Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
KAKEK TUA.


__ADS_3

Tak berapa lama datanglah tiga orang pria ke villa keluarga Subiantoro. Mereka langsung menemui Emilda yang telah menunggu di depan rumah.


"Din...gimana...?" tanya Emilda pada pria yang terlihat lebih kecil dari kedua pria yang bersamanya.


"Beres Nona.... Mereka adalah pembunuh profesional ..." jawab Jamaludin.


"Kalau begitu kalian masuklah dulu...." ajak Emilda dengan wajah senang. Mereka segera masuk kedalam Vila. Setelah mereka duduk Emilda segera berkata.


"Aku ingin kalian membunuh gadis itu, dia lumayan cantik kalau kalian menginginkan nya itu terserah kalian, yang aku inginkan hanya kematiannya saja..." kata Emilda dengan wajah masih marah.


"Tenang Nona...anda hanya menunggu kabar kematian wanita itu saja..." kata salah satu dari kedua pria besar itu.


"Lalu gadis mana yang akan jadi target kami.....?" kata pria tadi.


"Sebentar..." Emilda segera pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya , tak lama dia sudah kembali .


"Akan aku kirim foto wanita itu pada ponsel Kalian , berapa nomer ponsel Kalian..?" tanya Emilda pada kedua penjahat itu.


Salah satu pria tadi memberikan nomer ponsel nya. terlihat Emilda mengutak atik ponselnya.


"Sudah kukirim foto gadis itu pada ponselmu..." kata Emilda pada mereka. Terlihat kedua pria tadi melihat foto yang di kirim Emilda. Namun saat melihat foto itu, terlihat keterkejutan di mata mereka berdua.


"Maaf Nona...apakah gadis ini target yang harus kami bunuh...?" tanya salah satu dari dua pria tadi.


"Iya...kalian sanggup kan...? Aku ingin secepatnya kalian membereskan dia..." kata Emilda dengan angkuhnya.


"Maaf apa wanita ini bernama Kania...?" tanya Pria tadi.


"Kok kalian tahu...?" tanya Emilda sambil mengerutkan dahinya.


"Maaf Nona... Kami nggak sanggup melaksanakan tugas anda, jadi anda bisa meminta orang lain untuk melaksanakan tugas ini..." kata pria itu dengan wajah ketakutan.


"Apaa....? Kalian menolak tugas ini...? Jangan kawatir Aku akan membayar kalian dengan mahal..." seru Emilda marah .


"Maaf...lebih baik kami menolak tugas anda dari pada kami bunuh diri...maaf permisi kami pergi dulu..." kata pria tadi sambil berdiri dari tepat duduknya. mereka berdua akhirnya keluar dari Vila Emilda dengan terburu- buru .


"Hey...kalian mau kemana..." seru Emilda marah. Namun kedua orang itu tak perduli dengan teriakan Emilda.


"Brengsek....Din..kenapa kau bawa pria- pria pengecut seperti mereka...?" seru Emilda marah. Dia tak habis fikir kenapa mereka seperti ketakutan ketika mereka melihat foto Kania.


"Maaf Nona...tapi beneran mereka berdua adalah pembunuh bayaran yang sangat kejam, tapi saya juga nggak tahu kenapa setelah melihat wajah wanita yang akan di bunuh, mereka menolak dan mereka terlihat sangat ketakutan..." kata Jamaludin dengan heran.


"Aaahh...dasar mereka aja yang pengecut.... Sekarang cari lagi penjahat yang mau melaksanakan tugas dariku..." perintah Emilda.


"Baik Nona...kalau begitu saya permisi dulu..." kata Jamaludin mohon diri.


"Baiklah...tapi cepat kau cari lagi orang yang aku pinta..." kata Emilda. Dia memberikan amplop coklat pada Jamaludin .


"Baik Nona...permisi...." pamit Jamaludin sambil berjalan keluar dari Villa Emilda.


Setelah kepergian ketiga orang-orang itu, Emilda melempar fas bunga yang ada di atas meja dengan marah.


"Brengsek.....sialan, dasar wanita ja***g.. Ingin rasanya kukuliti wajah sok cantikmu itu.. Sialan, sialan ,sialaaaan..!" teriak Emilda dengan Marah.


Beberapa hari kemudian Jamaludin telah membawa beberapa penjahat datang ke Villa Emilda untuk mendapat tugas membunuh Kania. Tapi kejadian itu selalu berulang, saat mereka melihat foto Kania dan mendengar namanya , mereka akan segera menolak tugas itu dan lari keluar dari Villa Emilda dengan wajah ketakutan.


