
********
Lisa benar-benar mengabaikan Regan karena kehadiran dua bocil perusuh itu. Bahkan Devan dan Davin terus-terusan bermain dengan calon anak yang ada di perut Lisa.
"Onty, nanti adik bayinya jangan seperti dedek Cia, ya," ujar Devan sambil mengusap perut Lisa yang sejak tadi berkedut. Regan hanya menatap ketiganya lewat ekor matanya.
"Memangnya kenapa?"
"Ya, biar ga berisik."
Lisa mengusap kepala kedua bocah itu lalu tersenyum lembut.
"Apa kalian mau mendengar cerita onty, bagaimana kalian waktu masih bayi?" tanya Lisa, Devan dan Davin mengangguk antusias.
"Dulu kalian begitu kecil, berat Devan 1,8 kg sedang berat Davin 1,9 kg. Bunda dan onty saat itu benar-benar kerepotan mengurus kalian. Apalagi setiap kalian lapar atau haus. Suara tangisan kalian membuat bunda dan onty dimarahi orang kampung. Bunda dan onty pindah tempat kontrakan sudah 3 kali. Terakhir ya rumah yang di beli bunda itu. Bunda sengaja memilih jauh dari pemukiman karena takut diusir lagi karena suara tangis kalian." Lisa menjeda ucapannya melirik bagaimana respon kedua bocah itu tapi mereka diam saja tetap menyimak.
"Saat bunda kuliah, onty yang jaga kalian. Begitu pun sebaliknya. Pernah suatu waktu onty ada kegiatan sampai malam di kampus. Waktu itu usia kalian 3 tahun. Kalian sakit demam tinggi. Bunda Kebingungan karena Davin rewel, dan panas Devan semakin tinggi. Bunda lari ke jalan menyetop taksi, saat itu bunda ga pake alas kaki sampai kaki bunda kalian berdarah begitu tiba di rumah sakit. Bunda kalian nangis pas kalian harus diinfus semua. Ternyata Devan kena DB sedangkan Davin masih butuh observasi. Bunda kalian sampai tidak tidur ga mau makan 2 hari karena kepikiran kalian. Makanya Devan dan Davin jangan ngatain dedek Cia berisik. Karena kalian dulu lebih berisik dari dedek Cia. Tapi memang begitulah bayi. Mereka hanya bisa menangis saja." Wajah kedua bocah itu memerah karena malu, sekaligus terharu mendengar cerita Lisa.
"Onty, bisakah onty menelepon bunda?" tanya Devan.
"Oh, tentu saja sayang." Lisa tersenyum, dia sepertinya berhasil membuat Devan dan Davin mengerti. Lisa menekan nomor Lusi. Setelah tersambung Lisa menyerahkan ponselnya pada si kembar.
"Halo, sayang." Suara Lusi begitu merdu menyapa kedua buah hatinya.
"Bunda, sedang apa?" tanya Devan, meskipun dari layar Devan sudah melihat sendiri betapa bundanya sedang menenangkan Cia namun tetap menyapanya dengan ramah.
"Sedang bersama adik Cia, sayang. Apa kalian sudah makan?"
Devan dan Davin mengangguk. Mata keduanya tampak memerah. Mereka langsung menyerahkan ponselnya pada Lisa, lalu mereka turun dari ranjang dan keluar dari kamar Lisa.
"Kamu cerita apa sama mereka, Lisa? Kenapa mereka jadi melow menatapku?"
Lisa menampilkan wajah tak berdosa dan tersenyum lebar.
"Aku menceritakan masa kecil mereka yang sering membuat kita harus pindah kontrakan gara-gara suara tangis mereka."
"Ya ampun, kamu iseng banget sih, Lis."
__ADS_1
"Ya biar mereka ngerti, kalau memang suara bayi pas menangis itu memang mengganggu." Lisa terbahak mendegar ocehannya sendiri. Sementara Lusi geregetan ingin menoyor kepala sahabatnya. Terkadang Lisa selalu punya cara melenceng untuk membuat lawan bicaranya tak berkutik.
Regan yang menguping pembicaraan Lusi dan Lisa hanya menggelengkan kepalanya. Lisa segera mengakhiri panggilannya saat ia merasa perutnya semakin tak nyaman karena pergerakan bayi Lisa yang asal.
"Re, sayang. Kemarilah!!" panggil Lisa dengan sedikit berteriak. Regan bergegas mendatangi sang istri untuk mengetahui apa yang Lisa perlukan. Memang posisi mereka agak jauh karena Regan bekerja si sudut ruang kamarnya.
"Ada apa, Lisa, sayang?"
"Re, kenapa sejak tadi babynya gerak terus ya?"
"Bukankah itu normal. Tapi ini terlalu banyak Re, apa sebaiknya kita hubungi dokter Zhafira saja?" Sesekali Lisa meringis seraya mengusap perutnya. Regan yang baru pertama mengalami hal seperti ini segera menghubungi dokter Zhafira.
