
********
Jakarta
Keadaan Lusi sudah membaik. Dirinya pun sudah di bawa pulang ke mansion oleh Delano. Setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidur Lusi kembali merebahkan tubuhnya dengan malas, perlahan matanya pun turut terpejam. Entah mengapa sepanjang hari ini rasanya Lusi ingin terus menerus tidur
"Bunda sakit ya?" suara kecil itu membuat mata Lusi yang berat terbuka. Devan dan Davin keduanya meletakkan punggung tangan mereka di kening Lusi.
"Bunda hanya sedang lelah sayang." Lirih Lusi seraya kedua tangannya meraih tubuh kedua bocah itu dan menghirup dalam aroma tubuh kedua putranya.
Devan dan Davin menatap wajah pucat Lusi. Keduanya merasa kasihan kepada Lusi.
"Bunda, bukankah sekarang kita punya ayah? apa perlu bunda masih capek-capek kerja? bukannya dulu bunda bilang, bunda kerja mencari uang untuk kami. Jadi kenapa sekarang bunda tidak istirahat saja dan hanya mengurus kami? kan ada ayah yang mencari uang untuk kita." Tanya Devan, putra tertua.
Lusi tersenyum, ucapan putranya terdengar begitu dewasa. Delano yang mengintip dari celah pintu kamar mandi pun merasa terenyuh dengan perhatian yang kedua putranya berikan pada Lusi.
"Kalian memang anak-anak bunda yang paling pengertian. Tapi jika bunda tidak bekerja, butik yang bunda bangun dari 0 akan menjadi sia-sia sayang. Devan dan Davin tahu kan jika mimpi bunda ada di butik itu."
Kedua anak itu pun mengangguk mengerti. Bahkan mereka juga tahu sendiri bagaimana Lusi berjuang membesarkan nama butiknya yang awalnya hanya sebuah toko menurut bundanya.
"Tapi kami sedih melihat bunda seperti ini." lirih Davin dengan memasang wajah sendunya.
"Bunda janji akan mengurangi waktu kerja bunda di butik." Tutur Lusi lembut, tangannya terus membelai rambut kedua pria kecilnya.
"Beneran janji bunda?"
"Iya janji."
Delano akhirnya tak tahan untuk tidak bergabung dengan kedua putranya dan juga Lusi akhirnya keluar dari kamar mandi.
"Wow... anak-anak ayah di sini rupanya." Ucap Delano pura-pura terkejut melihat kedua putranya. Devan dan Davin keduanya hanya tersenyum lebar.
"Ayah, bolehkah malam ini kita tidur berempat? kami ingin merasakan bagaimana tidur bersama kedua orangtua." Devan dan Davin menatap penuh harap. Dengan lengkungan bibir yang begitu tinggi Delano mengangguk.
__ADS_1
"Tentu saja boleh." celetuk Delano dan membuat kedua bocah itu bersorak.
"Yey ... hore kita bisa tidur bersama-sama!!" Seru Devan dan Davin.
Delano benar-benar bersyukur dapat menemukan a anak-anaknya di saat dia merasa benar-benar putus asa untuk menemukan mereka.
Melihat wajah bahagia kedua putranya menyentuh hati Delano dari lubuk terdalamnya. Delano menatap Lusi yang masih berusaha menidurkan Davin, sementara Devan sudah terlelap dengan bibir yang menyunggingkan senyum.
Delano terpaku, menatap betapa lembutnya Lusi memperlakukan kedua putranya. Dia jadi ingin tahu perjalanan panjang Lusi dalam membesarkan kedua buah hatinya.
"Apa setiap hendak tidur mereka akan seperti ini?" tanya Delano. Lusi tersenyum lembut dan mengangguk.
"Benar, mereka akan terus merengek jika aku tidak melakukannya."
"Bolehkah aku tahu bagaimana dulu kamu membesarkan mereka?"
Lusi melirik wajah penasaran Delano, Wajah yang sama dengan Devan dan Davin ketika tertarik pada suatu hal.
