Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
KAKEK BUYUT 2


__ADS_3

Saat dalam perjalanan kerumah sakit terlihat kecemasan di wajah Bara. Dia selalu memegang lengan Kania yang terlihat masih mengeluarkan darah walau sudah di ikat dengan sapu tangan oleh Arum. Darah Kania masih merembes keluar dari saputangan putih milik Kania.


"Sayang...tahan sebentar ya..." kata Bara menghibur Kania sekaligus dia sendiri.


Dia semakin panik melihat wajah Kania yang memucat.


"Iya Pa... Mama nggak apa- apa kok..." kata Kania menenangkan Bara yang terlihat kalut dan panik itu.


"Ton...kenapa kau membawa mobil lambat sekali sich..." seru Bara tak sabar.


"Bos...ini sudah yang paling cepat Bos..." jawab Anton fokus pada jalan .


"Pa..jangan terlalu cepat....suruh kak Anton mengurangi kecepatan mobilnya, kita sekarang ada di dalam kota Pa... bahaya kalau mengemudi dengan kecepatan tinggi..." kata Kania menasehati.


"Tapi kau harus segera di tangani Ma.. Papa tak ingin terjadi sesuatu padamu ." jawab Bara . Kania pun terdiam tidak bisa membantah lagi omongan Bara. Karena dia tahu kepanikan Bara saat ini karena melihat keadaannya .


Tak lama sampailah mereka di rumah sakit. Dokter dan perawat yang telah di hubungi lebih dulu telah siap menanti di di pintu masuk rumah sakit . ketika mereka melihat sang pemilik rumah sakit datang mengggendong seorang wanita mereka segera bersiap dengan brangka untuk membawa pasien keruangan IGD. Bara segera menidurkan Kania diatas brangka yang telah di siapkan dengan hati- hati . Di sana juga sudah ada dokter Sandy sang sahabat Bara yang sudah menunggu.


"Sand...tolong dia..." kata Bara dengan wajah cemas.


"Baik Bara...." kata Sandy sambil berjalan mengikuti Brangka yang berada yang membawa Kania. Sesampainya di ruang IGD Kania segera di masukkan kedalam ruang IGD. Bara di minta untuk menunggu di luar. Pertama Bara tak mau tapi saat di bujuk Kania diapun hanya bisa mengalah. hatinya merasa kesakitan saat melihat Kania yang


Bara dan Anton menunggu dengan cemas di depan ruang IGD. Hampir satu jam kemudian dokter Sandy keluar dari ruang IGD . melihat sang sahabat sudah keluar dari ruang IGD Bara segera menghampiri.


"Sand...gimana dia....?" tanya Bara dengan wajah cemas .


"Dia sudah baikan....tapi dia harus banyak istirahat... Karena dia kehilangan banyak darah...." jawab Sandy sambil melihat wajah Bara .


"Aku mau lihat Dia...." kata Bara sambil beranjak pergi keruang IGD tanpa minta persetujuan Sandy. Sandy hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Ada apa dengammu Bara... Gue nggak pernah lihat elo seperti ini, apa ada kejadian yang nggak gue ketahui selama gue pergi ke Amerika...." gumam Sandy sambil berjalan mengikuti Bara.


"Sayang....gimana sekarang , masih sakit...?" tanya Bara Pada Kania yang sedang berbaring di brangka kamar UGD .


"Sudah nggak sesakit tadi Pa.... trimakasih suster..." jawab Kania sambil mengucapkan trimakasih Pada suster yang baru membetulkan infus di lengan Kania. Karena Kania tadi mengeluarkan banyak darah maka Kania harus mendapat tranfusi darah.


"Sama- sama nyonya..." jawab suster itu ramah sambil beranjak meninggalkan tempat brangka Kania dan berjalan keluar dari ruang UGD.


"Dasar pengawal tak berguna... Seharusnya mereka menolongmu sebelum kau terluka..." ucap Bara dengan kesal.