"Din...ada apa dengan mereka semua...?" tanya Emilda marah. Dia heran dengan para pembunuh bayaran itu.Mereka sepertinya takut pada nama Kania.


"Saya juga nggak tahu nona..." jawab Jamaludin yang juga heran pada mereka.


"Ooo aku tahu Din, pasti mereka sudah tahu kalau wanita itu sekarang di lindungi tuan Bara..." kata Emilda dengan perasaan kecewa.


"Mungkin juga nyonya...tapi mereka tahu dari mana....?" kata Jamaludin lagi.


"Bodoh....bukankah berita itu di tayangkan di televisi...." kata Emilda.


"Tapi mereka orang - orang kasar jarang melihat TV non...." kata Jamaludin lagi.


"Aahh....aku nggak tahu lagi Din.... sekarang aku minta kamu cari pembunuh bayaran yang mau melakukan pembunuhan itu secepatnya. Aku mau wanita ja***g itu segera mampus, aku nggak mau melihat dia hidup bahagia bersama anak dan suami aku..." kata Emilda dengan suara keras.


"Baik Nona saya akan berusaha mencarikan pembunuh bayaran itu secepatnya...." kata Jamaludin dengan segera. Setelah berpamitan Jamaludin segera keluar dari Villa Emilda.


Sedang di tempat Bara terlihat Kania yang sedang makan bersama dengan mertua , serta keluarga besar Herlambang. Terlihat Kakek Herlambang, tuan Rehan,nyonya Fara, tuan Sindu, nyonya Garnis serta Viktor, Hardika dan Kristal . ada juga Dika , Anton dan Farel .tak ketinggalan kedua orang tua Kania yang terlihat sangat bahagia sedang menikmati makanan yang telah di sediakan Bara . Mereka berkumpul di sana untuk melihat Kania yang katanya sedang hamil.


"Bara...jaga istrimu itu, jangan sampai terjadi sesuatu dengan cucu dan cicit Kakek..." kata kakek Herlambang .


"Iya Bara...benar yang di katakan kakekmu, kau harus menjaga Kania selalu, Papa juga tak ingin terjadi sesuatu pada menantu dan calon cucuku ...." kata tuan Mahesa menimpali.


"Jangan khawatir kakek, Papa....Bara pasti akan menjaga istri dan calon putra Bara dengan benar, Bara juga tak ingin terjadi sesuatu pada istri dan calon anak Bara kek..." jawab Bara sambil menatap sayang sang istri yang ada di sebelahnya.


"Bagus lah.... Kau memang harus melakukan itu..." kata kakek Herlambang lagi.


Mereka meneruskan menyantap makanan yang ada di atas meja bersama- sama. Setelah makan bersama selesai, Bara meminta ijin untuk membawa Kania masuk kedalam kamar agar bisa istirahat. Merekapun mengiyakan, Bara pun segera membawa Kania kekamar mereka. Setelah kepergian Bara dan Kania para orang tuan sedang membicarakan perayaan perkawinan Kania dan Bara. Sedang anak- anak muda sedang duduk dan berbincang bersama di teras .


Mereka juga mengajak Arum dan Keti yang baru datang dari luar untuk mengobrol. Semenjak Arum dan Keti ikut Kania tinggal di rumah Kakek Herlambang saat pertunangan dan perkawinan Kania itu, mereka memang sudah dekat dengan ketiga sepupu Kania itu.


"Keti, Arum gimana rasanya ikut dalam petualangan Kania....?" tanya Viktor .

__ADS_1


"Petualangan.....? Maksud tuan Viktor..?" tanya Arum tak mengerti.


"Hey...elo jangan memanggil gue tuan Rum... Biasa aja kalik ,kayak elo sama Kania...panggil aja gue Viktor.." kata Viktor .


"Iya Rum... Panggil aja kami nama aja.." timpal Kristal.


"Baiklah... Oh ya apa maksud elo petualangan Vik.....?" tanya Arum lagi.


"Maksud gue elo kan jadi pengawal Kania, gue tahu kalau kalian sering mengalami kejadian yang menegangkan, nach gimana perasaan kalian saat menghadapi semua itu..?" tanya Viktor menjawab pertanyaan Arum.


