Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
Bab 82. Menguntit


__ADS_3

**********


Lusi menghampiri Delano. Pria itu menatapnya dengan binar penuh cinta.


"Apakah masih lama?" Lusi tiba-tiba bergelayut manja. Delano benar-benar menyukai sisi sifat Lusi ini.


"Tunggu sebentar ya. Kenapa wajahmu tampak kesal?" tanya Delano, alisnya bahkan sampai bertaut. Karena dia merasa tadi saat ditinggalkan olehnya Lusi tampaklah baik-baik saja.


"Tidak ada. Aku hanya kesal saja. Gadis yang pagi tadi bersama ayahnya di perusahaan sepertinya menguntit kita."


"Menguntit?"


"Iya, menguntit. Jika tidak bagaimana bisa di saat kita baru saja tiba di sini ia juga ada di sini." ucap Lusi dengan nada kesal dan kepalanya memberi isyarat menunjukkan keberadaan Hana yang sedang menatap Delano. Delano mengalihkan pandangan mengikuti arah dagu Lusi, dan benar saja. Saat ini Hana sedang menatapnya dengan intens. Delano langsung membuang muka saat tatapan matanya beradu dengan Hana. Delano justru kini memilih menatap sang istri yang sedang kesal itu. Rasanya Delano ingin mencium wajah menggemaskan itu.


Delano maju saat sudah tiba gilirannya. Dia menunjuk karakter permen kapas yang diinginkan Lusi. Saat Lusi menerimanya wajahnya tampak sangat senang. Seperti anak kecil yang sedang mendapatkan permen. Sambil berjalan Lusi menikmati permen kapas nya. Senyumnya mengembang saat permen kapas itu lumer di mulutnya.


"Hmm.. ini enak sekali." ujar Lusi. Delano tersenyum dan mengacak rambut Lusi dengan gemas.


"Keduanya tiba di bioskop. Lusi memilih film spiderman yang baru rilis 2 minggu yang lalu. Benar apa kata Lusi jika Hana menguntit mereka karena kini Hana sedang mengantri dua baris di belakang mereka dan Delano dapat melihat itu.


Delano menyadari jika Hana benar-benar menguntit nya akhirnya dia memilih memesan semua tiket 3 baris kursi atas dan bawah agar tidak ada yang mengganggu dirinya dan juga Lusi.


"Kenapa beli tiketnya banyak sekali sih mas?"


"Biar tidak ada yang mengganggu kita pacaran, sayang." Delano berbisik di telinga Lusi hingga membuat Lusi berjingkat kaget dengan semburat merah di wajahnya.


Keduanya berjalan beriringan tanpa memperdulikan keberadaan Hana. Dengan bantuan petugas, Delano menunjukkan semua tiket yang dia beli. Delano memilih tepat di tengah-tengah sehingga baris belakang dan depan serta samping kiri kanan mereka benar-benar kosong. Hana yang semula ingin mendekat diarahkan oleh petugas bioskop untuk menuju ke nomor kursinya.


Gadis itu mendengus kesal saat melihat Lusi dan Delano yang seperti pasangan muda mudi yang sedang dimabuk cinta. Mereka terus mengumbar kemesraan di depan matanya.


Di saat film mulai diputar dan petugas bioskop pergi, Hana nekat mendekat ke arah Delano dan Lusi.

__ADS_1


"Bisakah aku bergabung dengan kalian tuan Delano. Aku tidak nyaman dengan tatapan mata semua pria di belakangku."


Delano hanya diam tak menyahut. Namun Lusi yang sedang bersender manja di dada Delano mengangkat kepalanya melirik ke arah belakang, lalu kembali melirik Hana dan kemudian dia justru terkekeh.


"Jika anda tidak ingin mengundang bahaya gunakan pakaian yang sopan nona Hana. Dan maaf aku tidak mau acara kencanku dengan suamiku terganggu dengan kehadiranmu." Ujar Lusi.


"Aku mohon ijinkan aku. Aku tidak akan mengganggu kalian."


