
Jam dua dini hari Kania sudah bangun dari tidurnya. Setelah mandi dan mengambil wudhu dia segera menunaikan solat malam , dia berdoa pada sang pencipta untuk mengampuni segala dosanya dan memberikan kesabaran hati agar bisa memberi maaf pada sang papa serta memberi petunjuk di mana keberadaan sang Mama. Setelah selesai berdoa dia segera membaca ayat- ayat suci alquran untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Setelah membaca beberapa ayat dia merasakan ketenangan dalam hatinya.
Tanpa Kania sadari seorang pria paruh baya mendengarkan suara merdunya yang sedang melantunan ayat- ayat suci alquran. Tak terasa air mata mengalir di kedua pipinya. Dia Setyo Hadi Papa yang telah menelantarkan Kania. Kini perasaan sedih, sakit, menyesal bagai mencabik - cabik dalam hatinya. Anak yang telah dia abaikan kini tumbuh dengan baik dan menjadi anak yang soleha. Tangis penyesalan mengalir deras di pipinya.
"Kania... Maafkan Papa nak...papa terlalu bodoh membuang putri Papa sendiri yang begitu berahlak baik sepertimu..." gumamnya perlahan.
"Semoga kamu mau menerima maaf papa sayang..." ucap Setyo Hadi perlahan. Perlahan dia pergi meninggalkan kamar Kania. Dia berjalan kearah musolah keluarga yang ada di samping rumah utama.Dia ingin solat dan berdoa pada Tuhan.
Sedang di dalam kamar Kania terlihat gadis itu sudah selesai membaca Alquran. Perlahan dia kembali membaringkan tubuhnya. Tak berapa lama dia sudah kembali kealam mimpi.
Keesokan paginya setelah selesai mandi dan solat subuh Kania segera keluar dari kamarnya dengan memakai baju olahraga , Dia berjalan keluar rumah. Ketika sampai di halaman dia bertemu dengan Arum dan Keti yang juga baru keluar rumah.
"Bos Nia...?" sapa Arum.
"Kalian sudah bangun...?mau kemana..?" tanya Kania.
'Kami mau lari pagi sekalian mau sparing Bos..." jawab Keti.
"Barengan yuk..." ajak Kania yang memang tadi ingin lari pagi.
"Ayo..siapa takut..." canda Arum.
Akhirnya mereka bertiga pergi lari pagi di sekitar minsion. Setelah melakukan beberapa kali putaran Kania mengajak kedua pengawalnya pergi kearah ruang latihan milik keluarga Herlambang. Ketika sampai di dalam ruangan terlihat kedua pengawal Kania terkagum- kagum dengan keadaan ruangan itu.
"Bos luas banget ruangannya. Lihatlah alat- alat olahraga itu..." seru Arum sambil berjalan kearah alat- alat olahraga yang memang berada di sana.
"Bos...elo kok tahu kalau ada ruangan ini...?" tanya Keti heran.
"Saat pertama kali gue datang kemari, gue diajak latihan sama kedua kakak sepupu gue Ket.." jawab Kania.
"Gila..baru ketemu pertama kali udah diajak berkelahi..." kata Arum heran.
"Mereka penasaran ama gue Rum..." jawab Kania.
'Ya udah yuk kita mulai, elo berdua serang gue... "perintah Kania pada kedua pengawalnya.
"Siap Bos...." seru mereka.
Baru saja Kania berada di tengah arena tiba- tiba Keti telah menyerang dia. Dengan sigap Kania menerima serangan dari Keti . Arum pun tak tinggal diam dia segera ikut menyerang Kania. Kini terlihat perkelahian satu lawan dua. Dengan segala cara Arum dan Keti berusaha memukul tubuh Kania , namun usaha mereka sia- sia, malah yang ada mereka mendapat tendangan dan pukulan dari Kania.
"Gila lo Bos... Kenapa elo semakin tangguh aja...." seru Arum sambil melancarkan pukulannya.
"Gue yang semakin tangguh apa elo yang semakin letoy....." goda Kania.
