
*******
"Lusi, kamu mau istirahat nak?" tanya bu Yuyun saat melihat Lusi tiba di pekarangan rumah Lusi. Bu Yuyun hanya membersihkan rumah milik Lusi. Beliau masih tinggal di kontrakannya karena merasa sayang dengan uang sewa yang terlanjur dia keluarkan.
"Iya bu, kepala Lusi agak pusing, kalau mau istirahat di butik agak ga nyaman takut ada customer." Ucap Lusi seraya tersenyum pada bu Yuyun. "Ibu bagaimana kabarnya?" tanya Lusi. bu Yuyun tersenyum, menurut Lusi memang wajah bu Yuyun sekarang sedikit tirus dan lesu.
"Ibu baik-baik saja Lusi. Kamu pusing nak? apakah kamu ....?"
Lusi yang tau kemana arah pembicaraan bu Yuyun pun tertawa. "Lusi kan nikah baru sebulan bu. Mana mungkin secepat itu. Lagipula ibu juga tahu siklus haid Lusi sejak dulu emang bermasalah. Ini Lusi hanya lagi capek aja bu banyak orderan." Kata Lusi.
"Ya sudah kamu istirahat sana. Ibu sudah bersihkan kamar Lusi pagi tadi."
"Iya bu terimakasih." Ucap Lusi lalu masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang merupakan saksi perjuangan hidupnya selama membesarkan Devan dan Davin. Lusi mematikan ponselnya, ia langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Tak butuh waktu lama gadis itu sudah terlelap.
Sementara itu Delano yang merasa kehadiran Karisa sudah merusak mood bekerja nya, dia ingin menghubungi Lusi untuk membuat janji makan siang.
Namun hingga beberapa kali percobaan nomor ponsel Lusi tak dapat di hubungi. Delano tak kehabisan akal. Dia menghubungi nomor butik Lusi.
"Halo, dengan Rina di double D butik. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Delano, dimana Lusi? kenapa ponselnya tidak dapat di hubungi?" Delano langsung mencecar serentetan pertanyaan begitu panggilannya tersambung.
"Oh maaf tuan, nona Lusi sedang keluar tadi hanya berpesan jika ada yang mencarinya untuk menitipkan pesan."
"Mana bisa seperti itu. Jika rekan kerja pesan Lusi masih terbilang wajar. Aku ini suaminya." Kesal Delano. Rina yang mendengar jika lawan bicaranya mulai menaikkan nada bicaranya segera menyahut.
"Maaf tuan, saya hanya di perintah nona Lusi." Ucap Rina takut.
"Ya sudah." Delano langsung mematikan sambungannya. Terpaksa nya ia memakai koneksi ayah mertuanya untuk mengetahui keberadaan Lusi.
"Ada apa Lano?" tanya Suryo begitu mengangkat teleponnya.
"Apa ayah tau dimana istriku? ponselnya mati, ia sulit di hubungi." tanya Delano.
"Sebentar Lano, aku akan menanyakan pada anak buahku dulu."
"Aku minta nomor pengawalnya saja ayah. Biar aku lebih efisien waktu." Tak ingin menunggu Delano langsung saja menyahut ucapan Suryo hingga membuat pria paruh baya itu terkekeh.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan kirim nomornya padamu."
Suryo terkekeh setelah mematikan sambungan teleponnya. Ia tak menyangka Delano terkesan begitu mencintai Lusi.
Nomor ponsel pengawal bayangan Lusi pun terkirim, tak ingin menyia-nyiakan waktu Delano segera menghubungi pengawal itu.
"Dimana istriku Marco?" Tanya Delano dengan tak sabar.
"Nona sedang berada di rumah lamanya tuan."
"Di rumah lama?" beo Delano.
"Iya tuan sepertinya nona sedang kurang enak badan. Tadi nona masuk ke dalam rumah dan sampai sekarang belum keluar."
"Sudah berapa lama?"
"Sudah hampir dua jam tuan."
"Baiklah, terimakasih Marco tolong awasi, aku akan segera kesana."
Setelah sambungan terputus Delano segera mengemasi laptop dan membereskan berkas-berkasnya. Ia juga menyambar jas dan bergegas keluar dari ruangan nya.