"Oo ..itu... Ya gimana ya...Perasaan biasa aja sich...habis kalau lawannya banyak, paling- paling yang banyak ngehadapi mereka Bos Nia sendiri... Tapi kalau cuma satu dua orang aja sich, cukup kami berdua yang ngehadapin..." jawab Arum santai.


"Apa kalian pernah bertarung melawan Kania sendiri..." tanya Viktor cerewet.


"Wee...gue...? Gue ngadepin Bos Nia sendiri...? mana mungkin Vik...Kalau gue sama Keti di gabungi pun nggak bakalan menang ....." jawab Arum .


"Benar juga Vik... bukankah kita sudah mencoba itu...bukankah kita berdua tidak bisa melawannya..., ?" kata Hardika menyela pembicaraan Viktor dan Arum.


"Lo kalian berdua sudah pernah melawan dia....?" tanya Farel menyela .


"Iya...saat pertama kali kami bertemu dia, saat itu kami penasaran saat kami mendengar kalau dia ahli dalam beladiri, jadi kami coba- coba...." jawab Viktor .


"Ternyata bukan cuma gue aja yang merasakan bulyannya...." kata Farel sambil tertawa, dan di sambut tawa mereka bersama.


"Emang siapa yang telah berani membuly kalian...." sebuah suara membuat mereka menengok kearah orang yang baru datang. Terlihat Bara mendatangi mereka untuk bergabung.


"Waah Bos Bara....ayo sini kumpul bareng...." kata Hardika sambil melambaikan tangannya. Bara segera mendekati dan duduk di sebelah Hardika yang masih tersisa satu kursi.


"Siapa lagi yang bisa membuly kami selain istrimu...." kata Hardika.


"Benarkah....?" kata Bara penuh kebanggaan.


"Kalian mungkin belum pernah melihat gerakan beru yang Bos Nia ciptakan..." kata Keti dengan bangga.


"Kania menciptakan tehnik karate baru...?" tanya Viktor kaget.


"Iya...dia menciptaKan tehnik baru, katanya gabungan dari ilmu beladiri silat taekwondo dia gabungin dengan gerakan wushu...." kata Keti menjelaskan.


""Apaa.. Kania punya ilmu beladiri Wushu...?" seru Viktor kaget.


"Gue dengar Bos Kania bilang begitu..." jawab Keti.


"Dan ilmu itu menjatuhkan Pak Tagor saat pak tagor bermain dengan Bos Nia..." kini Arum yang berkata.


"Kania bisa menjatuhkan bang tagor...?" tanya Farel tak percaya.


"Ya ampuun...benar- benar gila tu anak..." kata Farel .


"Emang siapa Tagor ...?" tanya Viktor.


"Dia salah satu pimpinan Dragon fly selain Kania..." jawab Farel.


"Ya ampun kak...ternyata kakak ipar bukan wanita biasa kak.... kalau nggak lihat kenyataan yang ada gue nggak percaya kalau dia wanita yang sekuat itu, kalau kita lihat tingkah dan bentuk tubuhnya , kita nggak akan menyangka kalau dia wanita yang sangat kuat, dia bagai wanita lemah yang tak mampu melawan seekor semut..." kata Dika pada sang kakak.


"Benar....dia bisa menipu dengan tampilannya...." kata Viktor menimpali.


"Makanya....jangan meremehkan kekuatan seorang wanita..." kata Kristal dengan bangga.


"Widih...yang bangga pada Kania..." goda Farel pada Kristal, memang semenjak Farel mengenal para sepupu Kania, dia sudah mulai dekat dengan mereka.


"Jelas dong...saudara gue..."jawab Kristal dengan bangga.


"Kris...gue heran sama elo... elo sama Kania cepat sekali lengket tapi dulu sama si Deby kenapa elo bermusuhan banget, ...?' tanya Hardika pada sang adik.


"Jelas aja kak... Kania orangnya ramah, baik hati, muda diajak bicara, bisa menjadi teman curhat, nggak sombong, tapi kalau si kampret Deby itu, sudah sombong, arogan kikir, pokoknya banyak sekali sifat jeleknya mana mungkin bisa di jadikan teman..." jawab Kristal .


"Lo...emang Nona Kristal sama si Deby itu bermusuhan....?" tanya Arum heran.


"Iya... bagai kucing dan anjing... kalau kita lagi kumpul pasti ada pertengkaran di antara mereka. pokoknya nggak ada yang namanya keakraban dech.." Jawab Viktor .