"Ha ha...elo letoy Rum...? gue kagak lo.." timpal Keti sambil tetap menyerang Kania dengan sengit,
"Ha ha ha...emang elo bisa memukul Bos Nia..." teriak Arum sambil tertawa.
"Kagak juga sich...Bos Nia emang tangguh sich...." seru Keti .
'Itu karena kalian berdua kurang latihannya.. Coba kalian ingat berapa kali kalian latihan ketika kita di apartemen..." tanya Kania tanpa menghilangkan kewaspadaannya.
"Iya Kami emang malas Bos...maaf..." seru Arum. Dan kini dia kembali kena tendangan di kakinya.
"Aauu...Bos gue nyerah...!" teriak Arum saat tendangan kembali bersarang di bahu kirinya.
"Iya Bos gue juga..." teriak Keti yang sudah kehabisan nafas. Kania pun segera melompat kebelakang.
Tiba- tiba terdengar tepuk tangan dari arah pintu ruang latihan.
"Ya ampuun kenapa Kalian nggak ngajak- ngajak kalau mau latihan..." seru Hardika sambil bertepuk tangan.
"Nia...bukankah gue udah bilang kalau latihan ajak- ajak gue..." seru Viktor .
"Nach kalian sudah ada di sini kenapa nggak sekalian aja turun ke arena..." seru Kania.
"Kau masih mampu melawan Kami...?" seru Viktor kaget.
"Kayaknya masih mampu dech kalau cuma satu atau dua jurus doang..." jawab Kania.
"Okey...kita coba ya...?" kata Hardika.
"Boleh , ayo..." tantang Kania.
Hardika dan Viktor segera menghampiri Kania, mereka segera memasang kuda- kuda. Tak berapa lama terlihat pertarungan antara Kania, Hardika dan Viktor. Mereka bertiga terlihat bertarung dengan sungguh- sungguh. Namun beda ketika Kania bertarung dengan kedua pengawal pribadinya dia bertarung dengan sengit tanpa ampun , namun saat bertarung dengan kedua Kakak sepupunya Kania sering mberitahu cela yang bisa membuat mereka terkena tendangan atau pukulan, sepertinya Kania sedang membimbing kedua Kakak sepupunya.Satu jam telah berlalu tapi Hardika dan Viktor belum juga bisa memukul sekalipun tubuh Kania, malah mereka yang sering terlihat terkena pukulan . hingga akhirnya Kania melompat keudara dan menjauh dari arena pertarungan.
__ADS_1
"Maaf kak hari telah siang , bukankah sebentar lagi ada tamu yang akan datang..." seru Kania .
"Kau Benar Nia... Sebentar lagi pasti kita akan di marahi Kakek kalau kita tak cepat pergi bersiap- siap..." jawab Hardika. Kini terlihat wajah Hardika dan Viktor yang terlihat kelelahan. mereka akhirnya memutuskan untuk kembali kedalam rumah .
"Nia Terimakasih , kau telah mau mengajari kami tadi..." kata Viktor sambil berjalan keluar bersama Hardika, Kania, Arum dan Keti.
"Sama- sama kak... Lain kali kalau kakak mau kita latihan lagi..." jawab Kania.
"Oh ya Nia... Kau sejak tadi kami lihat , kok nggak ada lelah - lelahnya dan kau tahu tendanganmu sangat menyakitkan dan kami tahu kau melakukan dengan sedikit tenaga, apa sich rahasianya..?" tanya Viktor yang sejak tadi heran dengan stamina tubuh Kania.
"Dulu sejak kecil latihan Kania sudah berat , Kania keluar dari rumah tuan Setyo masih berumur 8 tahun, sejak saat itu Kania mulai di latih dengan sangat keras oleh teman paman Asep, Kalian tahu, Nia di latih lari mengelilingi lapangan dengan membawa beban di kaki. Dan larinya akan bertambah setiap lima hari sekali mulai satu putaran, dua putaran dan seterusnya. Begitupun dengan beban di kaki Kania, dari mulai yang paling enteng terus bertambah sampai beban yang paling berat. Itu dilakukan setiap beban yang mampu Kania bawa sudah tak terasa berat lagi maka akan di tambah beratnya..." jawab Kania.