"Jangan salahkan mereka...bukankah kau menyuruh mereka untuk tidak ikut campur saat aku memberi pelajaran pada mereka...?" kata Kania sambil menggenggam tangan Bara dengan lembut.


"Iya sich...tapi aku nggak memyangka mereka membawa belati..." kata Bara lagi.


" Kau juga lucu Pa, mana mungkin mereka tidak membawa senjata tajam kalau mereka berniat ingin membunuh Kania, sudahlah Pa... Bukankah sekarang Mama sudah nggak apa- apa..." kata Kania menghibur Bara.


"Semua ini gara- gara wanita sialan itu.." seru Bara marah.


"Wanita sialan...? Maksud Papa...?" tanya Kania tak mengerti .


"Emilda Mama Kinan , dialah yang ingin membunuhmu...." kata Bara dengan marah.


"Emilda...? Jadi semua ini ulah dia...? Kenapa....? Oo...Mama ingat saat Mama ada di rumah sakit saat Mama pingsan waktu itu, dia pernah datang menemuiku dan mengancamku untuk menjauhi Papa dan Kinan , katanya sich..Papa masih sangat mencintainya..." kata Kania dengan nada menggoda.


"Mamaa...." seru Bara menahan geram.


"Uff ...maaf....Mama hanya mengatakan apa yang dia katakan..." kata Kania menggoda lagi.


"Mamaa...kau mulai pandai menggoda Papa...?" kata Bara gemas melihat senyum menggoda Kania yang terlihat imut menggemaskan. Kaniapun tertawa melihat wajah sang suami kesal.


"Khmm...." terdengar deheman dari arah pintu . Kania dan Bara segera memalingkan kepala kearah suara . Terlihat dokter Sandy yang berjalan kearah mereka.


"Dokter Sandy...." sapa Kania.


"Apakah aku menggangu keromantisan kalian berdua...?" tanya dokter Sandy sambil tersenyum menggoda pada Bara.


"Nggak kok Dok..." jawab Kania.


"Apanya yang nggak menggangu... Jelas dia mengganggu kita, Ck...kau ini... Sudah tahu sahabat nya lagi bermesraan kenapa kau datang..." kata Bara kesal.


"Hey...kau bisa mesra juga Bar....?" goda Sandy sambil tertawa .sebenarnya dia tak percaya ketika dia melihat sang sahabat yang dingin itu bisa begitu manis di depan gadis ini.


"Dasar kau ini...." sungut Bara semakin kesal. Sendy dan Kania tertawa melihat wajah Bara yang memerah.


"Bara...gue mau tanya... bukankah nona ini gadis yang dulu menolong Kinan putramu...? Dan aku dengar kau sudah menikah lagi..?" tanya Sandy .


"Iya...dan dia istriku..." kata Bara sambil tersenyum.


"Jadi kau benar- benar menikah dengannya...?" tanya Sandy tak percaya.


Dia menatap Kania dan Bara bergantian.

__ADS_1


"Iya ...karena dia cinta petamaku sekaligus cinta terakhirku..." kata Bara dengan wajah bahagia. Dia memegang dan mengusap tangan Kania yang di perban. Sedang tangan Kania yang sebelahnya terdapat jarum infus. Dia menatap Kania penuh cinta. Dan Sandy melihat itu jadi melongo.


"Waah...lama kutinggal keluar Negri pulang- pulang aku melihatmu menjadi bucin Bar...." goda Sandy.


"Terserah apa yang akan kau ucapkan, yang pasti dia cinta sejatiku...apa lagi sekarang dia akan memberiku seorang putra lagi...." kata Bara sambil memandang Sandy penuh bangga.


"Aku tahu...tadi aku memeriksanya tadi janin di dalam perut istrimu sehat dan baik- baik aja...?" kata Sandy.


"Syukurlah... ternyata dia calon bayi yang kuat seperti sang Mama, walaupun dibajak bertarung dia baik- baik aja... walau masih berumur lima minggu di dalam perut sang Mama. ..." jawab Bara dengan wajah bahagia.