"Bagaimana mau akur kalau dia selalu mencari masalah terhadapku...? terakhir masalah yang di buat, dia menfitnaku mengambil barangnya tentu saja gue marah, ..." seru Kristal dengan kesal.


"Jangan marah lagi dek...bukankah dia sekarang bukan saudara kita lagi, lagian dia sekarang entah di mana, kita nggak tahu di mana keberadaannya..." kata Hardika menghibur sang adek.


"Bener kak ngapain gue mikirin wanita sombong itu...nggak ada guna juga.." kata Kristal lagi. merekapun berbincang bersama di teras rumah Bara dengan di temani Kopi dan makanan ringan yang di buat bik Monah. Sedang wanita yang mereka perbincangkan kini sedang asik tidur di kamarnya.


Sedang para orang tua di keluarga Herlambang dan Dirgantara sedang mempersiapkan perayaan perkawinan Bara dan Kania yang akan di selengarajan dua minggu yang akan datang.


*****


dua hari kemudian,di dalam Villa keluarga Subiantoro terlihat Emilda sedang sibuk menelfon. terlihat wajah kekesalan di wajahnya yang lumayan cantik itu. sudah tiga hari ini dia mencari penjahat yang mau dia tugaskan untuk membunuh Kania, namun usahanya belum juga berhasil. seperti sebelumnya, setiap para penjahat melihat target yang harus mereka bunuh, merekapun segera mengundurkan diri.


"Kenapa dengan para pembunuh itu, kenapa mereka tidak ingin berurusan dengan wanita brengsek itu. apakah karena Bara...?Ck...dasar wanita brengsek, wanita sialan,, wanita rendahan, aaahk......" Elisabet melemparkan barang yang ada di atas meja.


"Bengseeek...brengsek...dasar manusia rendahan...." seru Emilda seperti orang gila. para pembantunya hanya bisa menjauh ketakutan melihat kemarahan Emilda. Kini terlihat wajah Emilda yang berantakan. Namun kemarahannya segera terhenti ketika terdengar suara dering ponsel miliknya yang berada di atas meja. untunglah benda kotak kecil itu tidak ikut terjatuh ketika Emilda tadi mengamuk.


"Halo ada apa Din...apa kau sudah menemukan pria yang aku minta ...?" seru Emilda dengan nada marah.

__ADS_1


"Iya Nona Emil, saya telah menemukan beberapa pembunuh bayaran yang mau bekerja untuk anda..." jawab Jamaludin dengan riang.


"Kalau begitu bawa mereka ketempatku segera... kau sekarang ada di mana...?" tanya Emilda yang merasakan gembira saat Jamaludin memberitahukan kalau sudah mendapar orang yang akan dia suruh membunuh Kania.


"Saya sekarang berada di pulau K non... " jawab Jamaludin.


"Kalau begitu cepat kau bawa mereka kemari..." kata Emilda penuh semangat.


"Baik Nona..." jawab Jamaludin mengakhiri panggilan.


Setelah menerima telfon dari Jamaludin. Emilda terlihat wajahnya sangat bahagia.


"Ha ha ha.... nikmati hari- harimu dengan baik Kania....sebentar lagi kau tidak bisa merasakan kehidupan ini lagi ...." seru Emilda dengan lantang, dia merasakan kebahagiaan karena sebentar lagi dia akan mendapatkan lagi Bara dan putra nya.


Sedangkan Kania sekarang ini sedang menaiki mobilnya bersama kedua pengawalnya dan Amanda menuju lokas pemotretan. mereka berjalan sambil berbincang pembicaraan ringan. tiba- tiba Kania berseru pada Keti.


"Keti...berhenti..." serunya.


Keti pun segera mengarahkan mobil mereka kepinggiran jalan.


"Ada apa Bos...." kata Keti kaget. dia segera menghentikan mobilnya.


Setelah mobil berhenti , Kania buru - buru turun dan berjalan kearah belakang mobil. ternyata di sana terlihat seorang pria tua yang terluka .


"Kakek.... kakek kenapa...?" tanya Kania sambil mendekati pria tua itu. terlihat wajah tua itu kesakitan, ada luka di kaki dan tangannya serta sedikit luka di keningnya yang terlihat mengeluarkan darah.


Kania membantu pria tua itu agar bisa duduk.


"Tadi sebuah motor menabrak kakek nak.." jawab pria itu.


"Ayo kek ikut Nia ke mobil, luka kakek harus di obati dulu..." kata Kania lagi. dia tak perduli baju pria itu yang terlihat kotor dan kumal.


