Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
KEPUTUSAN KAKEK HERLAMBANG.


__ADS_3

Kania yang saat ini tidur di rumah Bara , terlihat sedang tidur tengkurap , sebenarnya dia sekarang sudah merasa lelah karena sejak tadi hanya bisa tidur dalam keadaan tengkurap. Maklum luka di punggung Kania masih terasa perih. Kini bukan hanya punggungnya yang terasa perih tapi sepertinya badannya mulai demam mungkin karena efek dari sakit yang dia derita. Saat Bara masuk kedalam kamar untuk memeriksa keadaan Kania , dia melihat Kania yang terlihat tesah di dalam tidurnya. Dia segera mendekat dan memeriksanya. Betapa Bara merasa kaget saat meraba dahi Kania, dahi dan tubuh Kania terasa panas sekali. Dengan cemas dia memanggil bik Siti untuk mengambilkan air untuk mengompres Kania. Keributan yang di buat Bara membuat seluruh penghuni rumah Bara bangun tak terkecuali Dika dan Anton , sambil menunggu bik Siti datang Bara segera menelfon Dokter Yusuf, Dokter keluarga Dirgantara. Tak berapa lama Dokter Yusuf pun segera datang. Setelah di periksa dokter memberitahukan kalau demam yang di derita Kania karena efek dari rasa sakit yang ada di punggungnya. Setelah memeriksa dan menyuntik Kania Dokter Yusuf segera kembali pulang maklum hari masih malam. Setelah mendapatkan suntikan, panas Kania berangsur - angsur menurun. Tak lama dia tertidur kembali dan tidurnyapun kembali tenang.


Bara menatap tubuh sang kekasih yang sudah terlelap.


"Anton...aku nggak bisa membiarkan gadis licik itu lepas dari perbuatannya. Aku ingin mulai besok karirnya jatuh secara perlahan dan aku ingin dia merasakan sakitnya terkena cambukan.." kata Bara dengan marah pada Anton yang ada di ruangan itu bersama Dika dan kedua pengawal Kania serta bik Siti. Dia tak rela gadis kesayangannya menderita seperti ini.


"Baik Bos...kami akan segera mengerjakan tugas ini secepatnya...." kata Anton dengan sigap.


"Kak gimana dengan perusahaan keluarga Firaus..." tanya Dika dengan wajah juga marah.


"Biarkan dulu keluarga itu, tapi tunjukkan pada mereka siapa Deby yang sebenarnya, ...." kata Bara lagi.


"Baik kak..." jawab Dika .


"Sekarang pergilah kalian semua, biar aku yang akan menjaga Kania..." kata Bara sambil membetulkan selimut yang menutupi tubuh Kania.


Setelah mereka semua sudah keluar, Bara berbaring di dekat Kania. Dia tidur menyamping menghadap kearah Kania yang sedang tidur.di belainya wajah yang miring menghadap kepadanya dengan sayang.


"Bun..inilah akibatnya kalau mempunyai hati yang terlalu baik. Kau tak menginginkan orang lain menderita tapi kamu sendiri tersakiti..." gumam Bara sambil membelai lembut wajah Kania.


Perlahan Bara pun ikut tertidur di sebelah Kania.


Keesokan paginya Kania terbangun ketika terdengar adzan subuh berkumandang. Perlahan dia menyesuaikan matanya dari cahaya lampu kamar


"Gue ada di mana ini....?" tanya Kania perlahan.


"Kau lupa kamarmu sendiri Bunda...?" tanya Bara perlahan. Dia yang sejak tadi sudah bangun dan mandi sekarang sudah berbaring kembali sambil menatap wajah Kania.


"Papa..." seru Kania kaget. Dia langsung bangun dari tidurnya yang tengkurap.


"Aauu....." seru Kania


"Pelan sayang... " kata Bara sambil membantu Kania bangun.


"Ck...Papa ngagetin sich..." kata Kania sambil cemberut.


"Cup ...mana bisa Papa ngagetin Bunda orang papa sudah sejak tadi ada di sini..." jawab Bara sambil mengecup bibir Kania yang manyun sekilas.


"Papa... Nggak jijik apa...? Bunda belum mandi..." seru Kania kaget ketika mendapat kecupan lembut di bibirnya.


Dia kaget dan malu, habis masih ada jigong di bibirnya yang belum sikat gigi.


"Papa nggak jadi masalah jika bunda belum mandi karena bibir Bunda selalu membuat candu buat papa..." goda Bara sambil mencubit hidung Kania.


"Idih Papa sudah pandai ngegombal ya...?" kata Kania .


"Papa nggak ngegombal, ini beneran sayang..."


"Uda ah Kania mau mandi...?" kata Kania malu.


