
Sudah hampir dua minggu ini Kania melakukan perjalan tour keliling Negri. Kini mereka berada di kota S yang terkenal padat penduduknya nomer dua dari kota J. Hari ini mereka mendapatkan hari libur karena besok pagi mereka sudah akan kembali ke kota J. Setelah selesai sarapan pagi di restoran hotel tempat mereka menginap Kania berinisiatif untuk jalan - jalan mencari beberapa oleh- oleh untuk Kinan dan Bara. Tadi malam ketika dia menghubungi Kinan anak itu sudah menangis karena rindu padanya. Dan sang suami berkata kalau dia masih dua hari lagi pulang dari Amerika. Setelah mengganti baju dengan baju lengan panjang yang di lipat hingga siku dan celana panjang , Kania segera keluar dari kamar hotel . Ketika sampai di loby hotel dia bertemu dengan Seto Aji dan Farel yang baru dari luar.
"Nia...mau kemana...?" tanya Farel.
"Mau keluar sebentar Rel...." jawab Kania.
"Gue temenin.....?" tanya Farel.
"Nggak usah, cuma sebentar doang kok.." jawab Kania.
"Kak Seto gue keluar dulu ya...?" kata Kania berpamitan.
"Iya...hati - hati Nia...?" jawab Seto Aji.
"Trimakasih kak... Rel gue keluar dulu..." kata Kania berpamitan.
"Iya, hati - hati..Nia kalau ada apa- apa telfon gue..." seru Farel ketika Kania terlihat sudah agak jauh.
Kania hanya menoleh sebentar dan tersenyum sambil mengangkat tangannya 👌.
Farel berjalan mengikuti Seto Aji meneruskan langkahnya menuju kamar mereka.
Sedang Kania setelah memakai masker dan topi dia segera memesan taksi untuk membawanya ke Mall yang letaknya tidak terlalu jauh dari hotel mereka tinggali .
Sesampainya di Mall Kania mulai berburu beberapa baju dan mainan buat Kinan, juga baju dan jam tangan buat Bara.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan Kania segera mencari taksi untuk kembali dihotel. Saat keluar dari Mall Kania melihat sebuah taksi yang baru menurunkan penumpang. Kaniapun segera naik taksi tadi. Ketika mereka melintasi daerah pertokohan Kania melihat seorang wanita muda sedang berhadapan dengan beberapa orang pria yang berwajah sangar dan berbadan kekar . wanita itu terlihat sangat takut pada pria- pria besar itu.
"Pak..tolong pelankan Mobilnya...ada apa dengan wanita itu Pak...?' tanya Kania pada pak sopir yang sudah agak tua itu.
"Entah Non...sepertinya mereka sedang mengancam wanita itu Non...." kata pak Supir tua itu.
"Kayaknya dia butuh pertolongan pak..." kata Kania.
"Benar Non..." kata pak sopir.
"Tolong bapak menghentikan mobil di dekat mereka pak...." kata Kania.
"Non...apa Nona nggak takut pada mereka...?" tanya pak Sopir.
"Insyaallah tidak pak...kasihan wanita itu kalau di biarkan saja... Apa nggak ada orang yang bisa menolong wanita itu pak....?" tanya Kania.
'Mereka pada takut pada kelompok preman itu Non... Mereka terkenal sangat sadis kalau menganiaya orang.."jawab Pak sopir.
"Kalau begitu bapak di dalam mobil aja, biar saya yang akan turun sendiri, tutup pintinya dan kunci dari dalam pak.. " kata Kania sambil membuka pintu mobil.
"Baik Non....hati - hati Nona..." kata pria tua itu.
"Iya , trimakasih pak..." jawab Kania. Dia segera mendekati Wanita yang sedang di buly oleh beberapa pria sangar itu.
"Bang...nggak ada bagus- bagusnya lo ngebuly seorang wanita..." kata Kania mengejek. Para pria tadi yang terdiri dari lima orang itu serentak menatap kearah suara yang menegur mereka. Mereka terkejut ketika mereka melihat seorang gadis yang memakai topi dan bermasker.
"Waah ada pahlawan kesiangan nich..." kata salah satu dari mereka .
"Non...nggak usah ikut campur urusan kami, apa kau nggak tahu lagi berurusan dengan siapa Nona..." tanya mereka sambil mendekati Kania.
"Gue nggak perduli elo siapa, yang gue tahu elo lagi ngebuly seorang wanita, apa elo semua nggak malu, badan segede gajah tapi beraninya cuma bisa ngebuly seorang wanita.." ejek Kania.
