
********
"Kamu harus makan dulu istriku" ucap Delano seraya membelai rambut Lusi.
Mau tak mau Lusi mengangguk. Dia menyuapkan sepotong cheese cake ke dalam mulutnya.
"Seharusnya kamu tidak boleh bersedih. Ini masih dalam suasana bahagia karena pernikahan kita. Tapi khusus hari ini aku mengijinkanmu bersedih sayang, tapi ingat hanya hari ini saja." Ujar Delano menatap teduh wajah pendamping hidupnya itu.
"Hmm .... " jawab Lusi malas.
"Nyonya Delano, bisakah kau menjawabnya dengan benar?" Delano mendekatkan wajahnya hingga tak berjarak dengan wajah Lusi. Lusi menarik wajahnya ke belakang dan menahan dada Delano.
"M... mau apa?"
"Tentu saja menghukummu nyonya." Delano menyeringai tipis lalu menempelkan bibirnya di bibir tipis Lusi. Mata Lusi melotot seketika, tangan yang semula mendorong dada bidang Delano akhirnya melemas. Delano menekan tengkuk Lusi dan mulai melu*mat bibir Lusi yang terasa manis. Lusi hanya diam membiarkan pria itu menuntaskan rasa penasarannya. Delano melepas ciumannya saat ia merasa nafas Lusi mulai tersengal.
"Apa kau sudah puas?" tanya Lusi menatap sinis kearah Delano.
"Belum ... tapi ada hal lain yang harus kita bicarakan." ucap Delano sembari mengusap bibir Lusi yang membengkak.
"Apa ....?"
"Ini mengenai tuan Aditya. Aku harap kau bisa menjauhinya. Jika ada kepentingan dengannya setidaknya ajak orang lain untuk menjadi asistenmu. Sudah saatnya kau memiliki asisten pribadi yang bisa meng-handle pekerjaanmu."
Lusi menatap dalam mata Delano, mata yang selalu membuat perasaan dan hati Lusi menghangat. Tangan Lusi terulur membelai wajah pria yang diam-diam telah mencuri hatinya itu.
"Apa kau sedang cemburu suamiku?" Lirih Lusi, wajahnya merona menyebut kata suamiku, seakan ia sedang melempar rayuan.
"Aku memang pria pencemburu dan aku paling tidak suka ada pria lain yang melirik atau menyentuh wanitaku." Ujar Delano. Lusi tersenyum samar. ---- "Ingat nyonya Delano, aku tidak akan membiarkan tangan-tangan kotor pria lain menyentuhmu" lanjut Delano.
"Dasar, belum apa-apa kau begitu posesif." Gerutu Lusi, Delano hanya terkekeh. Akhirnya istrinya bisa tersenyum lagi. Delano sebenarnya merasa tak senang melihat istrinya bersedih dengan berlebihan tapi dia pun tak bisa mengungkapkan karena tak ingin membuat hati Lusi semakin bersedih.
"Apa tuan Delano tidak punya pekerjaan?"
"Tentu saja ada. Aku hanya memastikan kau makan dengan benar dan sampai di tempat kerja dengan selamat. Nanti pulang tunggu aku. Aku akan menjemputmu."
"Tidak perlu, bahkan jarak tempat kerja kita berlawanan arah tuan Delano."
"Aku memaksamu nyonya, kau harus menuruti apa kata suami."
"Hmm ... baiklah terserah padamu." ucap Lusi mengalah.
__ADS_1
Delano mengecup kening Lusi sekilas lalu pergi dari butik Lusi.
.
.
.
Di sudut pemukiman kumuh, Jaka sedang mengobati lukanya. Ia duduk berselonjor kaki. Sejak ia bisa terlepas dari anak buah Suryo, Jaka bersembunyi di rumahnya yang dulu. Rumah yang ia tinggali sebelum dia mendapatkan job dari nyonya Ratih dan tidak ada siapapun yang tahu termasuk Mitha ataupun Karmila.
"Sial, sepertinya sekarang akan sulit bagiku untuk mencari pekerjaan. Sangat riskan jika aku berkeliaran di luar. Pasti anak buah pria itu akan mencariku dan menangkap ku. Ini semua karena anak haram si*alan itu." Gerutu Jaka kesal.
"Lihat saja nanti, akan ku buat perhitungan denganmu." Batin Jaka.
Dia telah menyusun banyak langkah untuk memberi perhitungan pada Lusi. Jaka masih mengira jika Lusi masih trauma pada laki-laki dan dia akan memanfaatkan kelemahan Lusi itu.
.
.
.
Delano tiba di kantor namun matanya membulat melihat penampakan Regan sekertaris sekaligus asisten pribadinya itu.
"Tidak apa-apa tuan, hanya saya memang tidak bisa tidur 2 hari ini."
