
*******
"Kamu mau kemana?" Delano mengurai pelukannya dan menatap teduh wajah Lusi.
"Ke ruang kepala sekolah. Guru itu udah kurang ajar. Bagaimana bisa sekolah Bertaraf internasional memiliki guru dengan atitude yang seperti itu. Aku tidak mau putra-putraku dididik olehnya."
Daria keluar menyusul Lusi dan Delano. Tanpa di duga Daria menarik pergelangan tangan Lusi.
"Nyonya saya mohon, maafkan saya atas kelancangan saya." Ucap Daria memelas.
"Istriku, sudah ya sebaiknya masalah ini sebisa mungkin jangan berlarut-larut." Bujuk Delano mencoba meredam kemarahan Lusi yang masih tersirat di pelupuk matanya.
Lusi menatap Delano dengan tatapan kesal. Ia menghempas tangan Daria dan meninggalkan kedua orang itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Tuan, maafkan saya dan terimakasih tuan masih mau membela saya di depan istri tuan." Daria tersenyum kearah Delano tapi pria itu justru menatap nya dengan tatapan dingin.
"Aku bukan membelamu. Aku hanya tidak mau nama baik istriku terseret dalam masalah yang kau timbulkan." Sinis Delano dan setelah itu pria itu berjalan bergegas mencari keberadaan Lusi.
.
.
.
Sementara itu Lusi terus berjalan tak tentu arah hingga ia sampai di taman dekat area sekolahan si kembar.
"Kenapa emosiku tiba-tiba meledak-ledak seperti ini? apa jangan² aku mau dapat tamu bulanan?" gumam Lusi. Dia duduk di sebuah bangku taman menatap lalu lalang orang-orang yang sedang berolahraga.
Lusi memejamkan mata merasakan hembusan angin yang menyejukkan di tengah padatnya kota Jakarta.
Di sisi lain Delano kalang kabut tak mendapati Lusi di dalam mobil. Ia segera menghubungi Marco untuk menanyakan keberadaan istrinya tersebut.
Delano merasa lega karena laporan Marco yang mengatakan jika saat ini Lusi ada di area taman. Bahkan detail informasi Marco tak perlu diragukan lagi kebenarannya.
"Baiklah, aku akan ke sana segera. Kamu tolong awasi istriku." Delano langsung memutus sambungan teleponnya dan beranjak menuju taman. Sampai di sana Delano mengedarkan pandangan mencari sosok sang istri namun Delano tiba-tiba melihat satu keanehan. Di dekat tempat duduk istrinya ada seseorang yang mencurigakan terus menatap ke arah Lusi.
Delano yang semula ingin menghampiri Lusi pun memilih bersembunyi dan melihat apa yang sebenarnya orang itu inginkan.
Dan benar saja. Saat suasana terlihat sepi pria itu mulai mengendap-endap hendak mendekat kearah Lusi dengan membawa sapu tangan yang Delano yakini sudah di beri obat bius. Tanpa basa-basi Delano mendekat dengan senyap membuntuti pria itu sebelum pria itu berhasil membekap Lusi.
Namun sesuatu yang tak terduga terjadi Lusi seketika berdiri dan menoleh di saat tangan pria itu terulur.
BUG!!
Dari arah samping Marco sudah terlebih dulu menendang tubuh pria itu hingga pria itu terhuyung. Lusi memekik ketakutan sehingga Delano langsung menghampirinya dan memeluknya.
Marco menghajar pria itu habis-habisan tanpa ampun. Delano langsung membawa Lusi pergi dari taman. Lusi yang akan menoleh ke belakang langsung ditahan oleh Delano.
Tubuh Lusi masih terus gemetaran. Entah mengapa bayangan pria itu mengingatkan akan traumanya lagi.
Delano membuka pintu mobil dan membawa Lusi masuk. Delano juga membukakan botol air mineral untuk Lusi. Namun Delano terkejut saat Lusi hentak menerima botol itu. Tangan Lusi bergetar hebat.
"Aku bantu .... "
Delano menyodorkan air mineral itu ke mulut Lusi, Lusi langsung meminumnya dengan perlahan. Setelah itu Delano mengusap lelehan air mata Lusi. Jelas sekali jika wanita itu syok.
"A... aku mau pu... lang." Ujar Lusi terbata.
Delano yang merasa tak tahan melihat tubuh lusi yang terus bergetar akhirnya memeluk Lusi dengan erat.
"Tenanglah, ada aku." Delano mengusap kepala Lusi dengan lembut.
__ADS_1
"Aku takut." Lirih Lusi terisak. Sungguh dia benar-benar tidak bisa melupakan kejadian tak mengenakan tadi.