"Bangsat....ternyata mulutmu tajem juga bocah....apakah kau tidak tahu sedang berhadapan dengan kelompok macan kumbang Nona...?" seru pria yang memakai tato di lengan kirinya.
"Sudah gue bilang...gue nggak perduli siapa elo , yang gue perduliin cuma wanita yang kalian buly itu, .." jawab Kania cuek.
"Heeh...apakah wanita ini saudara kamu...? Hingga kau mencoba menolongnya ..?" tanya pria bertato tadi sambil menatap Kania dengan wajah sangarnya.
"Apakah menolong seseorang itu harus mampunyai ikatan saudara bang..." jawab Kania.
"Kalau begitu rasakan penyiksaan dari kami karena keusilanmu itu...Boneng hajar dia...." teriak laki- laki bertato tadi. Dan pria yang di panggil Boneng segera menghadapi Kania. Dan dengan gerakan cepat Boneng menyerang Kania. Namun tanpa mereka duga hanya dengan beberapa gerakan saja Kania telah merobohka Boneng hingga tak bisa berdiri lagi . melihat kejadian itu pria bertato tadi menjadi marah.
"Sialan...ternyata kau berisi juga Nona. Tapi jangan bangga dulu , sekarang rasakan pukulan dari ku...." kata pria itu sambil berjalan kearah Kania yang kini tegak berdiri.
"Jangan hanya satu orang bang...kalian semua maju aja bersama- sama..." seru Kania mengejek.
"Bangsat.. kau sombong sekali Nona, ayo kawan - kawan lita habisi wanita sombong ini..." teriak pria bertato itu dengan marah.
Mendengar teriakannya ketiga temannya segera mengepung Kania.
Mereka segera memasang kuda- kuda untuk menyerang Kania. Tak berapa lama terlihat pertarungan empat lawan satu, di mana keempat pria tadi berperawakan kekar semua. Dan tanpa mereka sadari perkelahian mereka menjadi tontonan para pengguna jalan. Untunglah keadaan di daerah itu tidak terlalu ramai. Dan akhirnya mereka dapat di tumbangkan Kania dalam waktu tidak sampai 30 menit saja.
"Maaf bang...sebenarnya gue nggak mau ikut campur urusan kalian ... Tapi gue nggak bisa diam ketika kalian menganiaya seorang wanita, karena gue seorang wanita juga.... Maafkan gue bang.. Kalau kalian mempunyai seorang pemimpin lagi, dan pimpinan kalian nggak rela melihat kekalahan kalian , kalian bisa mencari gue, gue ada di kota J, cari Dewi maut dari kota B..." kata Kania sambil berjongkok dan memegang pundak preman yang bertato itu, pria itu terduduk dengan memegangi perutnya. sepertinya kedudukan pria itu lebih tinggi dari keempat preman ya g lain. Ketika mendengar julukan Kania, tiba- tiba pria bertato itu mukanya pucat.
"Dewi Maut...? Apakah yang anda maksud Dewi Maut Kebaikan...?" tanya pria itu dengan wajah pucat.
"Waah... Abang mengenal nama gue...?" kata Kania dengan wajah ramah, tapi mereka tahu di balik keramahan wanita itu. Siapa yang tak mengenal julukan dari Dewi Maut Kebaikan, yang terkenal dengan kesadisannya pada para penjahat itu.
"Ma...maafkan kami Nona...maafkan kelancangan kami...." seru pria itu sambil bersujut minta ampun, begitupun dengan keempat orang temannya.
"Hey, hey...kenapa kalian seperti itu...?" kata Kania kaget. Dia tak menyangka mereka akan bertingkah seperti itu.
"Ma..maafkan kami Nona... Kami tidak tahu tingginya gunung yang berada di hadapan kami, tolong maafkan Kami nona..." seru mereka.
"Tolong Nona maafkan kami..." kata mereka.
"Sudah, sudah tolong jangan bertingkah seperti itu, gue hanya nggak ingin kalian menindas orang yamg lemah yang seharusnya kalian tolong..." kata Kania lagi.
"Maafkan kami Nona..." kata pria bertato itu.
"Ya sudah gue mau pergi, kak...apa kakak mau ikut saya...? kita bisa berbincang sebentar kak...?" kata Kania pada wanita yang tadi di aniaya mereka. Wanita itu hanya mengangguk , Kania segera membawa wanita itu masuk kedalam taksi. Setelah berada di dalam taksi Kania segera mengajak wanita itu berbincang - bincang.
