
Ketika mereka sampai di rumah Bara terlihat Kinan telah menunggu mereka di teras rumah. Ketika dia melihat mobil sang Papa telah terlihat di pintu gerbang, dia terlihat berdiri dari tempat duduknya. Setelah mobil mulai mendekat dia berdiri dengan wajah cemberut.
"Lihatlah wajah putramu Bunda..." kata Bara sambil tersenyum.
"Mungkin dia marah karena kita datang siang hari..." jawab Kania.
Bara segera menghentikan mobilnya di halaman rumah. Kania segera keluar dari dalam mobil. Dia menghampiri sang pangeran kecilnya.
"Hay sayang..." sapa Kania sambil mengambil Kinan dan menggendongnya.
"Lo kok anak Bunda cemberut...?" goda Kania sambil mencium pipi Kinan.
Namun yang di goda hanya memperlihatkan wajahnya yang sedang marah.
"Ya ampuun... Ternyata ada yang lagi marah sama Bunda nich....?" kata Kania kembali mencium pipi Kinan.
"Kalau seperti ini Bunda jadi sedih dech.." kata Kania sambil memperlihatkan wajah sedih. Seketika Kinan memeluk leher Kania.
"Kenapa Bunda pulangnya siang...?" kata Kinan merajuk.
"Sayang.... Di sana kan ada kakek dan nenek, jadi Bunda harus berpamitan dulu dengan Kakak dan Nenek kan..." kata Kania beralasan.
"Kinan sudah sejak tadi pagi menunggu Bunda dan Papa..." kata Kinan masih memeluk leher Kania dan meletakkan kepalanya di bahu Kania.
"Maafkan Bunda sayang... " jawab Kania. Mereka berjalan masuk kedalam rumah bersama- sama. Bara yang melihat kedekatan Kinan terhadap Kania hanya bisa tersenyum dan mengusap lembut kepala Kinan.
"Sekarang apa yang harus Bunda lakukan untuk menebus kesalahan Bunda...?" tanya Kania pada Kinan yang ada di dalam gendongannya. Terlihat Kinan mendongakkan kepalanya menatap Kania. Dia berpikir sebentar.
"Kita jalan - jalan Bunda..." ajak Kinan .
"Jalan- jalan...? Kinan maunya kemana..?" tanya Kania.
"Kita jalan- jalan ke mall Bun...?" kata Kinan membuat Kania dan Bara kaget.
"Ke Mall...?" tanya Kania tak percaya.
"Iya...Kinan pingin ke mall bersama Bunda, kata teman- teman kemall itu asyik..."kata Kinan dengan mimik lucu.
"Hmm..Baiklah...?" jawab Kania.
"Bun....apa boleh Kinan memanggil Bunda Mama...?" tanya Kinan tiba- tiba.
Kania Dan Bara saling pandang mendengar permintaan Kinan.
"Kenapa kau pingin panggil Bunda Mama..?" tanya Bara sambil memandang anak laki- lakinya.
"Kata Oma sekarang Bunda Kinan adakah Mama Kinan, jadi Kinan Boleh kan memanggil Bunda dengan sebutan Mama...?" tanya Kinan lagi.
"Sayang...apa bedanya memanggil Bunda dan Mama...?" tanya Kania.
"Kalau Kinan memanggil Bunda rasanya Bunda bukan Mama Kinan, tetapi kalau memanggil Mama serasa Kinan sudah memiliki Mama sesungguhnya..." jawab Pria kecil itu dengan polosnya. Kania terharu mendengar perkataan Kinan . Dia segera memeluk tubuh kecil itu dengan sayang.
"Boleh sayang... Kinan boleh memanggil Bunda dengan sebutan apapun yang Kinan sukai. Karena Kinan adalah putra Bunda yang paling Bunda sayangi..." jawab Kania.
"Mama..kinan bahagia , kini kinan memiliki Mama yang sangat menyayangi Kinan, Trimakasih Ma...." kata Kinan yang berada di dekapan Kania .
