Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
PENOLAKAN KANIA.


__ADS_3

Saat makan malam bersama keluarga terlihat Setyo Hadi hanya diam saja. Dia hanya sesekali melihat sang putri yang diduk dekat sang papa . terlihat Kania makan dengan diam. Setyo Hadi melihat mata sang putri terlihat agak sembab karena bekas menangis tadi. Ada perasaan bersalah di dalam hatinya.


"Kania...kenapa makannya dikit sich..?" tanya Kristal saat melihat Kania sudah selesai makan.


"Gue makannya emang sigitu sejak kecil Kris...udah kebiasaan.." jawab Kania dengan tersenyum .


"Makan segitu...? Emang kenyang ...?" tanya Kristal Heran. Karena dia melihat Kania hanya makan meberapa suapan aja. Memang sejak dulu kania kalau makan malam sedikit. (Mungkin karena saat kecil menghemat makanan 🤣)


"Kalau sudah biasa kenyang juga Kris..." jawab Kania dengan senyuman di wajah cantiknya..


"Karena itukah tubuhmu terlihat bagus dan seksi Nia...?" tanya Kristal mengagumi bentukbtubuh Kania yang tinggi seksi .


"Makan gue banyak kalau pagi hari Kris..?" jawab Kania.


"Saat pagi hari...?Kenapa...?" tanya Kristal heran.


"Entahlah...saat pagi hari perutku terasa lapar, tapi saat makan malam nggak nafsu untuk makan. Mungkin kebiasaan sejak kecil karena ada seseorang yang akan memarahi Nia kalau melihat Kania makan. Walaupun sering bik Monah mencurikan nasi buat Nia..." jawab Kania sambil tersenyum masam.


"Maksud kamu...?" tanya Kristal heran.


"Sst...makan dulu dech , nanti Kania ceritakan..." kata Kania kembali tersenyum manis.


"Benar kata Nia Kris... Kalau selagi makan jangan banyak berbicara, itu tidak baik ..." kata sang mama menyela. Kristal pun terdiam dan meneruskan makanannya. Sedang Setyo Hadi hatinya terasa tertusuk mendengar pengakuan Kania karena dia tahu apa yang di maksud Kania. Walau dia tidak pernah mengetahui kalau wanita itu sampai segitunya memperlakukan sang Putri. Setelah selesai makan malam mereka duduk bersama di ruang santai (ruang keluarga)sambil menonton TV atau mengobrol. Saat itu Kania, kristal ,Viktor dan Hardika sedang mengobrol bersama sambil bergurau.


"Nia...kapan kita berlatih bersama..? Gue pingin belajar beladiri darimu, itu lo beladiri yang dari china..apa itu...? Tanya Viktor yang lupa namanya.


"Wushu...?" jawab Kania.


"Iya wushu... Boleh kan aku belajar darimu...?" tanya Viktor.


"Boleh... Tapi jangan sekarang ya...soalnya Kania lagi sibuk menyelesaikan syuting film , seharusnya hari- hari sekarang ini gue sibuk tapi karena ijin dari Bos besar aja gue bisa libur..." kata Kania sambil tertawa.


"Waah...enak juga ya punya calon suami seorang Bos besar. ..." goda Kristal.


Kania hanya tertawa mendengar godaan sepupunya itu. Merekapun kembali mengobrol dan bercanda. Sedang Setyo Hadi selalu memperhatikan sang putri yang sesekali tertawa bersama putra- putri kedua saudaranya. di dalam hatinya dia merasakan ada perasaan sedih,marah ,kecewa, serta penyesalan yang berkecamuk di dalam dadanya.


"Jangan seduh kak, suatu saat Kania akan menyayangimu juga kak...." tiba- tiba Garnis sudah berada di sebelahnya bersama sang suami.


"Semoga saja Nis...." jawab Setyo Hadi.


"Itu pasti kak... Kau harus bersabar.. Dia terlalu banyak terluka karena perbuatanmu dulu, tak mudah untuk dia menghilangkan sakit hati yang terlaku para kau torehkan kak..." kata Sindu Wicaksono memberi komentar.