"Nona Hana yang berpendidikan, apa anda tidak sadar jika anda sudah mengganggu kenyamanan saya dan suami saya? jika anda benar-benar terganggu dengan tatapan mereka pada anda. Anda bisa keluar dan meninggalkan bioskop ini." Setelah mengatakan kata-kata itu Lusi kembali bersandar di dada Delano seraya menikmati popcorn tanpa memperdulikan tatapan mata Hana yang terlihat sangat membencinya.


"Kau belum tuli bukan? pergilah. Jangan ganggu kami." Sarkas Delano. Hana menghentakkan kakinya dan pergi dari sana dengan rasa marah. Akan dia balas perlakuan Lusi tadi berkali-kali lipat.


.


.


.


Lisa terlihat merenung, air matanya menganak sungai. Dia tak menyangka jika Sean bisa berbuat sejauh itu. Jika saja dirinya tidak pingsan waktu itu mungkin sekarang keperawanannya telah hilang.


Regan membuka pintu ruangan Lisa dan masuk. Dia melihat Lisa termenung, menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Ia mendekat dan duduk di samping Lisa. Tangan Regan menggenggam jemari Lisa hingga membuat Lisa tersadar dari lamunannya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Sudah jauh lebih baik. Terima kasih Re, kamu selalu ada untukku" ucap Lisa tersenyum lemah.


"Sudah jadi kewajibanku."


"Boleh aku tahu? kenapa tadi kamu bisa bersama Sean?" tanya Regan hati-hati. Dia menatap raut wajah Lisa yang sendu.


"Dia mengirimi aku pesan. Ingin berbicara baik-baik denganku. Aku kira dengan kesempatan itu aku juga bisa mengatakan padanya mengenai rencana pernikahan kita. Aku tidak tahu jika dia akan berbuat hal senekat itu." Lisa menangis seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak ingin menyakiti siapapun. Tapi kenapa dia tega menyakitiku. Keluarganya yang selalu menentang. Semua juga bukan inginku menjadi miskin. Tapi aku bisa apa? aku juga sudah berusaha sebaik yang aku bisa."


"Apa kamu menyesal berpisah dengannya?" suara Regan terdengar dingin. Lisa mengangkat kedua tangannya dari wajahnya dan dia menatap Regan lekat.


"Tidak sama sekali."


"Jika begitu berhentilah menangis. Aku juga sudah meminta om Harlan untuk melaporkan Sean."


"Jangan ...!" Seru Lisa. Regan menatap tajam wajah calon istrinya itu.


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin keluarga mereka semakin membenciku. Lagi pula aku juga sudah tidak apa-apa."


"Penculikan dan percobaan pemerkosaan itu kriminal Lisa." Suara Regan naik satu oktaf hingga membuat Lisa ketakutan. Regan memejamkan matanya saat tiba-tiba emosi kembali menguasai dirinya.


Lisa memberanikan diri menyentuh tangan Regan meskipun gemetaran. Regan membuka matanya saat merasakan tangan Lisa menyentuh tangannya.


"Maaf ... " Regan menunduk dan mencium tangan Lisa yang masih terus bergetar karena takut.


Lisa kembali terisak. Jujur ini titik terlemah dirinya, dan Lisa sangat membenci sisi rapuhnya saat ini.


"Aku tidak akan melaporkannya, jangan menangis lagi." ucap Regan lemah. Meskipun dia masih ingin membuat Sean merasakan dinginnya dinding sel tahanan tapi demi Lisa dia akan mengurungkan niatnya.


"Lakukan apapun yang kamu mau, aku akan mendukungmu." Lisa menghapus air matanya dan tersenyum pada Regan. "Asalkan jangan marah padaku."


Regan menatap Lisa tak percaya. Apa dia tidak salah dengar? keduanya kini saling menatap lembut. Regan membenamkan bibirnya di kening Lisa. "Terima kasih."


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


ayo like komen dan giftnya aku tunggu ya. 🥰😘😘

__ADS_1


__ADS_2