
*******
"Kamu ada urusan apa?" tanya Lisa menatap tajam kearah Regan, tapi pria itu justru membalas tatapan itu dengan lengkungan bibir yang membentuk senyuman.
"Aku hanya ingin meminta pertanggungjawabanmu."
"Atas dasar apa? apa aku melecehkanmu? atau kau merasa ada yang aku curi darimu?" sinis Lisa entah mengapa setiap melihat Regan, rasanya dia ingin sekali meledak-ledak.
"Kau sudah mencuri waktu, hati dan pikiranku." ucap Regan tanpa sadar namun detik berikutnya dia terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Ehm ... maksudku kau harus ikut aku pulang ke Jakarta untuk menjelaskan pada orangtuaku, karena gara-gara malam itu keluargaku memintaku bertanggungjawab padamu." Ucap Regan berbohong.
"Eh ... kenapa seperti itu?" Lisa terbengong mendengar penuturan Regan.
"Ya aku juga tidak tahu. Ada orang yang melaporkan pada keluargaku. Jadi aku minta kamu ikut aku pulang ke Jakarta."
Lisa terkekeh, sepertinya pria ini sedikit mengada-ada. "Tuan Regan, sepertinya Ada yang perlu saya luruskan di sini. Saya tidak butuh tanggung jawab anda. Dan lagi saya tidak sedang hamil anak anda bagaimana bisa ada istilah tanggungjawab. Apa yang harus ditanggung jawab kan?"
Mendengar kata hamil, wajah Regan memerah. Entah mengapa pikiran Regan menjadi mes*um.
"Apa perlu aku membuatmu hamil?" Regan kali ini benar-benar terkejut dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. Kenapa hati dan pikirannya tidak sejalan.
Regan menatap Lisa dengan ragu. Namun suara tawa gadis itu menghilangkan keraguan Regan seketika.
Lisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Regan. Satu hal yang kini dia tahu pasti pria di depannya ini tak pernah berhubungan dengan wanita.
"Ehm ... Sebaiknya kau istirahat dulu. Sepertinya kau terlalu lelah sehingga otakmu bermasalah." Ujar Lisa dengan wajah sedatar mungkin dia berusaha untuk tidak menampakkan kegugupannya karena laki-laki di depannya membicarakan hal itu tanpa filter.
Lisa sudah hampir mencapai ambang pintu tapi tangan lisa di tahan oleh Regan. Bahkan dengan sedikit hentakan Regan menarik tubuh Lisa hingga posisi gadis itu duduk di pangkuan Regan saat ini.
Tanpa ragu Regan memeluk perut Lisa. Kepala Regan bahkan bersandar di punggung gadis itu.
__ADS_1
"Lisa... Lisa... Lisa, kamu memakai mantra apa untuk membuat hidupku tidak tenang selama sebulan ini? Kamu membuatku tidak bisa bekerja dengan baik, tidur dengan benar, makan dengan enak. Semua kenikmatan hidupku kamu ambil." Lirih Regan, hangat nafas pria itu menembus baju Lisa dan mengenai permukaan kulitnya hingga mampu membuat seluruh syaraf tubuh Lisa menegang.
"A... aku tidak tahu maksudmu." Kini Lisa mulai kehilangan ketenangannya. Dia menjadi gugup dan serba salah. Posisinya benar-benar membuat Lisa tak nyaman namun untuk bergerak Lisa pun tak memiliki keberanian.
"Pulanglah bersamaku, aku tahu kamu kemari untuk menghindari dokter si*alan itu, aku akan melindungimu dari dia." Dari nada bicara Regan sepertinya pria itu kesal membahas soal Sean.
Lisa dian saja tak berani menyahut. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Jawab aku Lisa! apa kau masih mencintainya?"
"Ini tidak ada urusannya denganmu. Untuk apa kau repot-repot mengurus masalah pribadiku?"
