
Saat ini Kania bersama pak Asep dan bik Monah serta Arum dan Keti masih asyik menonton TV. Sedang Kinan setelah makan malam Tadi dia sudah tertidur di sofa berbantal pangkuan Nia.
"Kania...kamu nggak akan pulang kesini nak...?" tanya Pak Asep.
"Sebenarnya Kania dalam minggu- minggu ini mau balik kesini Paman karena kesehatan Kania sudah lebih baik, tapi ternyata Kania mendapatkan apartemen dari kantor paman..." jawab Kania dengan sedih.
"Apaa...apartemen...?" tanya mereka perdua hampir bersamaan.
"Iya bik, paman..." jawab Kania.
"Apartemen itu apa yang seperti rumah susun itu Nia...?" tanya bik Monah .
"Hampir sama sich bik, cuman kalau apartemen itu hunian mewah..." kata Kania menjelaskan .
"Yang menghuni aparteman itu orang- orang kaya bik...kalau seperti kita- kita mah rumah susun aja.." jawab Arum berkelakar.
"Ooo jadi nanti Kania tinggal di apartemen mewah itu sayang..." tanya bibik Monah penuh perhatian.
"Seperti itulah bik..." jawab Arum menggantikan Kania menjawab pertanyaan bik Monah .
"Kenapa tidak tinggal di dini aja kamu ndok...bibik takut kalau kau jauh dari bibik..." keluh bik Monah sedih.
"Maunya Kania begitu Bik, tapi perusahaan yang menentukan , agar kania lebih dekat dengan perusahaan. ..." jawab Kania.
"Ya sudahlah Mon... Biarkan anak kita tinggal disana, kalau itu sudah keputusan perusahaan gimana lagi. Mungkin itu jalan dari Tuhan agar Kania lebih maju Mon..." kata pak Asep menasehati bik Monah.
"Apa bibik mau tinggal bersama Kania..?" tanya Kania sambil membelai tangan bik Monah yang ada di sebelahnya dengan sayang.
"Nggak usah Nia..biar bibik tinggal di sini aja, Kasihan dengan para pelanggan yang sudah terbiasa dengan restoran kita, kasihan juga dengan Karyawan kita mereka akan kehilangan pekerjaan mereka... " jawab Bik Monah sambil membelai kepala Kania dengan sayang.
'Benar juga kata Bibik, kalau bibik menutup restorannya gimana dengan hidup karyawan yang bekerja di testoran ini.
"Baiklah kalau begitu, Kania akan sering kemari menemui kalian kala Kania memiliki waktu senggang..." kata Kania sambil memeluk bik Monah dengan sayang.
"Iya..bibik sama paman percaya sama kamu nak .." jawab Bik Monah.
"Lagian kan ada kita berdua bik yang jagain Bos Kania, kami akan menjaga Bos dengan baik bik..." sela Arum .
"Jadi kalian akan tetap bersama Nia..?" tanya Bik Monah.
"Insyaallah bik...." jawab Arum.
"Syukurlah ...kalau begitu bibik agak tenang membiarkan Kania tinggal di apartemen..." Kata bik Minah.
"Kalian bertiga harus menjaga diri kalian baik- baik..." nasehat paman Asep.
"Beres Paman..." jawab Arum.
"Oh ya Nia, kok si Kinan memanggilmu Bunda...?" tanya Bik Monah yang sejak tadi ingin menanyakan pertanyaan itu pada Kania.
"Dia yang menginginkan itu Bik, kasihan anak itu dia merindukan. kasih sayang seorang ibu..." jawab Kania.
"Apa tuan Bara tidak marah...?" tanya Bik Monah. Ketika pertanyaan itu keluar dari mulut bik Monah wajah Kania memerah.
"Tuan Bara tidak mempermasalahkan itu Bik..".jawab Kania. Tak urung bik Monah melihat perubahan wajah Kania.
"Sayang...atau ada sesuatu yang terjadi antara kamu dengan tuan Bara...?" tanya bik Monah sambil membelai rambut Kania yang ada di sampingnya.
