Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 115. Ada Aku


__ADS_3

********


Saat ada di ruangan itu Lusi tampak menelan saliva dengan susah payah. Dia mungkin saja sudah tidak takut lagi pada Delano, tapi melihat tempat ini membuat Lusi teringat akan trauma nya. Lusi semakin erat menggenggam tangan Delano. Bulir keringat mulai membasahi kening Lusi. Delano menoleh untuk memastikan kondisi Lusi. Dia terkejut saat melihat wajah Lusi kembali memucat.


"Ada apa, sayang?" bisik Delano di telinga Lusi.


"Tidak apa-apa." Lusi tetap menampilkan senyumannya meski Delano sebenarnya tahu jika Lusi sedang ketakutan. Delano tersenyum lembut seraya mengusap kepala Lusi.


"Tenanglah, ada aku," ujar Delano seraya tersenyum nakal. Lusi hanya mencebik.


Aditya semakin panas dingin melihat perlakuan Delano pada Lusi, tangannya terkepal kuat. Matanya menatap tajam pada genggaman tangan mereka. Sungguh saat ini dia ingin menarik tangan Lusi agar jauh-jauh dari Delano.


"Sepertinya bisnis ini sudah bukan privasi lagi, ya, nona Lusi?" tanya Aditya sarkas. Lusi seketika menatap Aditya canggung.


"Maafkan saya, tuan Aditya. Seperti halnya anda yang sedang dalam kondisi tidak fit. Saya pun juga sama. Jadi saya harus melibatkan suami saya. Tapi tenang saja. Dia tidak akan mengganggu pembicaraan kita," tegas Lusi. Setelah meyakinkan diri dan mendapat kekuatan dari suaminya, Lusi kini lebih berani menghadapi Aditya.


"Baiklah, jika begitu." Saat Aditya mulai membuka map kerja sama mereka, tiba-tiba seorang pelayan datang membawa dua cangkir minuman.


"Karena ada tamu tak diundang, maafkan saya jika tidak mempersiapkan jamuan yang lengkap." Kata Aditya dengan tersenyum sinis.


"Tidak jadi masalah, tuan Aditya," jawab Delano singkat. Dia melirik Regan sekilas yang justru tersenyum miring.


Pelayan itu meletakkan cangkir di hadapan Lusi dengan hati-hati. Sesekali matanya melirik ke arah Aditya lalu berkedip seakan memberi isyarat. Tapi di sini masalahnya adalah ada suami Lusi dan asistennya. Apakah rencananya akan berjalan lancar atau tidak. Setelah itu pelayan tadi langsung undur diri tanpa berniat menawari minuman untuk Delano dan Regan.


Karena Aditya sudah yakin ini akan terjadi, dia bahkan sudah menyiapkan plan B.

__ADS_1


"Silahkan diminum, nona Lusi," Aditya mempersilahkan Lusi seraya menatap sinis pada Delano dan Regan.


Tapi belum sempat Lusi mengangkat cangkirnya, Glen, asisten Aditya masuk ke ruangan itu. Dia menunduk sopan ke arah Aditya dan juga Lusi lalu pada Delano dan juga Regan. Lusi tersentak kaget melihat Glen. Matanya melirik Delano dan pria itu hanya tersenyum lalu mengerlingkan matanya usil.


Lusi kembali beralih menatap Aditya, ternyata pria paruh baya itu terus menatapnya dengan penuh kekaguman. Delano menatap tajam pada Aditya. Namun pria yang usianya tak jauh dari mendiang ayahnya itu seakan tidak peduli, dia terus menatap Lusi seakan-akan Lusi adalah objek buruannya.


"Maaf, tuan Aditya, sebelum membicarakan mengenai poin perjanjian kita, saya ingin mengatakan sesuatu terlebih dahulu. Setelah saya pikir dan saya timbang, saya tidak bisa melanjutkan kerja sama ini," kata Lusi, raut wajahnya dibuat setenang mungkin meskipun dalam hatinya Lusi sedikit khawatir dengan respon Aditya.