"Sama- sama sayang..." jawab Kania .
"Hey, hey...Papa juga pingin di peluk Istri dan Putra Papa lo..." kata Bara sambil memeluk mereka berdua. Mereka pun berpelukan bertiga. Dan tanpa mereka sadari bik Siti dan Mamat sedang melihat perbuatan Bos mereka yang membuat mereka terharu. Dan bik Siti tanpa terasa meneteskan air mata.
"Ya Tuhan...semoga kehidupan rumah tangga mereka selaku bahagia..." gumam bik Siti mendoakan.
"Baiklah hari ini Mama dan Kinan akan pergi ke mall berdua..." kata Kania setelah Bara melepas pelukan nya.
"Lo Papa nggak di ajak...?" tanya Bara.
"Tidak...hari ini khusus untuk Kinan, ya kan sayang....?" kata Kania sambil mencium pipi Kinan kembali.
"Horeee...Kinan mau ke Mall bersama Mama..dan Papa nggak di ajak..." seru Kinan gembira.
"Mama...kok Mama pilih kasih..." kata Bara sambil cemberut.
Cup...
"Bukankah nanti sore Papa ada pertemuan...?" kata Kania sambil mengecup lembut pipi Bara.
Bara tertegun mendapatkan ciuman yang tak pernah Kania lakukan di depan Kinan atau di tempat terbuka. Sedang bik Siti dan bang Mamat menahan tawa saat melihat sang majikan terbengong mendapatkan ciuman dari sang istri. Sedangkan orang yang membuat Bara tertegun sudah berjalan kearah Kamarnya.
Terlihat Bara tersenyum senang melihat perbuatan sang istri yang mulai menunjukkan rasa cintanya pada dirinya. Dia segera menyusul Kania dan Kinan keatas.
"Ma...bukan di situ lagi kamar Mama, tapi di sana, di kamar Papa..." kata Bara yang sudah berdiri di sebelah Kania.
"Tapi baju Kania...?" tanya Kania heran.
"Semua yang baru sudah di pindah di kamar Papa. Yang di sana yang sudah lama mama miliki..." jawab Bara.
"Tapi Pa..."
"Sudahlah..Mama lihat aja yuk di kamar Papa...?" ajak Bara. Mereka pun akhirnya melangkah ke arah kamar Bara.
Saat Kania masuk kekamar Bara teryata kamar itu telah berubah. Dulu saat kania masuk warnah kamar yang bernuansa putih dan abu- abu kini berubah menjadi putih polos dan ada beberapa tempat berwarna kuning emas. Dan tempat tidurnya kini terlihat lebar dan di kepala ranjang terlihat ukiran yang bercat kuning emas. Di depan pintu kamar mandi terlihat meja kecil dan diatasnya terdapat pot bunga yang terlihat indah.
di sebelahnya terdapat meja rias dengan ukiran yang tak kalah indahnya. diatas meja itu terlihat sudah penuh dengan alat kecantikan keluaran merek terkenal dan mahal.
"Pa...sejak kapan Papa merubah kamar ini...?" tanya Kania.
"Dua minggu yang lalu Ma..." jawab Bara.
" Apakah Mama suka...?" tanya Bara .
__ADS_1
"Suka..Mama suka banget .." jawab Kania membuat Bara gembira.
"Baju milik Mama ada bersama baju Papa Ma..." kata Bara menjelaskan. Kania berjalan perlahan setelah menaruh Kinan di atas pembaringan.