"Benar apa kata kamu Sin... saat itu kenapa aku terlalu bodoh , kenapa otakku seperti itu, bagaimana aku bida menuruti semua ucapan wanita iblis itu.. Aku begitu membenci gadis kecilku yang malang itu. Entahlah sepertinya akal sehatku hilang begitu saja... Kebodohan yang membuatku menyesal saat ini..." kata Setyo Hadi dengan wajah sedih.


"Benar apa katamu kak... Garnis juga heran kenapa kau lebih menyayangi gadis yang bukan darah dagingmu sendiri dan membuang Kania yang nyata- nyata putri kandungmu sendiri.." kata Garnis kembali. mereka bercakap- cakap sambil memperhatikan Kania yang sedang bercanda dengan putranya.


"Lihatlah dia begitu cantik dan anggun, kalau di bandingkan dengan putri angkatmu terlihat sangat jauh perbedaannya. Dia ludes sedang Puti angkatmu sombong, angkuh dan arogan.


perbedaannya bagai langit dan bumi..?" kata Garnis lagi.


"Benar apa katamu Nis, sebenarnya sudah sejak kecil perbedaan itu kuketahui bukan hanya kecantikan tapi kecerdasan Kania lebih unggul jauh dari si Deby, namun aku tak pernah menyangka kalau Kania sekolah pak Aseplah yang menyekolahkannya, kebodohanku adalah terlalu percaya pada wanita iblis itu. aku tak pernah mengira kalau dia bukan Sinta yang sesungguhnya. aku pikir memang Kania anak yang tak bisa di didik dengan benar..." sesal Setyo Hadi.


"Mungkin kau juga tak kan pernah tahu di dalam tubuh yang lemah itu terdapat kekuatan yang sangat dasyat..." kata Sindu bangga pada Kania.


"Maksudmu...?" tanya Setyo Hadi tak mengerti.


"Dia memiliki kekuatan yang sangat hebat, dia ahli dalan beladiri..." Sindu Wicaksono menjelaskan dengan nada bangga.


"Benarkah...? dari mana dia memperoleh keahlian beladiri itu..? setahuku pak Asep bukan seorang pria yang memiliki ilmu beladiri..?" kata Setyo Hadi heran.


"Kehidupan keras demi mencari makan menempa Kania menjadi seorang gadis yang sangat kuat, dia pernah hidup diantara para preman, dia banyak ditakuti para penjahat, namun dia juga pandai membawa dan menjaga diri..." puji Sindu pada Kania.


"Ya ampun...begitu menderitakah kehidupan putriku..?" sesal Setyo Hadi.


"Oh ya kak...kenapa kau mengirim orang untuk membunuh Kania...?" tanya Garnis dengan nada Marah.


"Sebenarnya bukan aku yang menyewa para pembunuh bayaran itu, tapi Sita.. Sinta yang menyewa pembunuh bayaran agar mencelakai atau membunuh Kania. tapi yang kudengar rencana itu gagal.." kata Setyo Hadi.


"Benar, Rencana itu gagal karena mereka tidak mampu melukai Kania, ...tapi syukurlah karena masalah itu calon mertua Kania marah dan mempertemukan Kania dengan Kami.." jelas Sindu lagi.


"Maksudmu si Mahesa sendiri yang datang kesini..?" tanya Setyo Hadi tak percaya.


"Iya, Dia sendiri yang mempertemukan Kami dengan Kania...kata Sindu menjelaskan.

__ADS_1


"Kak...apakah kau punya anak dari wanita itu..?" tiba- tiba Garnis bertanya.


"Tidak, .. selain Kania aku tak punya anak dari wanita itu..." jawab Setyo Hadi.


"Untung kau tidak mempunyai keturunan dengannya kak...." kata Sindu tiba- tiba.


"Benar juga, apa dia meminum obat pencegah kehamilan kak...?" tanya Garnis dengan wajah heran.


"Setahuku enggak sich...tapi entahlah.." jawab Setyo Hadi.


