
*******
Lusi dan yang lain akhirnya semua pulang meninggalkan ballroom. Kado dari sanak saudara dan teman-teman juga guru Devan dan Davin harus diangkut menggunakan mobil box karena begitu banyaknya.
Lusi dan Delano naik mobil terpisah dengan kedua putranya. Mereka ingin mampir ke makam Karina. Setibanya di makam Karina lagi-lagi Delano melihat buket bunga kesukaan istri pertamanya itu berdiri bersandar di batu nisan Karina.
"Ada yang kemari?"
"Mungkin itu Jeff," jawab Delano singkat.
Lusi meletakkan buket bunga yang dia beli tadi di samping buket bunga Jeff. Keduanya lalu berdoa di samping pusara Karina. Angin berhembus semilir seakan mengisyaratkan jika Karina ada di dekat mereka.
"Selamat sore, mbak, perkenalkan aku Lusi. Aku adalah orang yang menemukan kedua putra mbak Karina." ucap Lusi, seakan berbicara langsung dengan istri pertama Delano itu.
Delano merangkul bahu Lusi. Sudut matanya sedikit basah mengingat penyesalannya, dulu dirinya jarang memiliki waktu untuk Karina, bahkan selama kehamilan istrinya, Delano hanya beberapa kali menemani cek up itu pun dia selalu menunggu di luar. Dia memang mencintai Karina tapi karena setiap waktu Karisa selalu berkunjung dengan alasan merindukan Karina padahal nyatanya ia datang hanya untuk menggoda Delano, akhirnya Delano memilih menghindari keduanya. Tapi siapa sangka bahwa waktu itu benar-benar di pakai sebaik mungkin oleh Karisa untuk menghancurkan saudara kembarnya sendiri dengan cara menghasut dan lain sebagainya. Hingga hari naas itu terjadi, barulah penyesalan itu terasa sampai mendarah daging. Apalagi melibatkan kedua bayi yang tak bersalah.
Lusi memeluk Delano, dia tahu pria itu hanya keras cangkangnya tapi isinya lunak.
"Menangislah, jika mau menangis, mas."
Delano menggeleng dan semakin erat mendekap tubuh Lusi. "Karina sudah bahagia di sana. Tidak ada lagi yang perlu ditangisi. Aku hanya mengingat sekelumit masa lalu."
Lusi dan Delano berjalan meninggalkan pusara Karina dengan hati yang sama-sama lapang. Semua telah berakhir dengan indah.
Keesokan harinya keluarga Syailendra berbondong-bondong tiba di bandara. Lusi sudah menangis sejak dalam perjalanan tadi.
"Sudah dong, Lusi. Nanti aku jadi kepikiran kalau mau ninggalin kamu," tutur Lisa menenangkan sahabatnya itu.
"Sayang, nanti setelah lahiran, ayah akan bawa kamu berkunjung ke sana. Atau kalau tidak, ayah akan siapkan babymoon ke sana." Kata Suryo turut menghibur putrinya. Lusi terus mengusap air matanya yang turun tanpa bisa ditahan.
"Bunda, kok dari tadi nangis terus?" tanya Devan cemas.
"Bunda sedih ditinggal onty Lisa."
"Jangan sedih, bunda, nanti onty Lisa ikutan sedih itu," ujar Davin.
"Kamu jaga diri di sana. Jangan lupa nanti kalau sampai sana hubungi aku." Lusi kembali memeluk Lisa saat mendengar panggilan untuk penumpang.
"Tentu saja. Kabari aku jika sudah lahiran." Lisa merenggangkan pelukannya. Dari sekian banyak orang yang mengantar, sepertinya hanya Lusi yang menangis kencang. Delano menenangkan Lusi saat Lisa dan Regan sudah hilang dari pandangan mereka.
"Jangan terlalu banyak menangis, sayang, nanti baby-nya ikut sedih," ujar Delano mengusap air mata Lusi.
"Bagaimana jika aku belikan es krim?" tanya Delano mencoba membujuk Lusi dan benar saja tangis gadis itu pun berhenti.
__ADS_1
"Es krim...?"
"Ya, kau bisa memilih rasa apapun yang kamu mau." Delano tersenyum saat perhatian Lusi mulai teralihkan dengan es krim. Sepertinya dugaan mama-nya benar jika Lusi hamil anak perempuan."
"Beneran boleh?" tanya Lusi memastikan, Delano mengangguk dengan yakin.
"Oke, kalo begitu ayo." Lusi berjalan dengan cepat seraya menarik lengan suaminya. Suryo dan Mitha yang berjalan di belakang kedua pasutri itu tersenyum bahagia. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain melihat putri semata wayangnya akhirnya menemukan kebahagiaannya.
Devan dan Davin berlarian menyusul kedua orang tuanya. Mereka juga jadi melupakan kesedihan karena di tinggal oleh Lisa dan Regan.
Di lain sisi, saat Lusi sudah merasa lebih baik. Berbeda halnya dengan Lisa yang kini justru menangis seraya menatap keluar jendela pesawat.
"Hei, sayang, jangan menangis lagi oke. Nanti kalau kita ada waktu kita pulang ke Indonesia." hibur Regan. Lisa menoleh menatap suaminya, wajahnya sembab namun justru tampak sangat cantik di mata Regan, Regan mengusap air mata Lisa dengan lembut.
"Benarkah?" tanya Lisa tak percaya dengan ucapan Regan.
