
********
Malam telah tiba, Lisa dan Regan tiba di Jakarta pukul 7 malam. Karena Regan masih lemah, Lisa terpaksa mengantar pria itu ke kediaman Syailendra.
Di dalam taksi Regan terus meletakkan kepalanya di bahu Lisa. Matanya terpejam erat dan sesekali terdengar rinti*han dari bibirnya yang terlihat pucat dan kering. Lisa sesekali memeriksa suhu tubuh Regan yang kembali meningkat.
"Kita ke rumah sakit saja ya," tawar Lisa akan tetapi Regan menggeleng.
"Pulang .... " Lirih Regan.
Akhirnya Lisa mengalah. Sesampainya di depan gerbang mansion super besar itu, Lisa membuka kaca mobil taksi sebentar dan penjaga yang mengenalinya segera menekan tombol buka otomatis.
Lisa menatap heran dengan keramaian di hunian itu. Seperti akan ada acara besar.
Dengan bantuan supir taksi, Lisa membawa Regan masuk kedalam. Alangkah terkejutnya Lidya melihat putra kesayangan tampak tak berdaya.
"Lho Lisa, ini Regan kenapa?"
"Tante, tanyanya bisa nanti dulu ga? Ini berat. Lisa udah ga kuat." Nafas Lisa terengah-engah menahan berat tubuh Regan.
Delano dan Suryo segera menyambut badan Regan menggantikan Lisa dan supir taksi itu memapah tubuh Regan.
Lisa terduduk di sofa tanpa menunggu di persilahkan. Ia masih mengatur nafasnya yang putus-putus.
"P.. ak tunggu sebentar ya" ujar Lisa pada supir taksi yang masih berdiri menunggunya.
Lusi segera bangkit dari duduknya dan mengambil uang, ia lalu menyerahkannya pada supir taksi tersebut.
"Ini kebanyakan mbak."
"Ga apa-apa pak. Itu rejeki bapak. Terima kasih sudah bantu saudara saya" ucap Lusi tulus. Supir taksi itu bahkan berulang kali mengucapkan terima kasih pada Lusi dan keluarganya.
"Kamu kenapa bisa sama Regan sih Lisa?" Lusi bertanya seraya menyodorkan segelas air minum pada sahabatnya.
"Ini yang mau aku bahas juga. Tapi bentar dulu, aku capek banget serius. Dari NTT sampai Jakarta lho sepupu kamu itu terus-terusan lemes kaya gitu. Aku naik turun pesawat kudu menyeret badan dia yang segede gitu."
"Kamu di NTT?" Mata Lusi terbelalak, dan Lisa hanya mengangguk.
Namun tak lama tubuh Lisa duduk tegak saat Suryo dan Delano muncul dari arah kamar Regan.
"Jadi begini ceritanya. Selama ini aku di NTT untuk menjadi tenaga bantu medis di sana. Dan entah dari mana datangnya sepupu kamu datang bilang kalau kalian semua meminta dia untuk menikahi aku karena insiden aku menginap di hotel sama dia."
__ADS_1
"Apa ...? Regan bawa kamu ke hotel?" Lidya menatap tak percaya pada Lisa.
"Iya tante, dan kata Regan kalian mau nikahin aku sama dia. Tapi sumpah demi apapun tante. Aku sama dia ga ngapa-ngapain jadi aku minta kalian jangan salah paham dengan hubungan ku dan Regan. Jadi tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan" ujar Lisa.
Semua menatap Lisa. Dari ceritanya sepertinya dia ditipu oleh Regan. Tapi apa tujuannya? apa mungkin Regan suka dengan Lisa?
Lusi yang langsung tanggap dengan maksud sepupunya langsung tersenyum jahil.
"Bagaimana pun kalian pernah sekamar di hotel, bagaimana nanti kalau ternyata ada yang melihat kalian dan menyebarkan berita yang tidak baik?" Ujar Lusi seraya mengulum bibir menahan tawanya melihat wajah Lisa memelas.
"Tante, Lisa mohon. Kami benar-benar tidak melakukan apa-apa. Jadi tidak perlu sampai menikah 'kan?"
Lidya menangkap dari cerita Lisa jika putranya mengada-ada. Sepertinya putranya menaruh hati pada Lisa. Dan Lidya pun suka dengan karakter dan pembawaan Lisa yang sama dengannya. Tak ada salahnya jika ia mengabulkan harapan putranya itu.