Kania segera membuka pintu ruangan tempat baju Bara berada. Ketika pintu terbuka sedikit , Kania dapat melihat deretan baju Bara. Dan ketika Kania mulai masuk kedalam ruangan itu, terlihat deretan baju laki- laki dan perempuan tergantung dengan rapi di ruangan itu, juga deretan tas bermerk terkenal, seperti tas yang berbentuk seperti bunga mawar yang terdiri dari berlian , batu safir merah dan batu turmalin yan harganya lebih dari 1 M itu ada di sana , juga ada tas tangan yang berwarna putih yang terlihat sangat elegan yang Kania tahu harganya lebih dari 2 M itu juga ada di suni. Dan banyak lagi tas bermerk mahal berada di sana. Kania tahu semua itu karena dia pernah lihat di yutub
"Ya Tuhan...kapan suamiku itu membeli tas - tas mahal ini" seru Kania dengan wajah kaget. Dan di sana juga terdapat tumpukan sepatu dengan berbagai warna yang Kania tahu juga sangat tinggi harganya. Kania akhirnya tak sanggup melihat barang- barang itu dan cepat- cepat keluar.
"Pa...Papa kapan beli barang - barang itu..?" tanya Kania setelah berada di depan sang suami.
"Papa sudah membelinya sebulan yang lalu..." jawab Bara enteng.
"Papa..kau tahu harga barang- barang itu kan...?" tanya Kania kesal.
"Iya Papa tahu, karena Papa yang membeli sendiri barang- barang itu...?" jawab Bara.
"Dan Papa membeli banyak barang- barang itu...?" tanya Kania.
"Iya kenapa sayang...?" tanya Bara dengan memeluk Kania gemas.
"Pa...berapa banyak uang yang papa buang hanya untuk membeli barang- barang itu Pa...?" kata Kania kesal.
"Semua yang Papa lakukan untuk Mama, akan membuat Papa bahagia..." jawab Bara dengan wajah tenang.
"Ck..Papa..ta.." kalimat Kania terpotong dengan telunjuk Bara sang berada di bibirnya.
"Sudah...itu memang keharusan untuk Papa memberikan Mama barang- barang mahal, Mama itu sekarang adalah istri dan sekaligus artis yang selalu menjadi sorotan umum, dan Papa tak akan segan memberikan barang- barang mewah untuk Mama, jadi Papa mohon jangan protes lagi sayang..." jawab Bara yang membuat Kania terdiam.
"Baiklah, Mama akan memakai barang- barang itu karena keinginan suami Mama yang tampan ini, tapi tolong jangan sering- sering Papa membelikannya, karena barang yang Papa beli dulu itu masih banyak yang belum Kania pakai..." jawab Kania.
"Baik ratu.. Papa akan mendengarkan apa yang Ratu perintahkan..." goda Bara. Kania tersenyum mendengarkan omongan Bara.
Bara segera melepaskan pelukannya di tubuh Kania ,setelah mengecup sekilas bibir merah sang istri. Mereka segera mendekati Kinan yang sedang bermain game di ponsel Kania.
"Sayang kita pergi ke Mall sekarang yuk..?" ajak Kania pada Kinan.
"Baik Ma..." jawab Kinan semangat. Dia segera menghentikan permainan nya.
"Papa mau ikut...?" ledek Kinan yang tahu kalau sang Papa nggak bisa ikut mereka.
"Ck dasar kau ini...kau tahu Papa nggak bisa ikut, karena itu kau mengejek Papa kan...?" kata Bara kesal.
Kania tertawa melihat tingkah sang suami.
"Apa Papa bisa menjemput Kamis nanti sore...?" tanya Kania dengan lembut.
"Apa kalian nanti sampai sore...?" tanya Bara terlihat cerah.
"Kamis akan melakukan banyak permainan hingga nanti kami pulang agak malam ..." jawab Kania.
"Kalau begitu kalian tunggu Papa, Papa akan mejemput kalian...." kata Bara.
"hey tunggu dulu..." kata Bara.
Kania menatap sang suami yang sedang mengambul dompetnya yang ada di saku celana nya. terlihat dia mengeluarkan kartu hitam dan menyerahkan pada Kania.
"Apa ini Pa..?" tanya Kania heran. dia tahu keistimewaan kartu yang ada di tangannya. ini adalah Black card yaitu kartu Eksklusif yang hanya di milik oleh para melyuner saja.
