Dikejar Cinta CEO Dingin.

Dikejar Cinta CEO Dingin.
JEBAKAN AMELIA 2


__ADS_3

Sedang Kania yang di bawa oleh pelayan sedang berjalan sambil di papah pelayan itu. seolah tubuhnya tak mampuh berjalan sendiri. Sesampainya di depan sebuah kamar, Kania segera dibawa masuk kedalam .


"Nona kau istirahatlah, saya akan kembali keruang pesta..." kata pelayan itu.


"Silahkan...trimakasih ya...?" kata Kania sambil merebahkan dirinya di kasur.


"Sama- sama Nona...." kata pelayan itu, dia menatap kania dengan senyuman licik di wajahnya. Namun Kania sempat membaca name tag di dada pelayan itu.


Siska Raya nama pelayan itu.


Tak lama pelayan itu keluar dengan senyum puas di wajahnya. Dia segera pergi melapor pada Dian.


"Nona...dia sudah berada di kamarnya.." kata pelayan itu.


"Bagus... Aku puas dengan pekerjaanmu ,( Dian merogoh kedalam tas kecilnya lalu memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada pelayan tadi) ini tips untuk pekerjaanmu yang bagus ..." kata Dian pada pelayan tadi.


"Trimakasih Nona...." seru pelayan itu dengan gembira. Dia segera meninggalkan Dian dan Amelia.


Tanpa setahu mereka seseorang merekam segala perbuatan Amelia dan teman- temannya.


Sedang di kamar yang di huni Kania, terlihat Kania yang sudah bangun dari pembaringannya setelah kepergian pelayan tadi. Dia berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mulutnya dari sisah minuman yang dia buang di dalam tisu tadi.


"Ya ampuun...hampir saja gue celaka... dasar wanita licik...kok dia dendam banget ama gue ya..tarohan dia belum tahu gue istri Bos Bara, gimana kalau dia tahu gue istri Bos Bara ya...?" omel Kania sendiri. Saat Amelia mengajak dia tadi minum bersama, Kania sempat bingung harus bagaimana, kalau di minum dia yakin minumannya bermasalah, dan kalau dia tidak minum gimana cara menolaknya, akhirnya jalan satu - satunya hanyalan berpura- pura minum lalu segera membuang di dalam tisu. Karena itu setelah minum minuman di dalam gelas Kania cepat- cepat mengambil tisu dan berpura- pura mengusap mulutnya.


"Sial...merepotkan sekali..." umpay Kania. Setelah itu dia duduk di pembaringan dengan tersenyum sinis.


"Hmm...kau fikir mudah menjebakku Nona Amelia... kini rasakan apa akibat dari perbuatan kalian...."kata Kania berbicara sendiri. Tiba- tiba terdengar bunyi telfon miliknya. Kania segera mengambil ponsel di dalam tas kecil mahalnya. ketika di lihat siapa yang menelfon, terlihat nama sang suami.


"Assalamualaikum Pa...." sapa Kania.


"Waalaikum salam Ma..maaf Papa agak terlambat Ma, soalnya ada sedikit pekerjaan yang harus Papa selesaikan.." kata Bara dengan nada sayang.


"Nggak apa- apa Pa.. Oh ya kamarnya Mama ganti, bukan di kamar yang kemaren Pa...." kata Kania. Dia memberikan nomer kamar yang di dapat dari bang Jonet.


"Kenapa ganti...?" tanya Bara.


"Nanti Mama ceritakan..." jawab Kania.


Kania juga menelfon Arum dam Keti agar mengawasi ketiga orang itu tanpa di ketahui oleh mereka.


Setelah itu Kania menutup telfonnya. Tak berapa lama terdengar pintu kamar seperti akan di buka seseorang , dengan cepat Kania berlari mematikan saklar lampu dan bersembunyi di belakang pintu. ketika pintu terbuka terlihat seorang pria gendut berjalan masuk kedalam kamar Kania.


"Lo kok lampunya mati sich, Sayang... kenapa kau matikan. lampunya...? " seru pria gendut tadi. Dia berjalan masuk dengan tubuh sempoyongan.


"Waah kau pasti malu kepadamu ya...? Tunggu sayang...kau akan merasakan kenikmatan yang akan kau rasakan nanti, dan kau akan ketagihan mencari lagi..." kata pria itu mesum. Kania rasanya ingin memukul kepala pria itu hingga mampus , tapi karena dia ingin memberi pelajaran pada kelompok Amelia, dia menahan kemarahannya.


