Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 106. Jaka?


__ADS_3

"Papa .... " Chandra dan Sean sama-sama terpaku tak menyangka, pria yang selama ini jarang terlihat pulang ke Indonesia bergandengan mesra dengan seorang wanita cantik. Lidya dari atas panggung melirik kearah Chandra. Sebenarnya ada rasa kasihan di hatinya. Namun mengingat cerita Lisa dia hanya perlu bersikap pura-pura tak acuh.


Lisa pun juga ternyata sedang menatap kearah meja dimana keluarga Sean tengah berdiri terpaku menatap kearah panggung dimana saat ini tuan Antonio dan ayah mertuanya sedang berjabat tangan seraya saling melempat senyuman. Lisa menunduk sendu, Regan semakin mengeratkan pelukannya saat melihat wajah Lisa berubah.


"Angkat kepalamu, jangan pernah menunduk. Kamu sekarang adalah bagian dari keluarga Syailendra, Lisa." Lisa seketika mengangkat wajahnya menatap Regan yang tersenyum hangat kepadanya. Lisa mengangguk dan membalas senyum suaminya.


"Maaf... " lirih Lisa.


"Tidak apa-apa, aku hanya tidak mau kamu bersedih untuk pria lain sayang."


JLEB!!


Ucapan Regan seakan bagai pengingat jika dirinya kini bukan lagi seorang gadis lajang, melainkan seorang wanita bersuami. Tidak sepatutnya dirinya memikirkan pria lain padahal jelas-jelas suaminya ada di sampingnya.


Setelah Antonio turun, senyum smirk Hans terbit. Tugasnya memberi pelajaran pada keluarga Sean cukup sampai di sini. Setelah ini dirinya tak peduli apa yang akan terjadi pada keluarga itu. Yang Hans tahu memang suami Chandra itu adalah pria flamboyan dan terkenal sebagai pria hidung belang.


.


.


.


Chandra yang kembali pada kesadarannya langsung berdiri, dia berjalan menarik tangan Sean tanpa mempedulikan Jesika. Hatinya benar-benar panas melihat suami yang jarang dijumpainya menggandeng seorang gadis muda.


Antonio yang kebetulan memang akan meninggalkan acara berpapasan dengan Chandra.


"Antonio Williams... " Chandra mencengkeram kerah jas mahal milik suaminya. Namun bukannya turut tersulut emosi Antonio lebih terlihat tenang menghadapi istrinya itu.


"Halo istriku," balas Antonio dengan senyum cerahnya. Sementara gadis yang bersama Antonio melepas belitan tangannya namun sedikitpun tak menampilkan wajah takut ataupun malu.


"Bisa kamu jelaskan? kenapa kamu lakukan semua ini pa?" Wajah Chandra memerah sarat akan kemarahan. Sean hanya diam menatap wanita muda yang ada di sisi papanya. Wanita itu lebih pantas menjadi putrinya dari pada simpanannya.


"Apa yang perlu dijelaskan Chandra istriku? seperti yang kamu lihat, bukankah dia sangat cantik untuk menjadi istri mudaku?"

__ADS_1


"Sampai matipun aku tidak akan ijinkan kamu menikah lagi Antonio."


"Tanpa persetujuanmu aku akan tetap menikahinya." Antonio meraih tangan gadis itu dan membelitkan tangan mungil gadis itu di lengannya.


"Kau sangat menjijikkan pah," dengus Sean. Antonio hanya tersenyum miring, tanpa mempedulikan istri dan anaknya Antonio melenggang pergi bersama wanitanya.


Chandra jatuh terduduk di lantai. Kenyataan demi kenyataan yang dia dapat saat ini begitu melukai harga dirinya yang selalu ia junjung tinggi.


"Mama... " Pekik Sean saat tiba-tiba Chandra terkulai lemas di lantai. Sean segera mengangkat mamanya. Dia tak peduli lagi dengan ketiadaan Jesika di sisinya. Entah kemana menghilangnya calon istri Sean itu.


.


.


.


Acara resepsi Regan dan Lisa telah usai, meninggalkan banyak kegembiraan bagi semua orang yang hadir, dan memberi sekelumit rasa sakit untuk beberapa orang. Hans tampak puas dengan hasil olah pikirnya. Dia sudah mendapatkan laporan dari anak buahnya mengenai kondisi terakhir Chandra. Namun Hans memilih bungkam menyimpan rapat-rapat semuanya sendiri.


