
*******
Pagi itu Lusi melakukan test dengan hati yang berdebar. Setelah menampung urine nya Lusi mencelupkan alat itu. Mata Lusi terpejam saat menunggu hasilnya. Perlahan ia membuka mata garis 1 merah cerah dan ada satu lagi garis namun samar-samar.
"Jika begini positif atau negatif?" gumam Lusi.
Dia membawa hasil tesnya keluar. Saat itu Delano masih terlelap, Lusi memutuskan untuk turun dan bertanya pada ibunya.
"Ibu .... " Lusi mendekat pada ibunya yang sedang di dapur membuatkan teh untuk Suryo. Lusi memeluk Mitha dari belakang dan menaruh dagunya di pundak Mitha.
"Ada apa sayang?" tanya Mitha penasaran.
"Ibu, ini apa artinya?" Lusi menunjukkan testpeck tadi pada Mitha. Mitha menatap testpeck itu dengan mata berkaca-kaca.
"Ini artinya kamu hamil sayang."
"Tapi garis itu samar dan hampir tidak terlihat. Bagaimana jika alat itu salah bu?" Mitha mengusap tangan Lusi yang melingkar di perutnya. Ia tahu kekhawatiran yang putrinya rasakan.
"Sayang, sebaiknya Lusi buat janji dengan dokter kandungan untuk memastikan semuanya. Percayalah jika Allah sudah berkehendak semua yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Kamu ingat kisah nabi Zakaria AS dan istrinya Ilyasya, dia memiliki putranya Yahya saat usia mereka telah senja. Seperti itulah Allah akan selalu membuktikan kuasanya. Jika Allah sudah mempercayakan tidak ada yang tidak mungkin."
"Ibu benar, jadi apa aku harus ke dokter sekarang?" tanya Lusi.
"Tentu tidak sayang" jawab Mitha seraya tersenyum, dia berbalik dan mengusap wajah Lusi. "Kamu bahkan belum mandi, bagaimana bisa mau ke dokter?" goda Mitha dan Lusi terkekeh.
"Iya benar, dan sebaiknya aku memberitahu suamiku tentang hal ini."
"Jadi kamu belum memberitahu dia?"
"Belum bu, dia masih tidur. Lagi pula aku takut jika nanti dia kecewa."
"Apapun nanti hasilnya, kalian berdua harus menghadapi nya bersama."
"Sayang, kamu di sini rupanya? Delano turun masih dengan memakai piyama nya. Lusi seketika menoleh dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Aku mencari ibu untuk bertanya sesuatu" Jawab Lusi. "Apa kamu mau kopi?" tawar Lusi dan Delano mengangguk.
"Bertanya mengenai apa?" Lusi pun mendekat ke arah Delano dan menunjukkan hasil testpeck tadi pagi.
"Ini .... " Lusi meletakkan alat kecil itu di tangan Delano. Delano memicing menatap alat itu. Di sana terdapat dua garis namun berbeda. Yang satu tampak pekat sedang yang satu samar.
"Ini apa artinya?" Delano menatap Lusi dan Mitha bergantian.
__ADS_1
"Ada kemungkinan istrimu hamil," jawab Mitha.
"Tapi kenapa garisnya samar ibu?" tanya Delano bingung, karena dulu Karina menunjukkan testpeck saat hamil si kembar garisnya terlihat begitu jelas.
"Ibu juga tidak bisa memberi penjelasan. Kalian harus ke dokter kandungan jika ingin tahu hasil pastinya." Jawab Mitha, ia menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Delano dan Lusi yang hampir sama.
"Sebaiknya kalian mandi dulu. Sebentar lagi kita akan sarapan bersama setelah itu Lusi dan ibu akan dirias karena acaranya nanti jam 11 siang."
Akhirnya Lusi dan Delano kembali naik ke kamar, dari kamarnya terdengar suara anak-anaknya yang sedang berteriak-teriak. Pasti mereka rebutan sesuatu lagi.
Akhirnya Lusi memilih keluar ke kamar kedua putranya.
"Devan, Davin ada apa ini? kenapa kalian membuat kamar berantakan?" Mendengar suara Lusi seketika kedua bocah itu tersenyum kaku.
"Bunda .... "
"Sekarang katakan kenapa kamar kalian berantakan. Dan apa ini? oh... ya ampun." Lusi memijat pangkal hidungnya. Kepalanya mendadak berdenyut nyeri melihat tingkah anaknya.
"Bunda, maaf" Devan dan Davin memeluk Lusi. Delano bersandar di pintu menyaksikan semua kebersamaan itu.