"Sayang...nggak usah malu....aku tahu pasti kau orang yang sangat pemalu, tapi jangan khawatir , aku akan membuatmu bahagia.... " pria itu berjalan masuk kedalam Kamar dengan oleng, sepertinya dia sedang mabuk berat .


"Ha ha ha..kau menggemaskan sekali Nona Kania..." serunya sambil berjalan masuk. Kania kaget kenapa lelaki tambun ini tahu kalau dia berada di dalam kamar ini,


"Waah...ternyata Amelia ingin memberikan gue untuk menjadi mangsa pria mesum ini, he he he...kalian akan tahu akibatnya nanti , berani sekali lo membuat gue jadi mangsa bandot tua...dasar wanita licik dan jahat...( seru Kania dalam hati ).


"Baiklah kalau kau malu dan ingin bermain dalam kegelapan akan aku turuti...." serunya. Dia segera menutup pintu dan menguncinya. Namun saat dia berbalik untuk berjalan ke ranjang, tiba- tiba sebuah tamparan menghantam wajahnya.


"Aaauu.....Bajingan kau berani menamparku.. ?" teriak pria gendut itu kesakitan dan marah.


"Ha ha ha...kau merasa sakit.?Siapa yang menyuruhmu berani ingin meniduriku ha....? Besar sekali nyalimu , apa Kau ingin cepat mati...?" bisik Kania di telinga sambil menjambak rambut klimis pria itu.


"Kauu..." seru pria itu kaget, dia merasakan hawa dingin menakutkan saat Kania berbicara. dia tak menyangka gadis yang dia incar mempunyai kekuatan meng intimidasi yang sangat menakutkan..


"Ka ..kau berani memukulku...kau tahu siapa aku...?" katanya bergetar ketakutan .


"He he...lalu siapa kau....?" kata Kania tertawa menakutkan.


"Aku tuan Muhlis seorang sutradara..." katanya Bangga.


"Ck...hanya seorang Sutradara kau sudah sesombong ini..pasti kau sutradara cabul kan...?." kata Kania dingin.


"Ka..kau tidak takut mendengar namaku..?" tanya tuan Muhlis heran.


"Siapa yang takut menghadapi bandot tua sepertimu ...? Atau kau ingin tidak bisa lagi merasakan meniduri para wanita kesukaanmu ...?"kata Kania mengancam.


"A..apa..maksudmu...?" tanya tuan Muhlis gemetar.


"Kumatikan kejantanan mu..." ancam Kania lagi.


"Ti...tidak...ja..jangan..maafkan , maafkan aku...tolong maafkan aku...?"kata tuan Muhlis semakin ketakutan.


"Baik kuampuni kau hari ini, karena aku masih kasihan padamu. kau masih kuberi kesempatan untuk bermalam panjang dengan seseorang. Jadi tunggu dia di sini , puaska keinginanmu padanya..." kata Kania dingin.


Dia segera keluar dari kamar itu , namun saat dia ingin menutup pintu dia melihat seseorang berjalan kearah kamarnya. Kania cepat- cepat bersembunyi setelah pintu dia tutup dengan memberi cela sedikit, dia ingin tahi siapa yang datang.


Sebenarnya saat tuan Muhlis berjalan kearah kamar Kania, Amelia ,Dian dan Rusti melihat dari kamar mereka. Dan saat tuan Muhlis masuk kekamar Kania, mereka tertawa gembira. Rusti yang mempunyai sifat ingin tahu penasaran apa yang akan di perbuat oleh tuan Muhlis.


"Aku kok penasaran apa yang akan di lakukan tuan muhlis pada Kania ya..( kata Rusti dalam hati.) dan dengan diam - diam dia keluar dari kamar mereka , Dia berjalan menuju kamar Kania dengan membawa ponselnya.


Dengan perlahan dia berjalan kearah kamar Kania. Ketika dia melihat pintu tidak tertutup dengan rapat dia tersenyum senang.


"Dasar ceroboh dan bodoh, apa karena mereka sudah tidak tahan , hingga seceroboh ini ... Tapi bukankah ini kebetulan buatku ha ha..." kata Rusti perlahan sambil tertawa kesenangan. Dia segera mengintip dari cela pintu, namun tiba- tiba ada yang mendorong tubuhnya dari belakang hingga dia masuk kedalam kamar Kania.