"Sshh ... sudah. Ada aku di sini."
Lusi terus terisak dalam rengkuhan kehangatan tubuh Delano. Delano membiarkan saja kemejanya basah karena air mata Lusi.
"Sekarang kita pulang ya?" Delano mengurai pelukannya di saat dia merasa gemetar tubuh Lusi telah berkurang.
Delano memasang sabuk pengaman Lusi, dengan perlahan akhirnya mobil mulai melaju dan meninggalkan halaman sekolah internasional itu.
Delano membawa Lusi pulang. Gadis itu tertidur saat di perjalanan. Setibanya di depan Mansion, Delano mengangkat tubuh Lusi dan membawanya masuk. Kepala pelayan sampai terkejut melihat pemandangan tak biasa itu.
"Nyonya kenapa tuan?"
"Tadi ada yang mau mencelakai dirinya." Sahut Delano dengan terus berjalan. Diana yang baru akan masuk ke dalam kamar terkejut dan langsung mengikuti langkah putranya.
"Lusi kenapa Lano?"
"Nanti dulu Lano cerita mah." Delano meletakkan tubuh Lusi di atas ranjang dan menyelimutinya.
"Tadi di area dekat sekolah ada orang yang sepertinya berniat menculik Lusi hingga membuat Lusi syok dan ketakutan."
"Ya Allah, siapa yang berani melakukannya?" Diana menutup mulutnya tak percaya.
"Mah, aku titip Lusi dulu ya. Aku harus ke kantor karena Regan masih cuti."
"Ya sudah sana."
Delano akhirnya pergi menuju ke perusahaannya karena banyak hal yang harus dia urus sendiri.
.
.
.
Suryo sangat murka saat mendengar putrinya hampir saja dibius oleh pria penguntit itu. Apalagi kata Marco jika pria itu ternyata sering berseliweran di sekitar toko Lusi. Awalnya Marco tak menaruh curiga sama sekali. Tapi belakangan setiap Delano menjemput Lusi pria itu ikut menghilang. Tugas Marco hanya mengawasi Lusi dari jarak jauh agar Lusi merasa kebebasannya tidak terenggut karena kehadiran bodyguard nya itu.
Setibanya di sebuah rumah yang jauh dari pemukiman Suryo menghentikan mobilnya. Langkah kakinya begitu tegas. Wajahnya menampakkan aura kemarahan yang besar. Saat masuk Suryo di sambut oleh Harlan dan Marco.
"Kalian sudah menginterogasi pria itu? siapa yang menyuruhnya?"
"Maaf tuan dia masih tidak mau mengaku." Ucap Marco.
"Baiklah, kita lihat seberapa setianya dia pada tuannya." Suryo menyeringai tipis penuh misteri. Seperti biasa Harlan akan mengguyur sanderanya pria itu gelagapan dan mengangkat kepalanya. Tangannya tetap terikat tergantung.
"Lepaskan aku." Teriak pria itu. Suryo mendekat dan menempelkan sebuah pistol di pelipis pria itu.
"Kau Raka Prasetya, memiliki seorang putri yang saat ini di rawat di rumah sakit Citra. Apa kau pikir aku akan berbelas kasihan pada putrimu setelah apa yang hampir kau lakukan pada putriku?"
Wajah pria itu seketika pucat pasi mendengar Suryo mengetahui tentang putrinya.
"A... apa yang akan kau lakukan?" tanya pria itu dengan tubuh gemetaran.
"Aku akan lenyapkan putrimu dan akan aku bawa istrimu ke pasar gelap, menjadi budak pemuas nafsu di sana juga cukup bagus apalagi istrimu memiliki wajah yang lumayan menjual."
"Ba*ingan kau. Kau bi*dab."
"Kau benar, itu lah aku dan aku paling tidak suka ada yang mengusik ketenangan putriku." Desis Suryo dengan mata menatap nyalang kearah pria itu. Suryo sebenarnya bukanlah pria berhati jahat. Dia hanya berniat menggertak pria itu saja agar mengaku siapa yang menyuruhnya. Meskipun sebenarnya Suryo sudah bisa menebak siapa yang terobsesi pada Lusi dan selalu menghalalkan segala cara untuk membawa Lusi.
"Aditya... ya tuan Aditya yang menyuruhku. Dia mengancam akan menyakiti istri dan anakku. Ku mohon maafkan aku tuan. Aku tidak memiliki pilihan lain. Istri dan putriku adalah harta berharga yang aku miliki saat ini." Pria itu mengiba dengan air mata berlinang. Dia tak peduli dengan harga diri, saat ini yang terpenting baginya adalah jangan sampai kedua perempuan berharganya tersakiti karena ulahnya.
