tetap membayar.
Regan menghembuskan nafas dalam. Lalu berdiri dan mengulurkan tangannya. Lisa menatap bingung namun tak urung dia menggenggam tangan Regan.
"Kita mau kemana?" Tanya Lisa saat Regan justru mengajak Lisa keluar dari butik. Regan membawa Lisa menuju kediaman Syailendra.
"Kok kesini?" tanya Lisa bingung. Namun Regan enggan menjawab. Dia memilih membukakan pintu untuk Lisa. Canggung sudah pasti. Lisa benar-benar merasa kecil saat berhadapan dengan Regan. Ditambah saat tahu dirinya akan diboyong ke luar negeri, karena ternyata ayah Regan memiliki beberapa usaha yang akan Regan teruskan. Lisa merasa seperti butiran debu yang tak ada nilainya.
"Lisa .... " Pekik Lusi. Dia bergegas menghampiri Lisa dan memeluk sahabatnya erat.
"Istriku berhati-hatilah. Jangan berlari seperti itu." Tegur Delano saat menuruni tangga. Lusi hanya nyengir merasa tak bersalah sama sekali.
"Bagaimana persiapan lamaran kalian?"
"Lusi, sebenarnya aku mau memakai gaun rancanganmu saja." Lisa menatap Lusi penuh harap. Lusi seketika langsung mengangguk.
"Boleh ... " Sebentar aku cari dulu katalognya.
__ADS_1
Lusi kembali naik ke atas dan turun membawa satu buku besar. Delano segera membantu istrinya membawa buku itu. Sementara Regan memanggil mamanya untuk bergabung bersama dengan calon menantunya.
"Memang ada rancangan jadi di butik kamu sayang?" Lidya berjalan mendekati Lusi dan Lisa.
"Ada beberapa tante. Hanya saja Lusi tidak yakin apakah sesuai dengan kriteria tante atau tidak."
Lusi lalu memperlihatkan beberapa koleksinya dan Lidya tampak sangat antusias memilih untuk calon menantunya itu. Akhirnya setelah hampir satu jam memilih pilihan mereka jatuh pada kebaya modern khas bali berwarna soft pink untuk lamaran. Dan kebaya putih untuk ijab qobul. Sedang untuk resepsinya Lisa memilih gaun sederhana yang tidak terlalu banyak hiasannya.
"Nanti tante akan transfer uangnya. Kamu kirim nomor rekening kamu ya."
"Tidak usah tante. Anggap ini kado dari aku."
"Kalo kamu menolak dibayar, tante tidak jadi ambil kebayanya." Ancam Lidya. Lusi pun akhirnya mengalah dia mendapatkan bayaran penuh atas semua karyanya.
Regan membiarkan Lisa di temani oleh Lusi. Sementara dirinya pergi menemui Harlan asisten pamannya karena ada sesuatu yang ingin ia katakan.
"Bagaimana Regan?" tanya Suryo begitu Regan masuk ke ruang tamu.
"Aku bingung om, Lisa tidak mau melaporkan Sean karena reputasi pria itu.
"Bodoh, kamu harus bermain halus jangan sampai ketahuan Lisa. Jangan beri kesempatan untuk parasit yang berniat merusak hubungan kalian." Regan menganggukkan kepalanya mengerti.
"Harlan, kamu bantu Regan mengurusnya. Beri saja kejutan kecil dulu. Rekaman CCTV yang kemarin kamu dapat sebar saja." Ujar Suryo datar namun ada seringai di wajahnya yang tampan.
"Baik tuan, saya permisi dulu." Harlan segera pergi menjalankan perintah bosnya. Regan hanya mende sah berat.
"Jadi laki-laki itu harus bersikap lembut pada wanita. Tapi bukan berati setiap hal butuh kelembutan. Kita harus pandai memposisikan diri. Aku tahu calon istrimu itu sifatnya hampir sama dengan Lusi yang pemaaf dan penuh kelembutan tapi jika ada orang yang berniat buruk di awal maka jangan ragu untuk menumpasnya. Jangan biarkan dia bebas dan pada akhirnya hanya akan menjadi duri dalam hubungan kalian nantinya. Apalagi kalau hubungan kalian tidak di dasari rasa cinta yang kuat. Om bisa pastikan kalian akan mudah goyang ketika melewati tikungan. Apalagi sekarang tikungan itu tajam-tajam. Kalian akan mudah jatuh terguling jika pegangannya tidak kuat."
"Iya om, terima kasih nasehatnya. Regan akan ingat."
"Siapapun yang berani mengganggu keluarga kita, kamu harus memberinya pelajaran. Agar dia berpikir dua kali jika ingin kembali mengusik."
Regan mengangguk mendengar ucapan sang paman. Sejak dulu Regan tahu pamannya adalah pria yang ramah dan penuh kelembutan dan tidak pernah marah. Tapi jika ada yang mengusiknya dia akan langsung mengeluarkan taringnya. Ciri khas pamannya adalah bermain halus menjatuhkan lawan tanpa perlu menyentuh fisiknya.
__ADS_1