"Baik, dok. Saya akan bawa Lisa ke sana sekarang."
"Ayo, sayang! dokter Zhafira mau menunggu kita."
Lisa bangkit dibantu oleh Rregan. Mitha dan Suryo yang sedang menenangkan Devan dan Davin di ruang tamu, menatap Regan keheranan.
"Kenapa wajah kalian berdua panik begitu, Re?"
"Ini om, Lisa merasa tidak nyaman dengan pergerakan bayinya. Kami akan ke rumah sakit, Om."
Mobil melaju dengan kecepatan yang cukup kencang, Harlan begitu handal menghindari titik-titik kemacetan di malam minggu ini. Tak lama mereka tiba di depan rumah sakit. Dokter Zhafira sudah bersiap menyambut Lisa di IGD. Agar mempercepat proses pemeriksaan.
"Kenapa begini, sayang?" tanya dokter Zhafira.
"Lisa juga ga tau, bu. Tadi Lisa di kamar biasanya babynya geraknya ga begitu kuat, tapi tadi Lisa mencoba menghitung gerakannya mulai tidak normal dan melebihi batas. Lisa takut bayi Lisa kenapa-kenapa, bu."
"Tenanglah, sekarang ibu akan bawa ke ruang pemeriksaan semoga saja semuanya baik-baik saja." Lisa sudah berbaring di brankar, dan seorang perawat mulai mendorongnya. Regan dengan setia mengikuti Lisa.
Dokter Zhafira dengan cekatan mengangkat baju tidur Lisa dan mengoles gel di perut Lisa. Wajah Regan tampak tegang. Dia baru kali ini menghadapi situasi yang lebih menegangkan dari pada menonton sebuah perkelahian.
Dokter Zhafira mulai menggerakkan probe-nya dan sesekali memutar alat itu.
"Lihat, dia terlilit tali pusar. Ada dua lilitan di leher dan 2 lilitan di tangan dan mungkin itu yang membuat bayimu tidak nyaman. Demi keselamatan bayimu kita harus mengeluarkannya, sayang."
Deg!!
__ADS_1
Jantung Lisa dan Regan seperti berhenti berdetak saat itu juga. Keduanya saling melempar pandangan. Regan mengangguk tanpa ragu.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk menyelamatkannya dokter!" seru Regan mantap. Lisa memejamkan matanya, bulir bening turun membasahi pipinya.
"Jangan khawatir, Ibu akan membantu sebisa mungkin. Bayimu pasti akan baik-baik saja." Perawat lalu menyiapkan infus untuk Lisa, Sementara dokter Zhafira keluar ruangan untuk berkoordinasi dengan dokter anastesi dan menghubungi dokter anak.
Regan menggenggam tangan Lisa erat. "Everything will be fine." Dia mengecup puncak kepala Lisa.
"Kumohon selamatkan lah mereka berdua, ya Allah.. " batin Regan.
Berulang kali Lisa menarik nafas dan membuangnya perlahan. Lalu tangan yang terpasang infus tadi mengusap lembut perutnya.
"Semangat ya, sayang. Mami akan berjuang sama kamu." lirih Lisa. Trenyuh hati Regan, baru kali ini dia menyaksikan sendiri bagaimana seorang wanita berjuang demi buah hatinya. Regan tahu saat ini hati Lisa ketar ketir apalagi tidak ada ibunya dan mama Regan.
Regan sesaat teringat belum menghubungi mamanya. Namun saat meraba saku celananya. Dia bahkan tak membawa apapun saat ini.
"Sayang, kamu sama suster sebentar ya, aku harus mencari paman Harlan. Aku tidak membawa apapun untuk melengkapi berkas administrasinya." Lisa mengangguk lemah. Regan kembali mengecup kening Lisa. Setelah menitipkan sang istri pada perawat. Regan pun akhirnya keluar.
Regan mencari Harlan. Beruntung pria kepercayaan Suryo itu masih di pelataran.
"Om... "
"Ya, tuan Regan."
"Apa om membawa ponsel. Aku bahkan lupa tidak membawa dompet dan ponsel sanking paniknya."
"Tentu saja, tuan, silahkan gunakan ponsel saya." Harlan menyerahkan ponselnya pada Regan. Regan langsung menekan nomor mamanya. Dering pertama langsung diangkat oleh Lidya.
"Ada apa, Lan?"
"Ma, ini Regan. Tolong mama ke rumah sakit sekarang. Bawakan juga koper yang ada di samping lemari, ponsel Regan dan dompet Regan ada atas di nakas di kamar."
"Memangnya kenapa dengan Lisa, Re? tadi dia baik-baik saja kan?"
"Ceritanya panjang ma, Regan sekarang ada di luar. Lisa di ruangan sendirian. Dia harus operasi sekarang." Regan langsung menutup teleponnya. Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan, dia kembali ke atas.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
yuk dukung terus dengan kasih like komen dan Vote kalian ya.
Menuju final part. sampaikan salam perpisahan pada Mereka 🥰😇