"Gila...sampai segitunya Nia...?" tanya Viktor kagum.
"Karena berlatih seperti itu membuat nafas kita dan tendangan kita sangat kuat. kalian mau mencobanya...?" tanya Kania.
"Pasti maulah kita...aku akn mencoba latihan seperi itu ,oh ya Nia siapa mereka...?" tanya Viktor sambil menunjuk kedua pengawal Kania.
"Dia pengawalku sekaligus sahabatku.. Kenalkan, yang ini Arum dan yang itu( Kania menunjuk Keti yang berjalan di sebelah Arum) namanya Keti.." kata Kania memperkenalkan kedua pengawalnya.
"Hay...salam kenal... aku Arum..." kata Arum sambil melambaikan tangannya.
"Dan Aku Keti..." juga melambaikan tangan.
"Salam kenal juga... Kalian udah tahu nama kita kan...?" jawab Viktor yang memang ramah. Sedang Hardika yang agak pendiam hanya melambaikan tangan sambil tersenyum ramah.
"Nia... Enak ya punya pengawal, kemana- mana selalu di temani.." goda Viktor.
"Pastilah... Dalam suka maupun duka kami selalu bersama..." jawab Kania.
"Sejak kapan kau memiliki pengawal...?" tanya Hardika.
"Sejak aku kembali terluka ketika seseorang yang ingin menculik Kinan dendam padaku dan melukaiku kembali...." jawab Kania.
"Apa...Kinan mau di culik, dan kau terluka...?" seru Hardika dan Viktor bersamaan.
"Iya.. Tapi udah kelar kok masalahnya..." jawab Kania.
"Tumben kau kalah... " tanya Viktor.
"Mereka mengincar Kinan dengan pistol, dan aku melindungi Kinan hingga peluru itu bersarang di tubuhku..." jawab Kania.
"Gue nggak bisa ngelihat orang tersakiti di depan gue. .."jawab Kania polos.
"Dasar Kau ini..." kata Viktor kembali mengacak rambut Kania.
"Ck.. Kau ini...kalau kau berantakin rambut gue, bisa hilang nanti kecantikan gue..." seru Kania narsis dengan wajah cemberut. Wajah Kania yang manyun membuat wajahnya semakin menggemaskan dan imut, membuat jantung Viktor dan Hardika berdegub kencang.
'Ya ampuuun cantik banget sepupu gue ini, kenapa sich dia sepupu gue..." hati Viktor uring- uringan)
"Ck...kenapa jantung gue ini..?gue nggak sakit jantung kan....? Ampun tolong hati gue...jangan sampai elo jatuh cinta ama sepupu elo sendiri....( teriak Hardika dalam hati)
"Ya elah malah pada bengong...kenapa kalian malah bengong sich.." seru Kania sambil melambaikan tangan di depan mereka.
"A..apa..?" Hardika dan Viktor sadar dari sihir Kania.
"Ada kucing lewat..." goda Kania.
"Kucing....?" Beo Viktor tak mengerti.
Sedang Arum dan Keti sudah pada terkikik melihat wajah kedua pria tampan itu semakin terlihat bodoh. Mereka tahu kalau kedua pria sepupu Kania terpesona dengan wajah Kania yang terlihat sangat menggemaskan saat cemberut.
"Oh ya karena kak Hardika lebih tua dari Kania, boleh kan Kania memanggil Kakak, tapi kalau sama Viktor gue panggil Viktor aja..." kata Kania.
"Boleh...?" jawab Hardika.
"Hey...gue lebih tua dari elo Nia..." protes Viktor.
"Kalau sama elo Ogah... Uda ye gue masuk kedalam dulu bye...." seru Kania dan berlari masuk kedalam rumah bersama kedua pengawalnya. Sedang Viktor hanya bisa menggeram gemas.
"Dasar gadis konyol..." serunya.
Hardika hanya bisa tertawa melihat wajah Viktor yang gemas menatap kepergian Kania.
Tanpa mereka sadari sejak tadi sepasang mata milik Setyo Hadi selalu memperhatikan tingkah laku sang putri.
