
*******
lusi mendelik kesal saat lagi-lagi dirinya diejek karena kelemahannya.
Prosesi sakral itu telah selesai, kini hanya tinggal acara ramah tamah pada tamu. Lusi dan Delano berjalan menyalami tamu yang hadir. Meskipun kebanyakan yang hadir adalah kerabat, namun tak sedikit keluarga mereka juga mengundang rekan bisnis.
Delano dan Lusi menemui bu Yuyun, wanita paruh baya itu terlihat tidak nyaman saat berada di antara keluarga Syailendra dan Wibisana.
"Ibu, kenapa di pojokan sih?" Lusi memasang wajah cemberut. Bu Yuyun tersenyum pada Lusi.
"Ibu hanya ingin melihatmu sebentar. ibu tidak bisa lama-lama karena Bumi tidak ada yang menjaga. Tadi ibu titipkan Bumi sama tante Cindy takutnya nanti kalo lama Bumi rewel."
"Ya sudah kalau begitu. Tapi Lusi kenalkan pada keluarga Lusi dulu ya?" ujar Lusi, saat dia berbalik, lengannya di tahan oleh bu Yuyun.
"Tidak perlu sayang, lain waktu saja ibu benar-benar buru-buru." Bu Yuyun tersenyum, "Doa ibu untuk kalian, semoga rumah tangga kamu dan suamimu langgeng dan segera di beri adik untuk Devan dan Davin."
"Ah ibu, baru juga sah udah ngomongin adik buat mereka." Gerutu Lusi. Lisa yang berdiri di samping ibunya tersenyum.
"Lusi, aku antar ibu sampai depan dulu ya," Lisa meninggalkan Lusi dan Delano. Sebenarnya ia ingin ikut ibunya pulang. Tapi dirinya sudah berjanji pada Lusi jika ia akan berada di sana hingga acara selesai.
Lusi dan Delano berkeliling, hampir kebanyakan mereka mengucapkan selamat pada kedua pasangan baru itu. Regan duduk di sudut menatap orang-orang yang berlalu lalang. Hatinya seperti kebas melihat gadis impiannya menikah dengan pria lain. Apa lagi ini perasaan yang baru saja dia rasakan. Istilahnya layu sebelum berkembang.
Sama halnya dengan Regan, Raffi sepupu Delano yang juga memiliki rasa pada Lusi menatap nanar ke arah mempelai yang terlihat bahagia itu. Jika saja bukan Delano orangnya Raffi tetap akan berusaha merebut Lusi mati-matian.
Di saat Raffi larut dalam lamunannya, Lisa mendekatinya dan duduk di samping Raffi.
"Gimana perasaan Lo?"
"Sakit lis, tapi gue bisa apa?" Raffi tampak menyeka sudut matanya yang basah.
"nangis mulu lo, udah kaya anak perawan diperawanin," gerutu Lisa.
"Gila ya lo, hati gue ini lagi sakit. Bisa-bisanya lo ngomong kaya gitu." Tangan Raffi terulur menoyor kepala Lisa. Namun sejenak dia justru terpaku melihat kecantikan Lisa.
"Dandan gini, lo cantik juga ya." Raffi tersenyum menggoda ke arah Lisa.
"Sarap lo ya." Ketus Lisa, namun tak dapat dipungkiri wajah Lisa memerah. Keduanya tidak sadar jika sejak tadi ada sepasang mata menatap keduanya penuh kemarahan.
.
.
.
__ADS_1
Sementara itu di lain tempat, Karisa mendatangi kediaman rumah Delano. Ia ingin mencoba lagi mengambil simpati pria itu. Jika perlu dia juga akan merayu ibu Delano agar mau menjadikannya pengganti saudari kembarnya.
Tin ... Tin ... Tin
Karisa membunyikan klakson mobilnya berulang-ulang. Seorang penjaga mendatangi mobilnya. pria itu mengetuk kaca mobil dan Karisa membuka kacanya setengah.
"Maaf, anda siapa? ada perlu apa ya? Soalnya orang rumah semua sedang pergi ke nikahannya tuan muda."
"A... apa? Nikah? Siapa pak?" Tanya Karisa dengan suara naik dua oktaf.
"Ya siapa lagi neng, kalo bukan tuan Delano."
"Bapak serius? Bapak ga lagi bercanda 'kan?"
"Eh, si eneng dikasih tahu ga percayaan."
"Nama eneng siapa? Nanti saya sampaikan sama tuan muda kalo eneng mencari."
Tanpa menjawab pertanyaan satpam itu, Karisa langsung memutar mobilnya dan pergi meninggalkan kediaman Delano.