__ADS_1
"Bagus, dan sekarang kau harus menjadi orang ku, maka keselamatan istri dan anakmu akan terjaga. Sementara aku akan memindahkan perawatan putrimu agar dia mendapatkan penanganan yang lebih baik lagi." Kata Suryo seraya menurunkan senjatanya.
"A... apa anda serius tuan."
"Ya, asalkan kau setia aku juga akan menjamin keselamatan mereka. Tapi jika sekali kau menghianati kepercayaanku akan ku pastikan mereka akan menderita seumur hidup." Tegas Suryo. Pria itu mengangguk patuh setidaknya sekarang dia tak perlu ketakutan lagi akan ancaman Aditya.
"Ba... baik tuan. Saya berjanji akan setia pada anda."
Tak lama Suryo keluar dan menepuk pundak Marco.
"Aku sudah mentransfer bonusmu. Terimakasih Marco, kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik. Berkat dirimu putriku baik-baik saja." Ucap Suryo tulus pada sang pengawal pilihannya.
"Sudah sepantasnya saya menjaga nona dengan sepenuh hati."
Suryo tersenyum seraya menepuk pundak Marco dan berlalu pergi kembali ke rutinitas yang tadi sempat dia tinggalkan.
.
.
.
Lusi membuka matanya saat merasa sesuatu yang hangat dan basah menyentuh permukaan keningnya.
"Kamu sudah bangun sayang, kenapa bisa sakit?" Mitha duduk di tepi ranjang Lusi seraya mengompres kening gadis itu.
"Ibu, Lusi takut." Lusi menghambur memeluk Mitha. Mitha sudah mendengar semua yang dialami Lusi dari Diana. Namun dia ingin putrinya menceritakan semuanya agar tidak ada ganjalan di hati putrinya yang terlihat begitu kuat tapi sangat rapuh.
"Tenanglah, semua sudah berakhir. Sekarang kamu sudah baik-baik saja. Ayah dan Delano tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu." Mitha membelai kepala Lusi dengan lembut.
"Ibu, kapan ibu akan menikah dengan ayah?" Wajah Mitha berekspresi aneh. Ada semburat kemerahan menghiasi wajah cantiknya.
"Lusa kami akan menikah. Keputusan ini diambil ayah karena nenek terus menerus memaksa pulang ke Solo."
"Baguslah, setidaknya aku tidak akan khawatir lagi jika ibu di ganggu pria gila itu lagi." Ujar Lusi. Mitha segera mengurai pelukannya dan menatap putrinya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu sayang."
"Apa ibu ingin tahu alasan Lusi mengganti nomor Lusi dan tidak memberitahu ibu? karena pria gila itu terus meneror Lusi dengan mengancam akan mencelakakan ibu dan juga nenek. Lusi tidak bisa kehilangan kalian. Jadi Lusi memilih menghindarinya dan menghindari ibu."
"Ya Tuhan Lusi. Kenapa kamu tidak pernah mau menceritakan semua pada ibu?"
"Lusi tidak bisa bu, Lusi takut ibu akan celaka. Lusi hanya punya ibu dan nenek. Kalau terjadi sesuatu pada kalian Lusi tidak akan sanggup bertahan hidup ibu."
Kedua wanita itu akhirnya saling berpelukan. Lusi merasa hatinya sedikit lega ibunya kini sudah tahu alasan sebenarnya Lusi menjauhi keluarganya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Story dari libur panjang.
Beberapa waktu lalu seperti yang kalian tahu othor sakit, adik othor juga masuk RS. Saat masa pemulihan othor, anak bontot othor mendadak ikutan sakit dengan suhu tubuh 40° hari pertama sampai malam jangankan untuk nulis buat makan atau tidur aja othor ga bisa karena othor khawatir. Othor sendiri sejak kecil punya riwayat sering kejang sampai SD kelas 4 dari situ othor kaya was² aja harapan othor jangan sampai anak othor mewarisi keburukan itu. Hari berikutnya si bontot aku bawa ke dokter dan di haruskan rawat inap karena butuh di observasi. Aku udah cemas karena musim virus dan lain-lain kalo ke rumah sakit gimana? Aku nawar sehari minta rawat jalan dulu. Dan serius bukan niat ngegantung cerita ini karena kondisinya pun tidak memungkinkan. Harap di mengerti ya.
Selamat buat 3 orang ini. **Kalian berhak mendapat pulsa
No 1 : chani_chan 50.000
No 2 : Eko 25.000
No 3 : mimis 25.000
Follow aku segera supaya bisa konfirmasi nomor ponsel kalian**.
__ADS_1