"Aku bersungguh-sungguh," jawab Regan, seraya memberi senyum terbaiknya. Lisa lantas memeluk Regan.
"Terima kasih."
"Dan nanti kita akan pulang ke Indonesia memakai pesawat pribadi saja. Kalo memakai pesawat komersil, aku tidak bisa melahapmu," bisik Regan, ia lalu mengecup bibir Lisa singkat.
.
.
.
"Kita ke rumah sakit dulu saja ya?"
"Aku mau langsung pulang ke rumah mama," jawab Lisa seraya memejamkan mata. Jemputan papa Hans sudah menanti mereka. Sang supir membantu Regan mendorong trolly mereka yang berisi dua koper kecil. Karena Regan berniat untuk membelikan baju untuk Lisa di sana.
Lisa terus bersandar di lengan Regan. Perjalanan dari bandara internasional Manchester hingga ke mansionnya kurang lebih 1 jam perjalanan. Selama itu Lisa tertidur. Dan Regan benar-benar menjaga Lisa dengan baik.
Regan turun seraya membopong tubuh Lisa. Lidya yang awalnya ingin menyambut putranya justru terlihat panik.
"Ada apa dengan Lisa, sayang?"
"Aku bawa Lisa ke kamar dulu, mah." jawab Regan cepat. Dia langsung naik ke lantai dua dan membuka kamarnya. Luas kamar itu dua kali luasnya dari kamar Regan di Indonesia. Kamar dengan nuansa black and gold itu tertata dengan sangat rapi dan sempurna.
Setelah membaringkan Lisa, Regan segera menghubungi dokter pribadi keluarganya untuk segera datang ke mansion Hans.
Lidya masuk ke kamar putranya dengan wajah cemasnya. "Ada aap dengan Lisa sebenarnya?" tanya Lidya pada Regan. Regan yang sedang melepas kemejanya langsung menoleh ke arah sang mama.
__ADS_1
"Regan juga ga tau, mah, dari Singapura dia sering muntah. Ngeluh kepalanya pusing. Aku kira mabuk perjalanan, tapi Lisa ga mau minum obat muntah."
"Jangan-jangan Lisa hamil?" Regan tersentak kaget.
"Hamil?"
"Iya, siapa tahu aja, kamu sudah hubungi dokter Andreas?"
"Sudah, mah. Sebentar lagi dokter Andreas akan tiba."
Lisa terbangun dari tidurnya, matanya menatap langit-langit kamar dengan heran.
"Regan... " Lirih Lisa, Regan yang ada tidak jauh dari pintu karna segera menghampiri Lisa, diikuti oleh Lidya.
"Sayang," Lidya berjalan mendahului Regan dan membantu menantunya yang berusaha bangkit dari tidurnya.
"Mama.... " Lisa langsung memeluk ibu mertuanya.
"Kamu kenapa? apa ada yang dirasa ga nyaman?"
Lisa menggeleng, Dia lalu menegakkan badannya dan menatap ibu mertuanya.
"Ini baru dugaan aku sih, mah. Cuma aku juga belum yakin."
"Kamu hamil?" todong Lidya langsung, Lisa mengangguk. Tapi Lisa juga belum memastikan. Hanya saja dari kemarin sejak ulang tahun Devan dan Davin aku merasa aneh. Rasanya badan cepat capek. Terus dari bangun tidur kepala kliyengan, tapi begitu siang udah ga."
"Kamu udah tes?" tanya Lidya lagi, Regan sepertinya hanya jadi pihak pendengar.
"Belum, mah. Lisa takut. Apa lagi kan Lisa pernah dikasih tahu kalau hamil muda, tidak boleh naik pesawat. Lisa jadi makin takut. Kemarin Lisa pinjam celana Lusi yang untuk ibu hamil, yang ada penyangga perutnya. Ini Lisa pakai. Cuma karena sangking terlalu kepikiran Lisa malah jadi mabuk selama perjalanan.
"Kamu itu gimana sih Re, istri dibiarin mikir sendiri." tegur Lidya marah pada Regan setelah mendengar cerita Lisa.
"Regan, beneran ga tahu, mah. Kalo Regan tahu Lisa hamil, Regan juga pasti akan tunda kepulangan Regan." Ujar Regan menatap Lisa kecewa. Hal sebesar ini kenapa Lisa tidak mau menceritakannya pada dirinya.
"Mah, ini semua bukan salah Regan, aku yang salah. Aku emang ga cerita sama dia. Aku takut keberangkatannya akan ditunda lagi. Padahal aku udah kangen banget sama mama." Ucap Lisa seraya menggoyangkan lengan Lidya. Dia merasa bersalah karena tidak memberitahu Regan mengenai ini.
"Lain kali bicarakan dulu dengan suamimu, sayang." Lisa melirik ragu ke arah Regan, pria itu masih saja terus menatapnya.
"Mama kan tahu, kalo Regan orangnya ga bisa santai. Gampang panik kalo menyangkut aku, nanti aku ngeluh pusing dia langsung panggil dokter banyak banget." cicit Lisa menunduk tak berani menatap suaminya. Regan hanya menarik nafas panjang. Nyatanya dia benar-benar tidak bisa marah pada istrinya itu. Terserah mau di kata Bucin, memang seperti itu lah dia.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like, komen dan Gift juga Vote nya. biar karya ini tetap bisa dibaca orang lain juga istilah katanya biar ga tenggelam 😇
__ADS_1
Love sekebon buat kalian.. 🥰🥰😘