"Jika aku menceritakannya bagaimana saat itu akan sangat panjang."
"Baiklah aku akan menceritakannya padamu." Lusi menarik nafas panjang, mencoba menggali memori kisah di hidupnya setelah bertemu kedua putranya.
"Saat itu aku baru selesai mengirim pesanan barang. Karena seperti yang kau pernah dengar hidupku tidak lah mudah. Sore itu saat aku sedang beristirahat, aku mendengar suara tangisan bayi. Aku mendekat ke arah sumber suara di dekat semak² dan aku menemukan kardus berisi mereka. Awalnya aku ingin lapor polisi. Tapi aku terlalu takut. Kamu tahu sendiri, jika berurusan dengan hukum di negara ini. Yang benar bisa jadi salah. Dan yang salah bisa jadi benar. Akhirnya aku membawa mereka pulang dan meminta tolong ibu Lisa, membantuku membuat akta lahir untuk mereka. Hidup yang aku jalani setelah bertemu mereka tidak mudah. Aku masih harus menghidupi diriku sendiri dan kedua anak ini. Apalagi aku juga harus kuliah, kadang baik aku atau Lisa sering membawa salah satu dari mereka saat ada kelas. Beruntung mereka berdua anak yang tidak ribet dan tenang. Kami selalu berbagi tugas merawat Devan dan Davin. Di kampus bahkan kami sering di cemooh dengan julukan pel*cur karena membawa anak."
Kalimat terakhir yang Lusi katakan bagaian ribuan jarum yang menusuk hatinya.
"Kalimat itu sangat kasar sekali. Apa kau punya kontak mereka yang telah menghinamu. Akan ku buat dia merasa tak tenang dengan hidupnya sendiri." Desis Delano, air mukanya tampak lain. Pria itu marah ada orang yang mencemooh Lusi.
"Sudah lah itu hanya masa lalu."
.
.
__ADS_1
.
Di kediaman Syailendra, Suryo menatap pada layar ponsel dimana sebuah pesan dia terima dari anak buahnya. jika dua hari ini ada mobil yang mencurigakan mengikuti kemanapun Delano pergi.
Suryo merasa was-was jika ada yang akan mengusik ketenangan keluarga baru putrinya, Sebagai seorang ayah dia tak bisa tinggal diam.
Suryo sedang menimang-nimang apakah sebaiknya memberi tahu Delano atau tidak. Sementara masalah Jaka saja dia masih tak menemukan titik terangnya.
Suryo mengambil ponselnya untuk menghubungi Marco. Dirinya perlu berdiskusi dengan pria muda itu.
"Marco, bisakah kau datang ke mansion sekarang."
"Tentu tuan. Setengah jam lagi saya akan berada di tempat."
Setelah mematikan sambungan teleponnya Suryo menarik nafas panjang.
"Ada apa mas?" Suara Mitha memecah keheningan. Suryo menarik tangan Mitha dengan lembut dan mengecupnya.
"Tidak ada, kenapa kamu belum tidur Mitha?"
"Mas, ibu bilang ingin kembali ke Solo."
"Kenapa? apa kah rumah ini tidak nyaman untuk di tinggali?"
"Bukan begitu mas, tapi status kami di sini menumpang. Ibu benar-benar merasa tidak enak hati."
"Jika hanya itu alasannya besok aku akan antar ke rumah yang kemarin saja. Aku tidak bisa jauh darimu lagi Mitha." Bujuk Suryo, tatapannya mengiba penuh cinta. Mitha mendesah berat.
"Aku akan coba bujuk ibu lagi besok."
Wajah Suryo seketika sumringah. Dia mengulum senyum agar Mitha tak merasa di tertawakan. Menurut Suryo, Mitha sejak dulu memanglah berhati lembut dan mudah tersentuh hatinya.
"Sekarang istirahatlah. Aku sedang menunggu seseorang." Ujar Suryo, Mitha pun mengangguk-angguk.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