"Keuntungan ini bisa membuat kita lebih mudah mengurusnya. Andai dia mempunyai keturunan darimu, kita akan sedikit kebingungan tentang anak yang kau dapatkan dari dia.." kata Sindu lagi.


"Benar Katamu Sin... Untunglah dia tidak hamil saat bersama denganku..." jawab Sindu lagi. Walau dia berbicara dengan adik dan adik iparnya mata Setyo tetap tertuju pada sang putri. Percakapan mereka terhenti ketika Kania tiba- tiba berdiri dan mendekati sang Kakek. Terlihat dia berbicara dengan Kakek Herlambang. Melihat itu Setyo Hadi berdiri dan mendekati mereka.


"Sayang....apakah kau tidak ingin berbicara dan memaafkan Papamu ini nak....?" tanya Setyo dengan wajah sedih duduk di depan Kakek Herlambang dan Kania.


"Papa....? Siapa Papa Kania...? Saya rasa Kania nggak pernah punya seorang Papa...Kania hanya memiliki paman Asep dan bik Monah sejak Kania lahir...?" jawab Kania sinis. Walau di dalam hati Kania menjerit ingin menangis. sebenarnya dia tak sanggup menyakiti seseorang apalagi dia adalah Papanya, tapi luka di hatinya membuat dia kesakitan.


"Kania...aku Papamu... Papa yang membuatmu lahir kedunia ini..."kata Setyo Hadi sambil menatap putrinya.


"Papa Nia...? Sejak kapan anda merasa pernah memiliki anak seperti Kania...? Pernakah anda melihat bayi kecil Kania saat dia menangis walau hanya sebentar,..? pernakah anda menggendong atau menunggui Kania kecil saat Kania sakit, ..?apakah anda pernah membelikan baju atau selimut sejak Kania lahir...? apakah anda tahu sudah makankah Kania atau sudah minum susukah dia...?tidak... !jawabannya tidak sama sekali... Karena anda tak perduli hidup atau matinya dia.. Yang anda ketahui dan sayangi hanya putri kesayangan anda si Deby. Kania bisa hidup sampai sekarang itu karena kasih sayang dan pengorbanan bik Monah dan Paman Asep. Tanpa mereka mungkin Kania tak akan bisa hidup sampai sekarang, atau mungkin hidup Kania ada di dalam panti asuhan. Apakah anda pernah merasa memiliki Kania sebagai putri anda...? Jangankan baju atau uang, untuk menyekolahkan Kania saja Kania harus menerima belas kasih bibik Monah dan paman Asep dengan susah paya mereka menyekolahkan Kania dengan uang gajih dari anda. Apakah anda juga tahu ketika istri tercinta anda sering dengan sengaja mengunci almari makanan agar Kania kecil tidak bisa makan malam...? ( Kania terdiam sejenak menghapus air mata yang berderai di pipinya) apakah itu yang tuan Setyo Hadi katakan sebagai seorang Papa, andai Kania bisa memilik Kania tak ingin di lahirkan , tapi Kania sudah terlahir di dunia ini, tapi Kania bersyukur pada Tuhan karena Tuhan masih memberi Kania orang- orang yang mencintai Kania dengan tulus...." kata Kania sambil menunduk sedih. Air matanya deras mengalir. Nyonya Farah tak tahan lalu memeluk Kania dengan erat.


"Bibi... Kania tak ingin di lahirkan jika mesti seperti itu..." kata Kania yang ada di dalam pelukan nyonya Farah.


Sedang Setyo Hadi terduduk menangis mendengar omongan Kania. Dia tak pernah menyangkah kehidupan putrinya sampai begitu menderita. Dia tak pernah tahu karena wanita itu yang telah mengurusi semua masalah di rumah.


Terlihat Kakek , Rehan dan Sindu serta Garnis menahan marah begitupun dengan putra putri mereka.


"Yo...apa yang sebenarnya kamu lakukan, mengapa kamu sampai seperti itu Yo... jangan kau bilang kau tidak mengetahui semua ini...?" teriak Kakek Herlambang marah.