"Pasti dia akan menjadi seorang jagoan saat besar nanti, Kalau begitu selamat ya... " kata Sandy menjabat dan memeluk Bara dengan wajah ikut bahagia.


"Trimakasih sobat...." sambut Bara dengan gembira.


Sandy yang melihat perubahan Bara yang begitu besar tersenyum haru. Melihat kebahagiaan sang sahabat ketika memiliki istri yang di cintai , Sandy juga merasakan kebahagiaan itu. Tidak seperti saat Bara menikahi Mama si Kinan yaitu Emilda. Saat itu Sandy hanya bisa melihat Bara yang terlihat semakin dingin . begitupun saat mendengar Emilda hamil , Bara seperti orang yang mendapatkan hukuman Mati.


"Semoga kau selalu bahagia sahabatku.." doa Sandy dalam Hati.


"Ya sudah gue keluar dulu, nanti setelah tranfusi darah selesai , istrimu bisa di bawa keruang inap khusus, jangan di bawa pulang dulu...biar istirahat di sini dua hari lagi..." kata Sandy menasehati.


"Sayang...kau dengar kata Sandy... Kau harus istirahat dulu beberapa hari..." kata Bara pada Kania.


"Iya, iya... Kania nurut aja apa kata Bos Besar...." jawab Kania sambil tersenyum.


"Ya sudah aku permisi dulu Asalamualaikum...." pamit dokter Sandy sambil menatap Bara dan Kania .


"Waalaikum salam...." jawab Bara dan Kania bersamaan. lalu dokter Sandy pun berjalan keluar ruang IGD . setelah itu dia berjalan menuju kekantornya .


Setelah kepergian dokter Sandy Bara menatap sang istri.


"Sayang...mulai sekarang kau harus lebih hati- hati, aku tak ingin kejadian ini terulang lagi, aku tak ingin istri dan calon anak kita dalam bahaya. Sebab si Emilda belum diketemukan keberadaannya . Karena itu Papa akan menambah pengawal bersamamu..." kata Bara dengan wajah serius dan cemas.


"Iya Pa...terserah apa kata Papa, Kania akan mengikuti...." kata Kania menenangkan hati sang suami.


Barapun mencium tangan, kening dan bibir Kania sekilas. Kania hanya tersenyum melihat pada Bara.


Sedang di rumah besar Bara terlihat kehebohan di sana, Arum yang di suruh pulang mengabarkan pada penghuni rumah kalau Kania sekarang berada di rumah sakit . begitu juga dengan keluarga tuan Mahesa yang mendapat berita dari Dika tentang keadaan Kania. nyonya Rani sampai menangis mendengar Kania terluka dan di bawa kerumah sakit. Tuan Mahesa sangat geram mendengar penyebab Kania masuk rumah sakit. Tak ketinggalan juga kuarga Herlambang , mereka segera pergi kerumah sakit ketika mendengar kabar itu. Kebetulan sang kakek juga berada di rumah tuan Setyo Hadi , dengan perasaan cemas mereka pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan Kania yang terluka.


Sesampainya di sana mereka melihat Papa dan Mama Bara sudah berada di ruang inap Kania yang memang khusus untuk sang pemilik rumah sakit.


Saat melihat keadaan Kania yang di infus dan tangannya di perban sang Mama berseru cemas.


"Nia....kau nggak apa- apa sayang..." seru nyonya Sinta khawatir. Melihat sang mertua datang Bara segera berdiri dan menyalami Papa mertuanya dan memberikan tempat duduk pada sang Mama mertua.


"Ini kenapa....?" tanya nyonya Sinta sambil melihat lengan Kania.


"Tergores pisau dari sang penjahat Ma.." jawab Kania jujur. nyonya Sinta menatap Kania dengan wajah sedih.


"Ma...jangan sedih...Kania sudah nggak apa- apa kok..." hibur Kania.baru saja Kania menghibur Mama Rani, kini sang Mama juga terlihat menangis.


"Nia...." sapa kakek Herlambang sambil mendekat ketempat tidur pasien..


"Kakek...Papa...." sapa Kania.