"Ih bibik apan sich...?" jawab Kania malu.
"Yaa siapa tahu...kalau memang ada bibik merestui kok tuan Bara itu orangnya terlihat sangat memperhatika kamu Nia,..." goda bik Monah.
"Iya Nia.. bibik dan paman hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu, hanya saja kau perlu ingat antar kau dan tuan Bara sangatlah jauh perbedaannya, walau sebenarnya kau putri orang Kaya nak, tapi keadaanmu sekarang hanyalah keponakan dari seorang pemilik restoran kecil..." kata pak Asep dengan wajah sendu.
"Iya Paman, Nia tahu , Nia mengerti kesedihan dan kekawatiran paman, doakan saja Kania sukses agar Kania bisa menunjukkan siapa Kania , dan menunjukkan pada mereka tanpa mereka Kania bisa sukses , karena Paman dan bibik yang merawat Kania..." kata Kania meyakinkan mereka.
"Benar nak, tunjukkan pada mereka bahwa kaulah yang terbaik..." kata bik Monah.
"Benar apa kata paman dan bibik Bos, Kau harus menunjukkan pada kedua orang tua yang telah membuang Bos kalau Kania tidak membutuhkan bantuan mereka untuk bisa menjadi orang yang terbaik..." seru Arum dengan semangat.
"SEMANGAT BOS...." teriak Keti sambil mengacungkan genggaman tangan keudara. Merekapun akhirnya tertawa bersama.
Sedang Bara yang ada di rumahnya sedang merasa kesepian di tinggal kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya . dia mondar mandir di dalam kamarnya. Sesekali dia duduk di atas tempat tidur lalu kembali lagi berdiri dan berjalan kearah balkon, gerakan itu dia lakukan berkali- kali.
"Ya ampuun... Kenapa aku segelisah dan sesepi ini ketika sehari saja dia pergi dari sisihku, bagaimana kalau dia lama jauh dari aku,...?" kata Bara perlahan. Dia kebingungan sendiri. Dan akhirnya dia nggak tahan. Dimbilny ponsel miliknya yang berada di atas meja. Dia seger menghubungi Kania.
Saat itu Kania sedang mengangkat tubuh Kinan yang sudah tertidur.
"Paman, Bibik Kania tidur dulu ya.. kasihan Kinan..?" pamit Kania pada Paman dan Bik Monah untuk pergi tidur. Dia merasa Kasihan pada Kinan takut tidurnya sakit karena tidur di Sofa.
"Iya nak..pergi sana, kasihan Kinan, dia bisa sakit badannya karena tidur di Sofa..." jawab bik Monah.
"Iya bik, dan kalian berdua bisa tidur di kamar tamu. Kalau mau ganti baju pakai baju Kania yang ada di dalam lemari di ruangan itu..." kata Kania sambil berdiri.
"Baik Bos..." jawab mereka berdua. Merekapun berpamitan pada Paman Asep dan bibik Monah. Kania segera melangkah kearah Kamarnya saat sampai di depan pintu kamar terdengar dering ponselnya yang ada di saku celana panjangnya. Dengan cepat Kania segera masuk kedalam kamarnya dan menidurkan Kinan . setelah itu buru- buru dia mengambil ponselnya. Terlihat nama Bos Bara tertera di layar ponsel.
'Ada apa dengan Bos Bara, malam- malam begini menelpon...pikir Kania sambil menerima panggilan.
"Asalamualaikum..." sapa Kania lembut.
"Walaikum salam belum tidur...?" tanya Bara.
"Ini baru mau tidur Bos...?" jawab Kania.
"Sayang ... Kau minta di hukum ya...?" kata Bara dengan gemas.
"Uff ..maaf , Kania lupa Pa..." jawab Kania sambil tersenyum masam.
"Dari mana jam segini belum tidur..?" tanya Bara lagi.
