Dia Bukan Janda

Dia Bukan Janda
Bab 79. Hubungi Istriku


__ADS_3

******


Lusi tersentak saat membuka matanya. "Ya Allah, aku ketiduran." Lusi lalu mengedarkan pandangannya mencari sosok suaminya namun nihil. Ia sepertinya berada di kamar pribadi suaminya saat ini.


Lusi masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Lusi menatap pantulan dirinya di cermin lalu tersenyum malu mengingat dirinya sampai ketiduran di pangkuan suaminya.


Lusi berniat membuka pintu namun dia mendengar suara seorang perempuan sedang berbicara dengan suaminya. Akhirnya Lusi memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka meskipun hal itu tidak patut ia lakukan.


"Kamu tahu masalah ini akan menyeret nama Jeff. Please Lano, demi aku." Ujar wanita itu dengan lembut. Dari suaranya Lusi tahu itu adalah suara Florencia.


"Apa yang kamu mau?" suara Delano terdengar lembut dan hal itu mampu memacu detak jantung Lusi bekerja lebih cepat.


"Cabut tuntutannya Lano."


"Aku rasa kamu terlalu banyak menuntut Flo. Kita hanya berteman. Sebagai teman aku sudah menuruti kemauanmu untuk memaafkan Jeff. Lalu sekarang kamu memintaku mencabut tuntutan pada Karisa? Jangan terlalu meremehkan kebaikanku Flo." Kini suara Delano terdengar dingin dan datar.


"Aku akan lakukan apapun Lano agar kamu mencabut tuntutan itu. Aku juga bisa melayanimu seperti istrimu itu, bahkan aku bisa memberikanmu servis yang memuaskan." Flo mendekati Delano kedua tangannya berada di dada pria itu. Namun dengan kasar Delano langsung menepisnya hingga membuat Flo tersungkur di lantai.


Lusi yang menguping pembicaraan mereka merasa panas dingin. Dia bahkan menggigiti kukunya karena cemas. "Tidak, aku tidak akan membiarkan dia menggoda suamiku." Desis Lusi. Dia langsung membuka pintu dan pura-pura tidak tahu apa-apa.


Delano menoleh saat Lusi membuka pintu kamar pribadinya. Wajah datarnya seketika berubah. Senyum hangat terlukis di wajahnya. Dia pun berjalan menghampiri Lusi. Mata Lusi melirik Flo yang masih terduduk di lantai seraya menangis.


"Mas, ada apa ini? kenapa nona Flo di lantai."


"Bukan apa-apa." Jawab Delano singkat. --- "Pergilah ... ! dan katakan pada Jeff aku tetap tidak akan mencabut tuntutan ku atas Karisa. Jika sampai namanya terseret, anggap saja itu penebus kesalahannya selama ini pada anak-anakku."


Flo menatap sendu kearah Lusi dan Delano. Dia berjalan keluar dari ruangan Delano dengan langkah gontai. Setelah kepergian Flo, Delano memeluk Lusi dan meletakkan wajahnya di ceruk leher Lusi.


"Untung aku membawamu hari ini. Ternyata cobaanku hari ini sungguh banyak." lirih Delano, deru nafas Delano yang membentur kulit lehernya membuat tubuh Lusi kaku, bulu kuduknya meremang.


"Maas... " Lenguh Lusi merasakan geli. Namun Delano merasa seperti jiwanya terpanggil dia malah menghisap pundak Lusi. Di saat seperti itu tiba-tiba pintu terbuka dari luar dan masuklah Regan.

__ADS_1


"Tuan, 10 menit lagi kita meeting." Ujar Regan. Matanya langsung terpaku menatap kedua insan yang sedang berpelukan itu. Seketika Regan tersadar dan keluar dari ruangan Delano.


Wajah Lusi merah padam. Malu bukan main, apalagi yang memergokinya adalah sepupunya sendiri. Lusi mendorong Delano hingga pelukannya terurai. Namun bukannya wajah kesal yang di dapati Lusi melainkan senyum jahil suaminya.


"Bisa-bisanya mas malah senyum kaya gitu." gerutu Lusi.


"Terus mas harus apa?" wajah Delano benar-benar membuat Lusi kehabisan kata-kata. Dia memilih diam dan duduk di sofa.


"Terserah mas."


"Kamu tunggu di sini ya. Mas mau ada meeting dengan pemegang saham. Nanti akan ada Gisel dan Selly yang akan menemani kamu selama mas rapat."


"Iya mas, sebenarnya aku tidak perlu di temani. Lagi pula aku mau menyelesaikan design ku."