Nyonya Sinta berdiri untuk memberikan tempat duduk pada sang mertua.lalu dia menyapa nyonya Rani.


Sedang Kakek Herlambang dan tuan Setyo Hadi mendekati Kania.


"Kau tidak apa- apa kan nak...?" tanya tuan Setyo Hadi lembut .


"Sudah nggak apa- apa kok Pa..." jawab Kania sambil tersenyum.


"Syukurlah nak...kau membuat Papa cemas sayang...." kata tuan Setyo Hadi lembut. Kania merasakan kehangatan mengalir didalam hatinya saat menerima kasih sayang yang lama dia tunggu dari sang papa .


"Kek...ada yang ingin Kania tanyakan sama kakek...?" kata Kania pada sang kakek yang berada di sebelahnya.


"Ada apa nak....?" tanya Kakek Herlambang sambil menatap Kania dan mengusap pelan kepala Kania .


Perlahan Kania mengeluarkan kalung berbandul batu permata merah yang berasal dari sang kakek buyut.


"Kek...apa kakek mengenali kalung ini...?" tanya Kania sambil menunjukkan kalung berbandul batu merah darah itu. Terlihat keterkejutan di mata kakek Herlambang. Perlahan dia memegang bandul itu.


"Boleh kakek lihat nak...?" pinta kakek Herlambang.


"Boleh kek..." jawab Kania sambil membuka kalung dari lehernya.


Bara yang melihat itu segera mendekati Kania dan berdiri di sebelahnya


"Ada apa sayang....? Dan kalung milik siapa itu...?" tanya Bara .


"Milik Mama...." jawab Kania lembut.

__ADS_1


"Kok Papa nggak pernah lihat...?" tanya Bara penasaran.


"Nanti Mama ceritakan...." jawab Kania.


Dia menatap sang Kakek.


"Gimana kek...apa kakek mengenali kalung itu...?" tanya Kania lagi.


"Dari mana kau mendapatkan kalung ini nak...." tanya Kakek Herlambang dengan wajah terkejut.


"Kakek buyut yang memberikan itu pada Kania kek...?" jawab Kania dengan jujur.


"Sembarangan....kau jangan bercanda Nia....Kakek nggak lagibercanda ..' kata kakel Herlambang agak Marah.


"Kek...apa Nia akan bercanda kalau dalam keadaan seperti ini kek..." jawab Kania lagi.


"Ada apa Pa....?ada apa dengan kalung itu..?" tanya Setyo Hadi dengan heran.


"Kapan kau mendapatkan kalung ini dan di mana kau bertemu beliau...?" tanya Kakek Herlambang dengan wajah haru dan sedih dia tak menghiraukan pertanyaan Setyo Hadi putranya .


"Hampir satu minggu yang lalu kek... saat itu Kania tanpa sengaja bertemu dengan seorang kakek- kakek yang terluka di jalan sepi ,Kania menolong dia . saat itulah tiba- tiba dia memberi Kania kalung itu karena kania telah menolongnya. Pertama Kania menolak, namun kakek itu memaksa dan dia berkata kalau kalung itu memang berjodoh dengan Kania.


Maaf bukannya Kania musrik, saat Kania melawan keempat penjahat itu, Kania merasakan tekanan yang sangat berat di dada Kania, dan Kania merasa tidak bisa bergerak ataupun mengeluarkan tenaga. Untunglah pada saat itu Kania mendengar suara agar Kania menaruh bandul itu di dalam mulut Kania. Dan berangsur- angsur kania terbebas dari keadaan tadi. Dan suara itu mengatakan kalau pria yang di hadapi Kania memiliki ilmu hitam...." kata Kania bercerita.


"Apaa....?" seru mereka semua yang ada di dalam kamar Kania.


"Alhamdulilah Kania bisa mengalahkan mereka, dan satu lagi kek...Pa...pisau yang mengenai Kania mengandung racun yang ganas. Saat itulah baru Kania tahu kalau yang berbicara lewat fikiran Kania adalah Kakek buyut , dia mengatakan identitasnya siapa , begitupun dalam berkomonikasi hanya Kania yang bisa. dan Kakek buyut sekali lagi menolong Kania dengan batu merah itu.... Batu itu menyedot racun yang ada di tubuh Kania...." kata Kania membuat semua orang melongo .