"Aauuu..." tiba- tiba pintu telah terkunci dengan rapat dari luar . saat dia kebingungan tiba- tiba ada yang memeluknya dan mendorongnya ke arah tempat tidur. saat dia mengenali orang yang sedang memeluknya dia kaget bukan kepalang.


"Tu..tuan Muhlis..." seru Rusti yang melihat wajah tuan Muhlis yang terlihat merah karena sudah terbakar nafsunya karena belum mendapat pelampiasan, apalagi dia sudah marah karena Kania yang mereka bilang akan menjadi pemuas nafsunya malah menghajarnya.


'Kenapa...? Kau kaget ha...? Kalian telah membuatku marah, sekarang kaulah yang akan menjadi pengganti nona Kania..." seru tuan Muhlis dengan merobek baju Rusti .


'Tu...tuan...jangan..jangan tuan...saya mohon..." teriak Rusti memohon.

__ADS_1


Namun apa daya tenaga seorang Rusti di hadapan tuan Muhlis yang sudah di landa hawa *****. Dia segera menerjang Rusti di dalam kungkungannya. Kini bibir, leher dan dada Rusti menjadi tempat pelampiasan tuan Muhlis yang sudah bernafsu. Baju Rusti sudah tak berbentuk lagi, baju itu sudah robek dan berserakan di lantai. Rusti hanya bisa menangis menerima kebringasan tuan Muhlis .


Kania yang berjalan meninggalkan kamar yang di sediakan untuknya segera menelfon para pengawalnya.


"Ya Bos..." kata Arum .


"Kalian lihat apa yang terjadi selanjutnya, jangan melakukan apapun , setelah itu kalian istirahat saja..."kata Kania memerintahkan pada kedua pengawalnya.


"Baik Bos..." jawab Arum kembali.


Kania segera menuju kamar VIV yang dia pesan dari bang Jonet tadi.


Sedang Amelia dan Dian tertawa kesenangan, mereka menyangka kalau rencana mereka sudah terlaksana dengan baik. tanpa mereka sadari kalau Rusti tidak bersama mereka.


"Mel kita datangi kamar Kania sekarang Mel...?" kata Dian di sela tawa mereka.


"Jangan dulu kak..., sebentar lagi aja setelah setengah permainan...apa kakak sudah memanggil para wartawan...?" tanya Amelia pada Dian.


"Sudah...mereka sudah berada di depan , mereka akan segera masuk kalau kita sudah menyuruh mereka...." jawab Dian.


"Ha ha ha...aku nggak bisa membayangkan wajah Kania ketika kita datang kesana..." seru Amelia sambil tertawa.


'Baiklah kak...sepertinya kita harus langsung pergi kesana, kasihan para wartawan yang sudah menanti kehebohan berita yang akan mereka dapatkan...?" kata Amelia sambil berdiri dari pembaringannya.


"Kak...kau panggil sekarang mereka...." perintah Amelia pada Dian.


"Baik Mel...." Dianpun segera menyuruh orang kepercayaannya untuk membawa para wartawan menuju kamar Kania. Setelah mendengar perintah Dian, orang kepercayaan Dian membawa wartawan kekamar Kania. Sesampainya mereka di depan kamar Kania, Amelia bersama Dian datang.


"Lo ada apa ini...kok kalian beramai- ramai datang kemari...?" tanya Amelia seolah tak tahu apa yang terjadi.


"Kami mendengar pemeran Putri Fang Yun yang film nya akan segera tayang datang kemari bersama seorang pria Nona..." jawab salah satu wartawan yang ada di sana.


"Benarkah...? Apa itu Nona Kania...?' tanya Amelia lagi.


"Benar Nona...?' jawab seorang pria yang ternyata kepercayaan Dian.


"Waah...ini nggak bisa di biarkan. soalnya dia salah satu tamu undanganku..." kata Amelia dengan wajah sedih. Tiba- tiba seorang pelayan berjalan melintasi para wartawan . Amelia segera memanggil pelayan itu.


"Nona. kemarilah sebentar...." panggil Amelia.


"Ya Nona....?' kata Pelayan itu sambil berjalan mendekati Amelia.


"Apakah kau sejak tadi bekerja di sekitar sini...?" tanya Amelia.


"Benar Nona...." jawab pelayan itu.


"Apakah kau tahu siapa yang berada di kamar ini...?" tanya Amelia lagi.


"Maksudku apa Kau tahu siapa dia...?" tanya Amelia lebih lanjut.


"Tahu Nona..dia Nona Kania seorang artis dari kota J..." jawab pelayan itu lagi.