Terkadang dia terlihat kaget dan cemas, terkadang bangga, terkadang terlihat sedih dan meneteskan air mata . dia tak pernah menyangka gadis yang dulu dia sia- siakan menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan tangguh. terang saja pembunuh bayaran yang di sewa si wanita sialan itu tidak mampu membunuh putriku kata hati Setyo Hadi. terlihat senyum bangga di bibir tua nya.
__ADS_1
******
Kania berdandan di bantu oleh perias yang di datangkan oleh nyonya Farah istri tuan Rehan. terlihat Kania sudah memakai baju setelan dengan Bara yang di belikan nyonya Rani Mama Bara.
Saat setelah selesai dirias terlihat wajah Kania yang lembut anggun dan cantik. tak berapa lama tiba- tiba Arum datang bersama Keti. mereka terlihat tercengan melihat penampilan Kania.
"Ya ampun Bos...kau terlihat sangat cantik, tahu nggak gue tadi nggak yakin kalau gadis yang ada di depan gue , elo Bos gue..." kata Arum yang suka ceplas ceplos.
"Emang elo anggap gue siapa...?" tanya Kania jengkel.
"Gue kira elo peri yang nyasar kemari.." jawab Arum kocak.
"Dasar gadis konyol.." seru Kania sambil menimpuk Arum dengan tisu yang dia kepal.
"Ada apa kalian kemari...?" tanya Kania.
"Oh ya hampir lupa...Kami di suruh membawa Bos Nia keluar , karena tamu sudah datang..maksud gue Bos Bara dan keluarganya sudah pada datang..." kata Arum kembali.
"Ayo Bos, gue anter yuk...." kata Keti.
Kania pun segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar bersama Keti dan Arum.
Saat melihat kedatangan Kania jangankan orang lain sedang Bara yang selalu bersama Kania sempat kagum melihat Kania hari ini. apalagi saat Kania tersenyum manis menatap wajahnya. Kania menatap sekilas wajah Setyo Hadi. Namun dia diam melihat kehadirannya di tempat itu. sedang di tempat Bara ,Kania banyak melihat wajah yang belum pernah dia temui . namun dia di buat kaget ketika melihat wajah yang sangat dia kenal.
'Ya ampuun ngapain si biang onar itu datang kemari..janga. bilang dia keluarga Papanya Kinan..( teriak Kania ketika melihat Farel berada di antara para keluarga Bara)
'Ya Tuhan...jadi Kania putri dari keluarga Herlambang , dan gadis yang mau di lamar kak Bara itu Kania... teriaknya dalam hati. ada rasa sakit menghujam jantungnya . Namun dia sadar , sejak dulu Kania hanya bisa menganggap dirinya hanya sebatas sahabat atau saudara, tidak lebih dari itu.
"Nia...sini sayang duduk dekat Kakek.." kata sang Kakek sambil menepuk tempat kosong yang ada di sebelahnya.
"Baik Kek..." jawab Kania, Dia segera melangkah ketempat Kakek Herlambang berada, lalu duduk di dekat sang Kakek .
Tak lama terlihat Bara berdiri dari tempat duduknya . dengan tampilan gagah dan menawan dia berdiri dan menatap mereka satu- persatu dengan sopan.
"Assalamualaikum Waraohmatulla Hiwabarokatu ...." ucapnya memberi salam.
"Wa'Wa'alaikumsalam..." jawab mereka.
"Sebelumnya perkenalkan nama saya Bara Aris Dirgantara puyra pertama dari pasangan Bapak Mahesa Dirgantara dengan Ibu Rani Widya Astuti. Ijinkan saya berbicara. Jika Kakek sudah menjaga dan menyayangi cucu atau pitri Paman dan Bibi sekarang bolehkan saya menggantikan posisi Kakek, Paman dab Bibi dengan menjaga dan membahagiakannya layaknya perhiasan dunia yang paling berharga?”