"Kartu milik Mama... Mama bisa memakai kartu itu untuk semua keperluan Mama..." jawab Bara sambil mencium lembut Kania.
"Tapi Pa..kartu ini sa.."
" Ck kai ini...kenapa selalu memprotes Papa sich... kau itu istriku sayang, jadi sewajarnya kau memakai uangku..dan itu sudah menjadi hakmu sayang..." jawab Bara memotong pembicaraan Kania.
"Baiklah Kania akan memegang kartu ini, sekarang kita turun kebawah yuk..." ajak Kania. merekapun segera turun kelantai bawah. sesampainya di sana Kania mencari Arum dan Keti untuk di ajak keluar. setelah mereka siap , mereka segera keluat rumah.
"Pa..Kania dam Kinan pamit Dulu ya.. Asalamualaikum..." pamit Kania. pada Bara yang mengantar mereka sampai pintu depan.
"Walaikum salam...hati- hati di jalan.."kata Bara . Kania tersenyum dan masuk kedalam mobilnya. tak berapa lama mobil Kania pergi meninggalkan rumah besar Bara.
Di dalam perjalanan terlihat Kinan yang berwajah ceriah.
"Sayang...kau bahagia...?" tanya Kania yang melihat keceriaan di majah Kinan.
"Sangat Bahagia Ma... karena Kinan bisa pergi ke Mall bersama Mama..." jawab Kinan dengan wajah gembira.
"Waah...panggilan anak elo udah berubah Bos..?" tanya Arum yang memang suka kepo.
"Iya Rum...itu permintaan putraku yang tampan ini..." jawab Kania sambil memeluk dan mencium pipi Kinan.
"Karena sekarang Kinan sudah mempunyai Mama kak..." kata Kinan menyelah.
"Waah memang benar itu den... sekarang Den Kinan sudah memiliki Mama yang sangat sayang sama den Kinan..." kata Arum ,
"Iya kak , karena itu Kinan sekarang memanggil Bunda dengan sebutan Mama.." jawabnya dengan bangga.
"Bagus den..Arum mendukung den Kinan.." kata Arum lagi.
"Kak Keti juga den...?" kata Keti sambil menyetir. tak terasa mobil Kania sudah berada di parkiran sebuah Mall terbesar di kota J.
"Nach sudah sampai yuk kita masuk..." kata Kania sambil keluar dari mobilnya bersama Kinan. mereka berempat segera berjalan menuju Mall yang terlihat cukup ramai. saat mereka sedang memasuki mall di depan sebuah restoran terlihat dua orang anak kecil sedang meminta- minta. dia terlihat sedang menatap makanan yang ada di etelase restoran itu. perlahan Kania medekati mereka.
"Kakak mintah sedekahnya...?" kata Salah satu bocah yang terlihat agak besar.
"Kalian belum makan...?" tanya Kania sambil berjongkok di depan kedua anak itu.
"Belum Kak..." jawab Mereka hampir bersamaan.
"Ayo kalian ikut kakak...?" ajak Kania.
__ADS_1
"Tapi kak.. kami seperti ini...?" kata Mereka merasa malu.
"Kenapa...? kakak nggak masalah kok ayo...?" ajak Kania pada mereka. mereka membawa kedua anak itu masuk kedalam restoran . saat mereka masuk para pengunjung restoran pada menatap mereka.
"Kak...kami takut...Kata mereka..." sambil memandang mereka yang ada di dalam restoran.
"kalau begitu kalian tunggu di sini dulu, Arum kau belikan baju untuk dua anak ini .." perintah Kania sambil memberikan beberapa lembar uang warnah merah. Arum pun segera beranjak pergi kearah toko baju yang tak berapa jauh dari mereka. beberapa saat kemudian Arumpun datang dengan membawa dua setel baju untuk mereka. setelah menyerahkan baju pada Kania, Kania segera membawa mereka kekamar mandi yang ada di dalam Mall itu. Setelah menyuruh kedua anak itu mandi dan berganti baju, Kania segera membawa mereka masuk kembali kedalam restoran tadi.