"Lisa, kami juga penuh pertimbangan sebelum memutuskan meminta Regan menikahi kamu. Jadi keputusannya tetap final kalian harus menikah."
"Tapi kenapa tante?" tanya Lisa frustasi, ia juga melirik Lusi berharap gadis itu mau membelanya dan melepaskan dirinya dari masalah ini.
Disaat suasana terlihat tegang. Regan membuka matanya namun saat pandangannya mengedar dia sama sekali tak menemukan Lisa. Entah mengapa tiba-tiba dia kepikiran jika Lisa kabur.
"Lisa ... Lisa jangan pergi." Tiba-tiba Regan muncul dari balik pintu.
Lisa berdiri dan menghampiri Regan. "Kamu masih lemah kenapa keluar."
"Temani aku Lisa, jangan pergi." Suara Regan terdengar benar-benar tak berdaya. Rasanya Lisa ingin memukul kepala pria itu.
"Benar-benar merepotkan." Batin Lisa.
Akhirnya lisa kembali memapah tubuh Regan membawanya masuk ke dalam kamar pria itu.
Aroma maskulin menyeruak memenuhi indera penciuman Lisa. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar Regan yang tertata rapi.
Lisa membaringkan tubuh Regan. Matanya menelisik wajah pucat pria itu. Lusi dan Delano ikut masuk ke dalam kamar Regan begitupun Lidya.
"Ada apa dengan anak ini?" Lidya duduk di tepi ranjang mengusap kening putranya.
"Dia typus tante" jawab Lisa singkat.
"Regan memang punya riwayat typus. Tapi sudah lama tidak kambuh. Lisa, tante minta sama kamu menikahlah dengan Regan." Wajah Lidya memelas, namun Lisa masih teguh dengan pendiriannya.
"Maaf tante, Lisa tidak bisa." Lisa berlari keluar tanpa berpamitan dengan orang-orang yang ada di ruang tamu tersebut. Mereka menatap heran kearah Lisa.
__ADS_1
Lusi yang hendak mengejar Lisa ditahan oleh Delano. "Biarkan saja dulu."
"Tapi ini sudah malam. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya." Lisa menepis tangan Delano. Tapi belum sempat berlari Lusi merasakan perut bagian bawahnya terasa sakit.
"Aakh .... " pekik Lusi.
Delano menghampiri Lusi dengan panik. "Kenapa sayang?"
"Perutku sakit sekali" lirih Lusi seraya memejamkan matanya dengan erat. Delano membawa Lusi untuk duduk di sofa.
Lidya mendekati keponakannya dengan wajah tak kalah cemas. "Kamu kenapa sayang?"
"Lusi juga tidak tahu tante. Hanya tiba-tiba perut Lusi rasanya sakit."
"Lano, segera telepon dokter Rama saja, biar sekalian dia memeriksa Regan."
"Iya tante."
Tak lama Delano menghubungi dokter Rama. Lusi masih terus memejamkan matanya namun jelas terlihat dia sedang mengatur nafasnya agar sakit di perutnya reda.
Setelah menghubungi dokter Rama, Delano kembali mendekati Lusi seraya mengusap perut sang istri dengan lembut. Dan keanehan pun terjadi karena mendadak rasa sakit itu hilang entah kemana.
Lusi membuka matanya. Dia menyentuh tangan Delano yang ada di perutnya. "Nyaman sekali" ujar Lusi tanpa sadar. Senyum Delano mengembang mendengar ucapan istrinya.
"Apa masih sakit?" tanya Delano, wajahnya masih memancarkan kecemasan.
"Tidak lagi. Tapi mas, bagaimana dengan Lisa?"
"Lisa sudah di antar pak Parto" kata Delano seraya menunjukkan pesan dari supir ibunya itu.
"Ah syukurlah."
Selang 30 menit, dokter Rama datang. Pria paruh baya itu masuk dan memberi hormat pada Lusi, Delano dan Lidya. Setelah itu dokter Rama mendekat ke ranjang Regan dan mulai memeriksa pria itu.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
**Note dari author : cuma bisa bilang maaf masih belum bisa rutin. Do'ain othor semoga sehat selalu. Dan othor juga do'ain kalian semoga selalu sehat.
Love kalian sekebon. Kangen mau crazy up tapi ini dunia othor masih crazy banget.
mungkin nanti kalo kisah Zafrina apa Zafa siap, bakalan author tabung bab dulu. Biar ga kaya gini lagi. 🥰🥰🥰🥰 vote dan like nya donk guys**.
__ADS_1