Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 116. Pasca Tragedi


__ADS_3

********


Flashback, malam sebelum kejadian


Delano langsung mengirim pesan pada Glen, asisten Aditya. Glen sendiri merupakan anak angkat ayah Delano. Hanya saja memang orangnya bukanlah tipe orang yang suka bersosialisi. Dia lebih sering menyendiri. Dan sejauh ini keluarga Delano sama sekali tidak mempermasalahkannya. Bahkan Diana sering menghubungi Glen hanya sekedar untuk bertanya kabar.


Aku butuh bantuanmu, kak. (Delano)


Tak butuh waktu lama Glen pun langsung membalas pesan Delano.


Katakan saja. (Glen)


Aditya sepertinya ingin menjebak istriku lagi. Aku tidak bisa ber main-main dengan waktu karena ini menyangkut keselamatan istriku. Tolong siapkan semua bukti kecurangan Aditya dan laporkan ke polisi. (Delano)


Baiklah, tenang saja. Semua pasti akan baik-baik saja. Dan berhati-hati lah, Aditya juga memiliki ijin dalam kepemilikan senjata api. Apapun bisa terjadi nanti. Ku harap kau berjaga-jaga. (Glen)


Setelah berkirim pesan dengan Glen, Delano kembali menatap layar laptopnya dengan seksama. Dia memeriksa saham yang dimiliki olehnya di perusahaan Aditya. Dia sudah menguasai setidaknya 64% saham, dan itu bisa diartikan Delano bisa saja langsung mengambil alih perusahaan itu. Tapi setelah nanti dilakukan pembersihan.


Yang terjadi sekarang


Dor!!


Peluru melesak ke arah Lusi, namun Delano buru-buru menghadangnya. Setelah melepas tembakannya dan mengenai Delano, Aditya langsung mendapat pukulan telak di tengkuknya oleh Glen hingga Aditya tersungkur tak sadarkan diri.


Dua orang polisi segera membawa Aditya, dan salah seorang diantaranya membantu Delano. Glen segera berlari menghampiri adik angkat nya.


"Hei, bro, are you ok?" wajah Glen terlihat cemas. Delano hanya mengangguk-angguk sambil mengusap bagian perutnya. Seketika dia menoleh ke arah Lusi. Ternyata Regan sudah mengangkat Lusi dan membaringkan Lusi di sofa. Delano membuka kemejanya dan melihat bekas tembakan di rompi anti pelurunya. Beruntung sejak awal Glen sudah mengingatkannya meskipun dia sendiri juga sedikit khawatir jika Aditya sampai benar-benar menembak Lusi.


"Tuan, maaf mengganggu, apa tuan bisa ikut untuk dimintai keterangan?"


"Asisten saya akan ikut dengan anda." kata Delano, Regan mengangguk. Polisi itu mengamankan senjata api yang digunakan oleh Aditya, lalu ia keluar dari ruangan itu diikuti oleh Regan.


Delano segera mendekat ke arah Lusi, dia benar-benar khawatir dengan kondisi Lusi saat ini.


"Apa kau benar-benar baik-baik saja?" Glen kembali menanyai kondisi Delano.


"Tenanglah kak, aku baik-baik saja. Untuk perusahaan Aditya semua aku serahkan padamu. Kau lebih layak memimpinnya." Glen terkejut dengan ucapan Delano.


"Jangan bercanda. Segera bawa istrimu, sebentar lagi polisi akan olah TKP."

__ADS_1


"Aku tidak pernah bercanda untuk ini. Mama juga sudah menyetujuinya. Kau harus berkembang dan menjadi pria yang sukses. Agar kau bisa menunjukkan kepada mereka yang merendahkanmu bahwa kau bisa lebih tinggi dari mereka bahkan tak terjangkau." Delano menepuk pundak kakak angkatnya yang justru malah berdiri mematung. Dia bahkan tak masih terpaku di tempatnya saat Delano melewatinya seraya mengangkat tubuh Lusi.


"Jangan melamun di kamar sepi seperti ini kak, Setelah ini pulang dan istirahatlah," ujar Delano sedikit berteriak dan Glen seketika tersentak. Dia menoleh ke arah pintu, tapi Delano sudah menghilang di balik pintu.


Glen benar-benar bersyukur bertemu keluarga Delano. Bahkan dia tak pernah diperlakukan berbeda meskipun keberadaannya jarang terlihat.


.


.


.


Delano membawa Lusi ke mansionnya. Sejak di perjalanan Delano sudah berusaha menyadarkan Lusi tapi sepertinya Lusi terlalu syok sehingga sampai sekarang dia belum sadar juga. Dokter Zhafira sempat kaget saat Delano menghubunginya dan mengatakan jika Lusi pingsan.


Dan di sinilah dokter Zhafira berada sekarang, Dia memeriksa Lusi dengan serius. Sepertinya ini bukan pingsan seperti layaknya orang pada umumnya. Sesekali alis dokter Zhafira berkerut dalam. Seperti sedang berpikir keras. Delano hanya menatap gelisah tanpa tahu harus berbuat apa.