"Habis berbincang dengan Paman dan Bibik , memberitahukan pada mereka kalau Kania akan tinggal di apartemen.." jawab Kania.
__ADS_1
"Oo..jadi kau sudah memberitahu mereka...?" tanya Bara kembali.
"Iya, mulanya mereka agak keberatan, tapi setelah Kania menjelaskan mereka mengijinkan..." jawab Kania.
"Alhamdulillah mereka tidak keberatan.." kata Bara bernafas lega, bagaimanapun mereka adalah orang yang membesarkan Kania dengan kasih sayang layaknya orang tua. Sewajarnya Kania meminta ijin pada mereka.
"Iya mereka mengijinkan Kania, dan ada apa Papa telfon Bunda malam- malam.." tanya Kania heran.
"Papa kangen Bun...?" jawab Bara terlihat ada kesedihan di dalam dadanya.
"Baru sehari Papa berpisah dengan Kinan, bukankah dulu Kinan juga sering di tinggal keluar negri..." jawab Kania.
"Bukan sama Kinan Bun....tapi sama Bunda Kinan Papa kangennya..?" jelas Bara membuat Kania memerah wajahnya dan berdetak cepat jantungnya.
"Idih gombal...baru juga sehari..." jawab Kania walau di dalam hati ada rasa bahagia mendengar omongan Bara.
"Beneran Bun...entahlah sejak Bunda dan Kinan tadi pergi Papa sudah nggak bisa tenang di dalam rumah, maunya Papa tadi menyusul kalian, untunglah ada Anton dan Dika yang datang membicarakan pekerjaan..." kata Bara menjelaskan.
"Lalu mereka sudah pulang....?" tanya Kania.'ist pertanyaan apa aku ini, bukankah sekarang sudah larut malam, dasar bodoh...umpat Kania dalam hati.
"Sudah Bunda... Karena itu Papa nggak bisa tidur, papa kangen Bunda..." jawab Bara. Kania tak Bisa berkata lagi.
"Bun..Papa kesana ya...?" tanya Bara.
"Papa...ini sudah malam Pa...besok aja papa kemari..." seru Kania .
"Tapi Papa nggak bisa tidur..." seru Bara dengan nada sedih.
"Baiklah ,sekarang kita vidcol aja sebentar Okey...." jawab Kania memberi ide.
"Baiklah Papa tutup dulu ya..." Bara langsung menutup sambungan telfon. Tak lama Bara sudah menghubungi Kania melakui Vidio col.
Perlahan Kania menerima sambungan telfon
"Halo sayang....?" seru Bara sambil tersenyum cerah saat melihat wajah Kania di layar ponselnya. Kania yang melihat senyuman Bara menjadi salah tingkah.
'Ya ampuun cakep banget manusia satu ini, jelas aja banyak kaum wanita yang klepek- klepek memandangnya wajahnya ..teriak Kania dalam hati.
"Sayang calon suamimu ini memang tampan kok, jadi sudah puas ngelihatnya..." goda Bara yang melihat Kania tertegun melihatnya.
"Yee...dasar narsis, ..." gerutu Kania sambil memandang kearah lain. Barapun tertawa melihat tingkah dan mendengar omongan Kania.
"Sayang...jangan menghadap kearah lain dong..." seru Bara.
'Ya Tuhan...mana gue mampu melihat wajah tampannya...' teriak Kania dalam hati.
"Sayang...." seru Bara.
"Iya, iya...gini..puas..." jawab Kania sambil menatap Bara. Terlihat wajahnya yang merona merah. Bara yang melihat itu menjadi semakin gemas.
"Sayang...Papa kesana ya....?" kata Bara merayu.
"Beneran Bunda mau nyanyi...?" tanya Bara kaget.
"Iya Bunda akan nyanyi tapi cuma malam ini aja karena Papa nggak bisa tidur ..." jawab Kania.
"Baiklah Papa mau memejamka Mata.." kata Bara .kemudian dia memejamkan matanya. Dan Kania segera bernyanyi dengan lembut.