"Nach sekarang kalian tidak menjadi pusat perhatian mereka kan...?" kata Kania. Kedua anak tadi hanya tersenyum senang. mereka segera mengikuti Kania untuk masuk kedalam restoran itu dan duduk dengan tenang di meja brsama Kania , Kinan dan kedua pengawalnya.
"Sayang...kau ingin makan juga...?" tanya Kania pada sang putra.
"Iya Ma.. Kinan ingin makan juga.." jawab Kinan. Kania segera memesan makanan buat mereka berlima...
"Oh ya nak, siapa nama kalian...?" tanya Kania sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Saya Roni Kak dan ini adik Saya yang bernama tuti..." jawan anak laki- laki yang agak besaran dari adik perempuannya. sepertinya umur adik perempuannya seumuran Kinan.
"Kenapa Kalian meminta- minta, dimana orang tuamu sayang...?" tanya Kania yang teringat masa kecilnya.
"Ibu kami ada dirumah sedang Ayah kami sudah meninggalkan Kami sejak kami masih kecil sekali..." tutur anak itu dengan wajah sedih.
"Apakah kamu tidak sekolah...?" tanya Kania prihatin.
"Roni sekolah Kak, tapi selama ibu sakit, Roni mencari uang untuk membelikan obat dan makanan buat Kami. tapi sudah dua hari ini Roni mencari pekerjaan tapi mereka tidak ada yang mau memberikan Roni pekerjaan , mungkin karena Roni masih kecil. .." Kata anak itu sendu.
Percakapan mereka terhenti Karena pesanan makanan mereka sudah datang.
"Ya sudah makanan sudah datang, kita makan dulu yuk..." kata Kania mengalihkan pembicaraan mereka. Akhirnya mereka makan bersama- sama. Terlihat kedua anak itu makan dengan lahabnya. Kinan sampai ternganga melihat perbuatan kedua anak itu yang sedang makan makanan yang mungkin belum pernah mereka makan. Setelah makan terlihat anak itu masih menatap makanan yang ada di atas meja.
"Kalian masih lapar....? " tanya Kania.
"Kak.. boleh kita membawa sisah makan ini buat di bawa pulang kerumah...?" tanya Roni dengan takut- takut .
"Untuk apa ...?" tanya Kania heran.
"Untuk ibu yang sedang sakit kak...?" jawab Roni dengan takut dan malu. Kania merasakan sesak di dalam dadanya ketika mendengar perkataan Roni.
"Ron...kau habiskan makananmu soal ibu kalian biar Kakak nanti membelikannya.. Kata Kania. bocah kecil itu terlihat sangat gembira . dia kembali mengambil makanan yang ada di atas meja. Setelah Selesai makan Kania memesankan makanan buat di rumah mereka juga mengajak merek untuk ketoko makanan. Kania membelikan bahan makanan dan beberapa bahan dapur untuk Roni. dia juga memberikan. beberapa baju untuk Roni dan Tuti.
"Sayang ...kita kerumah Roni dulu ya...?" kata Kania pada Kinan yang sejak tadi ikut memilih makan dan minuman yang akan mereka bawa kerumah Roni.
"Iya Ma...kita kerumah Roni dulu..." jawab Kinan dengan ceriah.
"Ron ..apakah rumahmu masih jauh dari sini..?" tanya Kania pada Roni.
"Tidak terlalu jauh kak... hanya beberapa gang dari sini, tapi apa kakak mau kesana...?" tanya Roni.
"Iya...kakak mau melihat ibu Roni yang sakit..boleh kan...?" tanya Kania.
'Bokeh kak apakah Kakak tidak malu kerumah Roni...?" tanya Roni lagi.
"Tidak , kakak tidak malu kesana, oh ya .. emang ibu Roni sakit apa...?" tanya Kania.
