
********
Malam yang ditunggu Aditya pun akhirnya tiba. Namun wajahnya berubah masam. Karena siapa sangka jika ibunya dan juga istrinya tiba-tiba datang ke mansion. Semua tak luput dari campur tangan Suryo tanpa sepengetahuan Aditya.
"Kamu mau ada acara dengan siapa sih mas? kok wangi banget."
"Bukan siapa-siapa. Hanya rekan bisnis." jawab Aditya singkat. Kacau sudah rencana yang telah dia susun dengan sempurna. Dia bahkan sudah menyiapkan obat tidur untuk Lusi. Tapi kenapa justru ibu dan istrinya datang?
Aditya pergi menuju ruang kerjanya. Waktu masih menunjukkan pukul setengah 7 tapi suasana hatinya terlanjur drop.
"Ma, bagaimana jika yang dikatakan oleh kakaknya Widya benar?" Wajah Adinda tampak gusar saat mengingat ucapan Suryo beberapa jam yang lalu.
Flashback On
Ponsel Sarah berdering. Namun hanya tertera nomor saja tanpa nama pemanggil. Sarah langsung menggeser ikon berwarna hijau hingga sambungan terhubung.
"Halo, dengan siapa ini?"
"Halo nyonya Sarah, apa anda masih mengingat suara saya?" Sarah membulatkan matanya saat suara orang yang beberapa tahun lalu sempat membuat anaknya hampir bangkrut.
"Su... Suryo."
"Wah, senang sekali anda masih mengingat saya."
"Ma... mau apa kamu?" suara Sarah terdengar bergetar ketakutan.
"Datang ke mansion putramu nanti malam dan bawalah juga istrinya. Aku ingin kalian mengawasi tingkah laku Aditya jangan sampai dia berbuat melebihi batas pada putriku." Suara Suryo terkesan datar dan dingin.
"Apa maksudmu?"
"Putramu sedang mengincar putri tunggalku, dia berencana mengundang putriku untuk makan malam. Pastikan dia tidak berbuat macam-macam atau aku akan membuatnya menyesal telah terlahir ke dunia ini." ancam Suryo. Sarah menggigil gemetaran Adinda yang baru masuk ke rumah terkejut melihat ibu mertua nya pucat pasi.
"Ma kenapa?"
"Kita harus ke mansion Aditya sekarang juga." Ujar Sarah panik.
Flashback Off
__ADS_1
Dan di sinilah mereka sekarang. Berharap-harap cemas, menunggu kedatangan Lusi.
Sebuah mobil mewah berhenti di halaman mansion Aditya. Mendengar deru mesin mobil dari luar Aditya segera keluar untuk menyambut tamunya. Aditya bahkan tak mempedulikan Adinda dan Sarah ibu kandungnya. Saat ini yang ingin Aditya lihat adalah Lusi.
Delano keluar terlebih dahulu. Dia mengulurkan tangannya pada Lusi, dan disambut dengan senyuman yang begitu manis oleh Lusi.
"Terima kasih mas," ucap Lusi, Delano hanya tersenyum tipis. Lusi mengapit lengan Delano dengan erat. Sementara Harlan dan Marco membawakan paper bag dan berdiri di belakang Lusi dan Delano.
Pintu terbuka dari dalam, namun raut wajah Aditya tampak sangat suram. Pertama, istri dan ibunya datang. Lalu sekarang, Lusi membawa Delano bahkan mereka membawa dua bodyguard.
"Selamat datang di kediamanku nona Lusi" sambut Aditya dengan senyum palsu. Delano tersenyum miring saat hanya istrinya yang mendapat sambutan.
"Selamat malam tuan Aditya." Lusi tersenyum tipis, sementara di belakang Aditya, Sarah dan Adinda saling berpelukan erat.
"Apakah ini mimpi? kenapa wanita ini sangat mirip dengan Widya?" batin Sarah, hatinya tiba-tiba diliputi rasa takut.
Adinda menatap nanar kearah dua tamunya. Wajah si pria sangat mirip dengan kasih tak sampainya dulu dan wajah si perempuan mirip dengan istri pertama Aditya.
"Mari silahkan masuk." Aditya berjalan mendahului semuanya. Marco dan Harlan saling berpandangan. Ada yang aneh dengan tingkah Aditya. Dan mereka dapat melihat dari sorot mata pria itu.
Lusi tetap mengapit lengan Delano. Wajahnya tampak memucat saat menatap Sarah dan Adinda.
"Entahlah, wajah mereka membuatku takut."
Delano terkekeh, Mereka tiba di ruang makan. Tatapan Aditya begitu menghunus ke arah Delano.