"Karena saya yang mengantar dia masuk kedalam kamar ini..." jawab pelayan itu lagi.


"Oh ya...?" kata Amelia pura- pura kaget.


"Tak lama setelah saya mengantar Nona Kania, seorang pria memasuki kamar ini ..." kata pelayan itu lebih lanjut.


"Waah...kalau begitu ini nggak bisa di biarkan, karena saat ini masi dalam pesta pertanyaan ulang tahun ku..." kata Amelia dengan wajah pura- pura marah.


"Benar Nona..Itu bisa mencoreng nama baik Nona Amelia..." kata salah satu wartawan .


"Benar, benar...." jawab yang lain.


"Kalau begitu kita buka saja kamarnya.." kata Amelia.


"Setuju..." jawab para wartawan lagi.


'Pelayan....apa kau memiliki kunci cadangan...?" kata Amelia pada pelayan tadi.


"Ada Nona...saya memegang kunci kamar ini untuk berjaga- jaga..." jawab pelayan tadi.


'Kalau begitu coba kau buka pintunya..." perintah Amelia. Pelayan itu segera mendekati pintu yang tertutup rapat . Dia segera membuka kuncinya. Saat pelayan itu membuka pintu, para wartawan sudah memasang kamera di depan mereka. Mereka sudah siap memotret apa yang akan di lihat mereka di dalam kamar yang tertutup di depan mereka.


Saat pintu mulai terbuka kilatan lampu kamera dan suara


Ckrek..Ckrek...Ckrek


Terdengar nyaring dan ramai saling bersautan. mereka melihat di atas ranjang seorang pria gendut tanpa busana sedang berada di atas tubuh seorang wanita tanpa busana pula.


Ketika pintu terbuka dan para wartawan masuk dan memotret mereka berdua , pria gendut itu tak perduli, Dia tetap memompa gadis yang ada di bawahnya. Para wartawan merasa malu sendiri. Saat pria itu selesai dengan aksinya dia baru tersadar, dia segera turun dari atas wanita itu .


"Hey ada apa kalian masuk kemari...?" teriaknya marah setelah dia mengambil selimut untuk menutupi badannya yang telanjang. Pada saat si gadis terlihat wajahnya mereka jadi bengong.


"Lo...kok bukan Nona Kania....?" seru mereka hampir bersamaan. Mereka mulai mengenal wajah Kania setelah Promosi film Fang Yun dan beberapa produk kecantikan yang menjadikan Kania sebagai modelnya sudah mulai beredar. Dan kecantikan Kania membuat dia cepat di kenal orang .


Sedang Rusti terduduk di pojokan tempat tidur sambil memeluk tubuhnya yang polos.


"Rusti...!" teriak Amelia dan Dian bersamaan. mereka baru sadar kalau sejak tadi Rusti tidak bersama mereka.


"Kak tolong aku...." seru Rusti sambil me nangis.


'Kenapa kau disini...?" tanya Amelia marah.


"Aku juga nggak tahu kak... Tadi malam tiba- tiba aku masuk kedalam kamar ini.." jawab Rusti dengan wajah sedih.


Dian segera membuka seprei dan menutupi tubuh bugil Rusti.

__ADS_1


Sedang tuan Muhlis segera mengusir para wartawan Yang ada di kamar itu,


"Huu...siapa sich yang bilang kalau di sini ada Nona Kania...." gerutu para wartawan.


"Kita juga yang salah. ngapain percaya sama berita palsu..." kata yang lain.


Sedang tuan Muhlis berkata dengan marah.


"Kalian telah menipuku, sekarang kalian keluarlah sebelum kemarahanku meradang kembali..." seru tuan Muhlis dengan wajah semakin marah . Sedang Amelia dan Dian membawa Rusti kekamar mereka. Dan pelayan suruhan Dian mengikuti mereka.


"Kau.. Apa yang kau lakukan....? Apa kau salah menaruh Kania ke kamar lain ha..." teriak Amelia marah.


"Nona..saya tadi sudah membawa nona Kania masuk kedalam kamar itu...dan saya juga melihat tuan tadi masuk setelah saya keluar dari kamar itu..." kata pelayan itu membela diri.


" Bodoh...! sekarang cari dia , dimana sekarang dia berada....?" kata Amelia dengan marah.


"Baik Nona..." jawab pelayan itu ketakutan. Dia segera berlari keluar dari kamar Amelia. Tak berapa lama dia pun datang .