"Penyakit pusing dan agak demam kak..." jawab Roni lagi. Mereka segera masuk kedalam mobil Kania bersama kedua bocah kecil itu. namun Kania meminta tolong pada Arum untuk membelikan obat buat ibu Roni. setelah Arum datang mereka segera berangkat kerumah Roni.
"Oh ya Ron, sebenarnya ibumu kerja apa...?" tanya Kania.
"Dulu ibu kerja di warung nasi kak, lalu ibu di pecat karena ibu di fitnah mencuri uang pemilik warung, setelah itu ibu bekerja jadi buruh cuci kak..?" kata Roni perlahan.
"Jadi ibumu bekerja sebagai buruh cuci.." tanya Kania.
"Iya kak..."jawab Roni. tak berapa lama mereka telah sampai di gang rumah Roni. mereka segera keluar dengan membawa beberapa kerdus makanan, minuman dan beras kerumah Roni. terlihat Roni dan Tuti memimpin jalan menuju rumah mereka. saat mereka masuk kedalam gang itu , banyak orang memandang kearah mereka, mereka memandang pada rombongan itu seperti bertanya siapa merek itu. tak lama mereka sampai di sebuah rumah yang sangat kecil sekali. Kania ,Arum dan Keti saling berpandangan, mereka menghela nafas mereka dengan berat. terlihat Roni membuka pintu rumah kecil itu.
"Mari kak masuk..." kata Roni dengan segan. Kania dam Kinan beserta kedua pengawalnya masuk kedalam rumah kecil dan sempit itu. ketika sampai di dalam mereka melihat seorang wanita paruh baya sedang tidur di atas balai- balai yang tidak memakai kasur. ketika mendengar suara Roni wanita itu menoleh , dan dia kaget ketika melihat sang anak datang bersama beberapa orang.
"Ron...siapa mereka nak...?" tanya wanita itu heran.
"Maaf bu..saya teman putra ibu, nama saya Kania dan ini putra saya Kinan dan sahabat saya Arum dan Keti..." kata Kania memperkenalkan diri.
Wanita itu dengan susah paya bangun dari pembaringan.
"Sudah Bu jangan bangun...bukankah ibu sedang sakit...?" kata Kania mencegah wanita itu bangun.
"Tapi Nona..." kata wanita itu dengan wajah sungkan.
"nggak apa- apa, tenang saja Bu...kami hanya sebentar kok, kami hanya mengantar Roni dan Tuti pulang..." kata Kania lembut.
"Bu..ini ada sekedar makanan buat Roni dan Tuti, dan ini ada obat untuk ibu.. tolong di trima ya Bu..." kata Kania sambil menyerahkan sekantong obat yang Arum beli tadi di apotik dekat Mall pada ibu Roni. dan dia juga memberikan beberapa lembar uang warnah merah yang dia ambil dari dalam tasnya pada wanita itu.
"Dan ini sedikit uang untuk ibu dan Roni, semoga ini bisa membantu kebutuhan ibu dan adik- adik..." kata Kania lagi.
Wanita iru terlihat gemetar melihat uang merah begitu banyak yang di beri Kania.
"Nak...Terimakasih aras semua yang kau berikan pada Kami, Kau terlalu baik pada kami semoga Tuhan membalas kebaikanmu ini nak...?" kata wanita itu sambil menangis.
"Amiiin..." jawab Kania , Keti dan Arum bersamaan.
"Ya udah Bu..kami mohon Pamit, kapan - kapan kami akan bermain lagi..." kata Kania.
"Iya nak...sekali lagi saya ucapkan trimakasih nak..." kata wanita itu yang masih menangis.
"Assalamualaikum..." pamit Kania .
"Wa'alaikum salam..." jawab ibu Roni dan Roni bersamaan. Kania segera keluar dari rumah Roni. mereka segera kembali ke mobil mereka untuk segera kembali ke Mall untuk meneruskan membawa Kinan bermain dan berbelanja di Mall tadi.
jangan lupa like dan komennya .
Bersambung.
__ADS_1