Tak lama Bara langsung memeluk Kania.


"Maa...untunglah kamu selamat sayang.." seru Bara


"Iya Pa.... Tuhan masih menyayangi Kania melalui bantuan Kakek buyut, andai Tuhan tak berkehendak entah apa yang akan terjadi dengan Mama. Mungkin Mama akan meninggalkan Papa untuk selama- lamanya..." kata Kania pelan.


"Kaniaaa...." seru mereka hampir bersamaan yang membuat Kania terlonjak karena kaget.


"Astaghfirullah hal adzim...." kaget Kania sambil mengusap dadanya.


"Mama....jangan berkata seperti itu lagi Ma...Papa nggak suka...!" kata Bara marah.


"Nia...ngomong apa kau ini...pamali sayang ngomong kayak gitu..." seru Mama Rani.


"Iya sayang.. jangan ngomong kayak gitu lagi, kami nggak suka mendengarnya..." kata nyonya Sinta marah.


"Maaf...." jawab Kania menyesal.


"Sayang...jangan ngomong kayak gitu lagi ya..." kata Bara lagi. Dia memeluk Kania dengan posesif tanpa malu pada orang sekitarnya.


"Nia....ternyata kau adalah keturunan dari kakek buyutmu yang di percaya memegang kekuatan dari keluarga Herlambang..." jawab sang kakek.


"Maksud Kakek...?" tanya Kania heran.


"Kalung ini adalah milik turun temurun keluarga Herlambang yang menjadi simbul penguasa maupun kedudukan di keluarga Herlambang. Seluruh keturunan dari keluarga Herlambang hanya Kamu yang dipercaya kakek buyutmu. Kakek buyut tidak pernah di ketahui keberadaannya, dia mati atau masih hidup kami tidak tahu. Dia hilang entah di mana tanpa ada yang tahu keberadaannya. Kakekmu memang mempunyai ilmu kanoragan yang memang sangat tinggi.


Katanya di jamannya dulu...dia tidak ada yang bisa mengalahkan dirinya dia pendekar tak tertandingi ..." kata Kakek Herlambang bercerita.


"Lalu kenapa harus Nia kek.... " tanya Kania heran. bukanya sekeluarga Herlambang banyak prianya.


"Itulah keberuntunganmu, mungkin sudah jodoh kalung ini denganmu... Jangankan saudara- saudaramu, kakek aja belum pernah bertemu dengan beliau...." kata Kakek Herlambang menatap Kania dengan bangga.


'Kakek buyut berkata kalau Kania harus selalu membawa kalung itu dimanapun Kania berada kek..." kata Kania lagi.


"Kalau begitu kau harus selalu memakainya nak.. mulai sekarang jangan pernah kau lepaskan Kalung ini Nia...." kata Kakek Herlambang sambil memberikan kalung itu kembali ke Kania. Bara segera memakaikan kalung itu keleher sang istri kembali. Bara menatap sang istri dengan perasaan bangga.


tak lama dia menatap pada sang papa tuan Mahesa.


"Pa...apa yang harus aku lakukan pada Emilda yang benar- benar ingin membunuh istriku ini....?" tanya Bara pada sang Papa.


"Kita harus membawanya kejalur hukum Bara..." kata sang Papa.


"Benar itu nak..." kata kakek Herlambang dengan wajah marah.


"Apakah mereka belum menemukan keberadaan Emilda...?" tanya tuan Mahesa.


"Belum Pa..." jawab Bara.


"Kita harus tetap mencarinya, kalau tidak istrimu masih selalu dalam bahaya.." kata tian Mahesa .


"Benar Pa... Bara akan segera menemukan dia di manapun dia berada.." kata Bara dengan marah.


Jangan lupa beri author like, vote dan komennya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2