"Bisakah kalian tidak selalu bertengkar? bunda pusing melihat kalian selalu saja seperti ini."
"Bunda, maaf. Devan janji tidak akan bertengkar dengan adik lagi."
"Jika begitu sekarang bunda tanya, siapa yang menuang gel rambut ini di lantai?"
"Davin bunda."
"Bukan, kakak yang tadi menuangnya." Sangkal Davin.
"Oh ya Allah, kalian baru saja berjanji. Kejujuran itu harga mati untuk seorang pria sejati. Jangan jadi pengecut dengan tidak mau mengakui kesalahan apalagi melimpahkannya pada orang lain. Jika kalian selalu seperti ini rasanya bunda juga tidak sanggup," meskipun Lusi mengucapkannya dengan lembut tapi kedua bocah itu langsung menangis dan meminta maaf pada Lusi berulangkali. Delano mendekat dan memeluk Lusi dari belakang.
"Sudahlah sayang, biarkan pelayan yang membersihkan kekacauan mereka."
"Tidak bisa begitu juga mas, mereka harus belajar bertanggungjawab. Bahkan mereka tidak ada yang mau mengakui perbuatan siapa ini. Rasanya aku sudah gagal mendidik mereka."
"Devan dan Davin turun dulu ya. Panggil mbaknya dulu. Oma dan yang lain sudah menunggu untuk sarapan.
Sementara Delano membawa Lusi kembali ke kamar. " Mandilah dulu. Aku sudah siapkan air hangat. Jangan terlalu banyak berpikir, mereka masih anak-anak. Pelan-pelan saja lambat laun mereka pasti akan mengerti." Delano mengecup puncak kepala Lusi, gadis itu menghela napas panjang.
"Baiklah, maaf jika aku galak pada mereka."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kamu sudah berusaha yang terbaik. Bukankah semua demi kebaikan mereka?"
Lusi akhirnya masuk ke kamar mandi dan Delano memilih mandi di kamar ibunya. Karena mereka sudah terlalu lama membuang waktu.
Semuanya berkumpul di meja makan. Regan pun juga sudah lebih baik setelah semalam mendapat perawatan dari dokter Rama dan juga diinfus.
"Ternyata kau minta cuti untuk mencari Lisa? aku tidak menyangka kau akan berjuang sejauh ini."
"Regan, apa kau menyukai Lisa? jika iya, mama akan melamarnya untukmu."
"Apa mama serius?"
"Tentu saja. Asal kamu bahagia dengan pilihanmu mama akan merestuinya."
"Tapi semua tidak akan mudah ma, Lisa trauma menjalin hubungan. Dia pernah dikecewakan oleh ibu dari pacarnya. Tepatnya ia sempat dihina oleh ibu dari kekasihnya karena berbeda kasta."
Semua terdiam setelah mendengar jawaban Regan. Terlebih Ratih, wajahnya mendadak sendu. Mitha tersenyum seraya mengusap bahu calon ibu mertuanya itu.
"Tidak apa-apa ibu." Mitha tersenyum pada Ratih. Ratih mengangguk dengan air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya. Rasanya menyesal saja tidak akan cukup baginya.
Semuanya mulai makan dengan tenang. Tidak ada yang bersuara, hanya denting sendok dan garpu yang saling beradu.
Tak lama acara sarapan pun telah selesai. Kini Lusi, Mitha, Diana dan juga Laila, dan Ratih masuk di ruang keluarga yang di sulap menjadi ruang make up.
3 jam lagi Mitha akan resmi menjadi istri dari Suryo Syailendra. Pria yang menjadi cinta pertama dan terakhirnya.
Lusi terus menghubungi Lisa tapi sialnya nomor teleponnya masih tidak aktif. Tak mau menyerah Lusi pun menghubungi bu Yuyun. Beliau mengatakan jika Lisa masih tidur. Akhirnya Lusi menyerah, ia juga tak bisa berbuat banyak. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berfikir macam-macam.
"Semoga kita bisa menjadi saudara Lisa." Lirih Lusi.
Waktu yang di tunggu pun tiba. Suryo sudah duduk di hadapan penghulu dan siap mengucap ijab qobul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Paramitha Dewanti binti Alm. Bagus Dewantara dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uan 100 juta di bayar tunai."
"Bagaimana saksi?"
"Sah ... " Seru semuanya bersamaan.
Mitha mencium punggung tangan Suryo, dan Suryo mengecup kening Mitha.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Like komen dan giftnya othor tunggu ya.