Sebening embun pagi
Sinar matamu
Bila kupandang wajahmu
Aku sayang padamu
Seindah mutiara
Sebersih salju
Bila 'ku usap rambutmu
Permata hatiku
Setiap malam tiba
Engkau dalam pelukanku
Dengan rambut terurai
Ku rayu dirimu
Setiap malam tiba
Sedang nyenyaklah tidurmu
Kubelai wajahmu
Dengan penuh haru
Di dalam hidupku
Engkau ku sayang.
Betapa tampan wajahmu
Kekasih hatiku.
Kania terpaksa menyanyikan lagu yang sering dia gunakan untuk menidurkan Kinan.
'He he gue punya bayi besar yang harus gue tidurkan.( kata Kania tertawa dalam hati)
__ADS_1
Sedang Bara ketika mendengar nada lembut dan merdu yang di lantunkan Kania terpesona mendengarnya. perlahan dia tertidur dengan pulasnya. Saat Kania menatap kearah ponsel yang di taruh bara di atas bantal menghadap dirinya Kania melihat Bara yang sudah tertidur pulas.
"Sayang....sayang...." perlahan Kania memanggil Bara. Tapi Bara yang sudah tertidur diam saja. Kania pun tersenyum
"He he he...bukan cuma Kinan yang terhipnotis suara gue..." kata Kania perlahan sambil tertawa. Dia pun segera membetulkan tidur Kinan sebelum dia menarik selimut untuk menutup tubuh Kinan dan dirinya. Dan akhirnya dia menyusul Kinan terbang kealam mimpi.
*****
Pagi- pagi saat terdengar adzan subuh berkumandang Bara terbangun dari tidur nyenyaknya. Perlahan dia teringat kejadian semalam, terlihat senyuman manis di bibir seksinya.
"Sayang...aku semakin merindukan dirimu... Baru satu malam kita berpisah. Bagaiman jika kamu sudah tinggal di apartemen...." seru Bara bingung.
Dia segera beranjak pergi kedalam Kamar mandinya.
Setelah mandi dan sholat subuh terlihat Bara sudah memakai baju rapi. Setelah merapikan penampilannya sebentar terlihat dia bergegas menuruni tangga dengan wajah cerah . Dia berjalan menuju dapur.
"Gio..." serunya memanggil chef Gio yang terlihat sedang memasak di bantu beberapa pelayan.
"Saya tuan..." jawab Gio dengan cepat. Dia segera berjalan menghampiri Bara yang ada di depan Pintu dapur.
"Kau masaklah masakan kesukaan Nona Kania dan tuan mudahmu Kinan.." kata Bara memerintah.
"Lo bukannya mereka sedang pergi tuan..?" tanya Gio heran.
"Nanti mereka datang...." jawab Bara.
"Baik Tuan..." jawab Gio.
Bara pun segera pergi keluar. Dia segera menaiki mobil sport Pagani Huayra Tricolore miliknya yang baru dia beli.
Mobil mewah yang berharga puluhan milyar itu perlahan berjalan meninggalkan rumah mewah milik Bara. Tak berapa lama mobil itu telah dengan srmpurna parkir di depan rumah pak Asep bersebelahan dengan mobil merah Kania. Untung saat itu hari masih pagi hingga tidak terlalu banyak orang berlalu lalang di sekitar rumah Kania, hingga mobil mewah itu tidak terlalu membuat perhatian orang yang lewat. Namun masih ada juga orang yang kagum dan bertanya- tanya siapa pemilik mobil mahal itu. apalagi para tetangga pak Asep, mereka bertanya- taya siapa tamu pak Asep yang memiliki mobil semewah itu ,kenapa mobil itu parkir di rumah pak Asep. Kania yang saat itu sedang memandikan Kinan terkejut ketika Bik Monah memberitahukan bahwa tuan Bara sudah ada di ruang tamu.
"Nia ada tuan Bara ...." seru bik Monah pada Kania.