"Nona...teman saya melihat dia masuk kekamar VIV... Dan dia bilang setelah wanita itu masuk seorang pria mendatangi kamarnya dan sepertinya sekarang pria itu ada di dalam kamarnya..." kata pelayan itu .


"Benarkah....? Waah...bagus sekali, kalau begitu ayo kita kesana..." seru Amelia dengan kegirangan.


"Bukankah para wartawan masih ada di depan...kita ajak mereka menemui wanita itu.." seru Amelia gembira.


"Tidak bisa Nona... Karena itu tempat VIV, tidak sembarang orang boleh masuk kesana, dan bagian saya bukan daerah itu nona..." kata pelayan itu.


"Bodoh...sialan..kalau begitu kita saja yang datang kesana kak..." kata Amelia .


"Benar...kita kesana sendiri, kita pergoki dia dengan pria itu, ayo Mel kita kesana.. Jangan lupa kau bawa kameramu, kita akan memfoto dia dengan pria itu..." kata Dian bersemangat.


Akhirnya mereka bertiga berjalan kearah lantai tiga tempat Kania berada.


Sedang Kania setelah meninggalkan kamar yang di huni oleh tuam Muhlis dan Rusti , dia segera pergi kelantai tiga kamar VIV yang sudah dia pesan. ketika sampai di kamar itu dia segera mandi dan solat isyak yang belum dia kerjakan, setelah itu mengambil naskah film baru , yang akan dia ikuti audisinya. Film yang di sutradarai oleh Sutradara luar Negri. Film ini tergolong film Action penuh dengan perkelahian. Sambil tiduran dia mulai membaca.


Saat dia baru membuka lembar pertama terdengar ketukan di pintu.


Kania segera berlari untuk membuka pintu. Karena dia yakin yang datang pasti sang suami.


"Sebentar..." seru Kania.


Setelah pintu terbuka terlihat sang suami sudah berdiri dengan senyum di bibirnya.


"Maaf Papa terlambat..." kata Bara sambil memeluk sang istri.


"Nggal masalah Pa... Mama juga baru masuk kok..." jawab Kania .


"Kenapa pindah kamarnya...?" tanya Bara.


'Nanti Mama cerita, sekarang Papa mandi dulu , sudah makan...?" tanya Kania.


"Sudah.. Mama sudah makan...?" tanya Bara .


"Sudah Pa...ya sudah Papa mandi dulu gih, biar badannya segar..." kata Kania. Barapum segera berjalan kearah kamar mandi setelah mencium sekilas bibir sang istri. Setelah selesai melakukan ritual mandi, Bara segera keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai juba mandi.


"Papa sudah solat isyak...?" tanya Kania sambil memberikan baju ganti yang memang sudah dia bawa dari rumah.


"Sudah Ma..tadi berjamaah di musolah rumah sakit.." jawab Bara.


"Oh ya Pa..katanya rumah sakit itu milik keluarga Dirgantara ya...?" tanya Kania.


"Iya...kenapa...?" tanya Bata sambil memakai baju .


"Salah satu dokter di sana teman Kania.." jawab Kania.


"Oh ya ...siapa...?" tanya Bara.


"Dokter Burhan..." jawab Kania.


"Dokter Burhan...?" beo Bara.


"Iya..." jawab Kania.


"Dia kepala rumah sakit itu sayang... Dia yang papa percayai memegang rumah sakit itu..." jawab Bara.


"Yang bener Pa...?" kata Kania tak percaya.


"Iya...kok bisa kamu jadi teman dokter Burhan...?" tanya Bara sambil duduk di dekat sang istri. Dia membawa Kania dalam pelukan nya.


"Jangan kaget...dia salah satu petinggi di Dragon fly..." jawab Kania kalem.


"Apaaa....!" seru Bara kaget.


"He he he...sekarang Papa yang kaget ya...?' goda Kania.


"Ya ampuun...Papa nggak nyangka kalau dokter Burhan juga kepala preman di kota ini..." kata Bara tak percaya .


"Pa... Jangan ngeremehin Dragon fly Pa.


sekarang anggota Dragon fly banyak yang menjadi tentara atau polisi , jadi kami bukanlah preman yang selalu membuat kerusuhan..." jawab Kania.


"Ck..ck..ck...Papa nggak nyangka kalau istri Papa adalah salah satu dari mereka...?" kata Bara dengan bangga.


Perbincangan mereka menjadi terhenti ketika mereka mendengar ketukan di daun pintu.


Maaf author lanjutin besok ya....


Jangan lupa like dan komennya author tunggu...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2