Plaak....


Tiba- tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Setyo Hadi.


"Benar- benar keterlaluan kau Yo.. sebegitu bodohnya dirimu Yo hingga membuat putri tunggalmu tersiksa seperti itu...?" teriak Rehan setelah menampar pipi Setyo Hadi.


"Tampar kak ,tampar aku...aku memang pantas menerima pukulan atau tamparan dari kakak atau Papa, aku memang orang yang paling bodoh dan jahat hingga mampu menyiksa putriku, aku memang orang yang paling tak tahu diri..." seru Setyo Hadi sambil menangis.


"Tidak kak.. Kalian boleh menghukum diriku tapi jangan jauhkan aku dari putriku satu- satunya. Nia...tolong hukum Papa nak tapi tolong maafkan kesalahan Papa Nia... Papa tak ingin berpisah lagi denganmu nak.. Papa mohon jangan benci Papa, jangan jauhi Papa, maafkan Papa sayang..." Mohon Setyo sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Kania menatap Setyo Hadi dengan perasaan sedih. Sebenarnya dia tak sanggup melihat orang tua itu berwajah menyedihkan tapi luka di dalam hatinya terlalu sakit dia rasakan.


"Maafkan saya tuan...saat ini hati Kania belum sanggup untuk memaafkan anda.." tolak Kania datar.


"Kania..." seri Setyo hadi dengan wajah sedih.


"Kakek, paman, maaf boleh Kania istirahat dulu..." pinta Kania.


"Pergilah nak.. Kau istirahatlah dulu..." jawab Kakek Herlambang.


"Trimakasih Kek..bik Nia pergi kedalam dulu.." Kata Kania sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Pergilah sayang.... Kompres matamu dengan air dingin, agar besok tidak bengkak. Ingat besok adalah hari kebahagiaanmu...." kata Farah sambil membelai lembut Kania.


"Trimakasih Bi...selamat malam semuanya..." Kania pun lalu berjalan masuk kedalam rumah. Dia berjalan kearah kamar tidurnya. Ketika sampai di depan kamar Kania bertemu dengan Arum dan Keti.


"Bos..." kata Arum.


"Keti, Arum kalian di sini ..." tanya Kania.


"Iya Bos... Bos Nia baik- baik aja kan...?" tanya Arum.


"Aku baik- baik aja Rum.. Bisa minta tolong ambilkan aku air dingin untuk mengomptes mata sembabku, juga mentimun dingin ya Rum...?" pinta Kania.


"Ini sudah bik Monah sediakan sayang.." kata bik Monah yang sudah datang sambil membawa baskom kecil berisi air dingin dan irisan mentimun. Dia juga sudah membawa kain bersih untuk menjadi kompres mata.


"Trimakasih Bibik sayang.. Bik Monah memang yang paling tahu Kania.." kata Kania sambil memeluk dan mencium bik Monah.


"Kau ini tidak pernah berubah Nia..." kata bik Monah sambil membelai rambut Kania.


"Ya sudah sekarang kamu tiduran , bibik akan mengompres matamu..."kata bik Monah.


"Bik..biar kami berdua yang mengompres mata Bos Nia...?" pinta Keti dan Arum.

__ADS_1


"Baiklah , kalau begitu bibik keluar dulu, nak..jangan menangis lagi sayang... Kau harus selalu ingat. Manusia yang beriman selalu memaafkan kesalahan orang lain, apalagi dia orang tuamu sayang... Tuhan saja memaafkan hambanya yang banyak dosa. Apalagi kita yang hanya seorang manusia, jadi maafkanlah Papamu itu dan kau juga tahu kalau itu bukan hanya kesalahan yang Papamu lakukan. dengan sengaja. Paman dan bibik tak pernah mengajarkan Kania untuk membalas dendamkan...?" kata Bibik Monah dengan bijaksana.


"Trimakasih Bik...bibik dan Paman memang orang yang terbaik untuk Kania. Beruntung Kania hidup di asuh Bibik dan Paman Asep.." kata Kania kembali memeluk bik Monah.