"Apa bik..." tanya Kania tak terlalu mendengar omongan bik Monah karena sedang merapikan rambut Kinan.
"Ada tuan Bara di ruang tamu Nak..." jawab bik Monah sambil membuka pintu kamar Kania.
"Tuan Bara sudah ada disini...?" tanya Kania tak percaya.
"Iya Nia...itu ada di depan , dia ada di ruang tamu sedang berbincang dengan pamanmu..." jawab bik Monah lagi.
"Sayang...papa sudah datang tu, ayo kita keluar..." ajak Kania pada Kinan. Dia bertanya- tanya dalam hati mengapa Bos Bara pagi- pagi sudah berada disini.
"Baik Bun..." jawab Kinan. Mereka segera keluar dari kamar Kania.
Setelah sampai di luar mereka melihat Bara sedang berbincang dengan pak Asep. Bara yang memakai baju kaos berlengan pendek warna putih dan celana jeans Biru terlihat gagah dan tampan.
"Papa...." seru Kinan sambil mendekati Bara.
"Sayang...." jawab Bara sambil memeluk Kinan yang lari kearahnya. Dia menatap Kania dengan wajah ceriah.
"Bos..." kata Kania.
"Nia ...kita pulang sekarang...?"ajak Bara
"Sekarang...?" tanya Kania heran.
"Iya, ada pekerjaan yang harus di selesaikan...?" jawab Bara.
"Kita pulang sekarang Pa...?" tanya Kinan.
"Iya sayang...." jawab Bara
"Tapi Bos..." kata Kania ingin membantah , sebab dia masih belum puas menjenguk paman dan bibik Monah. Terlihat wajah Bara sendu.
"Sudahlah Nia...sana kau bereskan dulu baju- baju nak Kinan...." kata pak Asep yang melihat kesedihan wajah Bara.
"Baiklah Kania mau membereskan baju Kinan dulu..." jawab Kania mengalah. Kania segera melangkah kedalam kamarnya. Ketika melalui kamar tamu dia bertemu dengan kedua pengawalnya.
"Kita pulang sekarang..." kata Kania.
"Lo kenapa Bos...?" tanya Keti tak mengerti.
"Tu Bos elo udah datang..." jawab Kania jengkel.
"Bos Bara...?" tanya Arum tak percaya. Kania hanya menjawab dengan anggukan.
"Udahlah cepat kalian berberes..." perintah Kania.
"Siap Bos.." jawab mereka berdua.
Setelah membenahi baju Kinan dam dia mengganti bajunya dengan celana dan kaos lengan panjang warna kuning kesukaannya serta merias Wajahny tipis dia segera keluar dari kamarnya dengan membawa tas yang berisi baju Kinan. Ketika sampai di ruang tamu kedua pengawalnya bersama bik Monah sudah menunggu bersama Bara dan Pak Asep.
"Paman Asep dan bik Monah Kania pergi dulu ya... Lain kali Kania datang lagi..." pamit Kania.
"Apa kalian tidak sarapan dulu...?" tanya bik Monah.
"Ndak usah bik, kami buru- buru..." jawab Bara.
"Paman, bibik, Kania pergi dulu..." pamit Kania.
"Ya sudah. jaga diri baik - baik nak, nanti kalau mau pindahan ke apartemen paman kasi kabar ya...?" kata pak Asep.
"Tentu paman,..nanti pasti Nia kabari...?" jawab Kania.
"Pak Asep bik Monah kami pergi dulu..." kata Bara berpamitan.
"Iya tuan hati- hati di jalan..." kata pak Asep. Kania memeluk pak Asep dan bik Monah bergantian sebelum mengikuti Bara dan Kinan masuk kedalam mobil Bara . Sedang kedua pengawal Kania membawa mobil Kania. tak lama terlihat dua mobil mewah itu beriringan meninggalkan rumah pak Asep
Bersambung dulu sobat, besok lanjut lagi. tak bosan author selalu ingatkan jangan lupa like dan komentarnya selalu author tunggu.
__ADS_1