"Sayang, bagaimana kabar mengenai kakak kamu?" tanya Hans pada Lisa saat makan malam. Keluarga mereka memutuskan untuk bermalam di hotel malam itu.


"Jangan terlalu dipikirkan. Keluargamu adalah keluarga kami juga," jawab Hans. Lisa benar-benar merasa beruntung begitu dicintai di keluarga Syailendra.


"Papa besok sudah harus kembali ke Manchester. Kamu dan Regan segeralah menyusul."


Semua makan dengan tenang, bahkan Devan dan Davin pun juga kini tak banyak bicara saat ada di meja makan. Lusi hanya menyuapkan buah buahan ke mulutnya. Dia sama sekali tak berminat dengan menu makanan yang ada di hadapannya.


"Sayang, makanlah ini." Suryo mencapit sepotong kue daging untuk Lusi, namun wanita hamil itu menggeleng tak berselera.


"Lusi tidak mau yah," ujar Lusi. Delano mencondongkan tubuhnya ke arah Lusi.


"Apa kau menginginkan sesuatu yang lain sayang?"


"Hmm ya, sepertinya begitu."

__ADS_1


"Apa yang kamu mau? biar nanti aku bilang pada koki."


"Bisakah mas memesan kan mie ayam jamur?"


Delano terbengong mendengar keinginan Lusi yang terbilang aneh, dirinya juga belum pernah memakan yang seperti itu sebenarnya.


"Kamu pasti teringat mie yang biasa kita makan di depan sekolah dulu ya?" tanya Lisa, Lusi mengangguk bersemangat.


"Sebaiknya anda membawanya ke sekolah kami. Di sana ada penjaja mie ayam yang buka sampai malam. Lusi dan aku sering makan di sana dulu."


Delano mendesah pasrah. "Baiklah, ayo sayang." Delano berdiri dari duduknya diikuti oleh Lusi.


"Apa ada yang ingin ikut?" tawar Lusi namun semua menggeleng.


"Sayang, nanti si kembar biar ke mansion mama ya?" Diana yang sejak tadi bersama si kembar akhirnya bersuara.


"Boleh mah kalo mereka mau."


"Bagaimana Devan, Davin?"


"Iya oma, kita akan menginap di rumah oma." jawab kedua bocah itu serempak.


Lusi dan Delano akhirnya pergi berdua saja. Setibanya di sana warung begitu ramai, Lusi turun dan masuk dengan tergesa-gesa. Tanpa sadar tubuhnya bersenggolan dengan seseorang. Namun orang itu diam saja dan berlalu. Lusi menatap sosok itu dengan alis bertaut. Karena penasaran Lusi berniat mengikuti orang itu, namun tepukan di bahunya membuat Lusi urung.


"Mau kemana?" tanya Delano.


"I-itu tadi sepertinya ayah Jaka, mas." Delano langsung keluar mencoba mencari keberadaan sosok tadi. Tapi sayangnya di sana terlalu banyak gang sehingga sosok tadi sudah menghilang.


"Kamu yakin tadi Jaka?" tanya Delano memastikan.


Lusi mengangguk. Selera makannya mendadak hilang. Dia meminta pulang pada Delano. Delano segera menghubungi Suryo agar menyebar orangnya di sekitar lokasi. Semetara itu orang yang tadi menyenggol Lusi bersandar di bawah tiang listrik sambil mengatur nafasnya.


"Sial, kenapa harus bertemu sekarang?" gumam Jaka kesal. Dia memang berniat membalas dendam namun bukan pertemuan seperti ini yang dia harapkan. Bisa-bisa dirinya tertangkap duluan sebelum membuat perhitungan.

__ADS_1


Delano menatap khawatir pada Lusi. Sejak dari warung tadi Lusi terus diam tanpa bicara. Delano berpikir Lusi mungkin kembali mengingat traumanya. Tapi sebenarnya bukan itu yang ada di pikiran Lusi saat ini. Dia justru menyesal tak berbuat sesuatu tadi saat bertemu Jaka. Seharusnya dia memukul kepala pria itu atau setidaknya menghajarnya agar dendamnya selama ini bisa terbalaskan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2