"Iya sayang...bibik juga sangat beruntung memiliki dirimu di kehidupan bibik , jadi berusahalah untuk menghilangkan kebencianmu pada tuan Setyo Hadi


Papamu. Kasihan dia nak..." nasehat bik Monah.


"Baiklah bik...Kania akan menuruti kemauan bibik. Kania akan berusaha memaafkan Papa.." jawab Kania. Bik Monah segera keluar dari ruangan itu setelah mencium lembut dahi Kania.


"Bos...benar kata bik Monah, Arum tadi sangat kasihan melihat tuan Setyo Hadi yang menangis sampai seperti itu. Arum yakin dia sangat menyesali perbuatannya...' kata Arum sambil mengompres mata Kania.


"Kok Kalian tahu...?" tanya Kania heran.


"Maaf..kami tadi mengintip kejadian di ruang keluarga tadi. Bukan Hanya kami Bos ..tapi hampir semua pembantu melihat itu. Kami sempat menangis mendengar perkataan elo Bos..."kata Arum lagi.


"Jadi kalian tadi mengintip...?" tanya Kania.


"He he he ..iya Bos..?" jawab Arum sambil tertawa. Tiba- tiba terdengar. Bunyi ponsel milik Kania.


"Tolong ambilkan. Ponselku..." kata Kania yang sedang di beri irisan mentimun di matanya.


Keti segera beranjak untuk mengambil ponsel Kania yang ada di atas meja.


"Dari siapa...?" tanya Kania.


"Bos besar Bos..." jawab Keti sambil mengulurkan ponsel pada Kania.


"Halo Asalamualaikum Pa...?" sapa Kania.


"Walaikum salam...sedang apa sayang..?" tanya Bara.


"Sedang mengompres mata Pa..." jawab Kania.


"Mengompres mata..? Emang kenapa dengan matamu..?' tanya Bara.


"Nggak ada Pa..hanya untuk kecantikan bukankah besok papa datang bersama keluarga, jadi Kania pingin tampil cantik.." kata Kania berbohong.


"Jangan bohong...kamu tadi banyak menangis kan...?" tebak Bara.


"Lo Papa kok tahu...? Siapa yang ngasih tahu Papa..? Pasti Arum dan Keti kan..?"tanya Kania kaget.


"Itu memang tugas mereka sayang... Lalu kenapa kamu berbohong..?" tanya Bara.


"Kania tak ingin Papa gelisah memikirkan Kania..." jawab Kania.


"Sayang..bukankah aku sudah bilang, jangan menyembunyikan apapun dariku, aku akan semakin gelisah dan tak suka jika kamu berbohong..." kata Bara .


"Maafkan Bunda Pa... Bunda hanya tak ingin Papa sedih dan gelisah..." jawab Kania.


"Lain Kalian jangan kau ulangi lagi..." kata Bara datar.


"Iya, iya..maafkan Bunda.." jawab Kania.


"Ya udah sekarang tidurlah, besok Papa mungkin jam 10 atau 11 sampai di sana.." kata Bara lagi.


"Nia tunggu pa...baiklah kalau begitu Nia tidur dulu ya...Asalamualaikum.." pamit Kania.


"Walaikum salam..." jawab Bara.


Merekapum mengakhiri percakapan mereka.


"Rum , Keti kalian berdua kembalilah kekamar kalian, gue nggak apa- apa di tinggal sendiri. gue sudah mau tidur..' kata Kania.


"Elo tidur aja Bos.. Kami akan keluar ketika Bos sudah tidur kami masih ingin melihat TV kok... Tapi Bos nggak terganggu kan...?" tanya Keti.


"Nggak... Kalau begitu gue tidur dulu, kalau kalian keluar jangan lupa tutup pintunya ya.. " kata Kania.


"Baik Bos..." jawab mereka berdua.


jangan lupa like dan komentarnya dong..maaf ceritanya agak pendek, besok Author lanjut lagi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2