"Siska, jika ada yang mencariku tolong katakan aku sedang ada kepentingan. Jika mereka mau menunggu buatkan janji denganku besok, dan jika ada jadwal meeting atau yang lainnya tolong kamu jadwal ulang." Ujar Delano dengan tergesa-gesa. Ia bahkan menekan tombol lift berulang-ulang agar segera terbuka. Setelah kepergian Delano, Siska menghembuskan nafas lega. Ia kira akan ada drama ngamuk-ngamuk seperti yang sudah-sudah tapi ternyata kali ini tidak.
Delano mengendarai sendiri mobilnya dengan kecepatan sedang. Meskipun dalam batinnya ia ingin lekas sampai tapi melaju kencang di situasi macet seperti saat ini bukanlah hal yang baik. Bukannya bertemu Lusi nantinya malahan ia akan bertemu sangat Pencipta jika memaksa melaju kencang.
Delano tiba di depan butik setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam. Dia segera memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam gang dimana rumah Lusi berada.
Delano menatap sekeliling mencari keberadaan Marco. Pengawal utusan ayah mertuanya. Pria itu keluar dari persembunyiannya. Delano berpikir Marco adalah pria tua yang memiliki brewok tapi ternyata ia salah. Marco adalah pria muda berwajah tampan berbadan atletis.
"Marco .... "
"Ya saya tuan."
"Bagaimana istriku?" tanya Delano, namun di dalam hatinya kini bukan lagi masalah Lusi, tapi pengawal itu membuatnya merasa perasaan aneh. Lebih tepatnya cemburu pada pria penjaga istrinya itu.
"Nona masih belum tampak keluar tuan."
__ADS_1
"Pastikan kau tak pernah terlihat oleh istriku, apa kau mengerti?" tegas Delano, dan Marco pun mengangguk.
Setelah berkata demikian Delano segera melenggang ke depan rumah Lusi. Delano mengetuk pintu berulang-ulang namun tak ada jawaban dia perlahan memutar handel pintu dan justru langsung terbuka.
"Ceroboh sekali istriku ini, bagaimana jika ada orang masuk. Atau pencuri?" Delano masuk dan mengunci pintunya. Dia menilik ke kamar Lusi yang pintunya tak tertutup sempurna. Benar saja istrinya sedang meringkuk seperti bayi dengan alis yang berkerut. Delano mendekat dan mengusap kening Lusi. Berangsur-angsur kerutan alis Lusi kembali normal.
"Kenapa panas sekali? jika aku tahu kamu sakit seperti ini aku tidak akan mengijinkanmu keluar dari kamar." lirih Delano merasa bersalah tak memperhatikan Lusi tadi.
Delano naik ke ranjang Lusi dengan melepas kemejanya, dan perlahan ia pun melepas kancing blouse Lusi dan menariknya. Tubuh bagian atas Lusi hanya tertutup b*a. Delano menelan salivanya kasar. Godaannya cukup berat. Namun Delano tidak ada cara lain selain skin to skin. Perlahan dia mengangkat kepala Lusi dan meletakkannya di atas lengannya. Delano langsung mendekap Lusi.
"Semoga dengan ini panasmu segera turun."
Delano pun ikut terlelap. Lusi yang merasakan aroma tubuh Delano membuka matanya perlahan. Dia mengangkat satu tangannya dan membelai wajah suaminya.
"Aku bahkan berhalusinasi kamu ada disini." Lirih Lusi lalu mengecup bibir Delano. Delano membuka matanya dan tersenyum.
"Katakan aku sudah gila. Memimpikanmu sampai terasa begitu nyata." Lusi masih bergumam diantara kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya.
Delano membalas membelai wajah Lusi. "Apa seperti ini masih belum cukup nyata bagimu sayang?" Desis Delano. Lusi pun seketika membelalak.
"Kamu ....!!" seru Lusi. Delano terkekeh melihat wajah kebingungan Lusi.
"Sejak kapan?"
"Sejak tadi sayang, kau bahkan mungkin tidak sadar jika bajumu sudah tertanggal dari tubuhmu." goda Delano. Wajah Lusi langsung memerah malu bukan main.
"Kenapa kamu melepas pakaianku?" ujar Lusi lirih.
"Aku hanya membantumu menurunkan suhu tubuhmu. Mengapa tadi pagi kau tidak bilang jika tidak enak badan?"
"Aku tidak ingin menyusahkanmu."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like, koment dan giftnya ya.
Kalo kemalaman maaf, sebenarnya jam 8 tadi sudah mau up. Tapi mendadak tulisan othor menghilang dan dengan sangat kesal othor menulis ulang ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜. seribu kata bukan perkara gampang.
__ADS_1