“Sebelumnya saya minta maaf Kakek dan keluarga Herlambang , Jika allah mengizinkan, saya ingin menjadikan cucu kakek atau putri Paman dan bibi sebagai istri saya, menemani setiap langkah perjuangan saya, menjadi penyejuk hati saya dikala gundah dan menjadi penasihat saat saya melakukan kesalahan, dari awal saya kenal cucu kakek atau putri paman dan Bibi saya merasa seperti telah menemukan orang yang tepat, sekiranya saya ingin melamar cucu kakek atau putri Paman dan Bibi dan melanjutkan hubungan kami berdua kejenjang pernikahan. mohon kiranya Kakek atau Paman dan Bibi menyetujui dan merestui kami.
Kiranya hanya itu yang bisa saya ucapkan mohon kiranya Kakek atau Paman dan Bibi memaafkan jika ada kata- kata yang kurang berkenan di hati Kakek , Paman dan Bibi. saya Akhiri Asalamualaikum Warahmatullo Hiwabarokatu..."kata Bara mengakhiri perkataannya. lalu dia kembali duduk . ( memang Kalu seorang Bos besar berbicara di depan orang banyak kagak ade nerves nya, kata dia soal kayak gini mach kecil buat gue 😂)
"Wa'alaikumsalam...." jawab Mereka.
Setelah itu terdengar tuan Rehan berbicara.
"Asalamualaikum warahmatulla Hiwabarokatu..." ucap Tuan Rehan .
"Wa'alaikumsalam..." jawab mereka.
"Saya ucapkan terimakasih sebelumnya pada Keluarga Dirgantara yang sudi datang kemari untuk melamar putri kami. saya juga sangat bangga pada putra tuan Mahesa yang telah berani meminta sendiri putri Kami . namun kami tidak berani menjawab permintaan nak Bara, kami akan menanyakan dulu pada Putri kami kesanggupannya. untuk itu kami akan menayakan padanya sekarang.
"Kania apakah kau mau menerima lamaran nak Bara dari keluarga Dirgantara...?" tanya tuan Rehan sambil mandang Kania. terlihat wajah Kania yang menunduk karena malu. tak berapa lama dia mendongakkan kepala.
"Kania mau Paman, Kania bersedia jadi Istri dari Bara Aris Dirgantara paman..." jawab Kania sambil tersenyum manis dan memandang wajah Bara sekilas.
"Alhamdulillah..ternyata putri Kami bersedia karena itu kami akan menerima dan merestui lamaran dari nak Bara..." jawab tuan Rehan sambil tersenyum.
"Alhamdulillah...." terdengar ucapan dari mereka. terlihat wajah Setyo Hadi berbinar ikut bangga melihat anak satu- satunya di pinang oleh pria seperti Bara.
'Terimakasih ya Tuhan, engkau telah memberikan jodoh yang terbaik buat putri hamba yang telah hamba telantarkan .. (batin Setyo Hadi.)
tiba- tiba Kania berjalan kearah Setyo Hadi.
"Pa...apakah kau tak mau mengucapkan selamat pada putri mu ini.." tanya Kania sambil duduk bersimpuh di depan sang Papa. Setyo Hadi tertegun, dia tak mengira putri yang telah dia sakiti mau maafkan dirinya.
"Nak...kau mau memaafkan Papamu yang bodoh ini...?" kata Setyo Hadi dengan air mata kembali mengalir. terdengar suaranya bergetar ketika mengucapkan kalimat itu.
"Siapa Kania hingga tak mau maafkan kesalahan orang tua Pa... Kania tahu, semua itu adalah jalan dan cobaan dari Tuhan untuk keteguhan iman Kania Pa.. maafkan Kania yang telah berucap kasar pada Papa.." kata Kania yang bersimpu di depan sang Papa. Setyo Hadi segera menubruk sang putri, dia merengkuh Kania dalam pelukannya. tangis kebahagiaan terdengar dari papa dan putri itu. membuat orang yang ada di sana terharu dan gembira.
"Trimakasih nak.. trimakasih kau telah memaafkan Papa.." kata Setyo Hadi di sela tangis kebahagiaan.
Kania hanya bisa mengangguk dalam dekapan sang Papa. tak berapa lama
Acarapun di lanjutkan dengan makan bersama. setelah itu para anak mudah saling bercanda sedang para orang tua melanjutkan merundingka tanggal pernikahan mereka.
__ADS_1
Jangan lupa like dan Komennya.
Bersambung.