Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 51. Dimana Onty Lisa


__ADS_3

*******


Lain Lusi lain pula Lisa, kehidupan yang dia jalani terasa begitu hampa, sudut hatinya merindu akan sosok ibu, keluarga dan juga pada Lusi dan anak-anaknya. Tapi sebisa mungkin Lisa menahan segenap rasa rindu itu.


Genap seminggu Lisa berada di desa Hebing, dia menjadi relawan membantu di puskesmas. Lisa selalu menyibukkan dirinya untuk membunuh rasa rindu yang kian membesar.


"Hai cantik .... "


"Ah abang cilok ngapain kemari?" tanya Lisa ketus. Pria itu tertawa mendengar cibiran Lisa.


"Huh dasar sambel kacang. Sudah ku bilang saat itu aku sedang membantu pedagangnya karena pedagangnya sakit perut." tutur Pria hitam manis berseragam loreng itu.


"Enak aja ngatain aku sambel kacang, dasar kang cilok." Kesal Lisa, ia lantas dengan sengaja menginjak kaki pria itu hingga pria itu memekik kesakitan. Dan parahnya lagi tingkah sang Letkol itu terekam oleh beberapa anak buahnya hingga membuat mereka semua tertawa.


"Apa kalian lihat-lihat? mau saya hukum?"


"Tidak ndan ..." ucap kelima anggotanya dengan menunduk.


"Katakan dengan jelas pada gadis ini siapa namaku. Biar dia tidak sembarangan lagi memberiku julukan. " Tegas pria berseragam tentara itu.


"Nona, beliau adalah Letkol Aufar." Ucap kelima anak buah Aufar. Namun sayangnya Lisa seakan tak peduli dan terus melangkah maju.


"Aku tidak peduli siapa dia." Ketus Lisa. Semua hanya bisa terbengong termasuk Aufar. Sikap gadis itu sangat berbeda dengan apa yang mereka harapkan. Kelima anggota berseragam TNI itu hanya mengulum senyum melihat wajah masam atasannya.


"Sepertinya pangkat anda tidak mempengaruhinya pak."

__ADS_1


"Ya kalian benar. Bahkan gadis itu lebih senang memanggilku dengan sebutan tukang cilok." Ucap Aufar mendesah berat.


Lisa mengintip Aufar dari balik tembok. Jantungnya berdebar keras saat ia diberitahu oleh Adam jika Aufar adalah Letnan Kolonel. Awalnya Lisa tak menggubris namun saat di jelaskan dengan perlahan oleh Adam, Lutut Lisa terasa lemas.


"Matilah sudah, tukang cilok itu Letkol. Bodoh sekali kamu Lisa." Gerutu Lisa dalam hati.


Jika di Hebing Lisa mati-matian menahan Rindu. Di Jakarta tepatnya dua orang pria dengan profesi berbeda sedang berseteru. Dokter Sean menemui Regan di kantornya dan menanyakan keberadaan Lisa. Namun bukannya menjawab Regan lebih memilih tak acuh melihat kedatangan Sean. Seminggu ini dirinya pun sangat tersiksa mencoba melupakan Lisa, tapi justru nasibnya harus bertemu dengan Sean mantan pacar gadis itu dan parahnya lagi ia tak bisa menjaga kestabilan emosinya hingga tersulut ucapan Sean yang seakan-akan menjelekkan Lisa.


"Kau bawa kemana Lisa? Jika kau sudah puas bermain dengannya kembalikan dia padaku." Ucap Sean gusar. Seminggu sudah dia mencoba mencari keberadaan Lisa, tapi gadis itu hilang begitu saja bagai ditelan bumi. Di benak Sean siapa lagi yang bisa menyembunyikan Lisa jika bukan Regan. Pria yang terkenal arogan dan dingin itu. Ya Sean yakin semua atas campur tangan pria di hadapannya ini. Karena terakhir kali dia yang membawa Lisa pergi.


"Apa kau pikir Lisa itu barang yang bisa di pakai sesuka hati? Cintamu ternyata sedangkal itu pantas saja Lisa memilih pergi dari pada terus menerus diusik oleh pria sepertimu." Ketus Regan. Sean mengepalkan tangannya, ia menarik kerah kemeja Regan dan bersiap melayangkan pukulan. Namun gerakan Sean terlebih dulu dapat dibaca oleh Regan. Hingga Regan dapat menghindarinya.


"Tahu apa kau tentang cintaku pada Lisa. Kau bahkan tidak tahu apapun tentang hubungan kami berdua." Teriak Sean frustasi hingga memancing banyak pasang mata menatap keduanya karena saat ini baik Sean maupun Regan berdiri di lobi kantor Zenon.


"Terserah, aku tidak peduli dengan hubunganmu dan Lisa. Sebaiknya kau menjauh sejauh mungkin dari Lisa karena aku yakin dia pergi untuk menghindari mu." Ucap Regan seraya meninggalkan kantor Zenon untuk pulang ke rumah.