__ADS_1
"Kak...di mana rumah kakak...? Kita akan Mengantar kakak kerumah kakak.." kata Kania dengan lembut. Terlihat wanita itu menundukkan kepalanya. Dia menangis perlahan.
"Lo kok nangis kak... Ada apa....? Apa ada ucapanku yang menyinggung kakak..?" tanya Kania, dia memanggil wanita itu kakak karena sepertinya wanita itu lebih tua sedikit dari Kania.
"Tidak dek..aku nggak punya rumah lagi.." jawab wanita tadi.
"Maksud kakak...?" tanya Kania tak mengerti.
"Rumahku telah di jual oleh paman dan bibiku setelah kematian kedua orang tuaku dek..." jawab Wanita itu kembali. Kania dapat melihat penderitaan di mata wanita itu ketika dia menatap wajah Kania.
"Ya ampun... apa kakak tidak mempunyai keluarga lagi...?" tanya Kania.
"Setelah kepergian kedua orang tuaku karena kecelakaa , keluargaku hanya tinggal paman saja dek... " jawab Wanita itu. Kania terdiam setelah mendengar perkataan Wanita itu.
"Oh ya nama kakak siapa...aku Kania..." kata Kania sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Widuri dek..." jawab wanita itu dengan senyum yang di paksakan . wanita ini cantik, sangat cantik dan dia terlihat kembut.
"Kak...apa kakak mau ikut aku..?" tanya Kania perlahan.
"Kemana dek....?" tanya Widuri sambil kembali menatap Kania.
"Ke kotaku...kota J..." jawa. Kania.
"Lo...jadi Nia maaf boleh kakak memanggilmu Nia...?" tanya Wanita agak takut.
"Bokeh kak.. Dan aku tahu kakak mau tanya apa...aku bukan orang sini kak... Aku di sini lagi ada tugas..." jawa. Kania.
"Kalau kau tidak keberatan aku mau ikut denganmu dek..." jawab wanita itu.
"Keputusan yang bagus, kalau begitu ayo kita pergi sekarang...pak langsung ke Hotel DJ pak..." kata Kania.
"Kau tinggal di hotel dek..?" tanya Widuri kaget.
"Iya.. Kami akan pulang besok pagi..." kata Kania sambil tersenyum manis.
"Kami...? Jadi kau tidak sendirian....?" tanya Widuri kaget.
"Kau akan tahu sendiri nanti kak...?" kata Kania lembut.
Tak berapa lama sampai lah mereka di Hotel DJ. Setelah membayar ongkos taksi dan memberi tambahan pada sopir tua yang menerimanya dengan keharuan Kania segera mengajak Widuri turun dari taksi.
"Non...terimakasih , dengan uang ini bapak bisa membawa putra bapak berobat..." kata pria itu terharu. Ada air mata di pipi tuanya.
"Lo putra bapak sakit....?sakit apa pak...?" tanya Kania kaget.
"Sakit paru- parunya kambuh Non..." jawab Supir itu dengan sedih. Kania segera merogoh kedalam tas kecilnya kembali . Dia mengeluarkan kembali beberapa lembar uang berwarna merah.
"Pak ini untuk berobat putra bapak..." kata Kania sambil menyerahkan uang tadi.
"Sudah Non...ini sudah cukup..." kata sang supir tua tadi. Dia kaget melihat tumpukan uang di tangan Kania.
"Non...trimakasih, trimakasih sekali non... semoga Tuhan membalas kebaikan Non Kania..." jawab sopir itu tak henti me keluarkan air mata, dan ucapan syukur dia ucapkan selalu.
"Amiin..." jawab Kania. Sedang Widuri yang berada di sebelah Kania ikut merasakan keterharuan melihat Kania dan pak sopir itu.
"Ya sudah saya masuk dulu pak, Asalamualaikum..." pamit Kania.
"Waalaikum salam sekali lagi terimakasih Nona..." kata pak supir itu terharu. Kania hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.
Dia segera mengajak Widuri masuk kedalam hotel mewah itu. Widuri terlihat malu ketika dia masuk kedalam hotel banyak yang memandanginya. maklum Widuri saat ini masih dalam keadaan berantakan setelah di buly para preman tadi.
"Dek..." kata Widuri perlahan.
"Ada apa kak...?" tanya Kania sambil memandang Widuri.
"Kakak malu, mereka menatap keadaan kakak...?" kata widuri pelan.
