Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
DBJ 109. Berita Kematian


__ADS_3

********


Sean terduduk lemas di kursi tunggu. Chandra kembali harus di rawat bahkan menurut keterangan dokter ada indikasi jika Chandra akan mengalami stroke berat. Ini sebuah pukulan yang telak. Keluarga yang Sean kira akan terus selalu rukun dan damai ternyata penuh dengan drama kepura-puraan.


Dia bahkan sudah berulang kali menghubungi Antonio ayahnya, tapi sepertinya pria itu sedang menikmati waktunya bersama ja*langnya. Sean merasa ini karma untuk keluarganya. Belum lagi tadi malam, Jesika menghubungi dirinya dan gadis itu meminta untuk tidak lagi menghubunginya, karena Jesika memilih membatalkan rencana pertunangan mereka.


Sean berulang kali menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya memang sekarang saat nya dia menunjukkan baktinya pada sang mama.


Sean mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo tante," sapa Sean dengan suara putus asa.


"Ada apa Sean?"


"Tante, mama masuk rumah sakit."


"Apa? bagaimana bisa?" suara wanita itu terdengar melengking hingga teliga Sean rasanya berdengung.


"Bisakah tante ke rumah sakit?"


"Baiklah, tante akan ke sana."


Sean langsung mengakhiri panggilan begitu tantenya mau datang. Jarak usia mama Sean dan adiknya terbilang cukup dekat.


Setelah beberapa jam wanita yang di panggil tante oleh Sean tiba. Wanita itu masih terlihat begitu anggun dan cantik.


"Sean... "


"Tante Dinda." Sean memeluk adik ibunya erat.


"Kenapa dengan mama kamu?" tanya Adinda dengan wajah cemas.


"Kata dokter mama terkena stroke berat. Papa selingkuh tante," kata Sean sambil sesekali menyeka air matanya.


"Maaf, tante belum bisa banyak bantu kamu. Usaha om Aditya juga sekarang sedang dalam masalah besar. Koleganya tertangkap polisi karena dugaan korupsi. Jadi om kamu juga terseret kasus itu."


"Kenapa bisa begitu tante?"

__ADS_1


"Tante juga tidak tahu."


Sean pun akhirnya hanya bisa terduduk diam di samping tantenya yang tak lain dan tak bukan adalah istri dari Aditya.


.


.


.


Sementara itu sekarang Lisa dan Regan sudah berada di bandara untuk mengantar mama dan papanya. Setelah tadi sempat berpamitan dulu pada semua penghuni mansion Syailendra. Kini keempat orang itu sudah berada di bandara menunggu pesawat take off.


"Segera urus semuanya boy. Papa menunggu kalian untuk segera berkumpul bersama kami di Manchester."


"Oke, do'akan saja kami bisa lekas menyusul pah."


"Lisa, mama titip Regen ya. Jaga dia, ingatkan selalu untuk makan yang teratur, karena Regan suka lupa kalau sudah sibuk bekerja," ujar Lidya pada menantunya. Lisa mengangguk seraya tersenyum.


"Iya mah, pasti," jawab Lisa, tak lama panggilan untuk penumpang pesawat sudah berkumandang. Lisa sejenak memeluk Lidya lalu beralih memeluk Hans papa mertuanya. Begitupun Regan, dia memeluk kedua orang tuanya dengan erat secara bergantian.


"Take care dad, mom." seru Regan saat kedua orang tuanya mulai melangkah masuk.


"Kau mau pergi ke suatu tempat?" tanya Regan seraya membelai wajah Lisa.


"Aku mau pulang saja. Badanku sakit semua," jawab Lisa lemas. Semalaman Regan terus menggarap nya hingga pagi. Sebagai seorang istri Lisa tidak bisa menolak permintaan suaminya. Meskipun di dalam hatinya masih belum sepenuhnya yakin akan perasaannya kepada Regan.


"Maafkan aku sayang, kau terlalu menggiurkan untuk dilewatkan begitu saja." Lisa mendelik mendengar ucapan Regan yang terlalu vul*gar itu.


"Bisa tidak jangan membahasnya?" kesal Lisa.


"Baiklah sayangku. Sekarang kita pulang."