"Sayang...lukamu nggak boleh kena air dulu..." larang Bara.


"Kania cuma cuci muka dan sikat gigi kok Pa..." jawab Kania..


"Papa Bantu...?" tawar Bara.


"Nggak usah, Bunda masih bisa kok... Lagian Papa belum Boleh menyentuh Bunda..." kata Kania sambil beranjak dari tempat tidur.


"Karena itu Papa pingin cepat- cepat menghalalkan Bunda...?" jawab Bara. Kania hanya tersenyum mendengar perkataan Bara.


"Oh ya sayang...satu minggu lagi Papa dan Mama pergi kerumah Kakek Herlambang untuk meminta dirimu,mungkin empat atau lima hari lagi bik Monah dan Paman Asep akan di antar kesana..." kata Bara.


Kania yang sedang berjalan kearah kamar Mandi menghentikan langkahnya Dia segera berbalik badan.


"Satu minggu lagi Pa...?" tanya Kania dengan wajah kaget.


"Iya...dua hari yang lalu Papa Mahesa bilang padaku...." kata Bara.


"Semoga nggak ada jadwal syuting ya Pa...." jawab Kania.


"Nanti Papa akan tanya pada Seto Aji.." kata Bara.


"Ya udah Kania mau kekamar mandi dulu.." kata Kania melanjutkan langkahnya kearah kamar mandi.


"Jangan mandi dulu, nanti luka di punggungmu terkena air.." seru Bara.


"Iya Pa..." jawab Kania sambil menutup pintu kamar mandi.


Bara segera beranjak dari tempat tidur Kania dan berjalan keluar dari kamar Kania untuk solat subuh.


Sedang Kania yang tak boleh mandi hanya menyikat giginya serta membasuh badan sebelah depan serta cuci muka, tak lupa mengambil wudhu . setelah itu baru dia keluar dari kamar mandi. Ketika sampai di luar dia sudah tak melihat Bara di dalam kamarnya.

__ADS_1


Kania segera menunaikan solat subuh. Setelah solat Kania membaca sebentar Alquran. Karena fokus membaca dia tak menyadari kehadiran Bara di dalam kamarnya.


"Bunda..merdu banget suara Bunda saat membaca Alquran..." puji Bara setelah melihat Kania menyelesaikan bacaannya.


"Papa...sejak kapan Papa ada di sini...?" tanya Kania Kaget.


"Sudah sejak tadi..." jawab Bara.


"Kok Bunda nggak dengar Papa membuka pintu...?" tanya Kania.


"Mama sedang serius membaca jadi nggak dengar Papa masuk.." kata Bara.


"He he mungkin juga sich..." jawab Kania sambil melipat rukuh dan sajadah lalu menaruhnya di tempatnya.


"Gimana punggung Bunda apa masih sakit...?"tanya Bara.


"Udah mendingan Pa..." jawab Kania.


Bara menyuruh Kania kembali istirahat. Karena Kania masih tidak bisa berbaring akhirnya dia hanya bisa duduk di temani Bara.


Skip.


Siang itu di sebuah minsion di puncak ada tiga pasang suami istri sedang duduk menghadapi Kakek yang terlihat berwajah dingin. Mereka adalah Kakek Herlambang yang sedang duduk bersama putra putri dan menantunya. Mereka sengaja di panggil oleh Kakek Herlambang.


"Setyo apa benar Deby putrimu..." tanya kakek Herlambang langsung dengan nada datar.


"Ya iyalah Pa...masak anak orang lain..." jawab Setyo Hadi tak mengerti.


"Kau tidak sedang membohongiku kan..?" kata Kakek Herlambang dingin.


Mendengar perkataan sang Papa, Setyo Hadi dan Sinta Yunita merasa kaget dan heran.


"Ada apa dengan papa ini... Apa dia mulai curiga tentang Deby...apa ada sesuatu yang terjadi..( batin Setyo Hadi)


"Ada apa lagi ini... Apa maksud Papa menanyakan soal Deby...mungkinkah dia mencurigai Deby...? Aah...tak mungkin, tidak ada yang tahu tentang identitas Deby...(batin Sinta Yunita..)


"Mana mungkin Setyo membohongi Papa bukankah papa tahu sendiri kalau kami memiliki satu orang anak, bukankah saat Sinta mengandung Deby kami kemari Pa...?" kata Setyo Hadi dengan yakinnya. Karna saat Sinta mengandung Kania dia datang ke mension ini untuk menghadiri pernikahan sang adik yaitu nyonya Garnis dengan seorang kepala polisi yaitu tuan Sindu . Saat itu tak sengaja Deby tidak ikut karena sakit. Dia berada di rumah sedang di rawat oleh bik Monah.