Lusi dan yang lainnya sedang menyiapkan acara BBQ di taman belakang. Sudah sejak seminggu yang lalu nenek Ratih meminta mereka semua untuk berkumpul.


Suasana di taman mansion milik keluarga Syailendra begitu ramai dengan celoteh kedua anak Lusi. Mereka asik kesana kemari berlarian. Kedua anak itu seperti cahaya baru dalam keluarga Syailendra yang sudah lama terasa sunyi sepi.


Lusi bersama yang lain duduk di kursi bundar. Sedang para pelayan sibuk menyajikan hasil bakaran mereka.


"Sayang, kenapa kamu tidak mengundang Lisa? sudah lama mama tidak melihatnya?" tanya Diana pada Lusi, Lusi hanya tersenyum getir mengingat sahabatnya.


"Lisa sedang menjadi relawan mah. Lusi juga belum tahu kapan Lisa akan pulang." Jawab Lusi dengan lesu. Delano hanya diam seraya mendekap bahu Lusi, dan membawa Lusi bersandar di dadanya.

__ADS_1


"Kamu pasti sedih ya karena ditinggal pergi sahabat kamu itu?" lanjut Diana, Mitha hanya tersenyum melihat bagaimana sahabatnya begitu ingin tahu tentang perasaan putrinya saat ini.


"Lusi juga tidak bisa berbuat banyak mah, sejak dulu Lisa memang suka sekali mengikuti bakti sosial, dan kegiatan-kegiatan amal lainnya dan sebagai sahabat Lusi hanya bisa mendukung semua kesenangannya."


"Kalian benar-benar sahabat sejati." Puji Suryo.


"Tentu saja ayah, dulu saat pertama kali tiba di Jakarta Lusi pernah berbohong pada ibu. Jika Lusi sudah bertemu dengan teman ibu." Ucap Lusi menjeda ucapannya menatap ke arah sang ibu yang terkejut mendengar anaknya berbohong. ---- "Nyatanya saat tiba di Jakarta Lusi sendirian. Tidak ada yang menjemput Lusi. Bahkan saat aku mendatangi rumah mereka, mereka tidak menyambut ku ibu. Namun Lusi tidak ingin membuat ibu dan nenek khawatir. Dengan uang bekal dari ibu, Lusi menyewa kos yang paling murah di sekitar rumah Lisa. Dari sana hubungan kami terjalin apalagi saat itu kami merasa senasib, kami sama-sama tidak memiliki ayah. Jadi akhirnya kami pun mulai akrab dan berteman hingga sekarang." Ucap Lusi seraya mengingat ingat kenangan masa lalunya bersama Lisa.


Semua hanya mendengar, tidak ada yang menyela. Mereka terenyuh dengan kehidupan yang di jalani Lusi.


"Bunda, memang onty Lisa kemana?" tanya Devan mendekati Lusi ternyata kedua anak itu tak sepenuhnya bermain. Mereka turut menguping pembicaraan orang dewasa di dekat mereka itu. Lusi mengangkat kepalanya dan menarik Devan keatas pangkuannya.


"Bunda juga tidak tahu sayang. Tapi kita tetap harus doakan semoga onty Lisa selalu baik-baik saja dimana pun dia berada."


"Aamiin .... " jawab semua anggota keluarga.


Ratih menitikkan air mata mendengar cerita cucunya. Di sini Regan tumbuh dengan bergelimang harta, sedang cucu perempuannya harus melewati semua kesulitan karena ulahnya di masa lalu. Mitha dan Laila ibunya mengusap pundak Ratih yang bergetar.


Regan hanya terus termangu setelah mendengar cerita Lusi. Dirinya semakin merasa merindukan gadis cerewet itu. Regan hanya terus membuang nafasnya seraya meneguk kopinya yang mulai dingin.


Lidya menatap putranya saat ia mendengar suara helaan nafas Regan. Seakan-akan putranya sedang menanggung beban yang berat.


Di mata Lidya kondisi putranya saat ini terlihat berantakan dan memprihatinkan padahal sebelum-sebelumnya Regan tidak pernah memperlihatkan wajah yang seperti ini.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Akhirnya aku bisa up, mohon maaf untuk keterlambatan up karena dua anak othor kemarin 3 hari sakit di tambah gigi sensitif othor di musim dingin ini turut mengiringi kesibukan othor hingga kepala sulit buat mikir ditambah adik bungsu othor kemarin harus di larikan ke rumah sakit karena di kampung lagi musim Demam Berdarah pokoknya hidup othor lebih rumit dari kisah hidupnya Lusi dan delano makanya butuh perhatian penuh.


Buat kalian di luaran sana, tetap jaga kesehatan. perbanyak minum air putih dan juga vitamin. Terimakasih untuk kalian yang masih setia menunggu othor up lope you sekebon pokoknya 🥰🥰


__ADS_2