"Tenang aja kak...cuekin aja..." jawab Kania sambil tertawa. mereka segera berjalan kearah lift yang akan membawa mereka menuju kamar Kania. ketika sampai di kamar Kania, Kania segera menyuruh Widuri untuk mandi. Karena baju dan tas Widuri sudah di acak - acak oleh para preman tadi. dan tertinggal di sana, Widuri kebingungan untuk mencari baju ganti. tapi tiba- tiba Kania memberikan sebuah celana dan baju lengan panjang serta baju dalaman punya dia.
"Maaf kak karena bajumu tidak ada dan kita belum sempat beli, nggak apa- apa kan kalau kakak sementara ini memakai baju Nia..." kata Kania sambil menyerahkan baju miliknya. tubuh mereka memang hampir sama, hanya sedikit lebih tinggi Kania.
"Dek...kakak nggak berani memakai baju semahal ini..." kata Widuri kaget.
"Lo..kakak kok tahu kalau baju ini baju mahal...?" tanya Kania kaget. karena baju yang Kania berikan pada Widuri adalah baju merek C yang memang terlihat sangat sederhana namun harganya cukup mahal.
"Karena kakak dulu bekerja di sebuah butik terkenal di kota S ini, dan karena kesukaan kakak merancang baju ,setelah beberapa tahun bekerja dan memiliki modal, akhirnya kakak mendirikan sebuah butik sendiri , tapi karena keserakahan paman Kakak adik dari Papa, setelah kepergian kedua orang tua Kakak mereka mengambil rumah dan butik kakak dengan alasan Papa mpunyai hutang padanya. mereka merapat rumah dan butik , mereka mengusir kakak tanpa uang sepeserpun, mereka sekarang telah menjul rumah dan butik yang kakak miliki itu..." kata Widuri mengenang kehidupannya.
"Ya ampuun jahat banget mereka.. jadi kakak mempunyai kepandaian merancang baju...?" tanya Kania.
"Iya dek...kakak memiliki sedikit kepandaian merancang baju..." jawab Widuri lagi.
"Kak...gimana kalau kita membuat butik di kota J, kakak yangmenjadi perancang baju dan Nia yang memberi modal dan tempatnya...?" kata Kania.
"Beneran dek...." kata Widuri kaget.
"Iya..eh rapi kakak mandi dulu gih, setelah itu kita makan siang, Kania sudah laper..." kata Kania .
"Maaf kakak ngerepotin kamu dek.." Kata Widuri merasa bersalah.
"Sudah kakak nggak usah sungkan kayak gitu...uda mandi sana setelah itu ganti Kania yang mau mandi..." kata Kania.
" Baik dek..." kata Widuri sambil berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Sedang Kania segera menelfon Kinan. Anak kesayangannya itu, Dia akan marah jika sehari saja Kania nggak menelfon.
"Asalamualaimum sayang...." sapa Kania ketika melihat wajah mungil itu muncul di layar ponselnya.
__ADS_1
"Waalaikum salam Ma... kapan Mama pulang...?" tanya Kinan dengan wajah cemberut.
"Lo kok anak Mama wajahnya cemberut gitu..., kenapa....?" tanya Kania .
'Kinan kangen Mama....?" jawa Kinan sambil matanya berkaca- kaca.
"Sabar sayang... besok Mama sudah pulang kok...?" kata Kania lembut.
"Beneran Ma...?" tanya Kinan semangat. terlihat Wajahnya kembali cerah
"Iya sayang...." jawan Kania.
"Horee....Mama akan pulang besok..." seru Kinan gembira.
"Kinan tadi sekolah kan...?" tanya Kania.
"Iya Ma...tadi Kinan di antar kak Arum dan kak Keti..." jawab Kinan.
"Lo emang bik Siti kemana...?" tanya Kania heran.
"Ada di rumah... tadi kak Arum dan kak Keti yang menjaga Kinan...'kata Kinan memjelaskan.
" Oo..gitu...kirain bik Siti kenapa - napa.." kata Kania.
"Bik Siti nggak kenapa- napa kok Ma.." kata Kinan lagi. Kania tersenyum menatap Kinan yang sedang berceloteh menceritakan hari- harinya di sekolah. Kania mendengarkan dengan sesekali tertawa. setelah agak lama berbincang akhirnya Kania berkata.
'Ya sudah sayang, Mama mau mandi dulu ya..., badan Mama masih Bau sayang..." kata Kania.
"Ya udah Mama mandi dulu, nanti Mama sakit..." kata Kinan penuh sayang.
"Kinan jangan lupa habis ini makan ya... Asalamualaikum....." pamit Kania.