"Karena itu sekarang akan menjadi masalahku. Kamu sudah membuatku berada dalam situasi sekarang. Apa kau pikir aku akan dengan mudah melepasmu?"
"Tuan Regan, kau itu pria terhormat aku tak ingin membuatmu menjadi hina dengan berurusan dengan wanita sepertiku?" tutur Lisa, matanya memerah sudut matanya sudah menggenang dalam sekali kedip mungkin permata bening itu akan jatuh.
Pikiran Lisa terbang ke masa di mana dirinya dihina dan dicaci oleh ibu Sean, dan saat ini pria yang sedang memeluk dirinya bahkan memiliki status sosial yang lebih tinggi. Lisa tak akan sanggup menerima hujatan dan tekanan lagi.
"Apa kata-kataku menyakiti hatimu?" tanya Regan cemas melihat air mata Lisa mengalir. Namun Lisa menggeleng, dia menyeka air matanya dengan kasar lalu menghempas pelukan Regan yang mulai melonggar.
"Tolong jaga sikapmu. Aku tidak bisa lama-lama menampungmu di sini. Aku akan kembali ke puskesmas." Ucap Lisa berlalu dari dalam bilik yang dipakainya untuk beristirahat. Lisa terpaksa membawa Regan ke sana karena tak ingin rekan-rekannya tahu jika dia memiliki alasan lain selain menjadi relawan di tempat terpencil ini.
"Siapa dia Lisa? pria yang tadi kamu bawa masuk ke bilik?" tanya Adam dengan tatapan mata menyelidik.
"Dia sepupuku."
"Oh ... kenapa dia mendatangimu?"
"Dia memberi kabar mengenai ibuku." Lisa terus saja berbohong namun dia sama sekali tak menatap Adam dia pura-pura memeriksa data stok obat-obatan.
"Tadi pak Aufar mencarimu. Tapi dia sepertinya melihatmu masuk bilik dengan sepupumu. Dia langsung pergi begitu saja."
__ADS_1
"Biarkan saja."
Adam menatap curiga pada Lisa. Tak biasanya gadis itu bersikap seperti ini, pasti ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan dari dirinya.
"Adam, jika kau sudah selesai sebaiknya kau ikut tim 2 untuk pergi ke desa sebelah." Kata Lisa. Merasa Lisa mengusir secara halus akhirnya Adam meninggalkan Lisa.
"Lho nak Lisa masih di sini?"
"Iya Pak Markus, saya bertugas jaga. Lagipula tadi stok obat-obatan baru saja di antar. Jadi saya mau memeriksanya."
"Jangan terlalu lelah, sebaiknya nak Lisa segera pulang. Hari sudah mau gelap." kata pria tambun penjaga puskesmas itu.
"Baiklah pak, oh iya Pak sepupu saya tiba-tiba menyusul bisakah bapak membantu saya mengatakan pada kepala desa?"
"Sepupu?"
"Iya Pak, sepupu laki-laki saya. Dia datang menanyakan kabar dan mengabarkan kondisi ibu saya."
"Tentu saja nak Lisa. Nanti akan saya sampaikan."
Lisa akhirnya kembali ke bilik, Regan terlelap di kursi. Lisa menghembuskan nafasnya lewat mulut.
Dia mengambil selimut dan membalut tubuh Regan dengan selimutnya. suhu udara saat malam hari terasa begitu dingin, Lisa hanya tak ingin Regan sakit dan menyulitkan dirinya.
Lisa membawa baju ganti dan keluar menuju kamar mandi yang tidak seberapa luas.
Regan membuka matanya dan tersenyum. Ternyata meskipun wanita itu galak tapi dia cukup perhatian. Tanpa sadar Regan mencium selimut Lisa seraya tersenyum senang.
"Hah ... kau sudah gila Regan. Benar-benar Gila."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
jangan Lupa vote, like dan komen giftnya jangan lupa.