Regan dan Lisa akhirnya meninggalkan bandara. Dalam perjalanan ponsel Regan bergetar. Satu pesan masuk ke nomornya.


Awasi istrimu, dia gadis yang mudah kasihan pada orang lain. Saat ini mantan calon mertuanya sedang kritis dan kemungkinan dia akan mengalami stroke. Segera urus kepindahan kalian ke Manchester papa dan mama menunggu kalian.


Saat membaca pesan dari papanya, tanpa sadar Regan menggenggam ponselnya dengan erat. Ada rasa tak terima saat papanya menyebut mama Sean dengan istilah mantan calon mertua.

__ADS_1


"Ada apa Re?" tanya Lisa saat melihat tatapan tajam suaminya. Regan langsung menoleh ke arah Lisa dan tersenyum.


"Tidak ada apa-apa. Hanya masalah kerjaan."


Lisa mengangguk lalu kembali menyandarkan kepalanya di jok mobil. Tapi Regan segera menarik kepala Lisa dengan lembut dan menyandarkan kepala Lisa di bahunya. Lisa hanya diam dengan perlakuan Regan kepadanya.


.


.


.


Harlan mengusap wajahnya kasar saat mendengar kabar dari dokter yang menangani Jaka. Dokter mengabarkan jika nyawa Jaka tidak dapat di selamatkan karena luka tusuk yang dialami pria itu cukup parah. Hingga merusak organ dalamnya. Harlan masuk ke ruang tindakan untuk memastikan sendiri. Dia segera menghubungi Suryo untuk mengabarkan berita kematian Jaka.


Suryo menghela nafas panjang. Ia menatap Mitha yang sedang merapikan tanaman di sampingnya.


"Mitha, Jaka meninggal," Sesaat jemari Mitha menggantung, dia tak menyangka dengan kabar itu. Suryo sedikit bereaksi aneh saat melihat wajah Mitha yang terkejut.


Mitha langsung menatap Suryo dengan mata yang berkabut, "Biarkan saja, sebenarnya kematian terlalu bagus untuknya. Seharusnya hidupnya menderita dulu setelah apa yang dia perbuat pada putriku."


"Mitha, kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Suryo terkejut dengan respon Mitha.


"Karena kamu tidak pernah berada di posisiku mas, aku harus menyaksikan putriku mengalami depresi selama bertahun-tahun, setelah sembuh pun Jaka selalu saja membuat hubunganku dan Lusi selalu berjarak." Suryo segera memeluk Mitha. Tidak seharusnya dia bereaksi seperti itu mempertanyakan kemarahan Mitha.


"Maaf, maafkan aku yang tidak peka terhadap perasaanmu." lirih Suryo. Mitha justru terisak. Sungguh sebenarnya dia belum terima jika Jaka meninggal dengan begitu mudah setelah apa yang dia perbuat pada putrinya.


Mitha berusaha mengurai pelukan Suryo dengan memberontak. Namun Suryo tetap memeluk dirinya erat. Rasa bersalah kian menggerogoti hati Suryo. Ternyata selama ini diam-diam Mitha masih menyimpan dendam terhadap Jaka. Dan Suryo bahkan sama sekali tidak tahu karena Mitha terlalu pandai menyembunyikan perasaannya.


"Maaf Mitha, tolong jangan seperti ini."


"Dia sudah merusak mental putriku mas, dia seharusnya menderita bukannya mati." isak Mitha.


"Sshh... jangan berkata seperti itu. Ini sudah takdir dari Tuhan." Suryo terus berusaha menenangkan Mitha.


Selama ini Mitha hanya diam karena tak tahu apa yang harus diperbuat. Apalagi dia mendengar sendiri dari Lusi apa yang membuat Lusi selama ini menderita. Hati ibu mana yang tidak sakit jika putrinya harus melalui semua itu.


Mitha hanya lah seorang ibu yang sama seperti ib-ibu lainnya. Jika putrinya terluka dia pun akan ikut merasakan sakitnya. Perlahan tangisan Mitha mereda namun Suryo masih terus mendekap belahan jiwanya, mencoba memberikan ketenangan untuk wanitanya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


jangan lupa like, komen dan vote kalian guys.


__ADS_2