"Iya..Waalaikum salam Ma..." jawab Kinan, Kania segera menutup telfonnya. Bertepatan saat itu terlihat Widuri keluar dari kamar mandi dengan baju pemberian Kania. Kania sangat kagum melihat penampilan Widuri setelah tubuh dan wajahnya bersih. Dia terlihat cantik dan anggun.
"Dek...punya Mukenah...?' tanya Widuri.
"Ada kak , itu di atas Nakas dekat tempat tidur..." jawab Kania.
"Aku pinjam ya...?" kata Widuri.
"pakai aja kak..." jawab Kania sambil berjalan kearah kamar mandi. tak lama terdengar bunyi air mancur yang keluar dari sower yang di hidupkan. Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Kania segera keluar kamar mandi dan menunaikan solat dhuhur. setelah solat dan berbenah diri mereka segera turun kebawah untuk mencari makan siang. Di sanalah Widuri baru tahu siapa Kania. ketika mereka bertemu dengan beberapa artis saat makan bersama.
waktupun berlalu dengan cepat. setelah makan malam bersama beberapa artis dan menentukan kepulangan mereka , Kania segera kembali kekamarnya dengan membawakan makanan untuk Widuri yang tak mau makan bersama dengan para artis. dia beralasan malu pada mereka.
Setelah sampai di kamar waktu sudaj menunjukkan jam 22.30 malam. Kania segera memberikan makanan itu pada Widuri. sedang dia sendiri menelfon Bara. dia tahu saat ini di Amerika pasti sudah jam 10 .30 pagi. Hanya butuh dua deringan saja telfon sudah di angkat oleh Bara.
"Assalamualaikum sayang..." terlihat wajah tampan Bara di layar ponsel Kania.
"Waalaikum salam Pa... Lo Papa di mana ini...?" tanya Kania kaget. karena terlihat latar belakang Bara terlihat banyak orang.
"Papa lagi di ruang rapat Ma..." kata Bara sambil tersenyum.
"Kalau begitu Mama mengganggu ya...?" tanya Kania merasa bersalah.
"Nggak...sekarang masih istirahat..." jawab Bara. sedang Anton yang ada di sebelah Bara hanya bisa tersenyum kecut.sedang bawahan Bara terkejut ketika mendengar nada lembut dari mulut Bara. sebab mereka tak pernah mendengar perkataan Bara yang seperti itu.
"Syukurlah...." kata Kania legah. namun dia sempat melihat senyuman Anton yang ada di sebelah Bara .
"Ada apa sayang...? " tanya Bara yang berjalan menjauh dari ruang rapat.
"Papa kapan pulang....?" tanya Kania.
"besok... kenapa sudah rindu sama Papa...? " tanya Bara menggoda.
"Nggak boleh...?" tanya Kania.
"Boleh sayang...sangat boleh, malah Papa sangat bahagia... " jawab Bara bahagia. mereka berbincang melepas rindu. namun Kania sadar kalau Bara di tunggu di ruang rapat .
"Ya sudah Pa...Papa balik lagi keruangan Papa, Mama mau tidur Pa..karena kami besok akan kembali ke jakarta pagi hari..." kata Kania.
"Iya sayang ... cium dulu Papa..." goda Bara.
"Hii...Papa mulai genit ya..." kata Kania sambil cemberut. Bara tertawa melihat sang istri yang terlihat mengemaskan , membuat dia semakin ingin cepat pulang.
"Ya sudah Selamat tidur sayang..." ucap Bara lalu segera menutup telfonnya dan kembali keruang rapat.
sedang Kania segera masuk kedalam kamar karena tadi dia menelfon di balkon kamar nya.
Ketika sampai di kamar terlihat Widuri sedang tidur di sofa.
"Kak...kenapa nggak di atas ranjang...?" tanya Kania heran.
"Kakak di sini saja Nia..." jawab Widuri sambil tersenyum. Dia merasa sungkan pada Kania.
"Kalau gitu ini selimut buat Kakak..." kata Kania. sambil memberikan salah satu selimut yang ada di atas pembaringan .
"Lalu kau pakai apa...?" tanya Widuri.
"Ini ada dua kak...." jawab Kania.
Widuri segera mengambil selimut dari tangan Kania.
"Ya sudah Kania tidur kak...selamat malam..." kata Kania sambil merebahkan badannya.
"Selamat malam juga dek..." jawab Widuri yang juga merebahkan tubuhnya di sofa.
Udah dulu ya.... kita lanjut besok, jangan lupa like dan komennya author tunggu.
__ADS_1
Bersambung.