"Heh, malah pergi. Hmm ... wanita jaman sekarang, ga ada sopan-sopannya." Dan satpam itu kembali ke pos jaganya.
.
.
.
Lisa berjalan cepat ke arah taman, dan seorang pria mengikutinya. "Lisa tunggu .... "
"Pergi, jangan ganggu aku. Kita sudah putus." Lisa menatap tajam kearah dokter Sean.
"Tapi aku ga mau kita putus. Ibu sudah merestui kita." Bujuk Sean seraya menggengang pergelangan tangan Lisa.
"Siapa yang akan kamu percaya? jika aku bilang ibumu menipu dirimu, ibumu benar-benar tidak bisa menerimaku. dia sama sekali tidak senang berurusan dengan wanita miskin seperti diriku."
"A-aku .... "
"Kau tidak bisa menjawabnya kan?"
"Lepaskan aku Sean. Kita tidak di takdirkan untuk bersama."
"Aku ga bisa Lisa!"
__ADS_1
"Lepas Sean ...!" Pekik Lisa, Raffi yang mengetahui sahabatnya mendapat masalah ia pun langsung mendekat dan memukul wajah Sean.
"Jangan pernah paksa Lisa." Ujar Raffi, tangan Raffi reflek menarik tubuh Lisa. Sean tidak terima melihatnya langsung ingin menghajar Raffi. Namun siapa sangka jika Lisa menghalanginya hingga akhirnya wajah Lisa lah yang terkena bogem mentah Sean.
Raffi terbelalak begitupun Sean. Saat Sean ingin mendekati Lusi, Regan datang dan mengangkat tubuh Lusi layaknya karung beras.
Lisa terus meronta hingga membuat Regan semakin kualahan. Ia melempar tubuh Lisa ke dalam mobil lalu Regan segera duduk di depan kemudi hingga tak butuh waktu lama mobil melesak meninggalkan acara resepsi Lusi.
Acara pun telah usai, semua tamu undangan pulang. Lusi masuk ke dalam kamar di susul oleh Delano.
"Apa kamu capek?" tanya Delano seraya melepas jas nya. Melihat hal itu jantung Lusi berdebar kencang.
"Ti... tidak. Aku hanya gerah mau mandi." Lusi sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya.
"Kenapa terus menunduk? apakah aku ada di lantai itu?" Delano mendekat seraya membuka satu per satu kancing kemejanya. Rasanya menyenangkan menggoda Lusi.
"Ti... tidak. aku hanya .... "
"Malu?" tanya Delano, dengan wajah memerah Lusi mengangguk.
"Hmm... ya"
"Lusi kita suami istri. Jadi kamu tidak perlu takut."
"Mandilah, setelah itu gantian aku." Delano mengecup puncak kepala Lusi. Lusi mengangguk dan bergegas meninggalkan Delano.
Setelah mandi 30 menit Lusi keluar dengan memakai baju tidur berbahan sutra. Wajahnya tampak segar dengan rambut yang basah dan itu berhasil membuat wajah Delano memerah membayangkan fantasi liarnya.
Delano langsung masuk ke kamar mandi. Ia tak ingin pikirannya akan mempengaruhi kelakuannya. Jangan sampai trauma Lusi semakin parah. Dia akan menahan diri sampai Lusi benar-benar siap.
Lusi segera mengeringkan rambutnya saat Delano masuk ke kamar mandi. Dia akan langsung tidur setelah ini karena dia takut jika Delano meminta haknya sekarang.
Dengan berbalut selimut Lusi memejamkan matanya. Saat ia merasakan ranjang nya bergerak, jantung Lusi seakan dipompa dengan cepat. Delano mendekat dan mengusap kepala Lusi. Ia tahu jika Lusi hanya pura-pura tidur.
"Rileks sayang, aku tidak akan meminta hakku sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu siap." Bisik Delano. Lusi seketika membuka mata dan menoleh ke arah suaminya namun seketika wajah Lusi semakin memerah karena jarak wajahnya dan Delano yang begitu dekat.
"A... apa kamu serius?"
"Tentu saja. Aku hanya akan meminta ini." Delano mengecup bibir merah Lusi. Lalu Delano membawa Lusi kedalam dekapannya.
"Seperti ini saja sudah cukup bagiku untuk saat ini. Tidur lah kamu pasti lelah."
Akhirnya kedua insan itu memejamkan mata, ada senyuman di bibir Delano saat Lusi sama sekali tidak gemetaran dan menolak pelukannya.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Bab ini revisi. karena mendadak tertindih bab lain