"Apa maksud anda, nona?" wajah Aditya langsung memerah menahan amarah, ia tampak kaget bukan main.


"Saat ini saya sedang hamil, dan kondisi fisik saya tidak sebaik seperti dulu. Mengingat anda sering meminta bertemu langsung dengan saya. Jujur saja, saya merasa sedikit terbebani. Oleh karena itu, dengan sepenuh hati saya meminta maaf dan bersedia mengganti uang pinalti atas kerja sama kita ini."


Aditya langsung menggebrak mejanya dengan keras hingga cangkir yang di atas meja bergetar.


"Anda jangan main-main, nona, saya tidak butuh uang pinalti. Saya mau anda tetap bertanggung jawab pada kerja sama kita." geram Aditya. Dia menatap tajam pada Lusi. Delano sudah berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Aditya bertindak nekat.


"Saya tidak main-main, tuan. Selagi ini baru berjalan di awal saya ingin kita mengakhiri kontraknya," tegas Lusi tatapan matanya tajam. Dia tak ingin mudah diintimidasi oleh lawannya walau sejujurnya saat ini dia benar-benar takut dengan respon yang Aditya tunjukkan.


Aditya tertawa seraya menggelengkan kepalanya. Baiklah sepertinya dia memang harus memakai plan B, dia langsung berdiri dan menarik sesuatu di balik jasnya lalu menodongkannya pada Lusi. Delano seketika ikut berdiri menarik Lusi dan menyembunyikan istrinya di balik tubuhnya. Regan pun menodongkan senjata yang dia bawa mengarahkan nya pada Aditya.


Glen pun melakukan yang sama, namun yang membuat Lusi terkejut adalah Glen menodongkan senjatanya ke arah Delano. Lusi tak dapat lagi berpikir saat ini yang menjadi fokusnya adalah keselamatan Delano.


"Sebaiknya anda berpikir lagi jika ingin memutus kontrak kerjasama kita, nona Lusi."


"Sebenarnya apa yang anda inginkan?" tanya Lusi. Aditya tersenyum miring.

__ADS_1


"Bagaimana jika aku bilang, aku menginginkan dirimu," Lusi memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut nyeri saat Aditya berkata demikian. Dia benar-benar seperti menghadapi sosok Jaka dalam versi lain.


Lusi hampir menjawab ucapan Aditya hingga tiba-tiba pintu kamar itu di dobrak dari luar. Beberapa orang berseragam polisi semua menodongkan senjatanya ke arah Aditya. Pria paruh baya itu bukannya takut tapi malah tersenyum tipis.


"Jadi anda sudah mengantisipasinya?" Aditya menatap Delano tajam.


"Setiap pebisnis memiliki strategi, seperti anda yang selalu memiliki strategi untuk merebut istri saya. Seperti itulah saya belajar dari anda." Ujar Delano tenang.


"Turunkan senjata anda, tuan Aditya. Anda telah kami kepung," seru salah seorang polisi.


Namun bukannya meletakkan senjatanya Aditya justru menarik hammer dan mengarahkan pistolnya pada Lusi.


"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka jangan harap dia juga boleh mendapatkan dirimu, nona."


Lusi memejamkan matanya. Seberani-beraninya dia, saat ditodong senjata pasti dia merasa ciut juga.


Semua tampak siaga. Lusi memejamkan matanya dengan jantung yang berdebar kencang. Bahkan kakinya terasa sangat lemas sekarang ini. Genggaman tangan Delano semakin erat. Lusi langsung membuka matanya bersamaan dengan suara letusan senjata api.


DOR!!


Lusi kembali terpejam, tubuhnya seketika limbung. Beruntung Regan yang berada di dekatnya langsung menahan tubuh Lusi hingga tubuh Lusi tidak terbentur lantai.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hayo lo,

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan Vote juga gift kalian ya tsay.


__ADS_2