"Nak...ndak usah, kakek nggak apa- apa kok... kalau kau menolong kakek, bajumu akan kotor juga nak..." kata sang kakek dengan wajah masih menahan sakit, namun wajah itu terlihat tersenyum lembut.


"Kek... kakek itu sekarang terluka, jadi Nia mohon kakek mau ikut Kania kemobil Kania sebentar ...." bujuk Kania.


"Baiklah nak kalau itu maumu..." kata Kakek itu.


Kania pun segera memapah kakek itu berjalan kearah mobil Kania di bantu Amanda dan Arum yang sudah mengikuti Kania keluar mobil tadi. setelah sampai di mobil , Kania segera meminta Arum untuk mengambilkan kotak P3K yang memang selalu Kania bawa.


Setelah kotak obat di berikan oleh Arum, Kania segera membersihkan dan mengobati luka- luka yang ada di tubuh sang Kakek. Melihat perbuatan Kania terlihat kakek tua itu tersenyum tipis, hingga tidak ada seorangpun yang bisa melihatnya.


Tak berapa lama selesai juga pekerjaan Kania.


"Kek...luka kakek sudah Kania obati, nach sekarang kakek mau kemana...? biar Kania akan mengantar Kakek..." kata Kania dengan lembut.


"Nggak usah ***... Kakek ada janji di sini dengan teman kakek...?" jawab sang Kakek.


"Oo..kalau gitu Kakek sudah makan...?" tanya Kania lagi.


"Belum nak...." jawab sang kakek jujur.


"Ya Tuhan kek... ini sudah siang lo...?" terlihat kesedihan di mata Kania.


"Rum...ambilkan bekal gue serta air ..." perintah Kania pada Arum. memang sejak dia hamil, Kania merasakan selalu mudah lapar, jadi dia akan selalu membawa bekal jika bepergian.


"Baik Bos..." jawab Arum sambil mengambil bekal .


"Ini Bos...." kata Arum memberikan kotak makanan dan botol minuman. Kania segera mengambil kotak dan botol dari tangan Arum.


"Kek...kakek makan ini dulu sambil menunggu teman kakek ya...?" kata Kania.


"Nggak usah nak... kakek sudah biasa..." jawab sang kakek berusaha menolak pemberian Kania.


"Kakek....kakek nggak boleh menolak rejeki yang telah kakek dapatkan, jadi tolong terima pemberian Kania ini..." paksa Kania.


"Baiklah...lalu kau giman...?" tanya sang kakek sambil menerima kotak dan botol itu dari tangan Kania.


"Tenang kek....Kania masih mudah, sedang Kakek yang lebih membutuhkan. makanan ini..." kata Kania. dia lalu membuka tas yang selaku dia bawa. dia mengambil beberapa lembar uang warna merah dari tas kecilnya itu.


"Kek...ini untuk Kakek, maaf Kania nggak bisa menunggui Kakek sampai teman kakek datang, jadi Kania akan pergi meninggal kan kakek, nggak masalah kan kek...?" kata Kania lembut.


"Nggak masalah Nak...pergilah , tapi sebelum itu trimalah kalung ini, kalung ini akan melindungimu dari niat jahat orang lain, kau wanita yang baik sekali jadi kau berhak mendapatkan kalung ini..." kata sang kakek sambil memberikan. kalung berantai putih dan berbandul sebuah batu warna merah darah yang terlihat sangat indah.


"Kek...nggak usah...Nia tak meminta balasan kek... Kania menolong kakek dengan iklas kok..." kata Kania lembut.


"Terimalah nak...kalung ini memang sudah menjadi jodohmu, bukankah kau sekarang sedang hamil...?" tanya sang kakek yang mengejutkan Kania dan kawan-- kawan.


"Lo kok kakek tahu...?" tanya Kania heran.


"Iya kakek tahu... nach sekarang pakailah kalung ini, dan cepatlah pergi, ada yang sedang menunggumu..." kata sang Kakek sambil berdiri dan keluar dari mobil.


Kania hanya bisa melongo mendengar omongan si kakek, Arum pun segera mengingatkan Kania kalau dia masih harus pergi ke pemotretan. dan dengan terpaksa akhirnya Kania dan kawan- kawan pergi meninggal kan si Kakek tua itu.


Cukup dulu ya....jangan lupa like dan komennya serta Votenya author tunggu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2