"Apa sebelumnya terjadi sesuatu, seperti benturan atau yang lainnya?" tanya Dokter Zhafira.


"Tadi memang ada sedikit tragedi lalu dia pingsan."


"Untuk sementara akan saya beri infusan. Nanti akan ada perawat yang kemari untuk membantu saya memantau kondisi nyonya Lusi. Semoga saja nyonya Lusi bisa lekas sadar." Dengan sangat cekatan dokter Zhafira memasang jarum infus di punggung tangan kanan Lusi.


Lusi membuka mata dan sangat terkejut, wujudnya berubah seperti saat dirinya berusia 8 tahun. Dia menatap tubuhnya dan meraba wajahnya. Lusi seperti berada di kamar lamanya. Dia perlahan turun dari ranjangnya dan menuju pintu. Namun di balik pintu terdengar bunyi ******* seorang wanita, perlahan Lusi mengintip dari celah pintu yang tak tertutup rapat. Lagi-lagi Lusi harus melihat perbuatan bejat Jaka, Lusi segera membekap mulutnya karena dia takut. Dia memiliki ingatan saat dewasa tapi kenapa dia sekarang terjebak lagi di tubuh masa kecilnya?


Air mata Lusi jatuh perlahan. Dia menahan isak tangisnya, namun mata Lusi seketika terbelalak saat dari balik pintu Jaka menatap kearahnya sambil menyeringai. Lusi mundur dan menjauh dari pintu.


Dia berlari ke arah ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. Tubuh Lusi bergetar hebat saat ia mendengar suara langkah kaki seseorang. Tak lama selimut yang ia pakai untuk membungkus tubuhnya tersingkap dan Jaka menatap nya dengan tatapan penuh has*rat.


"Ja-jangan mendekat." lirih Lusi. Namun Jaka justru menyeringai dan menarik tangan Lusi. Kejadian ini sama persis dengan apa yang dialaminya di waktu itu.


"Lusi, sayang, jangan takut. Aku ayahmu, kamu harus menuruti semua kemauan ayah," ucap Jaka seraya membelai wajah Lusi. Lusi benar-benar ketakutan.


"Tolong, lepaskan aku."


"Sshh... jangan menangis, sayang. Atau aku akan membunuh ibu dan juga nenekmu. Diamlah...!!" seru Jaka dengan tatapan marah. Lusi benar-benar takut. Apalagi tangan Jaka terus membelai tubuhnya.


"Jangan sentuh Lusi-ku." Suara seorang pria menghentikan gerakan Jaka. Jaka menatap tajam pada pria itu, Lusi pun melakukan hal yang sama. Namun dia semakin bergetar ketakutan.


"Tuan Aditya?" batin Lusi,

__ADS_1


"Siapa kamu?"


"Aku adalah orang yang berhak atas dirinya. Jauhkan tangan kotormu darinya," ujar Aditya, Lusi benar-benar takut sekarang. Dua orang yang terobsesi padanya kini saling berhadapan.


"Jika aku tidak mau melepasnya, kau mau apa?" tantang Jaka, tapi tanpa diduga Aditya menusuk Jaka berulang kali di depan mata Lusi. Lusi semakin ketakutan. Dia sampai meringkuk di sudut ranjangnya.


"Kau milikku Lusi sayang. Tenanglah, aku akan melindungimu, tidak ada yang boleh memilikimu selain aku," ujar Aditya dengan seringai lebar.


Saat Aditya mendekat dan akan menyentuh Lusi, tiba-tiba Delano masuk dan menendang Aditya.


"Kamu tidak apa-apa, sayang?" tanya Delano dengan wajah cemas. Lusi menggeleng seraya menangis, dia langsung menubruk Delano dan menangis di pelukan Delano.


Namun tanpa di duga Aditya langsung mengambil senjata apinya dan menembak Delano.


Dor!!


"Maass .... !!"


Dalam dunia nyata


Delano dengan cemas terus menggenggam jemari Lusi. Setelah dokter Zhafira pergi, Lusi tampak gelisah dalam lelapnya. Bahkan suhu tubuh Lusi meningkat, Delano berulang kali mengusap kening Lusi yang basah oleh keringat.


"Ada apa denganmu, sayang?" desis Delano, berulang kali dia melihat jam tangan mewah miliknya. Kenapa perawat yang direkomendasikan dokter Zhafira belum sampai?


Di saat Delano panik, Lusi bergumam lirih dengan alis yang berkerut.


"Ja-jangan mendekat."


"Sayang, bangunlah." Delano menggoyangkan bahu Lusi perlahan.


"Tolong, lepaskan aku." Lusi terus menceracau tidak jelas. Delano menggeram kesal. Kemana sebenarnya perawat itu? kenapa belum juga datang?


Tubuh Lusi bergetar hebat. Suhu tubuhnya benar-benar panas. Delano panik, namun saat dirinya hendak menghubungi dokter Zhafira, Delano dibuat terkejut dengan teriakan Lusi.


"Maaasss .... !!"


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


jangan lupa like komen dan vote atau giftnya guys

__ADS_1


Terima kasih masih setia disini.


__ADS_2