"O iya, perkenalkan ini ibu dan istriku."
"Lusiana .... " Lusi mengulurkan tangannya pada Sarah. "Sarah"
"Adinda ... " istri Aditya pun menjabat tangan Lusi dengan gemetaran. Alis Lusi mengeryit saat merasakan tangan Adinda gemetaran.
Delano hanya diam tanpa berniat memperkenalkan diri. Namun demi kesopanan Lusi memperkenalkan Delano pada Sarah dan Adinda. Namun Delano hanya menganggukkan kepalanya sebentar tanpa ingin berjabat tangan.
Hati Aditya merasa panas. Geram dengan tingkah arogan Delano pada ibu dan istrinya. Aditya menatap Lusi dengan penuh kekaguman. malam ini Lusi memakai gaun malam berwarna merah dengan lengan panjang namun dengan model sabrina. Hingga bahu Lusi yang putih mulus dapat terlihat jelas oleh Aditya.
"Baiklah, jika aku tidak bisa memilikinya dengan cara halus. Jangan salahkan aku jika aku akan memaksanya untuk menjadi milikku." batin Aditya.
__ADS_1
Lusi duduk berdampingan dengan Delano. Sedangkan Harlan dan Marco memilih berjaga di pintu ruang makan milik Aditya.
"Aku tidak menyangka, tuan Delano akan sangat menjaga istrinya," tutur Aditya seraya melirik ke arah Harlan dan Marco.
"Bukan aku. Jika itu aku, kehadiranku saja sudah cukup untuk melindungi istriku. Itu adalah pengawalan dari ayah mertuaku. Anda pasti tahu betul jika Lusi adalah putri tunggal yang sangat disayangi oleh tuan Suryo. Jadi bukan hal yang mengejutkan lagi, semua sudah diatur oleh ayah mertua saya." Ucapan Delano terdengar santai namun penuh dengan makna tersirat.
Aditya dapat menangkap maksud ucapan Delano, namun bukannya menyerah dia bertekad akan tetap mendapatkan Lusi bagaimanapun caranya. Meskipun harus dengan menculiknya.
Setelah dipersilahkan oleh Aditya, Lusi dan Delano memulai mengambil alih peralatan makannya. Namun Lusi tampak tidak berselera melihat menu makanan yang ada di hadapannya. Dia menyenggol kaki Delano dengan sengaja. Delano menoleh kearah Lusi, ia melihat di atas piring Lusi yang masih terlihat penuh.
"Ada apa sayang?" Delano menatap Lusi, gadis itu menunduk malu.
"Hmm, apa nona Lusi tidak menyukai menu makanannya?" tanya Aditya, ia juga menatap piring Lusi yang masih tidak berkurang isinya. Hanya menjadi berantakan karena diaduk-aduk oleh Lusi.
"Tidak, bukan begitu tuan Aditya. Saya mohon maaf sebelumnya, saya sedikit kurang enak badan dan dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, bolehkah saya dan suami saya undur diri." Suara Lusi begitu merdu dan lembut. Aditya mengangguk meskipun dalam hati ia sangat kecewa karena rencananya benar-benar gagal total.
"Baiklah, tidak masalah nona. Maaf jika kurang berkenan dengan masakan dari koki di rumah ini."
"Tidak, bukan begitu. Sungguh saya sedang kurang enah badan sehingga kurang berselera." Ujar Lusi tak enak hati. "Maafkan saya nyonya Sarah, nyonya Adinda. Sungguh saya sedang tidak berselera."
"Tidak apa-apa kita bisa mengatur makan malam lain waktu." Jawab Adinda.
Akhirnya setelah berpamitan Lusi dan Delano beserta dua pengawalnya pergi meninggalkan mansion Aditya.
"Apa kamu benar sedang tidak enak badan sayang?" tanya Delano cemas. Lusi menoleh dan mengusap pipi Delano.
"Aku hanya sedang menginginkan makanan lain. Maukah kamu membelikannya untukku?"
"Apa itu? asal bukan makanan yang aneh-aneh pasti aku turuti."
"Aku ingin makan sop buntut." ujar Lusi dengan bibir yang mengerucut sangat menggemaskan.
"Jangan seperti itu bibirnya! baiklah ayo. Aku akan belikan sop buntut untukmu." Delano mencubit gemas pipi Lusi.
Senyum manis terbit di bibir Lusi. Senang rasanya akhirnya dia bisa makan apa yang sejak kemarin dia inginkan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Maaf ya sore baru bisa up. bontot istimewa ku rewel gegara kebangun tidur tapi pas aku tinggalin jemput yang besar pulang sekolah. Alhasil seharian ga turun dari gendongan takut di tinggal.