"Benarkah....? Kalau begitu bawah Deby kemari untuk tes DNA besok..." kata Kakek Herlambang tegas.


"Apaa...?" seru Setyo Hadi dan Sinta hampir bersamaan.


"Kenapa kalian sekaget itu...?" tanya tuan Rehan heran.


"Apa salahnya, kami kemarin juga melakukan tes DNA pada putra pitriku.." kata Rehan.


"Iya kak , untuk apa kakak sekaget itu hanya untuk tes DNA dengan putri kakak...?" kata Garnis menyahuti.


"Masalahnya Deby sibuk syuting dek..." kata Setyo Hadi beralasan.


"Aku tak menerima bantahan, aku menginginkan kamu membawa Deby kemari besok, dan aku juga mau kau membawa kalung keluarga pemberian almarhum Mama mu..." kata Kakek Herlambang tegas.


"Tapi Pa..." Setyo Hadi berusaha mengelak. Karena Kalung itu sudah di hilangkan Deby.


"Tidak ada tapi- tapian atau kau ingin aku mencoretmu dari daftar keluarga dan menarik hotel Tiga Berlian dari tanganmu...?" kata Kakek Herlambang dengan marah.


"Baik Pa... Kami akan datang bersama Deby besok...." kata Setyo Hadi pasrah . terlihat senyuman di wajah Rehan dan Garnis ketika melihat wajah Setyo Hadi dan Sinta memucat.


"Baik...aku tunggu kalian besok, aku harap kalian datang sebelum jam 11 siang...?" kata Kakek Herlambang sebelum berdiri dan melangkah masuk kedalam kamarnya.


Setelah kepergian Papa nya Setyo Hadi menatap kedua saudaranya.


"Kak ada apa ini...?" tanya Setyo pada Rehan.


"Kenapa...?" tanya Rehan menatap sang adik sambil mengerutkan dahinya.


"Untuk apa kami harus melakukan tes DNA.. Ada apa dengan Papa...?" tanya Setyo Hadi curiga.


"Mana aku tahu... Kamipun sudah melakukan itu kemaren..." kata Rehan dengan wajah aneh.


"Kak...untuk apa kakak takut kalau Deby memang putri Kakak..." sela Garnis.


"Baiklah kami besok datang untuk melakukan itu, sekarang kami mohon pamit .."kata Setyo Hadi pasrah. Dia segera berdiri di ikuti sang istri yang terlihat sangat cemas.


"Baik silahkan sampai ketemu besok..." jawab Rehan.


"Assalamualaikum..." kata Setyo Hadi . dia segera melangkah keluar bersama sang istri.


"Walaikum salam...." jawab Rehan Fara, Garnis dan Sindu hampir bersamaan.


Setelah melihat Setyo Hadi dan Sinta Yunita pergi dengan mobilnya Garnis berucap.

__ADS_1


"Melihat ketakutan di mata kak Sinta aku semakin Yakin kalau Kania adalah putri asli kak Setyo ..." kata Garnis dengan wajah murung.


"Dasar orang tua Bodoh...bisa- bisanya dia menelantarkan putri satu- satunya dan di gantikan gadis seperti Deby itu.." seru Rehan sang kakak dengan marah.


"Kak... Sepertinya persoalan ini nggak semudah itu dech..." celetuk Sindu suami Garnis.


"Maksudmu...?" tanya Rehan heran.


"Seperti ada kejanggalan yang terjadi disini..."lanjut Sindu.


"Maksud Papa ada seseorang yang membuat ini terjadi ....?" tanya sang istri.


"Kayaknya iya dek... Aku sejak pertama kali melihat ini, aku juga merasakan kejanggalan itu...?" kata Fara istri Rehan.


"Kalau gitu coba kamu selidiki Sin..." perintah Rehan pada sang adik ipar.


"Baik kak..." jawab Sindu.


"Oh ya kak, katanya saru minggu lagi si Mahesa akan datang kemari untuk melamar Kania, apa benar kak...?" tanya Garnis pada sang kakak.


"Benar.. dia akan datang bersama beberapa keluarga dirgantara.." jawab sang Kakak.


"Maksud kakak Semua keluarga Dirgantara Kak...?" tanya sang adik.


"Nggak, cuma beberapa aja..." jawab Sang kakak.


"lo kenapa...?" tanya Garnis heran.


"Katanya Keponakanmu tidak ingin hubungannya di ketahui banyak orang.." jawab sang Kakak.


"Ah... kok aneh, kebanyakan gadis akan bangga kalau seorang pria Tampan dan kaya apalagi pemilik perusahaan nomer satu di negri ini menjadi tunangannya.." kata Garnis heran.