"Tidak untuk hari ini sayang. Mas melarang kamu bekerja hari ini, Ok!" mau tak mau, suka tak suka Lusi akhirnya mengangguk patuh. Delano mengecup kening dan bibir Lusi.


Ponsel Lusi berdering dan ternyata itu Lisa. Tanpa menunggu waktu lagi Lusi segera mengangkat ponselnya.


"Halo Lisa .... "


Dia mematikan sambungan telepon Lisa dan sedikit berlari keluar dari ruangan Delano hingga tanpa sengaja tubuhnya menabrak Gisel.


"Nona... " Gisel menahan tangan Lusi sehingga Lusi tidak terjatuh.


"Maaf, tapi seperti aku harus pergi. Tolong katakan pada Regan untuk menghubungi aku segera."


Lusi menghubungi Harlan orang kepercayaan ayahnya.


"Om, tolong lacak keberadaan nomer ponsel yang Lusi kirim sekarang. Secepatnya" ucap Lusi panik. Dia berkali-kali menekan tombol lift berulang-ulang.


Di tempat lain. Lisa terus berusaha meronta saat Sean membawanya ke dalam kamar. Dia memukul dan berteriak. Namun Sean tidak memperdulikan teriakan Lisa. Saat ini yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya mengikat Lisa dan membuat Lisa menjadi miliknya sepenuhnya.

__ADS_1


"Sean, lepas. Kenapa kamu jadi seperti ini?"


"Karena kamu yang memaksaku. Kamu yang membuatku menggila menginginkanmu Lisa."


"Kita tidak akan mungkin bisa bersama Sean. Terima saja semuanya. Ibumu tidak pernah menyukaiku."


"Sudah berapa kali aku bilang, ibuku merestui kita." Bentak Sean. Tubuh Lisa gemetaran. Pria yang dulu selalu bersikap lembut padanya kini telah berubah.


"Sshh ... jangan takut sayang. Aku akan melakukannya dengan lembut." Sean membuka satu per satu kancing bajunya. Melihat ada kesempatan, Lisa langsung berlari menuju pintu. Tapi sayangnya pintu itu terkunci. Sean yang merasa marah dengan penolakan Lisa langsung menarik rambut Lisa dan menariknya.


"Aarghh ... lepas Sean sakit." Lisa memegangi rambutnya yang di tarik oleh Sean. Kepalanya terasa berdenyut sakit. Penglihatan Lisa semakin lama semakin kabur dan akhirnya Lisa jatuh tak sadarkan diri.


Sementara itu Lusi yang sudah mendapat lokasi keberadaan Lisa langsung meminta Harlan dan orangnya untuk ke sana untuk menyelamatkan Lisa. Sedang Gisel yang bingung segera mencari Regan tanpa berpikir panjang.


Delano dan Regan saat itu sudah memulai meetingnya Gisel tampak bolak balik di depan pintu. Gisel sudah mencoba mengirim pesan. Tapi Gisel juga yakin saat ini pasti ponsel Regan dalam mode pesawat jika sedang rapat.


"Ada apa denganmu? kenapa nona pergi, apa tuan Delano tahu?" tanya Sally bertubi-tubi.


"Diamlah, aku pusing mendengarmu. Sekarang yang penting bagaimana memberitahu pada tuan dan Regan," wajah Gisel sudah seputih kapas mengingat kemarahan tuannya nanti.


Namun seorang OG membawa nampan mengetuk pintu. Gisel yang melihat ada kesempatan ikut menyelinap masuk hingga membuat semua orang yang sedang rapat menatapnya.


Delano mengernyit heran. Namun entah mengapa melihat wajah pucat Gisel membuat perasaannya tak enak.


"Ada apa Gisel? bukannya kamu menemani istriku?" tanya Delano. Semua anggota dewan direksi sudah tahu jika pimpinan perusahaan itu menikah lagi. Mereka hanya tersenyum maklum dengan pengantin baru.


"Anu ... anu begini tuan. Nona keluar dengan tergesa-gesa saat saya tiba di ruangan anda. Nona hanya berpesan agar tuan Regan menghubunginya.


Regan segera mengambil ponselnya. Dia hanya merubah mode silent ponselnya. 3 panggilan tak terjawab Lisa dan satu pesan suara Lusi yang mengatakan saat ini dia dalam perjalanan mencari Lisa.


Wajah Delano berubah dingin dan datar. "hubungi istriku sekarang juga Regan." Suara Delano menggelegar dan membuat semua dewan direksi terdiam takut.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Like komen dan giftnya aku tungguin ya.


__ADS_2