"Apa karena Lisa?" tanya Delano penasaran sebelum nanti dia mengatakan pada Regan mengenai Lisa yang pergi untuk ikut menjadi relawan.
Regan tampak terdiam, pikirannya benar-benar dikacaukan oleh gadis itu. Padahal sebelumnya dia tak pernah mau berurusan dengan wanita kecuali mama, dan neneknya. Namun sejak ia bertemu Lisa dan malam itu membuat Regan sulit memejamkan matanya, bayangan Lisa terus menerus mengganggu ketenangan Regan.
Delano menggelengkan kepalanya melihat asistennya bertingkah aneh seperti itu. Apa jangan-jangan Regan sudah jatuh cinta dengan sahabat dari Lusi itu?
"Sepertinya pikiranmu sedang tidak di sini Regan?"
"Eh ... maaf tuan."
"Apa ada berkas atau draft kerjasama baru yang butuh ku tanda tangani?" tanya Delano.
"Ada tuan, sebentar akan saya ambilkan."
"Baiklah, jangan lama-lama aku harus segera kembali menemani Lusi. Dia sedang sedih karena sahabatnya yaitu Lisa pergi untuk menjadi Relawan tanpa memberikan salam perpisahan pada Lusi.
__ADS_1
"Si... siapa yang pergi tuan?"
"Lisa, gadis yang kau bawa pergi tempo hari saat pernikahanku." Ucap Delano seraya memegang berkas di tangannya. Ia sempat melirik ekspresi terkejut Regan. Tapi pria itu cukup pandai untuk menyembunyikan perasaannya. Dalam sekejap ekspresinya kembali datar.
Regan meninggalkan ruangan Delano dengan langkah gontai.
"Ah ... terserah. Dasar wanita gila. Bisa-bisanya datang dan mengacaukan pikiranku lalu pergi seenaknya saja." Gerutu Regan seraya membanting berkas yang hendak ia berikan pada Delano.
Sementara itu Lusi justru tertidur sangking lelahnya, Shanti orang yang di percayai Lusi untuk mengurus butik merasa heran dengan tingkah Lusi yang tak seperti biasanya. Namun dia juga tidak berani bertanya-tanya pada bosnya itu.
Di waktu yang bersamaan Aditya kembali datang ke butik Lusi untuk mencari gadis yang menjadi obsesinya itu. Gadis yang berparas cantik dan tampak sangat menawan di mata Aditya.
"Selamat siang tuan Aditya, ada yang bisa saya bantu?" sambut Shanti dengan hangat.
"Saya ingin bertemu nona Lusiana apakah ada?" tanya Aditya. Walau bagaimana pun kesan yang selalu Aditya perlihatkan adalah sikap yang santun dari seorang yang memiliki keturunan darah bangsawan padahal di dalam dirinya penuh dengan tipu muslihat untuk menjerat para wanita muda dan kelakuan-kelakuan menyimpang lainnya.
"Maaf tuan, apa sebelumnya anda membuat janji bertemu nona Lusi?"
"Saya tidak membuat janji tapi bisakah kamu katakan pada bosmu jika aku memiliki keperluan penting." Ucap Aditya, Shanti pun merasa tak enak hati untuk menolak kolega bisnis Lusi. Akhirnya Shanti mempersilahkan Aditya menunggu selagi Shanti memanggil bosnya itu.
"Mbak Lusi, mbak .... " Shanti menggoyang lengan Lusi. Hingga gadis itu tersentak dari tidurnya.
"Egh ... ada apa Shanti?" tanya Lusi sembari mengusap matanya.
"Mbak, pak Aditya di depan."
"Apa dia buat janji sama aku?" tanya Lusi setengah kaget karena dia merasa tak memiliki janji dengan siapapun.
"Ga mbak, dia cuma bilang ada yang penting yang harus di sampaikan sama mbak Lusi." Ujar Shanti. Lusi pun mengangguk.
"Suruh tunggu sebentar dan tolong buatkan minuman untuk beliau."
"Ok mbak .... "
Lusi membasuh wajahnya, dalam hati Lusi merasa berdebar takut. Apa sebenarnya tujuan Aditya sering mendatanginya?
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Othor lagi kumat neh .... mulai makin ga bisa update rutin.
Terima kasih buat dukungan kalian semua. like komen vote dan juga bunga, kopi kalian. Tanpa kalian tanpa dukungan kalian othor bukan siapa-siapa.
__ADS_1
Dan mulai tanggal ini sampai akhir bulan tingkatkan Vote dan Gift kalian karena othor mau bagi-bagi pulsa lagi untuk 3 teratas. Periode 6 Desember - 31 Desember. Semakin banyak Vote dan Gift kalian semakin kalian berkesempatan menang