"Itulah salah satu keunikan keponakan kita, Dia sangat menutupi keistimewaan yang dia miliki, dia tidak suka memamerkan kelebihannya..." kata Rehan dengan bangga.


"Mama juga sangat menyukai gadis itu Pa...dia sangat lembut, sopan dan terlihat baik hati , jauh sekali dengan sifat si Deby yang sombong dan bermuka dua itu..." kata Farah sang Istri.


"Benar apa katamu kak... liharlah putra putri kita sangat senang memiliki saudara seperti Kania..." kata Garnis menyetujui omongan sang kakak ipar.


"Benar kata kalian, aku tidak pernah melihat Hardika dan Viktor begitu dekat dengan saudaranya, tapi ketika bertemu dengan Kania apalagi sampai mereka kalah dengan gadis itu , aku melihat kekaguman mereka pada Kania..." kata Rehan kembali.


"Karena itulah aku lebih suka Kania yang jadi keponakanku dari pada si Deby itu.." celetuk Sindu yang sejak tadi diam saja.


Garnis terkejut mendengar sang suami menyukai Kania, karna sejak dulu Sindu tidak terlalu suka pada anak perempuan. untunglah ketika mereka mempunyai anak , Garnis melahirkan seorang putra. jadi baru kali ini sang suami menyukai seorang anak perempuan yaitu Kania.


"Waah Pa...tumben kamu menyukai anak wanita...?" tanya sang istri.


"Entahlah ketika aku melihat sosok Kania, tiba- tiba aku sangat menyukai itu dan saat dia ternyata keponakan kita serta melihat tingkah lakunya tiba- tiba aku menginginkan putri seperti dia..." kata Sindu dengan wajah senang.


"Memang dia membuat kita sangat beruntung memiliki keponakan seperti dia.." kata Rehan dengan bangga.


"Andai nanti kak Setyo tidak menginginkan nya aku mau dia jadi putri kami..." kata Sindu lagi.


"ha ha ha...walaupun Setyo tidak mau mengakuinya tapi kita akan tetap mengakuinya sebagai keponakan kita yang sebenarnya. aku juga menyukai dia Sin..." kata Rehan dengan tertawa. akhirnya Merekapun masuk kedalam rumah besar keluarga Herlambang.


sedang di rumah Bara terlihat Kania yang sedang makan di kamarnya di temani Kinan dan Bara. tadi saat waktu makan siang, Bara dengan sengaja meninggalkan tumpukan pekerjaan untuk pulang dulu kerumah demi menemani makan siang sang gadis. sedang Kinan tidak mau masuk sekolah karena dia ingin menemani sang Bunda.


"Bun...habis ini kita kerumah sakit ya...?" kata Bara di sela makannya.


"Biar Bunda sama Arum dan Keti aja Pa.. bukankah Papa banyak pekerjaan...?" jawab Kania .


"Baiklah, tapi beneran ya kerumah sakit.." kata Bara tak yakin.


"Iya Pa... kalau Papa nggak percaya kita berangkat bersama, papa kekantor Kania dan Arum pergi kerumah sakit Okey..." jawab Kania yang melihat keraguan di mata Bara.


"Baiklah papa percaya sama Bunda.. nanti langsung keruangan praktek Om Yusuf aja , setelah dari sana langsung pulang.." kata Bara lagi.


"Baik Bos.. " jawab Kania dengan wajah menggoda.


"Dasar gadis nakal..." umpat Bara, karena saat ini dia tidak bisa mengganggu Kania yang sedang salit. dan Kania hanya tertawa bahagia melihat wajah sang kekasih kesal.


Setelah makan siang Bara segera kembali kekantor dia segera pergi setelah mengecup mesra dahi dan bibir sang kekasih.


"Jangan kemana- mana setelah pulang dari rumah sakit..." pesan Bara.


"Iya Pa... jangan cemas, Kania akan menuruti semua omongan Papa .." jawab Kania.


"Ya udah Papa pergi Asalamualaikum.." pamit Bara.


"Walaikum salam..." jawab Kania.


Setelah kepergian Bara, Kania segera mengajak Keti dan Arum pergi kerumah sakit. semula Kinan mau ikut, tapi setelah di bujuk dia mau menunggu Kania di rumah saja. Kania takut mengajak kinan ke rumah sakit karena rumah sakit tidak baik untuk anak kecil. ketika sampai di loby rumah sakit Kania bertanya ruangan Om Yusuf. seorang perawat membawa mereka ke tempat ruang praktek Dokter Yusuf.

__ADS_1


Sampai di sini dulu ya.. kita lanjut ceritanya besok, kalian jangan lupa lo... like dan komennya yang selalu author tunggu. maaf jika ceritanya agak sedikit.


Bersambung.


__ADS_2